Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan Genta Runtuh
Udara di dalam ruang rapat utama Gedung Rektorat terasa begitu dingin, namun bukan karena pendingin ruangan yang dipasang pada suhu minimal. Dingin itu berasal dari tatapan mata jajaran Dewan Penasihat Mahasiswa dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang duduk mengelilingi meja oval besar. Di tengah ruangan, Genta Erlangga duduk membeku, dikepung oleh otoritas yang selama tiga tahun ini ia jaga dengan penuh pengabdian.
Di sebelah kanan Wakil Rektor, Kania berdiri dengan dagu terangkat. Wajahnya tidak menunjukkan rasa puas yang berlebihan, namun matanya memancarkan ketenangan seorang pemenang. Di atas meja, sebuah tablet menampilkan foto siluet Genta dan Rara di balkon malam itu, sebuah bukti bisu yang telah diputarbalikkan menjadi narasi penghancur reputasi.
"Genta, kamu tahu apa yang dipertaruhkan di sini." Suara Wakil Rektor terdengar berat dan penuh kekecewaan. Beliau adalah orang yang memberikan surat rekomendasi beasiswa penuh bagi Genta sejak semester pertama. "Universitas Nusantara bukan sekadar institusi pendidikan, tapi juga penjaga moral. Foto ini... perilaku ini... benar-benar mencoreng citra kepemimpinan mahasiswa."
Kania melangkah maju sedikit, suaranya terdengar sangat prihatin, namun setiap katanya adalah duri. "Kami sudah menerima banyak laporan, Genta. Mahasiswi bernama Rara ini nampaknya memang sengaja merencanakan skandal ini. Foto-foto di kantin, di gudang, dan sekarang di balkon rektorat... ini bukan kebetulan. Ini adalah upaya sistematis untuk menjatuhkanmu."
Genta mencengkeram lututnya di bawah meja. Tangannya bergetar hebat, sebuah tremor yang kini ia sembunyikan dengan menekan telapak tangannya sekuat tenaga ke kain celana kainnya. Ia ingin bicara, ingin mengatakan bahwa dialah yang mengajak Rara, dialah yang menarik Rara ke dalam pelukannya. Namun, lidahnya terasa seperti kayu.
"Jika skandal ini tidak segera dibersihkan dengan klarifikasi yang memuaskan publik, universitas tidak punya pilihan lain," lanjut Wakil Rektor, kini nadanya lebih mengancam. "Beasiswa prestasimu akan dicabut, dan posisi Ketua BEM akan diserahkan pada pelaksana tugas. Kamu tahu betapa bangganya Ayahmu dengan prestasimu di sini, Genta. Jangan biarkan satu kesalahan kecil menghancurkan masa depan besar yang sudah ada di depan matamu."
Kalimat "Ayahmu" menghantam Genta lebih keras daripada ancaman apa pun. Seketika, dinding-dinding ruang rapat itu seolah menyempit, mencekik napasnya.
Kania meletakkan selembar kertas bermaterai di depan Genta. Itu adalah draf pernyataan resmi yang sudah disiapkan secara rapi oleh tim hukum mahasiswa di bawah arahannya.
"Kami butuh kamu menandatangani ini, Genta," ucap Kania lembut. "Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan posisimu. Pernyataan ini menyatakan bahwa mahasiswi bernama Falensia Rara telah melakukan tindakan agresif yang tidak pantas kepadamu, dan bahwa kamu hanyalah korban dari upayanya untuk mencari sensasi demi tugas jurnalisme. Kamu harus menyatakan bahwa tidak ada hubungan apa pun di antara kalian, dan kamu menyayangkan tindakan provokatif yang dia lakukan."
Genta menatap kertas itu. Huruf-huruf di sana nampak seperti deretan pedang yang siap menghujam jantung Rara. Memfitnah Rara adalah harga yang harus ia bayar untuk tetap menjadi "Pangeran Es" yang sempurna. Ia teringat bagaimana Rara membantunya di panggung, bagaimana Rara menyuapinya di kantin untuk meredakan cemasnya, dan bagaimana Rara tertawa bersamanya saat dikejar satpam.
"Aku tidak bisa melakukan ini," bisik Genta, suaranya pecah. "Dia tidak salah."
"Kalau begitu, berarti kamu yang salah?" potong Wakil Rektor dengan nada sinis. "Kamu yang sengaja melanggar etika di gedung rektorat? Pilih, Genta. Kehormatanmu dan beasiswamu, atau mahasiswi baru yang baru kamu kenal beberapa minggu ini?"
