Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Harapan di Ujung Tunas
Keadaan bener-bener kacau. Semesta saku yang tadinya indah, penuh warna emas dan wangi teh yang nenangin, mendadak berubah jadi tempat yang paling nyeremin. Bayangin aja, pohon-pohon teh raksasa yang tadinya jadi pilar dunia mereka sekarang mulai rontok satu-satu. Daun-daunnya nggak lagi gugur dengan cantik, tapi berubah jadi abu hitam yang bau kebakar, nutupin pandangan mata.
Di tengah-tengah badai abu itu, Sekar lagi meluk sebuah tunas kecil. Tunas itu bukan cuma tanaman biasa. Di dalem gumpalan akar cahaya yang transparan itu, ada sosok kecil yang meringkuk janin Adrian. Dia kelihatan sangat rapuh, kulitnya seputih porselen dan ada denyut cahaya pelangi yang sangat tipis di dadanya.
Adrian, yang tadinya pelindung paling tangguh, sekarang cuma seonggok kehidupan kecil yang kalau kesenggol dikit aja bisa ilang.
"Dri... tahan, ya. Gua di sini. Gua nggak bakal biarin siapa pun nyentuh lu," bisik Sekar. Suaranya gemeteran, air matanya jatuh tepat di atas permukaan kristal tunas itu.
Tiba-tiba, bunker "Akar Sejati" yang mereka tempati ngehantem sesuatu yang keras. BRAAAKKK! Bunker itu terguling hebat. Sekar kepental ke dinding logam, tapi dia tetep meluk tunas Adrian kenceng-kenceng, gunain badannya sendiri sebagai bantal supaya tunas itu nggak pecah. Aris di ruang kendali teriak-teriak sambil nyoba megangan ke kabel yang melambai-lambai.
"KAR! PEGANGAN! GRAVITASINYA UDAH NGGAK MASUK AKAL!" Aris teriak sambil mukul-mukul konsol yang udah ngeluarin percikan listrik merah. "Dunia ini lagi ditarik sama kekuatan dari luar! Kayak ada vakum raksasa yang mau nyedot kita semua!"
Sekar nyoba buat berdiri, tapi rasanya kayak kakinya diiket pemberat beton. Dia ngelihat keluar lewat kaca jendela bunker yang udah retak. Di luar sana, di antara kegelapan yang makin pekat, muncul ribuan mata raksasa. Bukan mata makhluk hidup, tapi lingkaran-lingkaran cahaya merah yang dingin.
Itu adalah The Watchers.
Mereka nggak nyerang. Mereka cuma... ngelihatin. Rasa ngerinya beda sama pas lawan The Harvester. Kalau The Harvester itu kayak perampok yang mau nyuri harta lu, The Watchers ini kayak ilmuwan yang lagi ngelihatin semut di dalem toples yang lagi dibakar. Buat mereka, penderitaan Adrian, Sekar, dan Aris cuma data eksperimen.
"Subjek 17.4 menunjukkan degradasi emosional yang signifikan,"suara berat yang tadi bergema lagi, tapi kali ini asalnya dari mana-mana. "Proses penuaian akan segera dimulai. Bersihkan laboratorium. Buang sisa-sisa organik yang tidak terpakai."
"Sisa organik?! Kita manusia, woi! Bukan sampah!" Aris maki-maki ke langit-langit bunker. Dia bener-bener kesel karena ngerasa harga dirinya sebagai manusia diinjek-injek.
Sekar ngerasain panas di tangannya. Tunas Adrian mulai berubah warna. Dari pelangi yang cerah, jadi warna ungu gelap yang kedap-kedip. Sekar ngerasa ada bisikan pelan banget di dalem kepalanya. Bukan suara kata-kata, tapi lebih ke perasaan.
“Takut... Gelap... Dingin...”
Itu perasaan Adrian. Sekar bisa ngerasain ketakutan Adrian yang sangat murni, kayak anak kecil yang kesasar di hutan gelap. Adrian yang tangguh itu sekarang bener-bener ilang, nyisain jiwa yang trauma karena udah ngebakar eksistensinya sendiri.
"Nggak, Dri. Nggak gelap. Liat gua," Sekar nempelin keningnya ke permukaan tunas itu. Dia nyoba ngalirkan semua kenangan indahnya tentang sinar matahari di Malabar, tentang hangatnya air seduhan teh pertama di pagi hari. "Ada gua di sini. Lu aman."
