NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sihir Perubah Wajah

Selama dua hari Rapphael tidak sadarkan diri. Selama itu, Gwysaa sesekali melihat keadaannya. Menunggunya bangun dan menanti perintahnya. Selama dua hari itu, ia juga telah membuat sebuah perlindungan berupa bivak, sebagai tempat bernaung dari panas atau hujan.

"Tuan, kapan kamu bangun? Kita sudah di hutan selama dua hari penuh. Tidak tahu, apakah aku bisa menyembuhkanmu."

Seperti apa yang pernah dikatakan oleh tuannya, jika ingin menggunakan sihir, maka harus membayangkan. Ia juga tidak mengandalkan mantra untuk menggunakan sihir. Hanya membayangkan untuk menyembuhkan Rapphael.

Aura berwarna hijau cerah muncul dari telapak tangannya. Perlahan ia menempelkan sendiri pada tubuh tuannya. Tak seberapa lama kemudian, akhirnya pemuda itu sadar.

"Ah, di mana ini? Apakah aku sudah mati lagi?" Ketika baru melihat, ada seorang yang menunggunya. Budak yang ingin ia percayai dalam hidupnya. "Gwysaa?"

Tak disangka, keberuntungan berpihak padanya. Akhirnya menemukan orang yang bisa dipercaya. Namun ia masih tetap waspada. Jangan sampai jatuh pada lubang yang sama. Sama seperti dahulu, ketika ia bersama pasukan Kerajaan. Memang mereka juga memperlakukannya dengan baik. Namun pada akhirnya, berkhianat juga.

"Kita ada di mana sekarang?" Rapphael melihat sekeliling, hanya tumpukan daun yang sudah layu di atasnya. Rupanya ia berada di tempat teduh.

"Kita ada di hutan. Tuan, kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri. Apakah kamu lapar?"

"Beri aku air. Aku sangat haus." Yang pertama kali ketika bangun, tentu harus minum air. Itu sudah menjadi kebiasaannya.

"Baiklah ... tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan air." Gwysaa bergegas keluar untuk mengambil air. Lalu kembali setelah beberapa saat. "Ini airnya."

Rapphael mengambil air itu dan meminumnya. Sebelumnya ia juga memeriksa kandungan di dalam air, takut ada tambahan zat tertentu atau racun. Setelah dirasa aman, maka ia menandaskan airnya.

Gwysaa menceritakan apa yang terjadi selama dua hari ini. Dimulai saat membawanya ke hutan dan membuat bivak. Menjaga tuannya dari Lumon, panas matahari. Karena tidak ada hujan, maka ia tidak khawatir tentangnya.

"Kamu sudah bekerja keras. Aku juga lapar," kata Rapphael. Karena selama dua hari tidak mengisi perutnya, akhirnya rasa laparnya begitu kuat. "Aku ingin kamu membuatkan bubur untukku."

Tidak lupa, ia mengeluarkan beras dan umbi yang khas di dunia fantasi. Berbeda dengan beras yang ada di dunia sebelumnya. Namun sama kegunaannya, memberi nutrisi yang cukup bagi tubuh.

Cara membuat bubur pun harus dijelaskan dengan santai. Yaitu dengan merebus beras dan umbi dengan lebih banyak air. Lalu ditambahkan irisan kecil-kecil daging Lumon. Baru diberi bumbu yang disiapkan dengan takaran yang pas.

Untungnya Gwysaa hanya tinggal memasukkan bahan-bahan. Takaran bumbu dan bahan sudah diatur oleh Rapphael. Sehingga rasa yang diinginkan hampir sempurna.

Gadis itu tidak bisa memasak dengan baik. Selama dua hari tanpa bantuan tuannya, hanya membakar Lumon yang ditangkapnya. Tanpa memberi tambahan bumbu. Untungnya ia tahu cara membersihkan daging. Membuang kotoran yang tidak diperlukan.

Meski mengandalkan satu tangannya, ia menggunakan kakinya sebagai pengganti tangan satunya untuk membersihkan Lumon.

"Aku lupa untuk menyembuhkan tanganmu. Sekarang, aku akan menumbuhkan tanganmu seperti semula."

Rapphael menempelkan tangannya pada lengan Gwysaa. Dalam waktu beberapa menit, tangan gadis itu akhirnya tumbuh. Setelah tangan itu kembali pulih, itu menyimpan energi sihir yang pekat.

"Tanganmu sekarang, lebih kuat dari tanganmu yang sebelumnya. Aku telah meningkatkannya melebihi batas yang telah ditentukan takdir. Hanya perlu berlatih dan meningkatkan level, maka potensinya lebih dari seharusnya."

