di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Rina menyandarkan tubuhnya, menatap Rohman dengan tatapan sayu yang dibuat-buat menggoda. Ia sama sekali tidak terlihat takut dengan ancaman "akad sore ini", malah merasa tertantang.
"Emm... boleh deh kalau Mas mau apa-apaan aku," bisik Rina sambil memainkan ujung kerudungnya. "Aku suka kok, asalkan Mas yang lakuin. Daripada sama cowok lain, mending sama 'Mas Arab' kesayanganku ini."
Rohman hampir saja salah menginjak pedal gas lagi. Ia beristighfar berkali-kali dalam hati, mencoba menetralkan hormonnya yang sedang diaduk-aduk oleh ucapan frontal gadis di sampingnya.
"Astagfirullah, Rina... Mas kira kamu itu polos, ternyata seagresif ini aslinya," ucap Rohman dengan napas sedikit tertahan. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat, berusaha tetap fokus ke jalanan menuju rumah Pak RT.
Rina tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat puas. "Menurut Mas, aku polos?"
"Iya. Soalnya kamu di dunia sosial nggak segininya, Sayang. Di HelloTalk kamu memang cerewet, tapi masih ada malunya. Di sini? Kamu benar-benar... luar biasa," jawab Rohman jujur.
Rina malah semakin menjadi-jadi. Ia mendekatkan wajahnya ke arah bahu Rohman, membiarkan aroma parfum London pria itu memenuhi indra penciumannya.
"Sayang... aku mau dicium," pinta Rina tiba-tiba dengan suara manja yang bisa meruntuhkan pertahanan pria manapun. "Mau 'digoyang' boleh nggak?"
DEGG!
Rohman mendadak mengerem mobilnya di pinggir jalan yang teduh, jauh dari keramaian. Ia mematikan mesin, lalu menarik napas sangat dalam. Ia menoleh ke arah Rina, tatapannya kini bukan lagi sekadar kaget, tapi intens dan sangat dalam.
"Rina, dengarkan saya," suara Rohman memberat, penuh dengan nada otoritas seorang laki-laki dewasa. "Kamu tahu kan kalau saya ini laki-laki normal yang sangat mencintaimu? Berhenti bicara seperti itu sebelum saya benar-benar kehilangan kendali di sini."
"Kan aku cuma nanya, Mas..."
"Untuk urusan 'digoyang' atau apapun itu, tunggu dua jam lagi setelah saya menjabat tangan Ayahmu," potong Rohman tegas namun dengan sorot mata yang membara. "Saya akan memberikan semua yang kamu minta, bahkan lebih dari yang kamu bayangkan. Tapi bukan di mobil, dan bukan saat status kita masih orang asing."
Rohman menyalakan kembali mesin mobil dengan gerakan yang lebih cepat. "Dan soal cium... simpan tenagamu. Karena setelah sah nanti, saya tidak akan membiarkan bibirmu itu punya waktu untuk bicara hal-hal nakal lagi. Saya akan 'tutup' dengan cara saya sendiri."
Rina tertegun, nyalinya mendadak ciut tapi hatinya bersorak kegirangan. Ternyata Ustadz yang ia kira "kolot" ini punya sisi liar yang hanya menunggu waktu untuk dilepaskan.
"Galak banget sih," gumam Rina sambil membuang muka ke jendela, menyembunyikan senyum lebarnya. "Ya sudah, buruan jalannya! Aku juga udah nggak sabar pengen 'diunboxing' sama Mas Arab!"
"RINA! JAGA BICARAMU!" seru Rohman pasrah, sementara mobil melesat kencang menuju rumah yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu bersatunya dua insan yang sama-sama tak sabar itu.
Rina tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Rohman yang tampak tegang sekaligus frustrasi. Ia merasa sangat menang karena berhasil mengacak-acak ketenangan sang Ustadz sampai ke akarnya.
"Hahaha! Mas Rohman lucu deh kalau lagi panik begitu," goda Rina sambil menjulurkan lidahnya dengan jahil. "Tapi sayang... aku kan lagi haid! Jadi entar malam Mas nggak bisa apa-apain aku! Bleeekk!"
