NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persaingan

Di gedung inilah ia akan menempuh studi selama empat tahun ke depan—sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk membangun hidup baru, sekaligus waktu yang krusial untuk terus mengasah kemampuannya.

Saat melangkah masuk ke dalam gedung, interior sekolah menyambut mereka dengan lantai marmer abu-abu yang mengilap dan langit-langit tinggi. Begitu sampai di ruang kelas untuk memulai semester kedua, Andersen tertegun sejenak.

Suasana di dalam kelas itu sangat berbeda dari sekolah menengah pada umumnya. Ruangan itu dirancang dengan sistem amphitheater kecil, menyerupai ruang kuliah di universitas-universitas terkemuka Eropa. Meja-meja kayu panjang tertata melengkung secara bertingkat.

Ruang kelas itu terbagi oleh lorong tengah, dengan deretan meja kayu panjang yang membelah ruangan menjadi dua blok besar. Struktur kursinya yang menanjak hingga lebih dari lima baris.

Pagi itu, ia dan Seila harus terpisah. Beberapa siswi lokal yang tampak sudah mengenal Seila segera melambaikan tangan, menarik gadis itu untuk duduk di barisan depan di tengah lingkaran pertemanan mereka.

Seila sempat menoleh ragu ke arah Andersen, namun desakan teman-temannya membuat ia tak punya pilihan selain duduk di sana.

Andersen melangkah ke baris tengah yang lebih tinggi. Saat ia berjalan, ia merasakan ada sepasang mata yang menatapnya dengan rasa ingin tahu, namun lebih banyak lagi yang menatapnya dengan pandangan dingin dan tidak menyenangkan.

Hingga bel berbunyi, baris meja tempat Andersen duduk tetap kosong tidak berisi orang lain selain dirinya. Tak ada satu pun siswa yang bersedia mengambil kursi di sebelahnya, seolah ada garis tak kasat mata yang memisahkan dirinya dari sisa kelas.

Andersen sama sekali tidak terusik. Ia justru menyandarkan punggungnya dengan tenang, membuka buku catatannya, dan menajamkan pendengaran. Baginya, penolakan sosial adalah harga yang kecil.

Seorang guru dengan setelan tweed yang rapi masuk dan mulai memberikan kuliah dalam bahasa Inggris beraksen British (UK) yang tajam dan formal.

Di saat siswa lain sibuk berbisik atau mencuri pandang ke arah Andersen, tetapi dirinya justru tenggelam sepenuhnya dalam kata kata yang diucapkan oleh guru tersebut.

Ia mencatat setiap poin penting dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang mulai pulih sesekali ia gunakan untuk membalik halaman buku.

Keheningan di baris meja Andersen pecah saat sebuah aroma parfum mawar yang elegan menyeruak, mengalahkan bau debu buku di sekelilingnya.

Dari sudut matanya, Andersen melihat sesosok gadis dengan seragam yang sedikit berbeda... menandakan posisinya sebagai senior. Orang tersebut melangkah dengan anggun dan tanpa ragu duduk tepat di kursi kosong di sebelahnya.

Itu adalah Margarette.

Andersen tidak pernah memperkirakan Margarette akan muncul di sini, apalagi di tengah jam istirahat saat kelas seharusnya sepi. Gadis itu selalu punya cara untuk menemukan keberadaannya.

Margarette menyandarkan sikunya di atas meja, menopang dagu sambil menatap Andersen dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Hei," bisik Margarette, "Apakah kamu mau menjadi ksatria pribadiku?"

Andersen baru saja akan membuka mulut untuk menolak, namun Margarette segera menempelkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberikan isyarat agar Andersen tetap diam.

"Tentu saja kamu tidak punya peluang untuk menolak, Andersen," lanjutnya dengan senyum miring yang provokatif. Gadis itu memajukan tubuhnya, memperkecil jarak.

