NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Pagi harinya, suasana pesantren terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Beberapa santriwati senior tampak berbisik-bisik saat melihat Namira berjalan menuju dapur umum, namun Namira berusaha tetap tegak dengan gaya " Ning" yang ia pelajari dari Umi Fatimah—meskipun tangannya masih sedikit gemetar.

"Sudah di-unggah, Namira. Coba cek," ucap Ayyan singkat saat mereka bertemu di lorong ndalem.

Namira dengan ragu membuka ponselnya. Di akun Instagram dan TikTok-nya, sebuah video berdurasi tiga menit baru saja muncul. Video itu bukan potongan pendek, melainkan rekaman CCTV kualitas tinggi yang memperlihatkan Randi datang dengan gaya sombongnya, menghina kehidupan pesantren, hingga momen saat ia secara terang-terangan melecehkan martabat Namira.

Di bagian akhir video, terdapat foto surat resmi dengan kop firma hukum terkemuka yang menyatakan somasi kepada Randi dan akun gosip tersebut.

"Mas... kolom komentarnya!" seru Namira takjub.

Dalam hitungan menit, keadaan berbalik 180 derajat.

"Ya Allah, ternyata aslinya gitu! Jahat banget itu cowok, niat wakaf cuma buat ngerendahin orang!"

"Ning Namira keren! Aku juga bakal siram pakai air rendaman kalau suami aku dihina gitu!"

"Kawal terus Gus Ayyan! Jangan kasih kendor, somasi sampai ke akar-akarnya!"

Namira bernapas lega, rasanya seperti beban satu ton baru saja diangkat dari pundaknya. "Mas, netizen balik bela kita! Mereka panggil Mas 'Gus Protector'!"

Ayyan hanya tersenyum tipis, lalu mengajak Namira duduk di teras. "Itulah gunanya kita tidak terburu-buru membalas dengan emosi. Sekarang, biarkan hukum yang bekerja. Randi sudah menelepon Abah lima kali sejak tadi subuh, tapi Abah tidak mau mengangkatnya."

"Mampus! Eh, astagfirullah... maksudnya, rasain tuh!" Namira menutup mulutnya, matanya berbinar senang. "Terus sekarang kita ngapain, Mas?"

"Sekarang?" Ayyan melirik jam tangannya. "Sesuai janji, karena masalah media sosial beres, dan hafalan Jurumiyah kamu tadi malam lancar... Mas mau kasih kamu hadiah tambahan."

"Hah? Hadiah lagi? Martabak lagi ya?"

"Bukan. Ikut Mas ke belakang pesantren."

Namira mengikuti langkah panjang Ayyan menuju sebuah area terbuka di dekat kebun kurma percobaan milik pesantren. Di sana, sudah tersedia satu set busur dan anak panah profesional berwarna hitam doff yang sangat elegan.

"Mas mau ngajarin aku memanah?!" tanya Namira antusias.

"Iya. Memanah itu sunnah, dan bagus untuk melatih fokus serta kesabaranmu yang setipis tisu itu," goda Ayyan sambil memasangkan pelindung lengan di tangan kecil Namira.

Ayyan berdiri di belakang Namira, memosisikan tubuh istrinya agar tegak. Ia membimbing tangan Namira untuk menarik tali busur. Posisi mereka sangat dekat, hingga Namira bisa merasakan deru napas Ayyan di pelipisnya.

"Fokus pada sasaran, Namira. Bayangkan sasaran itu adalah ego kamu, atau apa pun yang membuatmu ragu. Tarik napas, tahan... dan lepaskan," bisik Ayyan lembut.

Syuuut... Jleb!

Anak panah itu mendarat tepat di lingkaran kuning tengah.

"WAAAA! MAS! AKU JADI KATNISS EVERDEEN!" teriak Namira heboh sambil melompat-lompat, lupa kalau ia sedang memegang busur.

Ayyan tertawa kecil sambil menahan bahu Namira agar tidak jatuh. "Baru satu anak panah sudah sombong. Ayo ulangi lagi."

Saat suasana sedang manis-manisnya, tiba-tiba seorang santri berlari terengah-engah menuju mereka.

"Gus! Gus Ayyan! Itu... di depan gerbang... ada mobil Pak Randi lagi. Tapi kali ini dia datang sama ayahnya, Pak Surya!"

Namira langsung meletakkan busurnya. "Wah, bawa bapaknya nih sekarang? Mau minta maaf apa mau ngajak tawuran keluarga ya, Mas?"

Ayyan merapikan letak pecinya, tatapannya kembali tajam dan berwibawa. "Sepertinya Pak Surya sadar kalau reputasi perusahaannya terancam karena ulah konyol anaknya. Namira, tetap di belakang Mas. Kali ini, kita selesaikan secara dewasa."

Ayyan meletakkan busurnya dengan tenang, lalu menatap Namira yang wajahnya mulai berubah mode "siap tempur". Ia mengusap kepala istrinya itu sejenak untuk menenangkan energinya yang meledak-ledak.

"Namira, ingat pesan Mas. Kali ini ada Pak Surya, beliau orang tua. Kita tetap pakai adab, meskipun mereka yang memulai kekacauan ini. Paham?"

Namira menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Paham, Gus. Aku bakal jadi Ning yang anggun... tapi kalau mereka keterlaluan, jangan salahin aku kalau 'mode singa' aku bangun lagi ya?"

