NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perang Dingin di Lokasi Set

​Suasana di lokasi syuting hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Kabar mengenai keributan besar antara sutradara dan asisten produser mereka telah menyebar melalui bisik-bisik kru di tenda katering sejak subuh. Tidak ada yang berani tertawa keras, bahkan Reihan Malik pun memilih untuk tetap berada di dalam trailer-nya, membaca naskah dengan kening berkerut.

​Arlan datang lebih awal dari biasanya. Wajahnya seperti pahatan batu; kaku, dingin, dan tidak tersentuh. Ia mengenakan kacamata hitam meski mereka berada di dalam ruangan, seolah ingin membangun benteng antara dirinya dan dunia luar—terutama dari wanita yang biasanya berdiri tepat di sampingnya.

​Adelia tiba sepuluh menit kemudian. Matanya sembab, namun ia menutupinya dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya. Ia membawa setumpuk jadwal revisi dan laporan logistik, bergerak dengan efisiensi yang hampir mekanis.

​"Selamat pagi, Arlan," sapa Adelia saat mereka berpapasan di depan meja monitor. Suaranya datar, profesional, tanpa nada kasih sayang yang biasanya terselip di sana.

​Arlan tidak menoleh. Ia hanya mengangguk singkat, matanya terpaku pada layar monitor yang masih mati. "Pastikan semua figuran sudah di posisi pukul delapan tepat. Kita kehilangan banyak waktu kemarin."

​"Sudah diatur. Tim kostum sedang melakukan pengecekan terakhir," jawab Adelia singkat. Ia berdiri diam selama beberapa detik, menunggu apakah Arlan akan mengatakan sesuatu yang bersifat personal—sebuah permintaan maaf, atau setidaknya sebuah tatapan mata. Namun, Arlan justru memanggil penata kamera untuk mendiskusikan angle baru.

​Adelia berbalik, dadanya terasa sesak. Ini adalah jenis hukuman yang paling menyakitkan dari Arlan: pengabaian total.

​Sepanjang pagi, mereka berkomunikasi hanya melalui interkom atau asisten. "Katakan pada Adelia, kita butuh tambahan asap di sudut kiri," perintah Arlan pada asisten sutradara, padahal Adelia berdiri hanya tiga meter darinya.

​Adelia membalas dengan cara yang sama. "Beri tahu sutradara, baterai cadangan untuk kamera B sudah siap di set."

​Reihan Malik, yang tidak tahan lagi melihat ketegangan itu, akhirnya keluar dari posisinya saat break makan siang. Ia menghampiri Adelia yang sedang duduk sendirian di pojok set, menatap kosong ke arah botol air mineralnya.

​"Kalian berdua membuat seluruh kru ingin mengundurkan diri karena depresi," ujar Reihan sambil duduk di sebelah Adelia.

​Adelia menghela napas panjang. "Aku hanya mencoba melakukan pekerjaanku, Reihan."

​"Pekerjaanmu adalah menjadi jantung studio ini, Adel. Tapi jantungnya sekarang sedang membeku," Reihan menatap ke arah Arlan yang sedang makan sendirian di kursi sutradaranya. "Arlan itu keras kepala, kita semua tahu itu. Tapi dia juga rapuh jika menyangkut pengkhianatan. Beri dia waktu."

​"Aku tidak mengkhianatinya, Reihan. Aku menyelamatkannya," bisik Adelia, air matanya hampir jatuh lagi.

​"Terkadang bagi pria seperti Arlan, diselamatkan dengan cara dibohongi rasanya sama saja dengan ditikam dari belakang."

​Sore harinya, syuting memasuki adegan yang sulit. Karakter Satria harus berhadapan dengan pengacara korporat yang mencoba menyuapnya—sebuah refleksi dari apa yang sedang dialami Arlan secara nyata. Arlan tampak sangat emosional saat mengarahkan adegan ini. Ia berkali-kali meminta pengulangan, menuntut dialog yang lebih tajam, lebih menghina, lebih penuh kebencian.

​"Kurang! Aku ingin kamu terlihat seolah-olah pria di depanmu ini adalah sampah yang paling menjijikkan di dunia!" teriak Arlan melalui pengeras suara.

​Seluruh set terdiam. Mereka tahu Arlan tidak sedang bicara pada aktor lawan main Reihan. Ia sedang meluapkan amarahnya pada bayang-bayang Hendra Wijaya—dan mungkin pada Adelia.

​Adelia berdiri di balik monitor, tangannya gemetar memegang papan jalan. Ia menyadari bahwa film ini telah berubah menjadi terapi pribadi yang berbahaya bagi Arlan. Arlan sedang membakar dirinya sendiri untuk menghasilkan mahakarya, dan Adelia tidak lagi diizinkan untuk memadamkan apinya.

​Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Arlan akhirnya meneriakkan "Wrap!". Tanpa sepatah kata pun pada kru, ia langsung berjalan menuju mobilnya.

​Adelia mengejarnya di tempat parkir yang sepi. "Arlan! Tunggu!"

​Arlan berhenti, namun tidak berbalik. "Aku ingin pulang, Adelia. Aku lelah."

​"Sampai kapan kita akan bersikap seperti ini? Kita punya kontrak yang harus diselesaikan, Arlan. Kita punya film yang harus dijaga."

​Arlan berbalik perlahan. Di bawah lampu merkuri tempat parkir yang berkedip, wajahnya tampak sangat lelah. "Film ini akan selesai, Adelia. Aku akan memberikan apa yang GlobalStream inginkan. Aku akan memberikan apa yang paman sialanku inginkan."

​"Lalu kita?" tanya Adelia dengan suara bergetar.

​Arlan menatapnya dalam-diam. Ada kilatan kesedihan di matanya, namun egonya masih memegang kendali. "Kita? Kita adalah dua orang yang terjebak dalam satu studio untuk menyelesaikan naskah hidup yang berantakan. Setelah film ini rilis dan aku berhasil memutus rantai penalti di Paris... aku tidak tahu lagi apa yang tersisa dari kita."

​Arlan masuk ke mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan Adelia berdiri sendirian di tengah dinginnya malam Jakarta. Adelia menyadari bahwa sukses atau tidaknya film ini nantinya, mereka mungkin sudah membayar harganya dengan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang: masa depan mereka berdua.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!