"Suka atau tidak, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Mall hari itu. Ingat? Begitu banyak nyawa yang melayang karena kamu 'memilih' untuk tidak menyelamatkan mereka hanya demi satu orang."

"Kamu berutang nyawa pada mereka, dan sebagai penebusan dosamu... kamu harus memberikan hidupmu padaku. Menarik, bukan?"

Margarette mengulurkan tangannya, membelai pelan lengan jaket baru Andersen, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.

"Terlebih lagi," bisik Margarette, suaranya kini merayap di telinga Andersen bagai beludru yang tajam, "aku tahu rahasiamu, Andersen.

Aku tahu kaulah yang selama ini bermain-main dengan takdir dan mengubah masa depan sesuka hatimu."

Andersen tersentak kecil, namun tubuhnya tetap kaku. Margarette melingkarkan kedua lengannya di lengan Andersen, memeluknya dengan kehangatan yang posesif seolah sedang memamerkan trofi kemenangan. "Mulai detik ini, kamu tidak punya kehendak bebas, Andersen. Kamu adalah milikku sepenuhnya."

Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Seila melangkah masuk dengan senyum yang langsung luntur saat matanya menangkap pemandangan di baris tengah. Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat Margarette.

Seila menatap Margarette dengan sorot mata tajam dan serius, sebuah pernyataan perang tanpa kata-kata. Namun, Margarette justru membalas tatapan itu dengan seringai ejekan yang meremehkan.

Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Andersen, seolah ingin menegaskan bahwa di wilayah ini, Seila hanyalah penonton.

Rasa bersalah yang dingin menyelimuti hatinya. Andersen tidak membela diri, tidak juga melepaskan pelukan Margarette. Ia hanya menunduk, menerima nasibnya.

Karena dirinya tahu, di dunia di mana masa depan bisa diubah, hari itu ia memang tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan semua orang. Dan sekarang, harga yang harus ia bayar adalah kehilangan kebebasannya sendiri.

Sheila tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia melangkah lebar membelah barisan meja, tangannya sudah terulur, siap untuk menarik Margarette menjauh dari Andersen.

Namun, tepat saat jemarinya hampir menyentuh kain seragam Margarette, suara bel sekolah yang nyaring dan panjang menggema di seluruh koridor... menandai berakhirnya waktu istirahat dengan ketepatan yang menyebalkan.

Denting bel itu seolah menjadi musik pengiring bagi Margarette. Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, ia melepaskan pelukannya dari lengan Andersen, lalu berdiri tegak tepat di hadapan Sheila.

Jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum mawar Margarette beradu dengan aroma emosi yang meluap dari tubuh Sheila.

"Apa yang kamu inginkan, Sheila?" tanya Margarette. Nada suaranya rendah, meremehkan, dan tenang... seolah ia adalah seorang ratu yang sedang menanyai pelayannya.

"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Sheila menyanggah, suaranya naik karena rasa kesal yang tak terbendung. "Ini bukan kelasmu, Margarette. Kamu tidak punya urusan di tempat ini!"...

Keadaan kelas yang tadinya bising oleh obrolan ringan mendadak senyap. Satu per satu siswa yang baru kembali dari kantin menghentikan langkah mereka. Bisik-bisik mulai menjalar di barisan belakang.

Margarette hanya melakukan senyuman tipis, lalu merapikan kerah baju Sheila yang sebenarnya sudah rapi.

"Urusanku? Urusanku adalah apa pun yang aku inginkan, Sayang," bisik Margarette sehingga hanya Sheila yang bisa mendengarnya.

Ia kemudian melirik Andersen yang masih duduk mematung dengan tatapan kosong, lalu kembali menatap Sheila dengan mata yang berkilat jenaka. "Lagipula, ksatria ini sepertinya tidak keberatan aku berada di sini. Benar kan, Andersen?"...

Sheila mengepalkan tangannya di samping tubuh, sementara perhatian seluruh kelas kini terkunci sepenuhnya pada drama di barisan tengah itu.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!