Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Bertemu Pengungsi
Ke esokan harinya, setelah sarapan dan bersiap. Aruna mengeluarkan 3 kuda dan 10 pedang, semalam dia belum sempat mengeluarkannya, karena dia baru tiba diperkemahan sekitar jam 8 malam. Nenek Suyu memintanya untuk langsung tidur setelah makan malam. Menurutnya, perjalanannya naik gunung akan sia-sia jika tidak membawa pulang buruan yang ada di gunung.
"Waahh ada kuda..." Seorang bocah berseru dengan takjub.
"Yaaa besar sekali..!"
"Kak Aruna benar-benar hebat, sampai dapat kuda!"
Aruna hanya tersenyum geli mendapat pujian para bocah tersebut. "Ya, Kakak menemukannya di gunung,"
Para bocah itu hanya mengangguk dengan polos. Berbeda dengan para orang dewasa, mereka akhirnya tau kemana perginya Aruna semalam, karena Kepala Desa akhirnya bercerita apa yang Aruna katakan sebelumnya.
Aruna juga sudah menceritakan apa yang dia lakukan, dan juga kesepuluh para korban. Saat jam 4 pagi tadi, orang-orang yang ingin berlatih beladiri hanya diminta untuk berlari kecil sebagai pemanasan.
Di saat semua orang sibuk, dia mengeluarkan ke sepuluh korban. Kondisi mereka sudah lebih baik, karena Aruna sudah memberinya suntikan. Dan setelah sarapan, Aruna kembali memasukkan mereka, agar tidak menghambat perjalanan.
"Nak untuk apa pedang itu?" Kakek Ji bertanya dengan heran. Pedang di zaman itu sangat berharga dan juga mahal, mungkin harga paling murahnya setara dengan penghasilan mereka dalam setahun.
"Kakek, itu untuk berjaga-jaga saja, siapa tau di depan sana kita bertemu orang jahat lagi. Mereka akan berpikir dua kali jika melihat kita memiliki pedang!" jelas Aruna.
"Hmm benar juga, kalian semua yang merasa bisa menggunkan pedang bisa membawanya!" pinta Kepala Desa.
"Astagaaa,,, akhirnya Desa kita juga punya pedang!"
"Hm kita juga harus berhati-hati, terlalu mencolok juga tidak baik!" Kepala Desa memperingatkan mereka untuk tidak sombong.
Melihat Warganya mengerti, Kepala Desa dan rombongan akhirnya melanjutkan perjalanan. Mereka terus berjalan, hanya akan beristirahat sebentar untuk makan, dan yang menggunakan kuda adalah Aruna, Ji Yong dan Ozian.
***
Beberapa hari berlalu, akhirnya mereka tiba di Kota Lawa. Selama perjalanan tidak ada masalah yang mereka temui, di luar gerbang kota mereka melihat banyak rombongan Desa pengungsi.
"Kita berhenti di sini!" Pinta Kakek Ji dengan cemas. Dia merasakan firasat buruk.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka berkumpul di sini?" Ayah Lin juga bertanya dengan heran..
"Ayah, bagaimana kalau kita kesana untuk mencari informasi.!" Usul Paman Ji Min
"Ya, tapi sebelum itu kamu kumpulkan pedangnya dulu, dan berikan kepada Nak Aruna, biarkan dia yang menyimpannya.!" Kakek Ji hanya tidak ingin para penjaga melihatnya.
Paman Ji Min mengiyakan, dan langsung mengerjakan pekerjaannya. Dia juga khawatir, ada banyak pengungsi di sini, tak boleh terlalu mencolok, Cukup kereta dan kuda-kuda itu saja.
"Paman apa yang terjadi? Kenapa banyak pengungsi yang tertahan?" Tanya Aruna setelah menyimpan pedang.
"Ehh, tertahan? Apa maksudnya?" Bukannya menjawab, Paman Ji Min malah bertanya balik.
"Hmm tunggu Kakek balik, Paman akan tau jawabannya!" Bukannya tidak ingin menjelaskan, tapi Aruna juga belum tau pasti apa yang terjadi, tapi dia sangat yakin, ini bukan masalah sepele.
"Oh baiklah, Paman kedepan dulu!" pamitnya.
