Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Tidak adil.
Gema ancaman Aska kepada Vanya di telepon masih terngiang di telinga Nana. Namun, saat mereka kembali ke kantor dan suasana mulai mendingin, Nana menyadari satu kenyataan pahit. Aska tidak memproses hukum Vanya. Pria itu hanya membiarkan Vanya pergi dengan peringatan lisan, sementara Tris diseret ke balik jeruji besi.
"Bukankah ini tidak adil? Kenapa wanita itu dibiarkan setelah mengacaukan pekerjaanku?" gumam Nana mengepalkan tangannya.
Di lorong firma hukum yang sepi, Nana berdiri mematung saat melihat Vanya keluar dari ruangan Aska dengan wajah yang kembali tenang, seolah badai baru saja lewat tanpa merusak satu helai rambutnya pun.
"Kau kecewa, Nana?" Vanya berhenti di depan Nana, tersenyum simpul yang sangat merendahkan. "Aska tidak akan pernah menyentuhku. Ayahku adalah mentornya dulu, orang yang membentuknya menjadi singa di ruang sidang seperti sekarang. Di dunia kami, utang budi jauh lebih berat daripada sekadar sabotase naskah komik."
Nana mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Kau hampir menghancurkan hidupku, Kak. Kau menghasut Tris."
"Dan aku tetap melenggang bebas," bisik Vanya tepat di telinga Nana. "Belajarlah, Nana. Martabat tanpa kekuasaan itu tidak ada gunanya."
Vanya berjalan pergi dengan langkah anggun. Darah Nana mendidih. Rasa tertekan karena dituduh ceroboh, rasa takut saat disekap Tris, dan rasa tidak adil karena Aska membiarkan dalang di balik semua ini lolos, meledak menjadi satu.
Nana menarik hoodie gelap yang tadi ia kenakan, menutup kepalanya, dan mengikuti Vanya ke area parkir VIP yang remang-remang. Saat Vanya hendak membuka pintu mobilnya, Nana menarik bahu wanita itu dengan kasar.
PLAK! PLAK!
Dua tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kanan Vanya. Wanita kelas atas itu tersungkur ke pintu mobilnya, matanya membelalak kaget, memegang pipinya yang mulai memanas dan memerah.
"Itu untuk martabat yang kau hina," desis Nana dari balik bayangan hoodie-nya. "Dan satu lagi, karena kau merasa bisa mengatur hidup orang lain!" Suara Nana dalam tidak seperti suara yang biasa orang lain dengar, seperti bukan gadis itu yang sedang berbicara.
Sebelum Vanya sempat berteriak atau mengenali wajahnya dengan jelas di kegelapan, Nana sudah berlari menghilang melalui celah pilar parkir, menuju pintu keluar yang tidak terjangkau sudut tajam CCTV. Ia tidak peduli lagi. Ia hanya butuh melampiaskan sesak yang nyaris membunuhnya.
Satu jam kemudian, Nana duduk di sebuah kedai ramen kecil di pinggiran kota. Matanya sembap, dan ia masih gemetar. Gani duduk di hadapannya, baru saja meletakkan dua mangkuk ramen besar yang masih mengepul.
"Makanlah, Na. Aku yang traktir. Anggap saja ini perayaan karena naskahmu sudah kembali ke tangan Siska untuk didaftarkan," ujar Gani berusaha mencairkan suasana.
Nana hanya mengaduk mie-nya tanpa selera. "Aska melepaskannya, Gan. Dia melepaskan Vanya hanya karena ayahnya."
Gani menghela napas, ia menyodorkan segelas ocha dingin ke arah Nana. "Na, dengarkan aku. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau berlari sekuat tenaga hanya untuk mengejar standar pria seperti Pak Aska. Tapi lihat apa yang terjadi? Kau hampir celaka."
Nana mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku hanya ingin dia melihatku sejajar dengan Vanya."
"Untuk apa?" potong Gani lembut. "Jika seseorang benar-benar menginginkanmu, tidak peduli kau punya gelar Harvard atau hanya seorang komikus, dia akan menerimamu. Cinta bukan ujian masuk firma hukum, Nana. Kau tidak perlu nilai sempurna untuk dicintai."
