NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Amarah Arga

Julia berdiri di depan cermin kamarnya, memperhatikan penampilannya yang terlihat nyaris sempurna. Rambut tertata rapi, riasan wajah dibuat lembut namun memikat.

“Aku harus berhasil,” gumamnya pelan. “Aku harus meminta maaf pada Arga.”

Tatapannya mengeras.

“Jika kali ini aku berhasil, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku harus segera memiliki Arga… dan melenyapkan anak kecil itu.”

Dengan senyum tipis di bibirnya, Julia melangkah keluar kamar. Sebelum berangkat ke perusahaan Arga, ia menuju dapur.

“Ma, aku sudah siap,” ucap Julia begitu tiba.

Diana yang baru saja selesai menyiapkan makanan menoleh dan tersenyum bangga.

“Kamu cantik sekali, Julia.”

“Tentu saja, Ma. Aku mau menemui Arga. Aku harus tampil maksimal,” jawab Julia percaya diri. “Aku yakin Arga pasti akan memaafkanku.”

Diana menatap putrinya dalam-dalam. “Kamu harus berhasil. Kalau tidak, papamu pasti sangat kecewa.”

Ia lalu mengambil sebuah rantang dari meja. “Ini makan siang untuk Arga. Mama sudah menyiapkannya.”

Julia menerima rantang itu. “Terima kasih, Ma. Aku berangkat dulu.”

Tanpa menunda waktu, Julia segera menuju Perusahaan Wisesa.

Dengan langkah penuh percaya diri, Julia memasuki gedung perusahaan. Beberapa karyawan mengenalinya, namun tak satu pun menyapa. Tatapan mereka dingin dan datar.

Julia menahan kesal.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja Arga, Julia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Tok… tok… tok…

“Masuk,” terdengar suara Arga dari dalam. Ia mengira yang datang adalah Erick, masih sibuk dengan berkas-berkas meski jam istirahat telah tiba.

“Arga…” ucap Julia lembut setelah berdiri di depan mejanya.

Arga langsung menoleh. Sorot matanya berubah dingin.

“Mau apa kamu ke sini?” tanyanya singkat, lalu kembali menunduk menatap dokumen.

“Aku membawakan makan siang untukmu,” jawab Julia sambil mengangkat rantang. “Ayo kita makan siang bersama.”

“Tidak perlu. Aku sudah makan,” sahut Arga datar.

“Apa kamu lupa—atau pura-pura lupa—kalau aku sudah mengatakan tidak ingin bertemu denganmu lagi?”

Julia menggigit bibirnya. Ia melangkah mendekat.

“Arga, aku mohon… maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu.”

Ia menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.

“Tolong beri aku kesempatan. Aku akan menyayangi Luna. Aku janji.”

Arga perlahan berdiri, lalu berjalan menuju jendela, membelakangi Julia.

“Tidak,” ucapnya tegas.

“Tidak akan ada kesempatan untukmu. Orang sepertimu tidak akan berubah.”

Ia berbalik, menatap Julia dengan tatapan tajam.

“Aku menyesal karena pernah mempercayaimu.”

Julia terdiam, namun ia kembali melangkah mendekat.

“Arga… apa pertemanan kita akan berakhir begitu saja? Bukankah kita sudah berteman sangat lama?”

Tangannya terulur, berniat memeluk Arga.

Namun dengan sigap Arga membalikkan tubuhnya. Dalam sekejap, sebuah pistol sudah berada di tangannya, moncongnya tepat mengarah ke kepala Julia.

“Sekali lagi kamu melangkah dan berani menyentuhku,” ucap Arga dingin mematikan,

“aku pastikan peluru ini akan bersarang di kepalamu.”

Mata Julia terbelalak. Wajahnya pucat seketika. Bibirnya bergetar, namun tak satu pun kata mampu keluar.

“Sepertinya kamu memang tidak bisa diberi tahu dengan cara baik-baik,” lanjut Arga tanpa menurunkan pistolnya.

“Dengarkan ini baik-baik. Ini terakhir kalinya kamu memperlihatkan dirimu di hadapanku.”

Ia menatap Julia tanpa emosi.

“Seharusnya aku melakukan lebih dari sekadar mengusirmu. Tapi karena ayahmu adalah sahabat ayahku, aku masih berbaik hati.”

Julia tak sanggup berkata apa pun lagi. Dengan langkah tergesa dan gemetar, ia berbalik lalu keluar dari ruangan itu.

Namun begitu pintu tertutup, wajah Julia berubah. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras.

Ini semua karena Luna.

