Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Auman di Puncak Pedang
Semakin jauh mereka melangkah ke dalam Pegunungan Seribu Pedang, kabut kelabu perlahan menipis, digantikan oleh hembusan angin yang mengerikan.
Angin di wilayah ini tidak sekadar meniup debu. Ia membawa partikel-partikel Qi elemen Logam alami yang sangat padat. Setiap hembusan terasa seperti ribuan silet kecil yang menyayat udara.
Zhao Yun harus memutar Qi di dalam Dantian nya tanpa henti, membentuk lapisan Perisai Angin setebal dua inci di sekitar tubuhnya hanya untuk mencegah pakaian dan kulitnya terkoyak. Wajahnya pucat karena kelelahan mempertahankan Qi.
Di depannya, Lin Xuan berjalan dengan langkah konstan. Jubah hitamnya telah robek di beberapa bagian, namun kulit pucat di baliknya tidak tergores sedikit pun. Angin silet itu hanya meninggalkan bunyi gemerincing pelan saat membentur Tulang Besi Hitam-nya, seolah membentur pelat baja padat.
"Fisik yang benar-benar tidak masuk akal," gumam Zhao Yun takjub di belakangnya.
"Kita hampir sampai," kata Lin Xuan, menghentikan langkahnya di bibir sebuah kawah raksasa yang diapit oleh tiga tebing batu berbentuk pedang.
Di dasar kawah tersebut, tumbuh hamparan ilalang yang daun-daunnya berwarna abu-abu dan setajam pedang sungguhan.
"Rumput Pedang Besi!" mata Zhao Yun berbinar. "Jumlahnya ratusan! Jauh melebihi kuota misi sekte kita. Jika kita membawa semuanya, kita bisa menukarnya dengan ribuan Poin Kontribusi!"
Namun, Lin Xuan tidak melihat ke arah rumput tersebut. Matanya yang tajam terkunci pada pusat kawah.
Di tengah hamparan Rumput Pedang Besi, terdapat sebuah batu kristal seukuran kepala manusia yang memancarkan cahaya putih keemasan. Fluktuasi Qi Logam murni memancar deras dari batu itu, menjadi sumber utama angin silet di area ini.
"Esensi Emas Putih (White Gold Essence)," Gu Tianxie mendesis penuh semangat di dalam Lautan Kesadaran Lin Xuan. "Harta karun alami tingkat Bumi! Bijih ini mengandung sari pati logam murni. Ini adalah katalis yang sempurna untuk menembus tahap Tulang Tembaga Darah!"
"Tapi batu itu tidak sendirian," batin Lin Xuan dingin.
Tepat di samping kristal tersebut, gundukan batu raksasa tiba-tiba bergerak.
Batu itu bernapas.
Mata sebesar lentera terbuka, memancarkan warna kuning predator. Binatang raksasa itu bangkit berdiri, mengguncangkan debu dari tubuhnya. Itu adalah seekor singa raksasa, namun alih-alih bulu, seluruh tubuhnya ditutupi oleh sisik-sisik emas yang saling tumpang tindih seperti zirah perang berat. Ekornya panjang dan berujung pada gada berduri logam.
"Singa Bersisik Emas," Zhao Yun menelan ludah, pedangnya langsung bergetar di tangannya. "Binatang Roh Tingkat 2 Puncak! Kekuatannya setara dengan kultivator Foundation Establishment Lapisan 8!"
Monster itu mengaum.
ROOOAAR!
Gelombang suara yang bercampur dengan Qi Logam meledak, menghancurkan bebatuan di dinding kawah. Zhao Yun terpaksa mundur tiga langkah sambil menyilangkan lengan untuk menahan tekanan suaranya.
"Biar aku yang mengalihkan perhatiannya, Saudara Mu!" teriak Zhao Yun, memaksakan diri maju. "Gunakan celah sisiknya untuk menyerang!"
Seni Pedang Sabit Angin!
Zhao Yun melompat ke udara, menebaskan pedangnya berkali-kali. Puluhan bilah angin berwarna hijau melesat menghantam punggung Singa Bersisik Emas.