"Waahhh ... terima kasih, Tuan." Begitu mendapatkan kembali tangannya, Gwysaa sangat senang. Ditambah dengan peningkatan yang begitu hebatnya.

Gadis itu melompat kegirangan saking bahagianya. Setelah dua hari kehilangan tangan dan kesulitan dalam melakukan pekerjaan, kini mendapatkan kembali dan jauh lebih baik.

Sementara Rapphael hanya diam tanpa ekspresi. Ia membiarkan begitu saja, memikirkan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Namun setelah bangun dari tidurnya, ia kini memiliki level kekuatan yang lebih tinggi.

"Aku belum mengukur level kekuatanku. Sayangnya sihirku tidak bisa mengukur level kekuatan dan sihirku. Jadi selama ini masih belum tahu batasanku."

Setiap orang memiliki level tertentu dalam setiap peningkatan. Sama halnya dengan Rapphael yang pasti sudah melonjak pesat. Namun karena tidak memiliki alat pengukur level sihir/kekuatan, masih belum yakin, peningkatannya sebesar mana.

Potensi yang dimiliki setiap orang pun berbeda-beda. Itu tergantung dari jumlah bintang yang dimiliki. Apabila seorang memiliki satu bintang, maka maksimal level kekuatannya adalah sepuluh.

Setiap satu bintang, maka potensi level yang dimiliki adalah sepuluh. Dua bintang berarti berpotensi sampai level dua puluh, begitu selanjutnya. Sampai yang memiliki lima bintang, maka level tertinggi adalah lima puluh.

Perbandingannya, seseorang yang memiliki bintang satu level maksimal, ia dapat mengalahkan semua Gomon di lantai satu Dungeon Swrisdk. Namun masih kesulitan menghadapi lantai dua. Biasanya mereka akan membawa rekan setimnya untuk mencapai lantai dua atau selanjutnya.

Sementara pemilik bintang dua maksimal, bahkan bisa sampai lantai tiga dalam keadaan baik-baik saja seorang diri. Jadi, semakin banyak jumlah bintangnya, potensinya lebih besar.

Dengan kekuatannya sekarang, Rapphael memprediksi, ia sudah berada di level tiga puluhan. Sementara Gwysaa baru level sepuluh. Namun ia belum memastikannya dengan benar, sebelum membuktikan sendiri.

Adapun alat pendeteksi level berada di tempat yang tidak pernah terduga. Yaitu berada di Temsag. Yaitu tempat beribadahnya umat (agama) Logantas.

Di Tempsag ada pendeta yang memimpin ibadah. Juga yang bertugas untuk memeriksa tingkat level seseorang. Jika diminta, ia bisa memeriksa level seseorang.

Sayangnya itu adalah tempat yang berbahaya, sebelum kekuatannya meningkat lebih tinggi, ia belum berani mendatangi tempat tersebut.

Namun setiap Hunter atau petualang, biasa mendatangi tempat itu untuk beribadah. Mereka menyembah Saglontos sebagai Tuhan mereka.

"Sayangnya tidak akan tahu sampai di mana levelku saat ini," keluh Rapphael sambil menikmati bubur yang baru selesai dibuat.

Segala sesuatunya harus dipikirkan secara matang. Apalagi jika menyangkut keselamatan bersama. Selain itu, ia juga tidak percaya dengan orang-orang yang berada di Tempsag. Terutama para pendeta yang menjadi pemicu konfliknya dengan kerajaan.

Berkat keputusan semua pendeta itu, membuatnya dieksekusi. Sampai orang yang paling dipercayainya juga tidak lepas dari keterpihakannya.

"Setelah selesai makan, kita perlu menjual Batu Perl yang didapatkan. Namun kita perlu menyamar terlebih dahulu."

"Baiklah, Tuan. Bagaimana kita akan menyamar? Apakah menggunakan topeng dan sejenisnya?" Gwysaa tampak penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.

"Tidak perlu. Dengan levelku sekarang, tidak perlu menggunakan topeng." Rapphael menjentikkan jarinya dan seketika berubah menjadi orang lain. "Begini juga sudah cukup. Sihir Perubah Wajah."

"Wah, Tuan bisa berubah jadi orang lain? Tapi aku masih merasakan aura Tuan." Gwysaa takjub dengan perubahan wajah tuannya. Jika tidak mengenali auranya, ia bahkan tidak bisa membedakannya.

***

1
Frando Wijaya
Dia idiot ya?
Frando Wijaya
tentu aja gk sudi restui sampah seperti klian
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!