Tunas itu sedikit tenang, warnanya balik lagi jadi emas redup. Tapi itu nggak cukup. Dunia di sekeliling mereka makin hancur. Akar-akar cahaya yang jadi jembatan semesta itu mulai putus satu per satu. Bunker mereka melayang tanpa arah, menuju ke arah mulut lubang hitam yang tadi disebut sebagai portal pembuangan.
"Kar, dengerin gua!" Aris merayap di lantai bunker, nyamperin Sekar dengan muka penuh oli dan darah. "Kita nggak bisa cuma diem di sini nunggu disedot. Bunker ini punya fungsi 'Hyper-Jump', tapi energinya nggak cukup. Jantung Emas itu... energinya udah hampir abis buat nahan serangan tadi."
"Terus gimana, Ris?" tanya Sekar panik.
"Cuma ada satu cara. Gua harus 'nancepin' bunker ini ke satu-satunya akar primer yang masih ada. Itu tuh, akar yang warnanya perak di sebelah sana!" Aris nunjuk ke arah sebuah jalinan cahaya raksasa yang masih bertahan di tengah badai abu. "Kalau gua bisa nancepin jangkar bunker ke sana, gua bisa nyuntikkin sisa energi bunker ke akar itu buat ngelakuin lompatan dimensi. Tapi taruhannya gede."
"Gede gimana?"
"Gua harus keluar ke dek luar buat nembakin jangkarnya secara manual. Dan di luar sana... udaranya udah nggak ada, Kar. Udah jadi ruang hampa yang isinya cuma radiasi penghapus."
Sekar menggeleng kuat. "Jangan, Ris! Lu bakal mati!"
"Lu liat Adrian, Kar," Aris nunjuk ke janin tunas di pelukan Sekar. "Dia udah ngorbanin segalanya buat kita. Masa gua nggak bisa ngorbanin dikit buat dia? Gua ini cuma teknisi montir, tapi gua nggak mau mati sebagai 'sisa organik' yang dibuang alien-alien sombong itu!"
Aris berdiri dengan susah payah. Dia pake helm daruratnya yang udah retak. Dia ngelihat ke arah Sekar dengan tatapan yang sangat mantap. "Jagain bos kita, Kar. Kalau kita berhasil mendarat di suatu tempat yang aman, gua mau nagih janji dia buat beliin gua bengkel paling canggih di Jakarta."
Tanpa nunggu jawaban Sekar, Aris ngebuka pintu palka darurat. Angin vakum langsung nyedot semua oksigen di dalem ruangan, bikin Sekar makin susah napas. Aris melangkah keluar ke dek luar bunker, di tengah-tengah badai abu hitam dan tatapan dingin The Watchers.
Sekar cuma bisa ngelihat lewat monitor kecil yang masih nyala. Dia liat Aris berjuang ngelawan gaya tarik portal, ngerayap di atas badan logam bunker sambil bawa meriam jangkar. Dia kelihatan kecil banget dibandingin mata-mata merah di langit.
Di saat Aris lagi berjuang di luar, tunas Adrian di pelukan Sekar mulai bergetar lagi. Kali ini getarannya lebih kenceng. Warnanya berubah-ubah dengan cepat: Merah, Biru, Emas, Putih.
“Akar... Cari... Akar... Kedalaman...”
Bisikan Adrian makin jelas di kepala Sekar.
"Apa, Dri? Akar apa? Aris lagi nyoba nancepin kita ke akar perak itu!" jawab Sekar sambil terus meluk tunas itu.
“Bukan... Perak itu jebakan... Itu saraf mereka... Cari yang Gelap... Akar Hitam di bawah...”
Sekar kaget. Dia langsung ngelihat ke monitor sensor luar. Bener aja, akar perak yang dituju Aris ternyata terhubung langsung ke salah satu mata raksasa The Watchers. Kalau Aris nancepin jangkar ke sana, mereka malah bakal ditarik masuk ke dalem mesin eksperimen mereka!
"ARIS! JANGAN KE PERAK! ARIS, DENGERIN GUA!" Sekar teriak-teriak ke radio, tapi cuma ada suara statis. Radio komunikasinya rusak gara-gara ledakan tadi.
