NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUAH HATI YANG MEKAR

Kalimat itu menutup obrolan pagi mereka dengan manis sekali, meninggalkan lengkungan senyum yang tidak juga pudar dari bibir Rangga bahkan sampai ia sudah berada di balik kemudi mobilnya. Bandung pagi ini sedang cantik-cantiknya. Matahari tidak terasa menyengat, cuma memberikan kehangatan yang pas di kulit, seolah ikut merayakan semangat Rangga yang sedang menggebu-gebu.

Hari ini adalah hari yang spesial sekali buat Rinjani. Setelah perpindahan yang cukup melelahkan secara administrasi, akhirnya putri kecilnya itu resmi menjadi siswi di salah satu sekolah dasar favorit di kawasan Bandung Utara.

Rangga memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah yang kokoh dan terlihat mentereng itu. Ia bersandar di pintu mobil, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kerumunan anak-anak yang mulai berhamburan keluar kelas karena bel pulang sudah berbunyi. Di antara barisan mobil-mobil mewah yang berderet menjemput, Rangga merasa dadanya sesak oleh rasa bangga yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Seketika, ingatannya melayang kembali ke masa-masa pahit di Jakarta. Pikirannya meluncur seperti film lama yang buram. Dulu, jangankan bermimpi menyekolahkan Rinjani di tempat seperti ini, buat membelikan sepasang sepatu sekolah yang layak saja Rangga harus memeras keringat sampai tetes terakhir.

Ia ingat betul sore itu di sebuah pasar loak, ia menatap sepatu sekolah Rinjani yang sudah jebol di bagian ujungnya sampai jempol kaki kecil itu menyembul keluar. Saat itu, Laras cuma mendengus malas sambil sibuk memulas gincu mahalnya. "Ah, Mas, beli lem saja sih! Nggak usah manja deh jadi orang. Uang kamu itu lebih berguna buat cicilan tasku daripada cuma buat sepatu yang ujung-ujungnya bakal kotor juga," kata Laras waktu itu tanpa dosa sedikit pun.

Rangga mengepalkan tangannya di saku celana. Rasa perih itu masih tersisa sedikit, tapi langsung buyar saat ia menatap sosok mungil berlari-lari kecil ke arahnya. Rinjani tampak menggemaskan sekali dengan seragam merah-putih yang masih kaku dan tas punggung baru bermotif bunga.

"Ayah!" teriak Rinjani sambil menghambur ke pelukan Rangga.

Rangga tertawa lepas, ia mengangkat tubuh Rinjani dan menggendongnya sebentar. "Gimana sekolahnya hari ini, Sayang? Capek nggak?"

"Seru sekali, Yah! Teman-temannya baik-baik deh, nggak ada yang galak kayak di sekolah dulu," jawab Rinjani dengan mata berbinar-binar. Rangga menurunkan Rinjani, lalu ia berjongkok sebentar untuk membenarkan tali sepatu putrinya yang sedikit longgar. Sepatu kulit hitam itu mengkilap sekali, tanpa ada lubang atau jahitan yang lepas. Sepatu yang Rangga beli dengan penuh cinta dan rasa syukur.

"Sepatunya nyaman kan? Nggak bikin kaki sakit dong?" tanya Rangga memastikan.

Rinjani menggeleng kuat-kuat. "Nyaman sekali, Yah. Rinjani bisa lari cepat tadi pas olahraga. Makasih ya Ayah sudah belikan sepatu bagus ini buat Rinjani."

Rangga cuma bisa tersenyum lebar, ia mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut. "Apa pun buat Rinjani, selama Ayah masih mampu, Ayah bakal kasih yang terbaik deh. Ayo, kita pulang, Mama sudah tunggu di rumah sama jeruk asam pesatannya tadi pagi."

Di dalam mobil, suasana terasa hangat sekali. Rinjani tidak berhenti bercerita. Suaranya yang cempreng khas anak-anak mengisi setiap sudut kabin mobil, membuat Rangga merasa perjalanannya kali ini adalah perjalanan paling singkat karena ia begitu menikmati setiap kata yang keluar dari mulut anaknya.

"Yah, tadi Rinjani dipuji sama Ibu Guru loh," ujar Rinjani sambil membuka buku tulisnya dengan semangat.

"Loh, dipuji kenapa tuh? Rinjani bikin ulah ya?" goda Rangga sambil tetap fokus menatap jalanan Bandung yang mulai padat.

"Ih, Ayah kok gitu sih! Bukan ulah tau! Tadi Rinjani bisa jawab pertanyaan matematika di depan kelas. Terus Rinjani juga bantu teman yang jatuh di lapangan. Kata Ibu Guru, Rinjani anak yang pintar dan punya sopan santun bagus sekali. Hebat kan?" Rinjani membusungkan dadanya dengan bangga, membuat Rangga terkekeh geli.

