Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.27. BERTENGKAR
Intan dan Yudi keluar dari boutique dengan senyum puas, lagi selangkah saja jalan menuju sukses sudah di depan mata. Aluna akan menjadi tunangan Yudi, tidak ada drama lagi tentang perjodohan Aluna dengan Baron sepupunya.
Aluna belakangan keluar dari boutique diantar oleh tante Nelly. Mereka berdua terlihat akrab, Intan jadi jealous melihat keakraban tante Nelly dan Aluna.
Ia merasa Aura Aluna, aura orang kaya. Walaupun pakaian sederhana tapi body languagenya menandakan Aluna punya attitude, anggun berkharisma.
"Tante terimakasih, kami pulang dulu." ucap Aluna mohon diri.
Aluna naik ke mobil, sudah ada Intan dan Yudi di mobil. Intan sama sekali tidak mau menyapa, melirik pun tidak, begitu juga Yudi. Mereka pura-pura sibuk main hape.
"Yudi, antar aku ke apotik, aku mau langsung kerja, kemudian antar Aluna pulang. Nanti aku tidak usah di jemput." ucap Intan.
"Mau kerja Tan?" tanya Aluna basa basi.
"Gak kerja gak makan. Aku biasa kerja keras, dapat peluang dikit aku sambar." sahut Intan sock hebat.
"Bagus, masa muda harus dimanfaatkan untuk kerja. Siapa lagi bisa menolong mu kecuali diri mu sendiri. Semoga lancar."
"Aku tidak seperti mu tergantung dengan orang tua, aku dan Yudi sama-sama dari nol. Hanya bermodalkan otak saja, untung ada saja yang mengajak join."
"Kadang nasib tak bisa diprediksi, kadang di atas, kadang di bawah. Semasih dalam jalur yang benar, nasib buruk akan cepat berubah menjadi baik. Tergantung kita, kalau terus berbuat karma buruk, pasti nasib buruk akan terus mendera."
"Eleehh...apa bisa di omongin, karena kamu sudah stay di puncak. Papamu sudah banyak menge-ruk kekayaan tanah Indonesia. Zaman sekarang semua bisa korupsi, hampir semua pejabat korupsi dan rakyat menderita, ini money laundry, itu money laundry."
"Makanya jauhi orang yang kekayaan dapat dari korupsi. Kamu betah di rumah ku kalau sudah tau papaku korupsi."
"Orang tuamu butuh kami, mereka utang budi tanpa kami berdua hancur hidupnya." ucap Intan esmoni.
"Kami sudah punya dokter keluarga, uang ada, rasanya tidak perlu ada kalian di rumahku."þ
"Sabar..sabar..kenapa kalian berantem. Jangan biasa saling ejek, hidup sudah berat jangan ditambah beban lagi." ujar Yudi ikut kesal.
"Yud...turunkan aku di depan itu yang ada tulisan apotiknya. Tidak usah di jemput, mungkin aku akan menginap disini." ucap Intan keluar dari mobil dengan wajah di tekuk.
Saat mobil berhenti Luna memperhatikan apotik di depannya. Perasaannya tiba-tiba berdesir melihat orang yang mirip Darren dari samping.
"Apa nona butuh sesuatu untuk dibeli mumpung di luar.."
"Pulang saja." jawab Aluna pendek.
"Nona Aluna, apakah kamu tidak senang padaku? Atau merasa keberatan jika aku tinggal di rumahku."
"Hem..kau harus intropeksi diri, aku tidak menyalahkan ķau, tapi setiap.rumah punya aturan yang tidak tertulis. Jangan kau semena-mena di rumah orang."
"Maafkan aku, asal ku dari kampung jadi tingkahku rada-rada nye-le-neh. Jika nona merasa terganggu aku akan pindah rumah."
"Yudi, aku tidak ada menyuruhmu pindah rumah, aku hanya memberitahumu kalau tinggal di rumah orang, kau harus sadar diri pakai aturan di rumah itu."
"Ya nona, walaupun saya tidak tau aturan di rumah nona, saya akan menurut dan ikuti saja." ucap Yudi pelan.
