Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 13.
Arunika sempat terdiam sepersekian detik. Tatapannya tertahan pada wajah Angkasa yang masih duduk tenang di hadapannya. Keteguhan pria itu, dan cara berbicara tanpa ragu membuat Arunika hampir tertegun.
Namun hanya sebentar, Arunika segera menenangkan dirinya. Senyum tipis muncul di bibirnya, tipis namun jelas menunjukkan jarak.
“Saya tidak berniat menjalin hubungan apapun ke depannya,” ucapnya dengan suara tenang namun tegas. “Jadi saya tegaskan dari sekarang… saya tidak akan tertarik pada Anda.”
Ia berhenti sejenak, menatap Angkasa. “Sekarang karena Anda sudah baik-baik saja, bisakah kita membicarakan hal pribadi yang saya katakan di telepon?”
Angkasa menghela napas pelan. Ekspresinya tidak berubah, seolah penolakan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Kita tidak membicarakan hal seperti itu di sini.”
Arunika sedikit mengernyit. “Kenapa?”
Angkasa bangkit dari kursinya, mengambil jasnya yang tergantung di sandaran. “Terkadang… dinding juga punya telinga.”
Nada suaranya tetap santai, tetapi maknanya jelas. Ia menatap Arunika sejenak sebelum melanjutkan, “Kita pergi ke restoran pribadiku saja.”
Arunika masih menatapnya tanpa berkedip, Angkasa menambahkan dengan tenang, “Tenang saja, restoran itu sudah aku kosongkan malam ini. Tidak akan ada orang lain di sana.”
Sebuah jeda singkat terjadi di antara mereka. Arunika menimbang beberapa detik, lalu akhirnya berdiri.
“Baik.”
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari rumah sakit.
“Asistenku sudah mengirim mobil baru, sebaiknya kita pakai mobilku saja.“ Ujar pria itu.
Mobil hitam milik Angkasa sudah menunggu di depan, sopirnya membuka pintu dengan hormat saat keduanya mendekat.
Perjalanan menuju restoran berlangsung dalam keheningan. Lampu-lampu kota melintas di luar jendela, memantul di kaca mobil seperti garis-garis cahaya yang bergerak cepat.
Arunika memandang ke luar, pikirannya kembali dipenuhi oleh file lama yang ia temukan—tentang kecelakaan dua puluh lima tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Sementara itu, Angkasa duduk di sampingnya dengan ekspresi tenang. Namun di balik ketenangannya, pikirannya bekerja jauh lebih cepat. Beberapa hal yang selama ini terkubur di masa lalu… tampaknya mulai muncul kembali.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan restoran mewah yang berdiri sedikit terpisah dari keramaian kota. Lampu-lampu di dalamnya menyala lembut. Namun benar seperti yang dikatakan Angkasa—tempat itu kosong.
Tidak ada tamu lain.
Hanya beberapa pelayan yang berdiri di kejauhan.
Angkasa membawa Arunika ke sebuah ruang makan privat di lantai atas. Ruangan itu luas namun sunyi, dengan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota malam.
Begitu mereka duduk berhadapan, Arunika tidak membuang waktu.
“Apa Anda tahu tentang kecelakaan yang menimpa orang tua saya?”
Pertanyaan itu langsung jatuh ke tengah meja seperti batu berat.
Angkasa tidak langsung menjawab. Ia menatap Arunika beberapa saat, seolah menilai sesuatu di wajah wanita itu. “Kenapa kamu bertanya padaku?”
Arunika membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah tablet, beberapa file terbuka di layar.
“Ada transaksi kompensasi dari perusahaan Anda… kepada keluarga Wijaya.”
Ia menggeser tablet itu ke arah Angkasa. “Tepat setelah kecelakaan orang tua saya.”
Tatapan Arunika menjadi jauh lebih tajam sekarang. “Dan yang lebih menarik, nama keluarga Anda juga muncul dalam salah satu transfer tambahan.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Angkasa membaca layar tablet itu tanpa mengubah ekspresinya.
Arunika bersandar sedikit ke kursinya. “Saya ingin tahu satu hal saja, Tuan Angkasa.”
Nada suaranya tetap tenang, namun ada sesuatu yang jauh lebih dingin di baliknya.
“Apakah keluarga Anda… terlibat dalam kematian orang tua saya?”
Angkasa akhirnya mengangkat pandangannya, mata tajamnya bertemu dengan mata Arunika. “Kalau aku mengatakan tidak… apakah kamu akan percaya?”
Arunika tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap tertuju pada Angkasa, mencoba membaca sesuatu di wajah pria itu. Namun seperti biasa, ekspresi Angkasa terlalu tenang—terlalu sulit ditebak.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu Angkasa meletakkan tablet itu kembali ke atas meja.
“Aku tidak akan memintamu percaya begitu saja,” kata pria itu pelan.
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar sangat pasti. “Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu.”