Sekar panik. Dia harus ngasih tahu Aris, tapi dia nggak bisa ninggalin tunas Adrian. Kalau tunas ini kegoncang dikit aja tanpa pelukan Sekar, janin di dalemnya bisa hancur.
Tiba-tiba, Sekar ngelihat ke arah Jantung Emas yang ada di meja kendali. Benda itu masih kedap-kedip. Sekar dapet ide gila. Dia inget kalau Jantung Emas itu bisa jadi transmitter dua arah.
Dia nyentuh Jantung Emas itu pake satu tangan, sementara tangan satunya tetep meluk Adrian. Dia nyoba nyatuin frekuensi pikirannya sama Aris.
"Ris... plis... dengerin gua... pindahin tembakan lu ke bawah... ke arah akar yang warnanya hitam... itu jalan keluarnya..." Sekar konsentrasi penuh, dia ngerasa kepalanya mau pecah karena maksa ngirim pesan mental.
Di luar bunker, Aris udah siap nembakin jangkar ke akar perak. Jarinya udah di pelatuk. Tapi tiba-tiba, dia ngerasa kepalanya berdenging kenceng banget. Dia denger suara Sekar, tapi rasanya kayak suara itu dateng dari hatinya sendiri.
Aris ragu sebentar. Dia ngelihat ke bawah, ke arah kegelapan portal. Di sana, nyempil sebuah jalinan akar yang warnanya item pekat, hampir nggak kelihatan karena ketutup abu. Akar itu kelihatan mati, tapi ada getaran rendah yang sangat stabil dari sana.
"Akar hitam? Lu beneran nih, Kar?" gumam Aris di balik helmnya.
Aris ngambil keputusan dalam sekejap. Dia muter meriam jangkarnya, ngarahin ke bawah tepat ke jantung kegelapan.
CLESSS!
Jangkar itu melesat dan nancep sempurna ke akar hitam. Seketika, bunker mereka kesentak hebat. Tapi bukannya ditarik ke atas sama The Watchers, bunker itu malah ketarik ke bawah, masuk ke dalem portal dengan kecepatan tinggi.
"Eksperimen menyimpang dari jalur yang ditentukan,"suara entitas purba itu terdengar mulai panik suatu hal yang langka buat makhluk selevel mereka. "Unit 17.4 mencoba melarikan diri ke 'The Sub-Root'. Hancurkan dimensinya sekarang!"
Mata-mata merah di langit mulai nembakin laser-laser pemusnah. Dunia pohon teh itu bener-bener diledakkin dari segala arah. Tapi bunker mereka udah masuk terlalu dalem ke akar hitam.
Di dalem bunker, Sekar ngerasa dunianya jungkir balik. Dia meluk tunas Adrian sekuat tenaga. Cahaya di dalem tunas itu tiba-tiba meledak, nyelimutin Sekar dan seluruh ruangan dengan warna pelangi yang sangat hangat.
“Terima kasih, Sekar... Tidurlah sebentar... Kita akan sampai...”
Suara Adrian kali ini terdengar sangat lembut, sangat tenang, mirip banget sama Adrian yang asli. Sekar ngerasa matanya berat banget. Rasa capek selama berhari-hari perang mendadak nyerang dia. Dia ngerasa aman. Dia ngerasa, apa pun yang terjadi setelah ini, dia udah ngelakuin yang terbaik.
Sekar pingsan sambil tetep meluk janin tunas itu.
Waktu seolah-olah berhenti. Pas Sekar ngebuka mata lagi, suasana udah nggak lagi bising. Nggak ada suara ledakan, nggak ada suara teriakan Aris, nggak ada suara dingin The Watchers.
Dia ada di sebuah ruangan yang lantainya terbuat dari pasir putih halus. Cahayanya remang-remang, warna biru laut yang nenangin. Di sekelilingnya, ada dinding-dinding karang raksasa yang ngeluarin cahaya bioluminescence.
"Kita... di mana?" Sekar duduk pelan-pelan. Dia ngecek pelukannya. Tunas Adrian masih ada, tapi sekarang kristalnya udah pecah.
Sekar panik. "Dri?! Adrian?!"
Tapi kepanikannya ilang pas dia liat apa yang ada di pangkuannya. Janin kecil itu udah nggak ada. Sebagai gantinya, ada seorang anak kecil, mungkin umurnya sekitar lima tahun, dengan rambut hitam berantakan dan mata emas yang sangat jernih. Anak itu lagi tidur pules, pake baju kain putih sederhana.