Rangga mendengarkan dengan saksama. Hatinya merasa sangat lega menatap perubahan besar pada diri Rinjani. Dulu, saat masih di Jakarta, Rinjani adalah anak yang pendiam, pemalu, dan sering sekali terlihat cemas. Setiap ada suara keras, ia bakal langsung menciut. Rangga tahu betul itu adalah dampak dari seringnya Rinjani menatap pertengkaran hebat antara dirinya dan Laras. Trauma itu dulu terasa seperti bayangan gelap yang terus mengikuti langkah kecil putrinya.

Tapi sekarang, di bawah didikan Syakira, bayangan gelap itu beneran sudah lenyap. Syakira yang selalu sabar mengajak Rinjani bicara, yang tidak pernah membentak meski Rinjani melakukan kesalahan kecil, dan yang selalu memberikan pelukan hangat sebelum tidur, beneran sudah mengubah mental Rinjani menjadi anak yang penuh percaya diri.

"Hebat dong! Itu pasti karena Rinjani rajin belajar sama Mama ya tiap malam?" tanya Rangga.

"Iya! Mama Syakira itu pinter sekali deh, Yah. Kalau Mama jelasin pelajaran, Rinjani langsung paham. Mama juga nggak pernah marah kalau Rinjani salah hitung, malah dikasih semangat terus. Rinjani sayang sekali sama Mama," ucap Rinjani tulus.

Mendengar pengakuan itu, Rangga merasa sedikit bersalah karena sempat ragu untuk membawa Syakira masuk ke dalam hidup Rinjani dulu. Ternyata, kehadiran Syakira bukan cuma sebagai istri buat dirinya, tapi sebagai penyembuh luka buat jiwa anaknya yang sempat hancur.

Lalu, mobil pun sampai di halaman rumah mereka di Lembang. Syakira sudah menunggu di teras dengan daster batiknya yang sederhana namun tetap terlihat cantik sekali di mata Rangga. Ia sedang mengupas jeruk pesatannya tadi pagi.

"Mama! Rinjani pulang!" teriak Rinjani sambil berlari memeluk Syakira.

Seketika Syakira menyambutnya dengan pelukan hangat. "Duh, anak pinter Mama sudah pulang. Gimana sekolahnya? Lancar kan?"

Rinjani pun menceritakan kembali semua prestasinya dengan semangat yang sama kepada Syakira. Rangga berdiri tidak jauh dari mereka, cuma menatap pemandangan itu dengan perasaan damai yang meluap-luap. Ia menatap bagaimana Syakira mendengarkan setiap ocehan Rinjani dengan penuh perhatian, sesekali memberikan pujian atau usapan lembut di pipi.

"Mas, kok malah bengong di sana sih? Ayo masuk, ini jeruknya manis-manis asam segar deh, pas sekali buat siang begini," panggil Syakira sambil melambaikan tangan ke arah Rangga.

Rangga berjalan mendekat, lalu duduk di samping istrinya. Ia mengambil sepotong jeruk dan merasakkan kesegarannya. Tapi bukan rasa jeruk itu yang membuatnya bahagia, melainkan harmoni yang tercipta di antara mereka.

"Dek, makasih ya," bisik Rangga tiba-tiba saat Rinjani sudah masuk ke dalam rumah untuk ganti baju.

Syakira mengernyitkan dahi, bingung. "Makasih buat apa sih, Mas? Kok serius banget wajahnya?"

"Makasih karena sudah jadi ibu yang luar biasa buat Rinjani. Aku menatap dia tadi di sekolah, dia beneran sudah jadi anak yang beda. Dia berani, dia ceria, dan dia bangga sekali punya kamu. Aku nggak tahu apa jadinya Rinjani kalau kita nggak ketemu kamu dulu," ujar Rangga dengan nada yang sangat tulus.

Syakira tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rangga. "Mas, Rinjani itu anak yang baik dari sananya kok. Aku cuma kasih sedikit kasih sayang yang memang dia butuhkan saja. Lagian, dia itu sudah kayak anak kandungku sendiri, jadi jangan bilang makasih lagi ya, ah Mas ini suka bikin suasana jadi haru deh."

Rangga merangkul pundak Syakira, menatap hamparan bukit hijau di depan mata mereka. Ia merasa setiap luka di masa lalu beneran cuma sebuah jembatan untuk sampai ke kebahagiaan ini. Di tangan Syakira, "bekas" luka hidupnya dan Rinjani beneran sedang dipulihkan satu per satu dengan cinta yang begitu luas. Rangga pun yakin, langkah-langkah kecil sang putri ke depan bakal makin mantap karena ia punya rumah tempat ia beneran dicintai tanpa syarat.

Rinjani sudah mulai menemukan jati dirinya yang baru di bawah asuhan Syakira yang penuh kasih.

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!