Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin
Jeritan Lauren membelah pekatnya malam, namun suaranya seolah terhisap ke dalam pusaran merah yang keluar dari telapak tangan Banyu. Rasa dingin yang menjalar di urat nadinya bukan sekadar suhu, melainkan ribuan jarum es yang mencoba membekukan jiwanya dari dalam. Pandangannya memudar, menyisakan tawa parau sosok compang-camping itu sebelum segalanya berubah menjadi kegelapan total.
Saat Lauren membuka mata, langit sudah berubah menjadi abu-abu pucat. Ia terbaring di atas aspal dingin di depan rumahnya. Tubuhnya terasa remuk, seolah setiap tulang di tubuhnya baru saja disusun ulang secara paksa. Ia merangkak bangun, menoleh ke arah rumahnya. Pintu depan tertutup rapat. Tidak ada lagi tangan hitam di jendela. Tidak ada lagi perisai indigo.
"Herza?" bisik Lauren, suaranya parau.
"Aku di sini, Lauren," sahut Herza. Pendar peraknya muncul di sampingnya, namun terlihat buram, seperti sinyal televisi yang terganggu.
Lauren berdiri dengan goyah, mencari sosok Banyu. Jalanan itu kosong. Kotak kayu merah dan sosok compang-camping itu lenyap tanpa jejak. Hanya ada bekas hangus melingkar di tengah aspal, saksi bisu ledakan energi semalam.
"Mana Banyu? Di mana Papa dan Mama?"
"Orang tuamu sedang tidur. Mereka tidak akan ingat apa-apa," jawab Herza pelan.
"Tentang Banyu... dia pergi sebelum aku sempat menahannya. Energinya... sangat kacau."
****
Tiga hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Lauren mencoba menjalani aktivitas seperti biasa, namun dunia di sekelilingnya mulai terasa aneh. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat Herza sedang berbisik dengan bayangan hitam di sudut kamarnya.
Dia sengaja menjebakmu, Lauren, bisik sebuah suara di dasar pikirannya. Suara itu mirip dengan suaranya sendiri, namun mengandung racun. Herza tahu Banyu adalah bahaya, tapi dia membiarkanmu mendekatinya agar Sangker Bumi bisa mengambil alih tubuhmu. Dia ingin bebas, dan kau adalah tiketnya.
"Diam!" bentak Lauren di tengah kelas yang sedang tenang.
Teman-teman sekelasnya menoleh dengan tatapan bingung. Lauren menunduk, mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Di sudut kelas, ia melihat Herza berdiri. Namun, Herza tidak menatapnya dengan pandangan pelindung yang biasa. Di mata Lauren, pendar perak Herza berubah menjadi merah darah, dan wajah remaja itu menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-gigi tajam.
Lihat dia, Lauren. Dia menertawakanmu, suara itu kembali datang.
"Herza, berhenti melakukan itu!" desis Lauren.
"Melakukan apa, Lauren?" Herza melayang mendekat, wajahnya terlihat tulus dan khawatir.
"Aku hanya diam di sini sejak tadi."
"Bohong! Aku melihatmu tersenyum jahat! Kau berkomplot dengan Sangker Bumi, kan?"
Herza tertegun, pendar tubuhnya meredup.
"Lauren, batinmu sedang diserang. Sang Arsitek sedang menyebar benih keraguan. Jangan dengarkan bisikan itu."
Lauren tidak menjawab. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar kelas sebelum guru sempat menegurnya. Ia butuh udara segar. Ia butuh Banyu. Hanya Banyu yang bisa mengerti beban ini. Namun, saat ia sampai di koridor laboratorium, langkahnya terhenti.
Di sana, di balik jendela kaca yang buram, ia melihat Banyu. Pemuda itu sedang berdiri tegak, namun auranya tidak lagi hitam kemerahan yang mentah. Auranya kini berwarna ungu gelap yang kental, berdenyut mengikuti detak jantungnya. Banyu sedang berbicara dengan seseorang, namun orang itu tidak terlihat oleh mata biasa.
Lauren memfokuskan pandangannya, memanggil energi birunya. Saat dunianya tersingkap, ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di samping Banyu.
Sosok itu adalah dirinya sendiri.
Lauren melihat dirinya yang lain sedang membelai pipi Banyu, membisikkan sesuatu yang membuat wajah Banyu mengeras karena amarah. Lauren mencoba mendekat, namun kakinya terasa seperti terpaku di lantai koridor.
"Dia yang membunuh keluargamu, Banyu," bisik Lauren palsu itu dengan suara yang sangat manis.
"Garis darah Suryaningrat memanen nyawa Danuarta selama berabad-abad. Dia mendekatimu hanya untuk menyelesaikan apa yang belum tuntas."
"Aku tahu," jawab Banyu pelan. Suaranya dingin, tidak ada lagi kehangatan yang Lauren rasakan di taman malam itu.
"Dia adalah racun bagi hidupku."
"Banyu! Itu bukan aku!" teriak Lauren sekuat tenaga.
Banyu menoleh ke arah koridor. Matanya kini berpendar merah redup, persis seperti mata entitas yang selalu mengikutinya. Ia menatap Lauren dengan kebencian yang begitu murni hingga Lauren merasa jantungnya seperti diremas.
