Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Selanjutnya... Kaizen von Helvric!"
Suasana yang tadinya bising oleh tangisan dan sorakan mendadak senyap. Kaizen, sang putra kedua dari keluarga Helvric, melangkah maju dengan senyum tipis yang meremehkan. Ia melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan armor ringan yang mengilap.
Kaizen melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir dengan dagu terangkat. Detik berikutnya, tubuhnya menghilang dalam pendar cahaya biru.
Layar artefak di lapangan segera menampilkan sosok Kaizen di tengah arena. Berbeda dengan Mathias yang terlihat waspada, Kaizen tampak sangat santai, bahkan cenderung bosan.
Tingkat 1 sampai 3 dilewatinya dengan gerakan yang brutal dan efisien. Keempat Shadow Wolf, Iron-Skinned Boar, hingga Armored Bear raksasa itu ditumbangkannya hanya dengan beberapa tebasan pedang beratnya. Kaizen tidak banyak bergerak; ia membiarkan monster-monster itu mendekat, lalu menghancurkan mereka dengan satu ayunan tunggal yang penuh tenaga.
"Dia kuat sekali..." gumam salah satu murid di dekat Leon.
Kini, Kaizen memasuki Tingkat 4. Lich Apprentice muncul dan segera menghujaninya dengan bola api. Kaizen tidak menghindar. Ia menerjang maju, membiarkan jubahnya sedikit terbakar, lalu membelah tengkorak monster itu sebelum sihir es sempat membekukan kakinya.
Lalu datanglah Tingkat 5. Twin-Headed Ogre raksasa itu meraung, mengayunkan gadanya dengan tenaga yang sanggup meruntuhkan gunung.
Kaizen menyeringai. Ia menahan hantaman gada itu dengan satu tangan yang dilapisi aura merah pekat, sementara tangan lainnya menghujamkan pedang tepat ke dada sang Ogre.
Pertarungan itu sengit, penuh dengan suara benturan logam dan raungan monster, namun Kaizen terlihat sangat menikmati setiap detik kekacauan itu.
Setelah duel yang merusak sebagian lantai arena, Ogre itu tumbang. Kaizen berdiri di atas tumpukan debu sihir dengan napas yang teratur.
Angka di papan artefak berhenti bergerak.
[TINGKAT 5: CLEAR]
[WAKTU: 00:15:42]
Sama seperti Mathias, Kaizen memutuskan untuk tidak melanjutkan ke Tingkat 6. Ia keluar dari lingkaran sihir dengan wajah angkuh, menyisir rambutnya ke belakang sambil menatap kerumunan.
Papan peringkat sihir segera terupdate secara otomatis:
...PAPAN PERINGKAT SEMENTARA...
...1. Mathias Brayden | Tingkat 5 | 00:13:30...
...2. Kaizen von Helvric | Tingkat 5 | 00:15:42...
Meskipun mencapai tingkat yang sama, Mathias tetap unggul dalam hal kecepatan. Kaizen mendengus pelan melihat namanya berada di urutan kedua. Ia melirik sinis ke arah Mathias yang sedang beristirahat, lalu berjalan menuju barisan para bangsawan.
"Masih kalah cepat dengan rakyat jelata?" bisik Calista dengan nada dingin saat Kaizen lewat di depannya.
"Hanya soal waktu, Calista. Kecepatan bukan segalanya dalam perang nyata," jawab Kaizen tajam.
Leon memperhatikan interaksi itu dari kejauhan. Ia menyadari satu hal: meskipun alurnya bergeser, intensitas persaingan di antara para pilar ini tidak berkurang sedikit pun.
"Berikutnya..." suara Profesor Valerius kembali menggelegar, memutus ketegangan singkat itu.
"Varelia von Karsel!"
Varelia von Karsel melangkah masuk. Sebagai seorang penyihir api, ia membakar habis monster di tingkat awal dengan mudah.
Namun, saat memasuki Tingkat 4, ia mulai terhambat oleh Ironhide Ravager. Monster itu memiliki kulit tebal yang tahan terhadap panas. Varelia harus menghabiskan banyak mana untuk menembus pertahanannya.