Rina menepuk-nepuk tangannya kegirangan, membayangkan betapa "tersiksanya" Rohman yang sudah terlanjur meminta akad dimajukan sore ini, namun harus menghadapi kenyataan bahwa "malam pertama" yang sesungguhnya masih terhalang tamu bulanan.
Rohman sempat terdiam, jemarinya mengetuk setir mobil saat mereka mulai memasuki jalanan menuju kompleks rumah Rina. Sudut bibirnya tiba-tiba tertarik membentuk senyum simpul yang sangat tenang—terlalu tenang, hingga membuat tawa Rina perlahan mereda karena curiga.
"Kenapa diam? Kecewa ya?" tanya Rina, mencoba memancing lagi.
"Kecewa? Tidak sama sekali," sahut Rohman santai, suaranya kembali stabil dan penuh wibawa. "Haid itu hanya tujuh hari, Rina. Sedangkan kita punya waktu seumur hidup setelah sah nanti. Mas justru bersyukur kamu sedang haid."
"Lho, kok bersyukur? Mas nggak normal ya?"
Rohman melirik Rina dengan tatapan yang membuat jantung gadis itu berdesir hebat. "Mas bersyukur karena itu artinya Mas punya waktu beberapa hari untuk melatih kesabaran Mas menghadapi istrimu yang ajaib ini. Dan yang paling penting..." Rohman menjeda kalimatnya saat mobil berhenti tepat di depan pagar rumah.
Ia mematikan mesin, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rina, berbisik tepat di telinga gadis itu hingga Rina bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.
"Mas jadi punya waktu untuk menyusun strategi, bagaimana cara membalas semua kejahilanmu hari ini tanpa ada gangguan. Ingat Rina, setelah haidmu selesai, Mas tidak akan menerima kata 'tapi' atau 'nanti'. Kamu sendiri yang minta 'diunboxing' tadi, kan?"
Rina membeku. Bulu kuduknya meremang. Kali ini dia tidak bisa tertawa. Rohman tidak sedang bercanda.
"A-ayo turun! Tuh Ayah udah nunggu di teras!" seru Rina gugup, buru-buru membuka pintu mobil dan hampir tersandung gamisnya sendiri saking paniknya.
Di teras, Ayah, Bunda, dan Imron sudah menunggu dengan wajah campur aduk. Imron bahkan sudah mengganti kaosnya dengan kemeja batik, lengkap dengan peci yang miring ke kanan.
"Ini beneran, Nak Rohman? Sore ini juga?" tanya Ayah meyakinkan, wajahnya tampak serius namun ada binar lega di matanya.
"Betul, Ayah. Mohon maaf jika mendadak, tapi niat baik tidak boleh ditunda. Saksi dan penghulu dari pesantren rekan saya sudah dalam perjalanan ke sini," jawab Rohman sambil mencium tangan Ayah dengan sangat takzim.
Rina berdiri di belakang Rohman, menatap punggung tegap pria itu. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak di balik sifat petakilannya. Pria ini, yang baru ia temui secara nyata tadi pagi, ternyata begitu menjaga kehormatannya sampai rela mempercepat segalanya agar tidak ada fitnah.
"Dek, lo beneran mau kawin sore ini?" bisik Imron sambil menyenggol lengan Rina. "Muka lo kok pucat? Tadi di mobil diapain sama Mas Arab? Jangan bilang lo diculik ke gurun pasir ya?"
"Diem lo, Cak! Adek lagi deg-degan tahu!" balas Rina ketus, tapi tangannya yang dingin tak bisa berbohong.
...*****...
Sore itu, dengan persiapan seadanya namun penuh khidmat, ruang tamu Pak RT disulap menjadi tempat suci. Hanya ada keluarga inti dan saksi. Rina duduk di dalam kamar, mendengarkan suara bariton Rohman yang menggema dengan mantap di ruang tamu.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rina binti Pak RT dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH!"
Air mata Rina luruh seketika. Ia sudah sah menjadi istri dari pria yang dikenalnya sebagai "Arab" di media sosial. Pria yang sabarnya seluas samudra, namun tegasnya sekeras karang.
...*****...