Dalam keheningan yang mencekam itu, Genta merasa dunianya mulai bergoyang. Suasana ruang rapat itu mendadak berganti menjadi ruang kerja ayahnya yang gelap dan dingin bertahun-tahun yang lalu. Ia melihat wajah ayahnya yang merah padam, mendengar suara bentakan yang menuduhnya sebagai "anak yang memalukan" hanya karena ia gagal dalam satu lomba pidato.
“Seorang pria sejati tidak pernah membiarkan emosinya merusak masa depannya, Genta! Kamu adalah investasi keluarga ini. Jangan jadi sampah hanya karena perasaan konyol!”
Suara ayahnya menggema di telinganya, tumpang tindih dengan suara jam dinding ruang rapat yang berdetak nyaring. Rasa mual yang familiar merayap naik. Genta merasa ia sedang tenggelam di dasar samudra tanpa ada Healer yang bisa menjangkaunya. Ia membayangkan kekecewaan ayahnya jika beasiswanya dicabut. Ia membayangkan tatapan jijik ayahnya jika ia pulang sebagai seorang kegagalan.
Ketakutan itu... ketakutan akan menjadi "tidak sempurna" ternyata jauh lebih kuat daripada rasa cintanya.
Tangan Genta yang gemetar meraih pulpen di atas meja. Dengan napas yang pendek dan mata yang berkaca-kaca namun dipenuhi keputusasaan, ia menandatangani kertas itu. Setiap goresan tinta itu terasa seperti ia sedang membunuh bagian terbaik dari dirinya sendiri.
Kania mengambil kertas itu dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Keputusan yang bijak, Genta. Besok pagi, badai ini akan berakhir."
Tapi bagi Genta, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai di dalam dadanya.
***
Satu jam kemudian, Rara masih duduk di lobi utama gedung rektorat. Ia tidak peduli dengan tatapan menghina orang-orang yang melewatinya. Ia hanya ingin melihat Genta. Ia ingin memastikan bahwa pria itu baik-baik saja setelah sidang tertutup tadi. Ia yakin, Genta akan keluar dan mereka akan mencari jalan keluar bersama.
Pintu lift terbuka. Genta melangkah keluar.
Rara segera berdiri, wajahnya yang lelah mendadak cerah. "Genta!" panggilnya dengan suara yang penuh harap. Ia melangkah maju, hendak mendekati pria yang semalam baru saja memeluknya erat di balkon.
Namun, langkah Genta tidak melambat.
Genta berjalan melewati Rara begitu saja. Bahunya tetap tegak, wajahnya membeku, dan matanya menatap lurus ke depan seolah-olah Rara hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata. Tidak ada keraguan, tidak ada sapaan, bahkan tidak ada satu pun kedipan mata yang menunjukkan pengenalan.
"Genta?" bisik Rara, langkahnya terhenti di tengah lobi yang ramai.
Genta terus berjalan menuju pintu keluar gedung, diikuti oleh Kania yang memberikan tatapan kemenangan pada Rara saat mereka lewat. Sorot mata Genta kembali menjadi sangat dingin, bukan dingin yang biasa, tapi dingin yang mematikan. Pangeran Es itu telah kembali ke dalam armornya, menutup seluruh celah yang pernah Rara buka dengan susah payah.
Rara mematung di tengah lobi. Ia bisa merasakan jantungnya seolah diremas oleh tangan yang tak terlihat. Keheningan Genta barusan adalah jawaban yang paling menyakitkan dari semua hujatan yang ia terima seharian ini.
Ponsel di saku Rara bergetar. Sebuah notifikasi berita kampus muncul: "Pernyataan Resmi Presma Genta Erlangga: Menyesalkan Tindakan Agresif Mahasiswi Jurnalis di Malam Dies Natalis."
Rara membaca judul itu, lalu menatap punggung Genta yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu kaca rektorat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang panas. Sang Paladin tidak hanya membiarkan naga menyerangnya, sang Paladin baru saja menusuk Healer-nya sendiri dari belakang demi menyelamatkan zirah peraknya.
Malam itu, di tengah kampus yang masih bising oleh sapaan, Rara menyadari bahwa di dunia nyata, pengkhianatan tidak memberikan statistik kerusakan (damage) yang terlihat di layar, tapi dampaknya sanggup menghancurkan jiwa hingga tak bersisa.