NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Menjemput

Pagi ini terasa begitu membahagiakan bagi Luna. Bagaimana tidak, hari ini neneknya sendiri yang meminta ia ikut menjemput wanita yang telah berhasil memberinya rasa aman dan kasih sayang yang tulus.

“Nenek!” sapa Luna ceria.

Melani yang sedang berada di taman belakang, menyirami bunga-bunga kesayangannya, menoleh sambil tersenyum. Rutinitas sederhana itu selalu ia lakukan setiap kali berkunjung ke rumah ini, seolah ingin menanamkan ketenangan pada setiap sudut halaman.

“Wah, cucu nenek pagi-pagi begini sudah cantik,” ujar Melani sambil melepaskan selang dari tangannya. Ia mendekat dan merapikan rambut Luna dengan penuh kasih sayang.

“Iya dong, Nek,” jawab Luna bangga.

“Sebentar lagikan Luna mau menjemput Kak Vara.”

Melani tersenyum semakin lebar.

“Iya, iya. Nenek jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Melihat Luna seantusias ini.”

“Ayo, kita sarapan dulu,” lanjut Melani sambil menggandeng tangan Luna.

“Setelah itu baru Luna dan Om menjemput..”

“Kak Vara, Nek,” potong Luna cepat.

“Oh iya, Kak Vara,” ulang Melani sambil terkekeh kecil.

Mereka pun menuju ruang makan. Di sana, Nicholas dan Arga sudah duduk lebih dulu, berbincang ringan sambil menikmati sarapan.

“Om, Kakek,” sapa Luna ceria sebelum duduk di kursinya.

Tanpa banyak basa-basi, Luna segera menyantap makanannya. Sesekali ia melirik Arga, jelas sudah tidak sabar.

“Om, cepetan dong makannya,” ucap Luna setelah menghabiskan susunya.

“Luna sudah siap ni!”

Arga melirik keponakannya sekilas, lalu kembali fokus ke piringnya.

“Sabar, Luna. Sebentar lagi Om selesai.”

Namun karena terus didesak, Arga akhirnya mengalah. Sekitar pukul setengah delapan, mereka pun bersiap berangkat menjemput Vara.

Di sisi lain, meski hari libur, Vara tetap bangun pagi seperti biasanya. Ia berniat membersihkan rumah dan halaman. Selama hari kerja, ia hanya sempat membersihkan sekadarnya, jadi akhir pekan adalah waktu yang tepat, untuk menata ruangan dan halaman rumah nya.

Usai sarapan, Vara keluar rumah membawa sapu lidi dan ember air. Ia menyapu dedaunan kering di halaman kecilnya, merapikan pot-pot tanaman, lalu menyiram bunga yang mulai layu. Angin pagi berembus lembut, membuat rambutnya yang terikat sederhana bergoyang pelan.

Saat itulah suara mesin mobil terdengar mendekat.

Vara menoleh. Mobil itu melambat dan berhenti tepat di depan rumahnya.

“Seperti… mobil Tuan Arga,” gumam Vara pelan.

Dan benar saja.

Pintu mobil terbuka, disusul suara yang sangat ia kenal.

“Kak Vara!”

Luna berlari kecil menghampirinya dengan wajah penuh kegembiraan.

“Luna?” Vara menunduk dan tersenyum.

“Ada apa pagi-pagi sudah ke sini? Kenapa tidak bilang dulu?”

“Luna ingin mengajak mu bermain dirumah." Ucap Arga datar seperti biasa. Dan terdengar ambigu

“Main di rumah?” ulang Vara bingung.

“Iya, main dirumah,” sahut Luna mantap.

“Kalau begitu ayo masuk,” kata Vara, mengira Luna ingin bermain di rumahnya.

“Bukan rumahmu,” potong Arga datar dari belakang.

“Tapi rumahku.”

Vara terdiam sejenak.

“Iya, Kak,” sambung Luna cepat.

“Ke rumah Om. Kak Vara mau, ya.”

Belum sempat Vara menjawab, Arga langsung menyela,

“Cepat bersiap. Aku tunggu.”

“I-iya,” jawab Vara gugup.

Ia segera masuk ke rumah. Tak butuh waktu lama, Vara keluar kembali dengan penampilan sederhana namun rapi, kaus lengan panjang berwarna lembut, celana panjang longgar, rambutnya terikat rendah. Tanpa riasan berlebihan, wajahnya justru tampak segar dan alami.

Ia tidak ingin membuat Arga menunggu. Meski pria itu tak pernah marah, sikapnya yang datar dan minim kata selalu membuat Vara merasa sungkan.

“Kak Vara cantik, ya, Om,” ucap Luna polos begitu Vara berdiri di dekat mereka.

Ucapan itu membuat Vara salah tingkah. Ia menunduk, tersenyum kecil.

