"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai dari awal?...
Di tengah kehampaan alam bawah sadarnya, sebuah suara yang berat dan menggema—seolah berasal dari dimensi yang berbeda—mulai membedah jiwanya.
[ KAU MEMILIKI SATU PILIHAN... APAKAH KAU INGIN MENIADAKAN TRAGEDI YANG MERENGGUT NADIA? ]
Jantung Andersen berdegup kencang dalam tidurnya. Napasnya memburu...
[ DENGAN SYARAT: JIKA KAU MENYETUJUINYA, BAIK MICHELLE MAUPUN NADIA TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI PERASAAN KEPADAMU. KEJADIAN TERSEBUT AKAN DIHAPUS SEBAGAI TAWARAN KECIL SAAT KAU MENYELAMATKAN NADIA. ]
[ WAKTU AKAN TERUS BERJALAN. KAU TIDAK AKAN KEMBALI KE MASA LALU SEBAGAI KOMPENSASI, MAUPUN KESIALAN YANG AKAN DATANG. ]
Andersen merasa jiwanya seolah dikuliti. Suara itu tidak menawarkan kebahagiaan, melainkan sebuah pertukaran yang membingungkan.
[ KESIALAN ADALAH APA YANG KAU PILIH SELAMA INI, DAN KEBERUNTUNGANLAH YANG MENYELAMATKANMU BERKALI-KALI. BATINMU TERLUKA, JIWAMU TERKOYAK—ITU ADALAH MANIFESTASI DARI KESIALAN YANG KAU TERIMA, DAN KEBERUNTUNGAN TIDAK BISA MENGHAPUS LUKA ITU. ]
"Apakah itu kebenaran? Jawabannya ada pada dirimu... Bagaimana kau memandang kesialan yang menghancurkanmu, dan bagaimana kau memaknai keberuntungan yang menyelamatkanmu."
Andersen tersentak bangun. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamarnya yang kini terasa berbeda. Ia bangkit dengan perasaan aneh yang menyesakkan hatinya.
Kontrak telah sah. Nadia hidup, namun hati kedua gadis itu kini menjadi benteng yang tak bisa ia masuki lagi.
Inilah The Price of Fate—harga yang harus ia bayar demi sebuah nyawa.
Ntah, hal ini adalah keberuntungan atau justru adalah kesialan. Hal ini akan menjadi awalan dari background karakter utama kita. Dengan segala kerumitannya, ia harus tetap berjalan...
Tidak ada kata tunggu bagi dirinya dan tidak juga ada kata menyerah.
Dunia baru ini adalah sebuah penjara bagi Andersen. Nadia memang mengenalnya, namun rasa cinta yang dulu menghangatkan mata gadis itu telah hilang, digantikan oleh tatapan netral yang dingin.
Ia memandang Andersen tak lebih dari sekadar dekorasi atau latar belakang saja. Teman sekelas yang kebetulan lewat di koridor dan terlupakan begitu saja.
Nasib serupa menimpa Michelle; memori tentang perasaan canggung di tengah desing peluru dan kehangatan di jalan itu telah terhapus bersih dari benaknya, seolah-olah kejadian itu tidak pernah tertulis dalam ingatan dia.
Rasa sakit itu memuncak menjadi kepahitan yang pedih saat ia mendengar kabar bahwa Nadia telah menjalin kasih dengan seorang adik kelas.
Sungguh ironi yang sangat kejam, Andersen menukarkan seluruh keberuntungannya untuk menyelamatkan nyawa Nadia.. hanya agar gadis itu bisa mencintai orang lain?..
Masa SMP pun ditutup dengan lembaran yang kering dan tak berwarna. Andersen berubah menjadi sosok yang pendiam, tidak menarik, dan terisolasi sepenuhnya dalam dunia yang ia lalui sendiri.
Ia melewati sisa hari sekolahnya tanpa rasa, membawa beban yang tak mungkin ia bagikan kepada siapa pun.
Namun, ketenangan ini hanyalah ilusi... sebuah jeda bagi masalah yang sedang menunggu.
Waktu terus bergulir hingga Andersen mendekati usia 17 tahun. Umur yang seharusnya menjadi perayaan bagi setiap orang, justru akan menjadi masa atau waktu yang jauh lebih tidak manusiawi.
Tetapi sebelum fajar ulang tahunnya yang ke-17 menyingsing, takdir tampaknya belum puas menyiksanya.
Serangkaian kejadian gelap mulai mendatangi hidupnya, seolah-olah "biaya" tambahan dari kontrak tersebut mulai ditagih.
