Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17. kecelakaan kecil lagi
Rafael memutuskan untuk datang ke apartemen Bella untuk berbicara. Bukan dia sendiri yang menghubunginya, melainkan asistennya, tanda jelas bahwa pria itu terlalu sibuk, atau terlalu angkuh, untuk berkomunikasi langsung.
Bella menggantungkan banyak harapan pada malam ini. Ia harus menetapkan batasan yang jelas dengan Rafael. Masa ketika pria itu bisa mengendalikan hidupnya sesuka hati sudah berakhir.
Untuk menghindari kesalahpahaman, mereka sepakat menghadirkan pengacara masing-masing. Bella yakin kontrak adalah satu-satunya cara untuk menahannya. Sebagai pengusaha besar dengan reputasi dan aset yang dipertaruhkan, Rafael tentu tak akan sembarangan melanggar perjanjian tertulis. Kali ini, Bella bertekad untuk tidak lagi menjadi pihak yang terpojok. Ia ingin memegang kendali.
Ia meminta Bastian menjadi perwakilannya, pengacara kepercayaan ayahnya sekaligus teman lama keluarga. Bastian menyetujui permintaan itu dan berjanji akan merahasiakan segalanya, bahkan dari ayah Bella sendiri.
Sebelum bertemu Rafael, Bella merasa perlu menenangkan pikirannya dan menghirup udara segar.
Jika pertemuan ini berjalan sesuai rencana, banyak masalah yang akan terselesaikan. Mereka bisa mencapai kesepakatan soal bayi, dan jika Rafael sedang bermurah hati, mungkin juga soal penyewaan gedung kafenya. Yang terpenting, Rafael akhirnya harus mengalah.
Bella membungkuk, mengikat tali sepatu kets nya dengan rapi.
Ia berencana berjalan-jalan sebentar lalu mencari makan. Ada beberapa restoran lokal yang belum pernah ia coba, hanya berjarak dua blok dari apartemennya.
Ia membuka ritsleting saku celana olahraganya, memasukkan sejumlah uang, lalu menutupnya kembali.
Bella mengenakan pakaian olahraga, mungkin ia akan jogging menuju restoran, meski kemungkinan besar ia hanya akan berjalan santai sambil mencari alasan untuk tidak berlari sama sekali.
Ia mengambil kunci dari gantungan, keluar, lalu mengunci pintu apartemen. Bella turun menggunakan lift, melewati gerbang depan, dan melangkah ke jalan. Ia berjalan cepat, kuncir rambutnya bergoyang lembut di belakang kepala.
Udara segar memenuhi paru-parunya, membuat tubuhnya sedikit lebih rileks. Ia melewati satu blok, lalu berbelok ke kiri menuju jalan yang dipenuhi restoran dan pub.
Bella berjalan perlahan, melewati satu tempat ke tempat lain, menimbang-nimbang pilihannya. Biasanya ia menilai restoran dari tampilan luar dan ulasan, tapi terkadang justru makanan dari food truck sederhana yang paling memikat seleranya.
Akhirnya Bella berhenti di depan sebuah restoran bernama The Lunch. Tempat itu tampak modern dan elegan. Beberapa meja tersusun rapi di beranda, menghadap taman kecil yang ditata indah dan dipenuhi bunga mawar. Sebuah air mancur berdiri di tengah taman, menambah kesan tenang. Seluruh dinding bangunan terbuat dari kaca, memungkinkan siapa pun melihat sekilas interiornya dengan meja-meja kayu hangat yang tertata apik di dalam.
Restoran itu langsung memberinya inspirasi untuk merenovasi kafenya.
Bella melangkah masuk dan segera disambut aroma kopi yang kuat. Ia menghela napas kecil. Sayang sekali, ia tak akan bisa menikmati kopi selama delapan bulan ke depan atau bahkan lebih.
Ia memilih duduk di meja pojok. Tangannya meraba menu yang diletakkan di atas meja. Bahkan tekstur kertasnya terasa menyenangkan di kulitnya. Bella membuka halaman demi halaman, menimbang-nimbang apa yang ingin ia pesan.