“Ayo, masuk,” ujar Arga singkat, seolah mengabaikan komentar Luna, meski dalam hatinya, ia tak sepenuhnya menyangkalnya.

Setelah memastikan pintu rumah Vara terkunci dengan aman, Arga menyalakan mesin dan melajukan mobil menuju kediamannya.

---

Kurang dari satu jam perjalanan, mobil Arga akhirnya memasuki halaman kediamannya. Gerbang besar terbuka perlahan, menampilkan rumah megah yang berdiri anggun di balik taman luas nan terawat.

Begitu mobil berhenti, Vara turun lebih dulu. Langkahnya sempat terhenti. Matanya menelusuri bangunan itu dengan perasaan campur aduk, takjub, canggung, dan sungkan.

Rumah ini… sungguh luar biasa batinnya.

“Kak Vara, ayo masuk,” ajak Luna ceria sambil menarik tangannya.

Vara tersenyum kecil dan mengangguk, membiarkan Luna menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Di ruang keluarga, kedua orang tua Arga sudah menunggu. Melani duduk anggun di sofa, sementara Nicholas berdiri di dekat jendela, sesekali melirik ke arah pintu.

Begitu melihat mereka, Luna langsung berlari kecil.

“Kakek! Nenek!” serunya gembira.

Lalu, tanpa menunggu lama, Luna menarik tangan Vara ke depan mereka.

“Kakek, Nenek… ini Kak Vara.”

Vara menunduk sopan.

Vara yang tidak mengira jika kedua orang tua Arga ada dirumah semakin salah tingkah. Namun Vara memberanikan diri menyapa mereka.

“Selamat pagi, Tuan, Nyonya,” ucapnya dengan suara lembut, jelas terdengar gugup.

Ia sempat menahan napas, bersiap dengan berbagai kemungkinan. Dalam benaknya, orang tua Arga mungkin akan bersikap dingin, atau setidaknya menjaga jarak, seperti kebanyakan orang berada pada umumnya, meskipun tidak semuanya. Namun dugaan itu runtuh seketika.

“Selamat pagi Vara,” ujar Melani hangat sambil tersenyum.

“Luna banyak bercerita tentang mu, terimakasih karena kamu sudah mau main ke sini.”

Vara terkejut, mendapat sambutan hangat dari orang tua Arga, senyum lega terukir dibibir nya.

“Nenek!” seru Luna cepat.

“Kak Vara itu jago masak, Nek!”

Vara refleks melirik Luna, sedikit panik.

“Luna…”

“Kak, nanti buatin Luna kue ya,” lanjut Luna penuh harap.

Melani tertawa kecil.

“Luna, Kak Vara jauh-jauh ke sini, masa langsung disuruh masak? Kalau mau kue, bilang saja ke bibi.”

“Tidak apa-apa, Nyonya,” jawab Vara cepat.

Melani tersenyum makin lebar.

“Baiklah. Kalau begitu nanti minta bibi siapkan bahannya.”

Nicholas yang sejak tadi mengamati dengan tenang ikut angkat suara.

“Terima kasih sudah menyayangi Luna seperti ini.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Vara menghangat.

“Iya, Tuan. Sama-sama” jawab Vara pelan,

"Kak Vara Ayo kita kedapur, Luna sudah minta bibi siapkan bahan-bahan kuenya." Ucap Luna bersemangat.

Vara pun mengikuti langkah Luna. Untuk membuatkan kue yang Luna ingin kan.

Melani dan Nicholas saling pandang. Tanpa perlu bicara keduanya sepakat, perhatian Vara pada Luna bukan dibuat-buat. Kebahagiaan Luna terlihat begitu nyata saat bersama gadis itu.

Sementara itu, Arga berdiri sedikit menjauh. Biasanya ia hanya melihat interaksi mereka sekilas, di sela-sela kesibukan. Namun hari ini berbeda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Vara menunduk sejajar dengan Luna, mendengarkan setiap celotehnya, menanggapi dengan sabar, tanpa sedikit pun terlihat terpaksa.

Luna tertawa lepas.

Dan Vara… tersenyum dengan cara yang tak pernah Arga lihat sebelumnya.

Ada kehangatan. Ada ketulusan.

Dada Arga merasakan sesuatu yang asing, seperti ada sesuatu yang perlahan mengendap, menuntut pengakuan.

Perasaan ini… sejak kapan?

Arga mengalihkan pandangannya, mencoba bersikap biasa. Namun semakin ia menolak mengakuinya, semakin jelas, jika Zivara Amaira bukan lagi sekadar karyawan.

Dan bukan pula hanya orang yang dekat dengan Luna.

Tanpa disadari, keberadaannya telah menembus batas yang selama ini Arga tutup dengan rapat.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!