"Pergi, Lauren. Jangan pernah muncul di depanku lagi jika kau masih ingin bernapas."
Banyu berbalik dan berjalan pergi, menghilang di balik pintu laboratorium. Sosok Lauren palsu itu menoleh ke arah Lauren yang asli, memberikan satu kedipan mata penuh kemenangan sebelum menguap menjadi asap hitam.
Lauren jatuh berlutut, terisak di lantai koridor yang sunyi. Serangan mental ini jauh lebih menyakitkan daripada serangan fisik mana pun. Sang Arsitek tidak lagi mencoba menghancurkan tubuhnya; mereka sedang menghancurkan dunianya. Mereka memisahkan setiap pilar pendukungnya hingga ia benar-benar sendirian.
"Lauren, dengarkan aku," Herza muncul, kali ini tampak sangat nyata.
"Itu manipulasi psikologis. Banyu sedang dirasuki kebencian yang bukan miliknya. Kau harus tetap waras."
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau juga bukan bagian dari mereka?" tanya Lauren, menatap Herza dengan mata sembab.
"Mungkin kau sengaja membuatku bergantung padamu agar aku mudah dikendalikan."
Herza terdiam. Wajahnya menunjukkan kepedihan yang sangat dalam.
"Setelah sepuluh tahun aku menjagamu... kau masih meragukanku?"
"Dunia ini tidak masuk akal lagi, Herza! Aku tidak tahu mana yang nyata dan mana yang halusinasi!" Lauren berteriak, suaranya bergema di lorong sekolah.
Malam harinya, isolasi itu semakin terasa nyata. Papa dan Mamanya duduk di ruang tamu, namun Lauren melihat mereka seperti maneken tanpa jiwa. Bisikan-bisikan itu kini menetap di setiap sudut rumahnya. Mereka menyebutkan bahwa kedua orang tuanya sebenarnya membenci kemampuannya dan hanya berpura-pura peduli karena takut.
Lauren mengunci diri di kamar, tidak berani menyalakan lampu. Setiap pendar cahaya indigo yang keluar dari tangannya kini terasa seperti api yang membakar batinnya sendiri. Ia merasa terjebak di dalam jaring-jaring yang ia buat sendiri.
Beberapa hari kemudian, SMA Garuda terasa seperti penjara. Lauren tidak lagi berbicara dengan siapa pun. Ia melihat setiap siswa sebagai mata-mata Sang Arsitek. Keteguhan hatinya terkikis oleh kesunyian yang ia ciptakan sendiri untuk melindungi diri.
Di kantin yang ramai, Lauren duduk di pojok paling gelap. Ia melihat Banyu masuk. Pemuda itu kini selalu dikelilingi oleh siswa-siswa yang memiliki aura kelabu, seolah-olah ia sedang membangun pasukannya sendiri. Banyu tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.
Lauren meraih medalinya, mencoba mencari resonansi yang pernah menghubungkan mereka. Namun, yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang dingin. Benang takdir itu masih ada, namun kini benang itu terasa seperti kawat berduri yang siap menjerat lehernya.
Saat jam pulang sekolah, hujan deras turun membasahi kota. Lauren berdiri di bawah halte bus, menggigil. Ia melihat motor Banyu berhenti tepat di depannya. Banyu membuka helmnya, menatap Lauren melalui tirai hujan.
Tidak ada halusinasi kali ini. Tidak ada sosok lain di sampingnya. Hanya mereka berdua.
"Apa kau masih ingin bermain menjadi pahlawan, Lauren?" tanya Banyu. Suaranya datar, tanpa emosi.
Lauren menatap mata Banyu yang kini terlihat sangat asing. Ia mencoba mencari sisa-sisa pemuda yang ia selamatkan di taman bermain, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang tenang dan mematikan.
"Aku tidak sedang bermain, Banyu. Aku mencoba menyelamatkan kita," jawab Lauren, suaranya bergetar menahan tangis.
"Menyelamatkan siapa? Dirimu sendiri?" Banyu tertawa pahit.
"Kau adalah alasan kenapa keluargaku mati. Kau adalah alasan kenapa hidupku menjadi neraka. Dan sekarang kau ingin berpura-pura menjadi pelindungku?"
Banyu memakai kembali helmnya dan menarik gas motornya dengan kencang, meninggalkan Lauren yang terpaku di tengah siraman hujan. Lauren menatap punggung Banyu yang menjauh dengan penuh keraguan. Di dalam kepalanya, suara Sangker Bumi kembali tertawa, merayakan kemenangan kecil mereka atas runtuhnya ikatan terakhir sang Gadis Indigo.
Lauren menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia tidak tahu lagi siapa yang harus dipercaya. Herza, Banyu, bahkan dirinya sendiri—semuanya terasa seperti bidak dalam permainan yang tidak bisa ia menangkan.
Mana yang nyata, Banyu? bisik Lauren dalam hati. Mana yang benar-benar kau, dan mana yang mereka tanamkan di kepalamu?
Di seberang jalan, di bawah bayangan gedung yang tua, Lauren melihat Herza berdiri menatapnya dengan pandangan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Keraguan itu kini telah menjadi jurang yang sangat dalam.