Ia sangat ingin waffle, tapi ia bisa membuatnya sendiri di rumah. Kali ini, ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Pandangan matanya tertuju pada bakmi Thailand. Ia belum pernah mencobanya, dan foto di menu terlihat sangat menggugah selera.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya seorang pelayan perempuan.
Pelayan itu mengenakan pakaian serba hitam dengan celemek bertuliskan The Lunch dalam huruf besar dan tebal. Di dadanya tersemat name tag bertuliskan Grace.
“Saya mau pesan bakmi Thailand, ukuran sedang,” jawab Bella sambil menunjuk gambar di menu.
“Ada lagi?” tanya Grace, mencoret-coret catatan di buku kecilnya.
“Air putih, dengan irisan lemon di sampingnya,” tambah Bella.
Pelayan itu tersenyum kecil sebelum berbalik dan berjalan menuju dapur.
Tak lama kemudian, Bella merasakan desakan yang familiar. Kandung kemihnya terasa penuh dan tak bisa lagi diabaikan.
Ia melirik ke arah tanda toilet di pintu yang berada di sudut jauh restoran, tepat di seberangnya.
Lebih baik makan dengan kandung kemih kosong, pikirnya.
Bella mendorong kursinya ke belakang. Kaki kursi berderit saat bergesekan dengan lantai, lalu tiba-tiba berhenti, seolah tersangkut sesuatu. Ia mendorongnya lebih keras.
“Aww—”
Sebuah suara lirih terdengar, diikuti sensasi cairan dingin yang menyiram wajah Bella.
Pipinya langsung memanas, kali ini karena kaget dan kesal, saat ia menoleh untuk melihat apa yang baru saja terjadi.
Seorang pria jangkung berdiri tepat di belakangnya, memegang gelas kopi yang isinya hampir habis. Sebagian tumpah membasahi kemejanya, sisanya menggenang di lantai.
Bella baru menyadari bahwa kursinya pasti mengenai pria itu saat ia berdiri. Rasa kesal yang sempat muncul seketika berubah menjadi rasa malu.
Akhirnya Bella mendongak dan menatap wajah pria itu yang nyaris terlalu mempesona untuk diabaikan. Rambut pirang gelapnya tampak sedikit berantakan, dengan beberapa helai jatuh menutupi dahinya. Namun yang paling mencolok adalah garis rahangnya yang tegas dan mata biru pucat yang serasi dengan keseluruhan parasnya.
Pria itu sungguh menawan. Memang, ia tidak setampan Rafael, tetapi tatapan pria itu bisa dengan mudah membuat siapa pun tenggelam terlalu dalam.
Rafael. Hanya memikirkan nama itu saja sudah cukup membuat darah Bella mendidih.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Bella akhirnya, tersadar dari lamunannya sendiri.
“Tidak apa-apa,” jawab pria itu sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar ia tidak perlu merasa bersalah. “Aku juga tidak melihatmu,” tambahnya dengan tawa kecil.
Ia melangkah mundur beberapa langkah, memberi jarak.
Bella mendorong kursinya lebih jauh ke belakang lalu berdiri. Ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, mencoba menghilangkan rasa lengket yang tersisa.
“Setidaknya aku harus membelikanmu kopi lagi,” katanya dengan senyum kecil yang canggung.
Seandainya ia tidak sedang hamil, mungkin ia sudah berpikir terlalu jauh pada saat itu.
“Oh, tidak perlu,” jawab pria itu sambil tertawa pelan sekali lagi. Ia kemudian berjalan pergi, menyeka bajunya dengan tisu. Bella memperhatikannya hingga pria itu benar-benar keluar dari gedung.
Ia menghela napas kecil. Sepertinya ia memang memiliki kebiasaan selalu tersandung dan menabrak orang di saat yang paling tidak tepat.
Bella melangkah menuju kamar mandi. Ia perlu membersihkan diri. Untung saja ia mengenakan pakaian berwarna gelap. Aroma cokelat panas masih tercium samar dari tubuhnya, meskipun cairan itu sebenarnya tidak terlalu panas saat tumpah.