Aruna hanya mengangguk, sekarang waktunya masak untuk makan siang, tapi melihat ada banyak pengungsi, pasti Kakek Ji tidak mengizinkan makan enak seperti biasanya.
Aruna berjalan ke bawah pohon di mana para gadis berkumpul, "Chen, aku ingin istirahat di dalam kereta, tolong jaga untukku!
"Hmm kamu tenang saja, jika ada yang berani mengintipmu aku akan tendang pantatnya. Naik dan istirahatlah!" Chen dengan senang hati melakukannya, saat ini dia dan Aruna sudah sangat saling kenal, jadi dia tau, Aruna tidak suka ada yang mengganggu tidurnya.
Aruna tertawa kecil, lalu naik ke gerbong kereta. Dia ingin masuk ke ruangnya, sudah beberapa hari dia tak berkunjung.
"Waahh kabutnya makin jauh!" gumamnya dengan senang, ruangnya makin lebar, dia ingin beternak dan bertani di lahan itu.
Aruna masuk ke lantai satu, dan benar saja, barang-barang yang ada di ruangan itu makin banyak yang bisa di akses, dia makin yakin, semua itu terjadi karena telah menolong banyak orang.
"Hmm, mari kita makan mie kuah!" Aruna bergegas mengambil mie dua bungkus sekaligus, lalu naik kelantai tiga.
Aruna menambahkan telur dan bakso sebagai topingnya, tak lupa dengan cabai. Dia salah satu orang yang suka makan pedas, rasanya ada yang kurang jika makan tapi tak ada cabainya. Aruna makan sambil menonton apa yang terjadi di luar.
Terlihat para warga juga sedang makan, mereka hanya makan roti kukus dan buah-buahan yang mereka dapatkan di dalam hutan selama perjalanan.
Aruna juga melihat Kakek Ji yang sudah berkumpul dengan keluarganya, dari raut wajahnya yang suram, pasti Kakek Ji sudah mendapat informasinya.
"Makan dan minumlah terlebih dahulu!" pinta Nenek Suyu, dia tau suaminya sedang marah, jadi dia tidak bertanya apa yang terjadi.
Setelah makan dan minum, rasa marahnya sedikit meredah, "Apakah Nak Aruna masih beristirahat? Apa dia sudah makan?".
"Dia masih di dalam kereta, aku sudah menyisakan untuknya..Biarkan dia tidur lebih lama!" tegur Nenek Suyu.
"Ehh, aku hanya bertanya!"
Nenek Suyu mendengus dan melanjutkan makan. Dia tidak ingin Aruna malah jadi terbebani dengan pekerjaan suaminya, jika ada masalah pasti suaminya bertanya kepada Aruna untuk mencari solusi.
Aruna hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan keduanya. Setelah makan, Aruna keluar dari kereta, dia tidak ingin membuat orang tua itu menunggunya terlalu lama.
"Nak kamu sudah bangun? Ayo makan dulu, maaf ya siang ini kita cuman makan roti!" Nenek Suyu sudah tau, Aruna sangat suka makan makanan yang berbumbu.
"Tidak masalah, kondisinya juga tidak memungkinkan kita untuk masak!" balas Aruna dengan santai.
Nenek Suyu menghela nafas lega, "Ya, ada banyak rombongan pengungsi!"
"Apa yang terjadi?"
"Kakekmu bilang, jika ingin masuk kota maka setiap Desa wajib membayar 2 tael perak!" jelas Nenek Suyu dengan suara pelan. Saat pertama kali mendengarnya dia sangat syok, pantas suaminya sangat marah. 2 tael bukan uang sedikit bagi orang Desa, ya meskipun itu dikumpulkan dari warga.
Aruna tidak terkejut, dia hanya mengutuk para pejabat bajingan itu. "Lalu apa yang ingin Kakek lakukan? Apakah warga setuju untuk mengumpulkan uang?"
"Emm, ituuu. Kamu jangan tertawa yaa! Kakek menunggumu untuk meminta solusi!" kata Nenek Suyu dengan malu, tapi apa boleh buat, selama ini hanya Aruna yang bisa membantu mereka.
"Heheheh!" Aruna malah tertawa cengengesan.