Ayyan hanya tersenyum tipis, lalu menuntun Namira menuju ruang tamu ndalem. Di sana, suasana sudah sangat kaku. Abah Kyai duduk dengan tenang, sementara di hadapannya ada Pak Surya yang wajahnya tampak sangat gelisah, dan Randi yang duduk tertunduk lesu tanpa kacamata hitam andalannya.

"Assalamualaikum," ucap Ayyan dengan suara bariton yang menggema, memberikan tekanan wibawa yang instan di ruangan itu.

"Waalaikumsalam. Nah, ini Ayyan dan istrinya sudah datang," sahut Abah Kyai.

Pak Surya langsung berdiri dan menghampiri Ayyan. Ia mencoba menjabat tangan Ayyan dengan erat. "Gus Ayyan... Kyai... saya benar-benar minta maaf. Saya baru tahu ulah memalukan putra saya ini setelah video itu viral dan pengacara saya panik karena somasi dari pihak pesantren."

Ayyan menyambut jabat tangan itu dengan sopan namun tetap terasa dingin. "Silakan duduk, Pak Surya."

"Randi! Ayo minta maaf!" bentak Pak Surya pada putranya.

Randi mengangkat wajahnya yang pucat. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan yang kemarin ia pamerkan. "Saya... saya minta maaf, Kyai, Gus Ayyan. Saya cuma emosi karena merasa ditolak. Saya nggak bermaksud ngerusak nama baik pesantren."

Namira yang duduk di samping Ayyan hampir saja menyambar, "Nggak bermaksud gimana? Jelas-jelas itu video diedit!" Tapi ia teringat janji pada Ayyan, jadi ia hanya mengerucutkan bibirnya rapat-rapat sambil meremas jari-jarinya.

Ayyan memperbaiki posisi duduknya. "Pak Surya, kami di pesantren diajarkan untuk memaafkan. Tapi fitnah yang sudah tersebar di media sosial itu dampaknya luas. Nama baik istri saya dan institusi ini bukan barang murahan yang bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf di ruang tertutup."

"Saya paham, Gus," potong Pak Surya cepat. "Sebagai kompensasi dan rasa penyesalan, saya akan memberikan klarifikasi resmi di seluruh kanal media perusahaan saya. Dan soal asrama... saya tetap ingin mewakafkannya tanpa embel-embel apa pun, murni sebagai penebus dosa putra saya."

Ayyan melirik Abah Kyai. Abah memberikan isyarat agar Ayyan yang mengambil keputusan

.

"Soal wakaf asrama, mohon maaf Pak Surya, kami sudah mendapatkan donatur lain yang lebih tulus,"

ucap Ayyan dengan tenang namun telak. "Kami tidak ingin asrama santri dibangun dari rasa bersalah atau keterpaksaan. Biarlah tanah itu Bapak gunakan untuk kepentingan lain."

Randi mendongak, tampak kaget. Ia pikir uang dan tanah bisa menyelesaikan segalanya.

"Lalu... apa yang harus kami lakukan agar Gus mencabut somasi itu?" tanya Pak Surya pasrah.

Ayyan menoleh ke arah Namira. "Keputusan ada di tangan istri saya. Dia yang paling dirugikan di sini."

Semua mata tertuju pada Namira. Namira yang mendadak jadi pusat perhatian langsung menegakkan punggungnya. Ia melirik Randi yang tampak menyedihkan, lalu melirik Ayyan yang menatapnya dengan bangga.

"Oke," Namira berdehem, mencoba terdengar sangat berwibawa. "Aku bakal cabut somasinya, asalkan... Randi bikin video permintaan maaf terbuka tanpa skrip, akui semua kebohongannya, dan... dia harus kerja bakti bersihin tempat wudhu santri selama tiga hari berturut-turut!"

"Apa?!" Randi terbelalak. "Bersihin tempat wudhu?!"

"Kenapa? Keberatan?" tantang Namira dengan mata lentiknya yang membelalak galak. "Itu biar kamu tahu rasanya kerja keras dan nggak sombong sama fasilitas papa kamu terus!"

Ayyan hampir saja tertawa melihat hukuman "ajaib" istrinya. Pak Surya malah mengangguk setuju. "Ide bagus! Randi, kamu lakukan itu atau Papa cabut semua fasilitas kamu!"

Randi akhirnya tertunduk pasrah. "I-iya, saya mau."

Setelah pertemuan itu selesai dan tamu-tamu pulang, Namira langsung bersorak kegirangan di ruang tamu.

"Mas! Mas lihat nggak muka si Randi tadi? Udah kayak ayam sayur kena hujan! Hahaha! Puas banget aku!"

Ayyan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Membersihkan tempat wudhu? Kamu benar-benar punya cara sendiri untuk menghukum orang ya, Namira."

"Biar dia dapet hidayah, Mas! Siapa tahu sambil gosok lantai dia dapet ilham buat tobat," Namira memeluk lengan Ayyan. "Tapi Mas... Mas tadi keren banget pas nolak tanah wakaf itu. Savage parah!"

Ayyan menarik Namira ke dalam pelukan singkatnya. "Harta bisa dicari, Namira. Tapi harga diri dan ketenangan hati istri Mas... itu tidak ada label harganya. Sudah, sekarang ayo balik ke kebun."

"Ngapain? Memanah lagi?"

"Bukan. Katanya tadi mau martabak spesial? Mas sudah pesankan lewat santri, sebentar lagi sampai. Kita makan di bawah pohon kurma."

"WAAAA! MAS AYYAN TERBAIK! GUS KULKAS TAPI HATINYA MICROWAVE, ANGET BANGET!"

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!