Ia mendorong pintu kamar mandi wanita dan mengambil beberapa lembar tisu dari dispenser. Setelah membilas wajahnya, ia menyeka sisa noda cokelat panas itu. Usai membersihkan diri, ia menggunakan toilet, lalu mencuci tangan sebelum kembali keluar.
Ketika ia kembali ke mejanya, jejak tumpahan itu sudah sepenuhnya hilang. Perutnya berbunyi pelan, seolah mengeluh tak sabar menunggu makanan.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanannya. Bella langsung menyantapnya tanpa memedulikan bagaimana penampilannya saat makan dengan begitu lahap. Rasanya jauh lebih lezat daripada yang tampak di foto menu. Setelah selesai, ia menyesap air minumnya perlahan.
Pikiran Bella kemudian melayang pada keponakannya, Hagia. Gadis kecil itu dan ibunya tinggal tidak terlalu jauh dari sana. Sudah lama sekali ia tidak bertemu Hagia, dan tiba-tiba saja rasa rindu itu muncul begitu kuat.
Setelah membayar tagihan dan memberikan tip, Bella berdiri lalu pergi. Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati sebuah taman bermain anak-anak. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika melihat tiga anak kecil bermain di kotak pasir, saling melempar pasir sambil tertawa riang.
Langkahnya terus berlanjut. Beberapa kali berbelok, hingga akhirnya ia tiba di depan rumah Clara. Gerbang kecil rumah itu dibiarkan sedikit terbuka.
Ia melangkah masuk ke halaman dan naik ke beranda. Sebenarnya ia tahu tidak sopan datang tanpa pemberitahuan, tetapi ponselnya tertinggal entah di mana.
Bella mengetuk pintu. “Clara!” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini tanpa berteriak. Kebanyakan penghuni lingkungan itu adalah orang-orang lanjut usia, ia tak ingin mengganggu mereka.
Clara biasanya bekerja dari rumah. Itulah sebabnya ia berasumsi perempuan itu ada di dalam. Namun setelah sekitar lima belas menit, tak juga ada respons.
Akhirnya, Bella menyerah. Ia berjalan menyusuri beranda dan keluar dari halaman. Saat hendak menutup gerbang, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
Ia menoleh dan melihat seorang pria berdiri di gerbang rumah sebelah. Pria itu tampak sedikit kebingungan, seolah kesulitan memahami sesuatu.
Bella mendorong kait gerbang Clara hingga tertutup rapat.
Tunggu. Wajah itu terasa sangat familiar.
Kesadarannya menghantam tiba-tiba. Ia menoleh lagi, menatap lebih saksama. Pria itu, orang yang sama yang sempat ia tabrak sebelumnya.
Kali ini penampilannya berbeda. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Celana jins hitam dan jaket hitam dengan resleting terbuka, memperlihatkan kemeja Calvin Klein di dalamnya.
Dengan cepat, Bella memalingkan wajah dan menundukkan kepala. Ia tak ingin pria itu berpikir ia sengaja mengikutinya atau semacamnya. Rasa tidak enak akibat insiden tumpahan kopi tadi masih mengganggunya.
Ia memutuskan menunggu sampai pria itu pergi.
“Hai,” teriak pria itu ke arahnya.
Terlambat. Pria itu sudah melihatnya. Perlahan, Bella mengangkat kepala dan menatapnya, berusaha menampilkan ekspresi terkejut sealamiah mungkin.
Pria itu masih berdiri di gerbang, kini bersandar santai dengan punggung menempel pada besi pagar.
“Hai,” balasnya sambil memaksakan senyum. “Apa kau kesulitan membukanya?” tanyanya, menunjuk ke arah gerbang rumah pria itu.
“Uh…” pria itu ragu sejenak, lalu menggaruk bagian belakang kepalanya. “Sebenarnya aku yang menutupnya.”
Rambut pirang gelap pria itu kini tersisir rapi, membuat garis rahangnya tampak semakin tegas.
Bella berjalan menghampirinya. Mungkin ia bisa membantu. Di SMA, ia sempat mempelajari beberapa keterampilan teknis dari berbagai proyek wajib yang menurutnya cukup konyol, tetapi ternyata berguna.