Nana terdiam. Perkataan Gani menghujam tepat di ulu hatinya.
"Aku hanya ingin kau mencintai dirimu sendiri dulu, di atas rasa cintamu pada Pak Aska," lanjut Gani. "Kau pernah cerita, pria itu punya trauma. Dia takut memulai karena kenangan mantan istrinya, dan dia menggunakan logika untuk membentengi hatinya. Kau tidak bisa menghancurkan benteng itu hanya dengan menjadi 'pintar'. Kau hanya akan lelah sendiri."
Nana menunduk, teringat bagaimana Aska memegang bahunya dengan erat di gudang tadi. Ada perlindungan di sana, tapi juga ada jarak yang begitu lebar. Aska terlalu takut untuk jatuh lagi, sehingga dia menarik semua orang ke dalam dunianya yang dingin dan penuh perhitungan.
"Mungkin kau benar, Gan," bisik Nana pelan. "Aku terlalu fokus mengejar garis finish yang dia buat, sampai aku lupa aku juga punya kaki yang bisa lecet."
Nana menoleh sambil tersenyum. "Tapi aku masih mau berusaha, biarkan satu tahun ini, aku mengejarnya. Walaupun nanti gagal, tidak sepenuhnya kerugian bagiku, karena aku pasti menjadi orang yang lebih baik dari setiap perjuanganku mengejarnya."
Gani menarik napas dalam, rasanya ia yang lelah melihat Nana berlari mencoba menggapai tembok Aska yang terlalu tinggi. Satu tahun bukan waktu yang panjang, kecil kemungkinan Nana akan berhasil karena dari segi apapun dia dan Aska berbeda.
"Kesetaraan itu sulit sekali. Yah, biasanya orang berada memang mengincar hal yang seperti itu, atau ... cuman Pak Aska? Entahlah, aku tidak tahu," gumam Gani namun masih bisa didengar oleh Nana.
"Bagaimana denganmu, Gani?"
"Aku? Aku kenapa?
"Adakah orang yang ingin kau kejar?"
Gani menjepit dagunya sambil berpikir. "Usiaku baru 24 tahun, tapi penghasilanku cukup untuk berumah tangga. Hmm, untuk sekarang aku belum memikirkan pasangan. Bagaimana aku jadi trauma seperti Pak Aska?"
Nana tertawa, mendorong pundak Gani dengan candaan.
"Kau ini, jika dia mendengarnya, dia akan membekukanmu dengan tatapannya."
"Bahkan aku sudah menggigil sekarang!" Gani mengusap-usap lengannya, bergaya kedinginan.
Nana dan Gani hanya beda empat bulan dalam usia, mungkin itu salah satu alasan mereka mengobrol dengan santai tanpa ada keterlibatan status senior dan junior. Ada cukup banyak rekan kerja perempuan juga di kantor, tapi dengan mereka, Nana sekedar menyapa dengan sopan daripada sesuatu yang pantas dipanggil teman.
Nana kembali ke apartemen. Ia mendapati sebuah kotak kecil di depan pintunya tanpa kartu nama. Saat dibuka, isinya adalah sebuah salep untuk luka di sudut bibirnya dan sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang kaku dan tajam.
[Besok pagi jam delapan. Notaris sudah menunggu. Jangan terlambat lagi. Dan... pipi Vanya bengkak, dia bilang dia dipukul orang tak dikenal. Pastikan 'orang tak dikenal' itu tetap tidak dikenal.]
Nana terpaku memegang catatan itu. Jantungnya berdegup kencang. Aska tahu. Pria itu tahu apa yang ia lakukan di parkiran, tapi Aska memilih untuk menutupinya.
Di balik ketidaksukaannya pada emosi yang meluap-luap, Aska ternyata memberikan satu pengecualian lagi untuk Nana: sebuah pembiaran atas kesalahan yang dilakukan demi keadilan versinya sendiri.
Vanya pasti sudah mengadu, dia pasti sudah sadar bahwa pelakunya adalah Nana, namun tidak ada bukti untuk memberikan tuduhan. Sebagai pengacara, dia tidak bisa sembarangan menunjuk tanpa memiliki pegangan.
Bersambung....