Begitu memasuki Tingkat 5, ia langsung berhadapan dengan Twin-Headed Ogre. Sebagai tipe Magic, Varelia dipaksa melawan monster petarung jarak dekat yang sangat agresif. Hanya dalam beberapa menit, Ogre itu berhasil memangkas jarak. Menyadari dirinya tidak punya pertahanan fisik, Varelia memilih menyerah.
[VARELIA VON KARSEL | TINGKAT 4 | 00:10:00]
Setelah beberapa murid sampingan maju dan gugur secara tragis di tingkat awal, suasana lapangan kembali membeku saat nama berikutnya dipanggil.
"Tuan Putri Odelia von Arvencia!"
Odelia melangkah dengan keanggunan seorang penguasa. Di dalam arena, ia menunjukkan bakat yang membuat para tetua mengangguk kagum. Odelia menguasai dua elemen: es dan cahaya.
Dengan kombinasi itu, ia membekukan monster petarung dan menghancurkannya dengan serangan cahaya jarak jauh. Ia melewati Twin-Headed Ogre di tingkat 5 dengan sangat tenang, namun ia tidak melanjutkan ke tingkat 6 untuk menjaga cadangan mananya.
[ODELIA VON ARVENCIA | TINGKAT 5 | 00:14:10]
Papan peringkat bergeser. Sang Putri kini berada di posisi kedua, menggeser Kaizen.
"Berikutnya... Calista von Caelmont!"
Keadaan mendadak sunyi. Calista melangkah maju. Rambut peraknya yang panjang terurai indah, berkilau di bawah sinar matahari.
Wajahnya yang cantik namun sedingin es membuat siapa pun yang melihatnya merasa segan. Sebagai seorang Swordsman, ia hanya memegang gagang pedangnya dengan santai.
Begitu masuk ke arena, Calista bergerak seperti bayangan.
Sret! Sret!
Ia melewati tingkat 1 sampai 5 dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bahkan Twin-Headed Ogre tidak bisa menyentuh ujung gaun hitamnya. Pedangnya bergerak dengan presisi yang mematikan.
Saat memasuki Tingkat 6, monster Storm Griffin muncul. Sebagai tipe Swordsman, Calista dipaksa melawan monster Magic yang terbang tinggi.
Namun, Calista tidak gentar. Ia menggunakan ledakan Aura di kakinya untuk melompat tinggi, menebas sayap Griffin itu, dan menyelesaikannya di tanah.
Layar menunjukkan hasil yang mengejutkan:
[CALISTA VON CAELMONT | TINGKAT 6 | 00:19:00]
Calista berdiri tegak di tengah arena. Matanya menatap ke arah pintu keluar.
Di depannya, simulasi tingkat 7 mulai terbentuk. Ia bisa merasakan tekanan mana yang luar biasa,monster setingkat dengan rank S yang jauh lebih kuat dari tingkat 6.
Calista tahu, memaksakan diri melawan monster yang setidak nya mampu beratrung seri dengan rank S menengah hanya akan menguras energinya secara sia-sia.
Dengan dingin, ia mengangkat tangan dan menyatakan berhenti.
Saat ia keluar dari lingkaran sihir, seluruh lapangan menahan napas. Calista adalah orang pertama yang berhasil menembus Tingkat 6.
Ia berjalan melewati kerumunan tanpa melirik siapa pun, auranya yang angkuh membuat orang-orang memberikan jalan secara sukarela.
"Dia benar-benar di level yang berbeda," bisik seorang murid dengan gemetar.
Leon memperhatikan Calista yang berjalan melewatinya. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, mata Leon yang tenang dan mata perak Calista yang tajam.
Kini, nama-nama besar hampir semuanya sudah maju. Ketegangan di lapangan mencapai puncaknya karena hanya tersisa beberapa orang yang belum dipanggil.
"Berikutnya..." Profesor Valerius melihat gulungan terakhirnya dengan kening berkerut.
"Leon von Anhart!"