Pria itu mundur selangkah, memberi ruang di depan gerbang.
Bella menarik gerbang ke arahnya dan segera menyadari sesuatu. Gerbang itu sudah tertutup rapat.
“Terkunci?” tanyanya, bingung.
“Ya, baru saja kukunci,” jawab pria itu.
“Kau tinggal di sini?” tanyanya lagi sambil melirik rumah bertingkat dua berwarna putih di belakangnya.
“Ya, aku baru pindah,” jawab pria itu. “Kau tinggal di sekitar sini?” balasnya bertanya.
“Tidak. Aku sedang berjalan-jalan, lalu terpikir untuk mengunjungi keponakanku. Tapi sepertinya tidak ada orang di rumah,” lanjut Bella.
“Lucunya, aku juga baru mau jalan-jalan,” kata pria itu. “Mungkin kita bisa pergi ke—”
“Kafe atau semacamnya,” potong Bella. Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
Setampan apa pun dia, Bella tahu dirinya tidak bisa. Mereka baru saja bertemu. Ia tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Beberapa bulan lagi, kehamilannya akan mulai terlihat, dan ia yakin pria itu tak akan ingin berada di dekatnya saat itu.
“Maaf, tapi aku harus menolak. Aku sudah berjalan cukup lama. Aku ingin pulang dan beristirahat.” Bella berpura-pura menguap, menampilkan kesan lelah.
“Ayolah, kau masih berutang kopi padaku,” desak pria itu.
Kesalahannya adalah menatap mata pria itu. Dalam satu tatapan saja, pria itu berhasil memikatnya.
Di mana jiwa petualanganmu? bisik suara di dalam kepala Bella.
Lagipula, ia tidak memiliki urusan penting di rumah. Jadi, mengapa tidak?
“Baiklah, hanya satu jam,” tegas Bella.
“Setuju,” jawab pria itu dengan seringai penuh kemenangan.
Mereka berjalan menuju kafe terdekat. Pria itu memesan latte, sementara ia memilih jus jeruk.
Pria itu tampak heran melihat pilihannya.
Bella hanya beralasan bahwa dirinya baru pulih dari kecanduan kopi tanpa menyebutkan alasan sebenarnya bahwa ia sedang hamil.
Sebagian besar waktu mereka habiskan dengan membicarakan tentang pria itu. Ia bekerja sebagai akuntan sekaligus pekerja lepas, lebih sering menangani perusahaan-perusahaan kecil.
Ternyata ia sedang dalam masa pemulihan dari hubungan selama sepuluh tahun. Tunangannya baru saja meninggalkannya.
Kesepakatan satu jam yang mereka buat perlahan memudar, berubah menjadi tiga jam tanpa terasa. Mereka bahkan sempat makan siang bersama. Bella mendapati dirinya merasa nyaman, seolah ada kesamaan di antara mereka. Tidak berlebihan jika ia berpikir bahwa mereka bisa menjadi teman.
Bella tersenyum pahit dalam hati. Hampir semua peristiwa penting dalam hidupnya selalu berawal dari sebuah kecelakaan. Ia bertemu Rafael karena tak sengaja menabraknya. Ia hamil karena sebuah kesalahan yang bahkan tak pernah ia rencanakan. Dan sekarang, ia tanpa sengaja mendorong kursinya hingga kopi pria itu tumpah ke meja. Bella bertanya-tanya, kecelakaan apa lagi yang akan menantinya setelah ini.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucap Bella ketika mereka berhenti di depan gerbang apartemennya. Pria itu dengan sukarela mengantarnya kembali.
“Aku senang hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi,” katanya sambil menyelipkan sehelai rambut Bella ke belakang telinganya.
“Aku juga bersenang-senang,” balas Bella.
Pria itu mengangguk, tersenyum hangat. “Sampai jumpa.”
Bella berdiri mematung, memperhatikannya hingga Ethan menghilang di ujung jalan.
Barulah saat itu ia tersadar mereka sama sekali belum bertukar nomor telepon. Ethan tidak memberikan nomornya, dan ia pun tidak memiliki nomor pria itu.
Sebuah kecelakaan kecil lagi, pikir Bella.