TRANG! TRANG! TRANG!
Bilah-bilah angin itu pecah begitu membentur sisik emas sang monster, bahkan tidak meninggalkan goresan putih. Singa itu mendengus meremehkan, lalu mengayunkan ekor gadanya ke arah Zhao Yun yang masih berada di udara dengan kecepatan kilat.
"Terlalu cepat!" Zhao Yun melebarkan matanya. Ia tidak punya pijakan untuk menghindar.
WUSH!
Sesosok bayangan hitam melesat melewati Zhao Yun.
Lin Xuan menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak, memposisikan dirinya tepat di jalur ekor raksasa itu. Ia tidak mencabut pedang besinya, melainkan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
BAAAM!
Gada berduri logam itu menghantam lengan Lin Xuan dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan sebuah paviliun. Tanah di bawah kaki Lin Xuan amblas sedalam setengah meter. Udara meledak.
Namun, lengan Lin Xuan tidak hancur.
Tulang Besi Hitam miliknya berderit keras, menahan beban puluhan ribu jin tenaga fisik sang monster. Darah segar mengalir dari kulit lengannya yang robek terkena duri, namun tubuhnya tidak bergeser satu inci pun.
"Cuma segini?" bisik Lin Xuan, mendongak menatap mata kuning raksasa itu. Niat Membunuh murni meledak dari dalam Dantian nya.
Singa itu terkejut. Insting binatangnya merasakan bahaya yang sangat pekat dari mangsa kecil di depannya, bahaya yang lebih kuno dan lebih buas darinya.
Lin Xuan menurunkan lengannya, lalu menerjang maju.
Ia membuang pedangnya. Melawan monster berlapis zirah dengan pedang besi biasa adalah tindakan bodoh; pedangnya hanya akan patah. Ini adalah pertarungan fisik murni.
Lin Xuan melompat ke arah wajah singa itu. Tangan kirinya mengepal, dialiri oleh Qi dari sembilan pilar hitamnya.
Ia meninju rahang bawah monster itu dengan kekuatan penuh.
BOOM!
Rahang raksasa itu terangkat paksa ke atas, memaksa singa itu berdiri dengan dua kaki belakangnya. Namun Singa Bersisik Emas adalah penguasa pegunungan ini. Meski kesakitan, ia membuka mulut raksasanya lebar-lebar.
Cahaya putih keemasan berkumpul di tenggorokannya. Ia bersiap menembakkan Energi Pemusnah Logam dari jarak nol sentimeter ke wajah Lin Xuan.
"Mati," desis Lin Xuan.
Di saat yang bersamaan, Lin Xuan menyalurkan seluruh sisa Qi dan kekuatan fisiknya ke jari telunjuk tangan kanannya. Kulit di sekitar jarinya seketika berubah ungu kehitaman, menahan kompresi energi yang ekstrem.
Seni Jari Pemutus Kehidupan!
Sebelum sinar logam itu meledak, Lin Xuan menusukkan jarinya tepat ke tenggorokan singa raksasa tersebut, menembus celah lembut di bawah rahang yang tidak tertutupi oleh sisik emas.
CRAAASH!
Jari telunjuk Lin Xuan menembus kulit tebal, daging, dan otot, langsung menyasar ke pembuluh darah utama dan pusat saluran Qi di tenggorokan sang monster. Energi kompresi itu meledak di dalam.
Sinar putih di mulut singa itu padam seketika.
Monster itu tersedak darahnya sendiri. Matanya melotot. Tenggorokannya hancur total dari dalam. Tubuh raksasanya mengejang hebat di udara sebelum akhirnya jatuh berdebum ke dasar kawah, menciptakan gempa kecil yang meruntuhkan kerikil dari dinding tebing.
Lin Xuan mendarat dengan ringan di atas bangkai monster itu. Tangan kanannya berlumuran darah panas. Nafasnya sedikit berat, namun wajahnya tetap datar.
Zhao Yun mendarat di sampingnya, matanya membelalak tak percaya.