Ia dipaksa mengalami luka fisik dan pengkhianatan yang menjadikannya sosok yang mati rasa terhadap rasa sakit.
Walaupun tubuhnya menjadi lebih kuat, jiwanya semakin terkikis setiap kalinya... menipis hingga nyaris tidak berbentuk, mempersiapkannya untuk menjadi sesuatu yang akan datang...
Pergantian waktu yang cukup singkat...
Langkah Andersen memasuki gerbang sekolah barunya. salah satu institusi pendidikan paling prestisius di kota itu. Berkat intelegensi yang tajam dan nilai akademis yang nyaris sempurna, ia berhasil menempati salah satu jajaran lulusan terbaik.
Di dalam kelas yang beraroma buku baru dan pendingin ruangan yang mendesis halus, sesi perkenalan pun dimulai. Saat gilirannya tiba, Andersen berdiri dengan postur yang cukup kaku.
"Nama saya Andersen. Saya berasal dari SMP Negeri Garuda," ucapnya singkat, "Kehidupan masa SMP saya... tidak bisa dibilang manis, tapi juga tidak pahit. Setidaknya cukup produktif bagi saya untuk menimba ilmu hingga akhirnya sampai di tempat ini.
Tak lama kemudian, seorang gadis berdiri dari kursinya. suaranya seketika mengubah suasana ruangan.
"Perkenalkan, nama saya Seila. Saya alumni SMP Firlandia," ucapnya dengan senyum yang tampak tulus. "Seperti yang mungkin kalian perhatikan, saya adalah salah satu dari dua belas murid internasional yang bergabung di sekolah ini pada tahun ini.
"Meski saya bukan penduduk asli negara ini, saya bisa menjamin bahasa Indonesia saya cukup... lancar, bukan?.."
Seila terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar seperti denting kaca yang memecah keheningan kelas yang kaku. "Semoga sekolah ini bisa menjadi tempat belajar yang nyaman bagi saya, dan bagi kita semua."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Seila kembali duduk. menempatkan kursinya tepat di sebelah Andersen.
Seila merapikan roknya dan menaruh tasnya. Dari sudut matanya, ia melirik Andersen beberapa kali.
Pemuda di sampingnya itu tampak seperti sebuah teka-teki yang cukup sulit untuk diselesaikan. "ada sesuatu dalam tatapan—sebuah kekosongan?.." Hal inilah yang menarik rasa penasaran gadis itu.
Andersen tetap tidak menoleh ke arah gadis itu, hanya memandang lurus ke depan papan tulis. Namun, ia menyadari kehadiran Seila. Aroma parfum gadis itu yang samar, aroma bunga dari musim dingin yang cukup asing, terhirup ke dalam sensor indranya.
Cahaya matahari sore menerobos jendela kelas, menciptakan garis-garis panjang yang membelah meja kayu di antara mereka. Seila sedikit menunduk, memainkan ujung pulpennya dengan gerakan yang mengisyaratkan keraguan.
"Hai... nanti malam, apakah kamu punya waktu luang?" tanya Seila. Suaranya rendah, diiringi rona tipis yang muncul di balik aksen asingnya yang menawan.
"Apakah ini tentang undangan ke acara di Mall Of Indonesia itu?"
Seila tersentak kecil, matanya terkejut. "Eh? Kamu... kamu juga diundang?"
"Seseorang yang mengaku 'menghormati diriku' mengirimkan pesan singkat tadi pagi," jawab Andersen datar.
"Tapi itu aneh," gumam Seila, keningnya berkerut. "Setahuku, protokol acara itu sangat eksklusif. Hanya dua belas murid internasional—baik angkatan baru maupun senior—yang diundang secara otomatis.
Jika ada murid lokal yang hadir, mereka biasanya adalah Top 10 dari jajaran elit akademik dengan skor di atas rata-rata nasional."
Andersen akhirnya menoleh, menatap Seila dengan mata yang tampak letih. "Ya, begitulah kenyataannya," ucapnya pendek.
Malam harinya, di dalam keheningan rumahnya yang luas dan terasa kosong, Andersen berdiri di balkon kamar. Ia menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada sambung yang panjang sebelum suara berat ayahnya menyahut dari seberang benua.
Percakapan itu berlangsung singkat ciri khas hubungan mereka sejak kecil. Ayahnya, yang selalu terjebak dalam bisnis global, hanya memberikan jawaban-jawaban singkat saja.