Ia sedikit menyandarkan punggungnya ke kursi, sorot matanya kini lebih serius dari sebelumnya. “Aku juga sedang menyelidiki kecelakaan itu. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya terlibat, tapi jika memang ada orang dari keluargaku yang ikut campur dalam kejadian itu…”
Angkasa berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Aku sendiri yang akan mengungkapnya.”
Tatapan Arunika mengeras, ia mencoba mencari tanda kebohongan di wajah pria itu. Namun tidak ada. Yang ada hanya ketegasan yang anehnya terasa… jujur.
Angkasa melanjutkan dengan suara lebih rendah. “File yang kamu temukan hanyalah sebagian kecil dari transaksi lama, ada banyak hal lain yang disembunyikan.”
Ia mengetuk pelan meja di depan mereka. “Dan sekarang… seseorang sudah tahu kalau kamu mulai mendekati kebenaran.”
Arunika mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu, mobil yang menabraknya dengan sengaja. Dan, Simon juga mengalami kecelakaan—sesaat setelah pria itu mengakses informasi tersebut.
Percobaan pembunuhan, itu memang bukan kebetulan.
Angkasa menatap Arunika intens, “Kamu harus percaya padaku.”
Arunika sempat terdiam. “Lalu apa yang Anda inginkan dari saya?” tanyanya.
Angkasa menjawab tanpa ragu. “Kita tetap bekerja sama.”
Arunika mengerutkan kening. “Dalam proyek rumah sakit itu?”
“Ya.” Angkasa mengangguk pelan. “Proyek itu bukan hanya tentang investasi. Banyak orang penting terlibat di dalamnya… termasuk beberapa pihak yang mungkin juga terkait dengan masa lalu orang tuamu.”
Ia berhenti sejenak. “Selama proyek itu berjalan, kita punya alasan yang sah untuk terus berhubungan dan mengakses banyak hal.”
Tatapan Arunika sedikit menyipit. “Jadi menurut Anda… ini semacam penyelidikan terselubung?”
“Kalau kamu ingin menyebutnya seperti itu.” Senyum tipis muncul di bibir Angkasa, ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Tapi ada satu syarat.”
Arunika menatapnya tajam. “Apa?”
Angkasa menjawab dengan tenang, “Kamu boleh mencurigaiku, tapi kamu jangan menganggapku sebagai musuhmu.”
Arunika terdiam beberapa detik, lalu ia bersandar kembali ke kursinya.
“Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja, Tuan Angkasa.”
“Aku tahu.”
“Tapi untuk sementara… kita bisa bekerja sama sesuai keinginan Anda.” Ucap Arunika yakin.
Sudut bibir Angkasa terangkat sedikit. “Itu sudah cukup.”
Namun Arunika belum selesai.
“Jangan salah paham,” kata wanita itu dengan nada dingin. “Jika kebenaran itu melibatkan keluarga Anda… jangan berharap saya akan bersikap lunak.”
Hening sesaat memenuhi ruangan.
Lalu Angkasa tersenyum tipis. “Tentu saja.”
____
Di bandara internasional, seorang wanita berpenampilan elegan baru saja turun dari pesawat. Langkahnya tenang dan penuh percaya diri. Ia melepas kacamata hitamnya, menampilkan wajah cantik yang dingin namun anggun.
“Nona, selamat datang kembali. Apakah Anda ingin langsung pulang ke rumah?” tanya asistennya.
Veronica menggeleng pelan.
“Tidak! Kita ke Rumah Sakit Cakrawala.” Ia tersenyum tipis. “Sebentar lagi Papa akan menyerahkan posisi direktur rumah sakit kepadaku. Sebelum itu, aku ingin menemui Bang Angkasa. Sudah dua tahun kami tidak bertemu, pasti dia juga merindukanku.”
Veronica adalah putri angkat keluarga Wiratama—adik angkat dari Angkasa Wiratama dan putri kesayangan keluarga itu. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan akademiknya hingga jenjang tertinggi... program Strata 3, gelar Doktor.
“Baik, Nona,” jawab asistennya.
Veronica menatap ke depan, matanya dipenuhi keyakinan. “Kali ini aku akan memutus hubungan dengan keluarga Wiratama… dan menjadi Nyonya Wiratama setelah menikah dengan Bang Angkasa.”
Senyumnya semakin dalam. “Sekarang aku sudah hebat, aku tidak lagi membutuhkan dukungan keluarga Wiratama.”
Ia mengangkat dagunya sedikit, penuh ambisi. “Yang kubutuhkan sekarang hanya satu hal, menjadi istri Bang Angkasa. Dia… hanya akan menjadi milikku.”
Veronica tersenyum puas. Dalam pikirannya, tak ada lagi yang bisa menandingi dirinya. Ia seorang dokter dengan gelar tertinggi. Dan menurutnya, hanya wanita seperti dirinya yang pantas berdiri di samping Angkasa.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️