Aluna tidak menanggapi lagi, ia juga malas memberitahu aturan apa yang ada. Bukankah setiap orang punya feeling, kalau berada di rumah orang harus punya attitude. Apalagi orangnya sudah bang-kot-an.
H-2 PERTUNANGAN
Matahari sudah condong ke barat, langit semburat lembayung senja. Aluna duduk di balcon memandangi Matahari yang perlahan tenggelam.
Aluna menarik nafas panjang, ia sangat sedih kala ingat Darren. Pria itu sampai sekarang tidak menghubunginya, apakah dia serius melamarnya, belum ada tanda bahwa akan ada pertunangan.
Atau mamanya bersekongkol untuk membuat dirinya terkejut. Lebih baik ia menunggu dan menurut perintah orang tua, ia kapok melawan, takut kena tulah.
Duduk di balcon membuat perasaannya berselancar, dulu orang tuanya sangat sayang padanya, apapun yang dia minta akan di penuhi. Semenjak ada Intan dan Yudi kesempatan bicara dengan orang tuanya terbatas. Selalu Intan menemani orang tuanya.
Buat apa itu dipermasalahkan, melihat kedua orang tuanya sehat ia sudah senang. Aluna berdiri menuju kamarnya.
Tapi baru saja ia mau masuk kamar bibi Atun datang tergopoh-gopoh.
"Nona, nyonya besar menyuruh nona ke bawah. Tampaknya nyonya besar marah."
"Ow iya...aku akan turun."
Drama apa lagi. Intan tak habis-habisnya mencari simpati supaya di akui oleh orang tuanya. Niat sekali.
Sampai di ruang keluarga Aluna melihat Intan menangis sesenggukan dan Yudi duduk dengan wajak di tekuk.
"Ada apa maa..."
"Luna, kamu membuat mama kecewa, kenapa Intan dan Yudi kamu usir dari rumah ini, apa hakmu. Kamu seperti orang tidak waras, tidak tau balas budi!"
Tumben mama marah sekasar ini, begitu hebatnya pengaruh Intan yang tertanam di otak mama. Dulu sering sekali mama memandang sebelah mata kepada orang minus dalam harta dan orang yang tidak punya atensi apa-apa dalam hidupnya.
Sekarang apa yang mama lakukan
"Aku tidak...."
Jangan berkilah, Yudi saksinya kau mengusir kami dan menuduh kami tidak, punya sopan santun, hiks..hiks..." potong Intan sambil menangis.
"Minta maaf kepada Intan dan Yudi, kedua orang ini begitu sibuknya menolong kita setiap hari, bisa-bisanya kamu hancurkan perasaannya."
"Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf, mamah selalu membelanya."
"Aku pantas dibela karena aku bicara apa adanya. Tidak sepertimu yang suka bohong dan mengkhayal." sahut Intan.
"Terserah mama aku tidak mengerti jalan pikiran mama, selalu saja marah-marah." ucap Aluna. Ia mau naik dan tidur di kamarnya tapi Intan menarik tangannya.
"Minta maaf kepada mama, jangan pernah bikin mama sakit hati. Kalau mama sakit kita semua repot."
Aluna bersimpuh di depan mamanya air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Mama, aku minta maaf atas semua kesalahan ku selama ini, aku tidak peka terhadap situasi ini dan merasa kalau aku terlalu menyusahkanmu."
Nyonya Yunita merangkul putrinya dengan penuh kasih sayang, hatinya sakit melihat putrinya bersimpuh.
"Bangunlah sayank...kau putri mama satu-satunya, seharusnya kamu belajar menerima keadaan, bahwa Intan dan Yudi bagian dari kita." ucap nyonya Yunita menghapus air mata Aluna.
"Aku tidak masalah...."
"Tante, aku yang salah masuk ke kluarga tante, aku tidak diinginkan disini. Biarlah aku pergi saja..." potong Intan, setiap Luna bicara dia potong, karena takut dibuka rahasianya oleh Aluna.
****
mending buang ego masing2 kalian harus bersatu untuk mengalahkan Intan...