"Kau... membunuh Binatang Roh Tingkat 2 Puncak dengan tangan kosong..." Zhao Yun bergumam, merinding melihat mayat raksasa itu. "Bahkan Tetua Feng mungkin butuh seratus jurus pedang untuk menembus zirah emasnya."
"Zirahnya memang kuat, tapi organ dalamnya tetaplah daging," jawab Lin Xuan pragmatis. Ia berjongkok, menggunakan tangan kanannya untuk membelah dada singa itu secara brutal, mencari hadiah utamanya.
Lin Xuan menarik keluar sebuah kristal bundar sebesar kepalan tangan yang memancarkan cahaya keemasan. Inti Binatang Roh (Spirit Beast Core).
Pada saat yang sama, tanpa sepengetahuan Zhao Yun, Cincin Samsara Darah di jari Lin Xuan menyala redup. Cincin itu menyedot kabut darah dan esensi kehidupan yang menguar dari mayat singa itu, melahapnya dengan rakus.
Di dalam Dantian Lin Xuan, sembilan pilar hitamnya menyerap energi darah itu. Namun kali ini, Lin Xuan menajamkan Mata Batinnya (Divine Sense).
Ia merasakan sesuatu yang janggal. Saat energi darah yang sangat masif itu mengalir, ia melihat retakan-retakan halus di dasar pilarnya tidak menutup. Sebaliknya, retakan itu tampak berdenyut, seolah menyerap energi itu untuk hidupnya sendiri, bukan untuk memperkuat pilar.
"Gu," suara Lin Xuan di dalam Lautan Kesadarannya terdengar sangat tenang, ketenangan sebelum badai. "Kenapa retakan di pilarku terasa seperti... parasit?"
Di dalam cincin, Gu Tianxie terdiam sesaat. Hantu tua itu tahu bahwa Lin Xuan terlalu cerdas untuk dibohongi selamanya, terutama setelah indranya dipertajam oleh pertarungan demi pertarungan.
"Itu adalah harga dari Kesengsaraan Surgawi, Bocah," jawab Gu dengan nada sedikit lebih keras, menutupi kebohongannya. "Petir Surgawi meninggalkan Hukum Kehancuran (Law of Destruction) di dasar fondasimu. Ia memang menyerap energi. Kau butuh waktu dan lebih banyak pembunuhan untuk mencucinya bersih!"
Lin Xuan tidak membantah, namun Niat Membunuh yang sangat tipis dan tak terdeteksi terlintas di relung jiwanya yang paling dalam. Kepercayaan Lin Xuan pada Gu Tianxie telah resmi mencapai titik nol. Mulai detik ini, cincin di jarinya bukan lagi sekutu, melainkan musuh dalam selimut yang harus ia tangani.
"Saudara Mu," panggil Zhao Yun, membuyarkan fokus Lin Xuan. Zhao Yun sedang berdiri di dekat kristal Esensi Emas Putih di tengah kawah. "Batu ini... energi Logamnya sangat murni. Apa kau membutuhkannya?"
Lin Xuan berjalan mendekat. Ia menatap batu itu.
"Ya. Ini adalah bijih yang kubutuhkan untuk menyembuhkan kondisi tubuhku," bohong Lin Xuan dengan lancar. "Kumpulkan Rumput Pedang Besi sebanyak yang kau bisa bawa. Aku butuh waktu satu malam di sini untuk menyerap bijih ini. Besok fajar, kita kembali ke sekte."
Zhao Yun mengangguk antusias. Ia segera mulai mencabuti rumput-rumput tajam itu dengan hati-hati.
Lin Xuan duduk bersila di depan Esensi Emas Putih. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan batu yang memancarkan hawa tajam tersebut.
"Malam ini, aku akan menembus Tulang Tembaga Darah," batin Lin Xuan. "Dan begitu aku mencapai tahap itu, aku akan mulai mencari cara untuk membedah rahasia cincin sialan ini."
Di tengah kawah yang dipenuhi darah monster dan hawa Logam yang mematikan, sang Asura muda mulai menutup matanya, bersiap menelan esensi alam liar ke dalam tulangnya.