Itu Adrian. Tapi versi kecil.
"Kar... lu bangun juga akhirnya..." suara Aris kedengeran dari pojokan ruangan.
Sekar nengok. Aris lagi tiduran di atas tumpukan rumput laut kering. Bajunya compang-camping, helmnya udah nggak ada, tapi dia kelihatan sehat. Dia lagi megangin sebuah botol berisi cairan biru yang dia temuin di sana.
"Ris! Kita di mana? Dan kenapa Adrian jadi... begini?" Sekar nunjuk anak kecil di pangkuannya.
Aris berdiri, dia jalan nuju ke jendela besar yang ada di dinding karang itu. "Gua juga baru bangun sejam yang lalu. Kayaknya kita ada di 'The Sub-Root', Kar. Dasar dari segala dimensi. Tempat di mana semua eksperimen alien itu nggak bisa jangkau karena ini adalah wilayah 'Limbah Data'."
Sekar ikut ngelihat ke jendela. Di luar sana, bukan lagi angkasa atau pohon teh. Di luar sana adalah lautan luas yang airnya terbuat dari cahaya perak mengalir. Dan di dasar laut itu, ribuan bangkai kapal induk alien dan sisa-sisa peradaban yang udah hancur teronggok begitu aja, jadi rumah buat ikan-ikan cahaya yang aneh.
"Kita ada di tempat sampah galaksi?" tanya Sekar nggak percaya.
"Tempat sampah paling aman di alam semesta," jawab Aris. "Tapi ada masalah satu, Kar. Liat itu."
Aris nunjuk ke arah kejauhan. Di atas lautan cahaya itu, ada sebuah menara raksasa yang puncaknya nembus ke awan. Di puncak menara itu, ada sebuah simbol yang sangat Sekar kenal. Simbol matahari yang sama kayak di dahi Adrian, tapi warnanya hitam pekat.
"Itu menara apa?"
"Menurut data bunker yang masih bisa gua akses... itu adalah menara 'Kesadaran Asli Subjek 17'. Adrian yang sekarang kita bawa ini cuma jiwanya. Raga dewasanya, kekuatannya, dan ingatannya sebagai pelindung... semuanya kesedot ke menara itu pas kita jatuh tadi."
Anak kecil di pangkuan Sekar mendadak ngebuka matanya. Dia natap Sekar dengan polos, terus dia megang pipi Sekar.
"Kakak... siapa? Di mana Bapak sama Ibu?" tanya Adrian kecil dengan suara yang sangat imut.
Sekar ngerasa hatinya perih. Adrian nggak inget apa-apa. Dia bener-bener balik jadi anak kecil yang polos, tanpa beban sebagai penyelamat dunia.
Tiba-tiba, pintu ruangan karang itu terbuka. Bukan alien yang masuk, tapi seorang pria tua pake baju lurik Jawa lengkap dengan blangkonnya. Dia bawa nampan berisi tiga cangkir teh yang aromanya sangat... Malabar.
"Sori telat masakin tehnya. Tadi airnya agak lama mendidih di bawah laut," ucap pria tua itu sambil tersenyum ramah.
Sekar dan Aris melongo. Mereka kenal banget sama wajah itu.
"WAK HAJI?!" teriak mereka barengan.
Wak Haji (atau sosok yang mirip banget sama dia) cuma ketawa kecil sambil naruh nampan di pasir. "Panggil saja Penjaga Gudang. Dan selamat datang di akhir dari awal perjalanan kalian. Tehnya diminum dulu, sebelum 'Tamu' yang di atas menara itu turun ke sini."
Apakah sosok yang terlihat seperti Wak Haji itu benar-benar dia, ataukah hanya manifestasi lain dari sistem "The Sub-Root"? Mengapa raga dan ingatan dewasa Adrian terperangkap di menara hitam tersebut, dan siapa sebenarnya "Tamu" yang dimaksud oleh sang Penjaga Gudang?
Di tempat persembunyian yang aman ini, mampukah Sekar mengembalikan ingatan Adrian sebelum entitas di menara hitam memutuskan untuk "menghapus" sisa-sisa keberadaan mereka selamanya?
semangat update terus tor..