Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Pagi hari menjelang. Suara kicau burung di dahan pohon dan bunyi alarm digital masih belum mampu membangunkan sang mafia dingin. Tidurnya sangat lelap, mungkin karena aroma hutan yang menenangkan entah darimana asalnya.
Berbeda dengan Luna. Semalam ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Meskipun kasur itu empuk, ia merasa kedinginan karena kemeja hitam Xavier terlalu tipis untuk kulit manusianya yang sensitif.
Luna, yang kini dalam wujud manusia seutuhnya, bersandar di dada bidang Xavier yang polos. Ia menatap wajah pria itu dengan penuh kekaguman, lalu mulai menoel-noel hidung mancung Xavier dengan jari telunjuknya yang mungil.
"Di antara kucing jantan yang ada di hutan, Sapir memang yang paling tampan. Mereka jelek-jelek semua dan banyak bulunya. Sedangkan Sapir tidak punya bulu sama sekali," gumam Luna sembari terkekeh lucu. Baginya, kulit manusia Xavier yang halus jauh lebih menarik daripada bulu-bulu kasar kucing liar di dunianya.
Merasa ada sesuatu yang hangat dan sedikit berat menindih tubuhnya, Xavier mulai terganggu. Ia mengerang pelan, lalu perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamarnya yang mewah, melainkan seorang gadis cantik dengan mata biru sapphire yang sedang memonyongkan bibir ke arahnya, seolah hendak menciumnya.
"Argh!" Xavier yang kaget setengah mati langsung bereaksi secara refleks. Ia mundur dengan kecepatan kilat hingga tubuh kekarnya terjatuh dari atas ranjang.
Bruk!
"Sapir sudah bangun?" tanya Luna sembari mengerjapkan mata dengan polos. Ia menengok ke bawah ranjang, menatap Xavier yang terduduk lemas di lantai. "Sapir kenapa tidur di bawah? Sini, tidur di samping Luna lagi," ucapnya santai sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.
"Gadis menyebalkan! Kenapa kau ada di sini?!" Xavier membentak sembari bangkit berdiri dengan wajah merah padam. Ia segera melihat sekelilingnya dengan panik. Ia tidak menemukan kucing putih kesayangannya di mana pun.
"Katakan, di mana kucingku! Ke mana kau buang kucing kesayanganku, brengsek!" teriaknya murka.
"Kucing? Luna tidak melihat kucing sama sekali sejak tadi," jawab Luna jujur. Memang benar, kan? Saat ini tidak ada kucing, yang ada hanya dia.
Xavier yang sudah kehilangan kesabaran langsung menerjang Luna. Ia mencengkeram leher gadis itu, menekannya ke bantal. Amarahnya meluap karena ia pikir gadis ini telah menyakiti atau membuang kucing yang menemaninya di hutan.
"Uhuk! Uhuk!" Luna terbatuk, wajahnya mulai memerah.
Luna memukul lengan Xavier berkali-kali agar pria itu melepaskan cekikannya. Sayangnya, cengkeraman itu malah semakin kuat karena Xavier benar-benar dalam mode predator.
"Aku tanya sekali lagi padamu, di mana kucing kesayanganku, brengsek! Jika kau melukainya, aku akan mencincangmu!"
"Lepas... Sapir... sakit... Luna tidak bisa napas..." rintih Luna dengan suara yang semakin melemah.
"Kau pikir aku peduli padamu, hah?! Meskipun kau mati sekalipun di depanku, itu tidak ada urusannya denganku!" desis Xavier dengan mata yang memancarkan kebencian.
Ucapan Xavier membuat Luna tersentak. Rasa sakit di lehernya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di dadanya. Ingatan masa lalu yang pahit tiba-tiba muncul. Dulu, di dunianya sendiri, ia pernah mendengar kalimat yang sama.
Sekalipun kau mati, aku tidak akan pernah peduli padamu, kucing pembawa sial! Itulah samar-samar ingatan Luna saat ia diusir dari kawanannya.
Luna berhenti meronta. Ia membiarkan tubuhnya lemas, dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Ternyata, baik di dunia kucing maupun dunia manusia, tidak ada yang benar-benar peduli padanya.
"Lakukan, Sapir... bunuh saja Luna. Tidak ada yang sayang Luna juga," bisiknya pasrah.
Melihat raut wajah memelas dan air mata yang mengalir itu, sesuatu di dalam hati Xavier berdesir aneh. Ia paling benci melihat wanita menangis, dan entah kenapa, hanya pada gadis aneh ini ia merasa tidak sanggup melanjutkan kekejamannya.
"Shit!" Xavier melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Sapir..." ucap Luna lirih setelah berhasil menghirup udara.
Xavier menoleh, dan matanya kembali terbelalak. Ia baru sadar bahwa kemeja yang ia pakaikan kemarin sudah terlepas entah ke mana, membuat penampilan Luna kembali polos tanpa sehelai benang pun. Wajah dan telinga Xavier seketika memerah padam, lebih merah dari sebelumnya.
"Kemana lagi kemeja yang kuberikan kemarin, hah?!" teriaknya geram sambil menutup matanya dengan sebelah tangan.
"Itu!" Luna menunjuk kemeja hitam yang tergeletak di pojok ranjang. "Luna kedinginan semalam, jadi Luna lepas karena kainnya tipis."
"Logika macam apa itu!" Xavier buru-buru mengambil kemeja itu dan memakaikannya kembali ke tubuh Luna dengan mata tertutup rapat. Tangannya meraba-raba kasar hingga tak sengaja menyentuh bahu Luna, membuatnya tersentak. "Keluarlah! Aku mau bersiap. Jangan masuk kamar ini sebelum aku suruh!" ucap Xavier sembari membalikkan badan, berjalan menuju kamar mandi.
Luna langsung melompat dari ranjang dan memeluk punggung Xavier dari belakang. Erat sekali.
"Jangan usir Luna. Luna tidak punya siapa-siapa lagi, Sapir. Jangan buang Luna..."
"Lepas!" Xavier berusaha melepaskan tangan Luna, namun gadis itu justru semakin mempererat pelukannya.
"Tidak mau! Sapir harus janji dulu tidak akan mengusir Luna!" rengeknya.
Tangan Xavier terkepal erat. Napasnya memburu, apalagi saat ia merasakan sesuatu yang kenyal dan empuk menempel di punggungnya. Ia benar-benar merasa seperti akan meledak.
Tok tok!
"Tuan, apa anda sudah bangun? Sebentar lagi kakak nda, Tuan Xander, akan segera tiba. Saya menunggu anda di bawah untuk sarapan," ucap suara Gerry dari balik pintu.
"Xander?" gumam Xavier. Ia harus segera bersiap menghadapi kakaknya yang menyebalkan itu.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️