Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Begitu melangkah masuk ke tribun VIP, suasana sangat riuh. Ratusan pasang mata seolah tertuju padaku—atau lebih tepatnya, pada jaket dengan bordir nama "A. PRADIPTA" yang kupakai. Aku menarik napas dalam-dalam, meremas tali tas ransel tempat bunga Daisy pemberiannya bergantung, dan duduk di barisan terdepan.
Di tengah lapangan, Arkan sedang mendribel bola dengan lincah. Keringat membasahi jersey nomor 07-nya. Tiba-tiba, ia berhenti bergerak. Matanya menyisir tribun dengan gelisah, seolah mengabaikan instruksi pelatihnya.
Dan saat tatapan kami bertemu, Arkan mematung.
Sebuah senyum lebar, jenis senyum yang sanggup meruntuhkan tembok pertahananku, terbit di wajahnya. Ia tidak melambai. Ia hanya menunjuk ke arah jantungnya, lalu mengacungkan jempol ke arahku sebelum kembali fokus ke ring.
"Gila! Dia beneran 'nandain' lo di depan satu GOR, Ra!" bisik Kak Pandu yang duduk di sebelahku.
Pertandingan berlangsung sengit. Skor susul-menyusul hingga kuarter terakhir. Sepuluh detik tersisa, SMA Garuda tertinggal dua poin. Bola ada di tangan Arkan. Seluruh tribun menahan napas. Arkan dijepit oleh dua pemain lawan, namun gerakannya luar biasa tenang.
Ia melakukan step-back yang tak terduga, melompat tinggi, dan melepaskan tembakan tiga angka tepat saat bel berbunyi.
SWISH!
Bola masuk dengan sempurna. GOR meledak dalam sorakan kemenangan. Teman-teman setimnya langsung menyerbu, mengangkat Arkan ke bahu mereka. Namun, di tengah kegilaan itu, mata Arkan tetap mencari satu titik.
Ia turun dari bahu teman-temannya, mengabaikan kamera wartawan sekolah, dan berlari mendekat ke arah tribun VIP tempatku berdiri. Napasnya memburu, peluhnya bercucuran, tapi matanya bersinar terang.
"Lunas, Ra!" teriaknya parau dari pinggir lapangan, suaranya berusaha menembus kebisingan. "Menangnya buat lo! Makasih udah dateng!"
Aku menunduk dari pagar pembatas, tersenyum lebar tanpa peduli lagi pada sekeliling. "Lo keren, Arkan!"
Arkan tertawa renyah, lalu ia melepas ban kapten di lengannya dan melemparkannya ke arahku. "Simpen itu. Itu bukti kalau asuransi lo hari ini resmi jadi juara!"
Aku menangkap ban kapten itu, merasakannya masih hangat oleh suhu tubuhnya. Sore itu, di tengah gegap gempita kemenangan, aku menyadari bahwa aku tidak lagi takut pada 'pajak kebahagiaan'. Karena jika Arkan adalah orangnya, aku tidak keberatan membayar berapa pun harganya.
Genggaman tanganku pada ban kapten itu mengerat, merasakan tekstur kain yang lembap namun menyimpan energi kemenangan yang luar biasa. Di bawah sana, Arkan masih menatapku, mengabaikan rekan timnya yang ditarik-tarik untuk berfoto bersama piala.
"Ra! Turun sini!" teriaknya lagi, kali ini sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar aku melewati pagar pembatas tribun VIP yang rendah.
Aku menoleh ke arah Kak Pandu. Ia hanya mengedikkan bahu sambil nyengir lebar. "Pergi sana. Gue yang bawa tas lo balik. Jangan kelamaan, atau gue laporin Mama kalau lo diculik kapten basket!"
Dengan jantung yang berdegup dua kali lipat lebih kencang dari biasanya, aku melompati pagar pembatas. Begitu kakiku menapak di lantai kayu GOR, aroma keringat, karet sepatu, dan euforia kemenangan langsung menyergap. Arkan berjalan cepat menghampiriku, membelah kerumunan orang yang mencoba menyalaminya.
"Lo beneran pake jaketnya," gumam Arkan saat kami berdiri berhadapan. Suaranya rendah, kontras dengan kegaduhan di sekeliling kami. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, tapi matanya tidak lepas dariku. "Gue kira lo bakal malu."
"Tadinya iya," jawabku jujur, mencoba mengatur napas. "Tapi bunga Daisy di tas gue bilang, asuransinya butuh dukungan langsung di lapangan."
Arkan tertawa—tawa yang begitu lepas hingga matanya menyipit. Tiba-tiba, ia menarik ujung lengan jaket varsity-nya yang kupakai, mendekatkan jarak kami hingga aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang habis bertanding.
"Makasih, Nara. Gue nggak bercanda pas bilang kemenangan ini buat lo," bisiknya tepat di samping telingaku. "Bab luka lo mungkin panjang, tapi mulai hari ini, biar gue yang nulis bab-bab yang isinya cuma kemenangan kayak gini."
Tiba-tiba, lampu GOR meredup sesaat sebelum lampu sorot (spotlight) mengarah ke tengah lapangan untuk upacara penyerahan piala. Di tengah kegelapan itu, Arkan meraih tanganku, menyembunyikannya di balik saku jaket besar yang kupakai. Genggamannya kokoh, seolah meyakinkanku bahwa ia tidak akan melepaskannya meski lampu kembali terang.
"Arkan! Sini! Foto tim dulu!" teriak Rian dari tengah lapangan.
Arkan menghela napas, terlihat enggan melepaskan momen ini. "Gue harus ke sana bentar. Jangan ke mana-mana, oke? Tunggu di parkiran motor gue. Ada satu hal lagi yang mau gue kasih tahu, dan ini bukan soal basket."
Aku mengangguk pelan. "Iya, gue tunggu."
Saat ia berlari menuju panggung juara, aku berdiri di pinggir lapangan, memandangi punggung nomor 07 itu dengan perasaan yang tak lagi 'datar'. Aku menatap ban kapten di tanganku dan bunga Daisy di tas ranselku. Ternyata, kebahagiaan memang punya pajak, tapi jika asuransinya adalah Arkan Pradipta, aku rasa aku akan sangat kaya raya mulai sekarang.
!
Aku menggenggam ban kapten itu erat, merasakan tekstur kainnya yang lembap namun menyimpan energi kemenangan yang luar biasa. Di sekelilingku, suara riuh suporter SMA Garuda masih membahana, tapi bagiku, dunia seolah mendadak senyap, menyisakan hanya aku dan laki-laki yang masih terengah-engah di pinggir lapangan itu.