Anak kecil sialan itu…

Kalau saja dia tidak ada, Arga pasti milikku.

Aku tidak akan diam. Aku tidak akan kalah oleh anak kecil.

Luna… kau akan membayar semua ini.

Vara, Luna, dan Nita bersiap kembali ke ruang kerja setelah selesai makan siang.

“Kak, ayo ke depan sebentar,” pinta Luna sambil menatap Vara dengan mata berbinar.

“Luna ingin es krim.”

“Setelah beli es krim, kita langsung kembali ya,” jawab Vara lembut. “Jam istirahat sebentar lagi habis.”

“Iya, Kak,” sahut Luna patuh.

Vara menoleh pada Nita.

“Nit, aku ke depan sebentar sama Luna. Kamu mau langsung naik atau ikut?”

“Aku tunggu di sini saja deh,” jawab Nita.

“Baik, aku pergi dulu,” ucap Vara. Nita hanya mengangguk sambil tersenyum.

Vara segera membawa Luna menuju penjual es krim yang berada tak jauh dari area parkir. Setibanya di sana, Vara menunjuk kursi panjang di dekat gerai.

“Luna duduk di sini dulu ya. Kakak beli es krimnya.”

“Iya, Kak,” jawab Luna ceria, lalu duduk manis menunggu.

Di lobi, Nita yang sedang berdiri menunggu tiba-tiba melihat seorang wanita melangkah keluar dari gedung perusahaan dengan wajah masam dan langkah tergesa.

“Itu kan Nona Julia,” batinnya heran.

“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya kelihatan marah sekali?”

Sementara itu, Julia yang hendak menuju mobilnya tanpa sengaja melihat sosok kecil yang duduk sendirian tak jauh dari area parkir.

Luna.

Tatapan Julia berubah tajam. Amarah yang sejak tadi ia tahan seolah menemukan pelampiasan.

Tanpa berpikir panjang, Julia melangkah cepat mendekati Luna dan langsung menarik tangan anak itu dengan kasar.

“Ayo ikut Tante!” bentaknya.

“Tante!” Luna terkejut.

“Tante, jangan! Luna tidak mau ikut!”

Luna meronta. Tangannya terasa sakit.

“Kak Vara, tolong Luna!” teriaknya sekuat tenaga.

Vara yang baru saja menerima es krim langsung menoleh ke arah suara itu. Wajahnya seketika berubah pucat saat melihat Luna ditarik paksa oleh seorang wanita.

“Luna!” serunya.

Vara berlari menghampiri mereka.

“Mbak, lepaskan Luna! Dia kesakitan!” ucap Vara sambil menarik tangan Julia agar melepaskan Luna.

“Kamu siapa?” bentak Julia kasar.

“Jangan ikut campur! Ini urusanku!”

“Tidak,” sahut Vara tegas. “Ini urusan saya. Dia anak kecil. Lepaskan sekarang sebelum Mbak mendapat masalah.”

Julia justru semakin kuat menarik Luna.

“Ayo ikut Tante!”

“Tidak! Lepaskan, Tante! Tangan Luna sakit!” tangis Luna pecah.

Dari kejauhan, Nita melihat kejadian itu. Jantungnya berdegup kencang.

Ini tidak beres. Aku harus melakukan sesuatu.

Tanpa ragu, Nita berlari menuju meja resepsionis.

“Tolong!” ucapnya panik.

“Tolong telepon Tuan Arga sekarang juga. Katakan padanya Nona Luna sedang diganggu oleh Nona Julia. Cepat!”

Resepsionis terkejut, namun segera bertindak. Ia mengangkat telepon dan menekan nomor internal Arga.

Dialog Resepsionis – Arga

“Selamat siang, Tuan Arga,” ucap resepsionis dengan suara tergesa.

“Maaf mengganggu. Saya ingin melaporkan keadaan darurat.”

“Ada apa?” tanya Arga dari seberang.

“Tuan, Nona Luna saat ini berada di area depan gedung. Ia sedang diganggu oleh Nona Julia. Salah satu karyawan mencoba menolong, tetapi situasinya terlihat serius.”

Nada suara Arga langsung berubah dingin.

“Apa?”

“Saya mohon Tuan segera turun,” lanjut resepsionis. “Sepertinya Nona Julia memaksa Nona Luna.”

“Saya ke sana sekarang,” jawab Arga singkat, lalu memutus sambungan.

Tak sampai satu menit, Arga sudah keluar dari ruangannya dengan langkah cepat, diiringi Erick yang menyusul di belakangnya.

Tatapan Arga gelap, rahangnya mengeras.

Kali ini, kesabarannya benar-benar habis.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!