"Ehh, Nenek kan bilang jangan tertawa!" Dia benar-benar malu. Memang sangat lucu, meminta solusi kepada yang lebih muda, bahkan sangat muda. Jadi wajar saja jika Aruna tertawa.
"Heheheh baik, baik aku tidak tertawa lagi." Sebenarnya Aruna tertawa melihat raut wajah Nenek Suyu yang malu-malu. Bukan menertawakan Kakek Ji yang meminta solusi kepada yang lebih muda. Karena tinggi IQ seseorang tidak dilihat dari umur.
"Terus Kakek Ji ke mana?" Aruna bertanya, agar Nenek Suyu tidak merasa malu lagi.
"Dia ingin pergi menemui seseorang, katanya rombongan para pengungsi itu adalah tetangga Desa kita!"
"Oh, berarti mereka sudah beberapa hari di sini!" tebak Aruna.
"Sudah pasti. Eh itu, Kakekmu sudah datang!" Nenek Suyu segera menarik suaminya untuk duduk di bawah pohon, karena saat itu mereka belum mendirikan tenda.
Melihat Kepala Desa balik, orang-orang yang penasaran segera ikut untuk berkumpul. Mereka juga sudah tahu tentang 2 tael itu.
" Ada 4 Rombongan pengungsi di depan, semuanya tetangga Desa kita. Mereka sudah di sini selama 2 minggu, dan ada yang baru tiba dua hari yang lalu. Mereka bukannya tidak sanggup membayar 2 tael. Tapi jika 2 tael itu terkumpul, mereka benar-benar sudah tidak ada ada pegangan, perjalanan masih jauh, perbekalan sudah hampir habis dan setelah sampai ditujuan kita juga perlu membuat tempat tinggal." jelas Kakek Ji.
Semua menghela nafas berat, bukan kah di kota-kota sebelumnya tak ada biaya masuk.? Kenapa sekarang malah ada tarifnya, dan 2 tael lumayan banyak, bisa menghidupi selama tiga atau empat bulan bagi para petani seperti mereka.
"Apakah mereka pernah bertindak?" Tanya Paman Ji Min kepada Ayahnya.
"Haahh, hampir setiap hari mereka mencoba. Katanya ada yang menangis sepanjang hari di depan pintu gerbang, ada yang melempar batu, bahkan mereka sampai ingin membakar pintu gerbang!" Jawab Kakek Ji.
"Apakah tidak ada hasil?"
"Mereka pura-pura tuli dan buta!" Kakek Ji tak habis pikir, para pejabat itu makin membuat rakyat menderita.
"Bagaimana kalau kita juga mencobanya!" Aruna tiba-tiba memberi saran.
Semua orang langsung bersemangat, jika Aruna yang memberi solusi atau langsung turun tangan pasti langsung berhasil. Tak ada lawan yang bisa lolos darinya, "Ya kita juga harus mencobanya,!"
"Kita harus apa?" tanya Lin dengan antusias, apapun yang dikatakan Aruna, pasti dia akan melakukannya dengan tulus, dia sangat mengidolakan Aruna, oh bukan cuman dirinya, tapi semua warga Desa Suning.
"Kita coba menangis sepanjang hari"
Semua orang : "....."
Aruna, apakah kamu serius?
...----------------...
Semua rombongan Desa pengungsi berjalan menuju pintu gerbang, mereka semua bertanya-tanya apa yang terjadi, karena tiba-tiba Kepala Desa meminta mereka untuk berkumpul di depan pintu gerbang Kota setelah pulang dari kunjungan Desa Suning.
Aruna yang berada paling depan berjalan dengan santai, tapi dalam hatinya sedang mengutuk para pejabat itu, dia sudah mendengar kabar dari Desa tersebut, untuk mengirit perbekalan mereka terkadang tidak makan dalam sehari.
Masuk hutan juga tidak banyak hasil, semua sudah di jarah oleh para pengungsi yang sudah lewat terlebih dahulu, tidak ada yang berani masuk lebih dalam dengan kondisi tubuh yang nyaris jatuh tertiup angin.
Para penjaga mengatakan, 'Jika tidak ada uang, tak ada yang boleh masuk kota, jika ingin lewat maka carilah jalan lain, kami juga hanya menjalankan tugas!'
Aruna mengangkat tongkat yang ada di tangannya, itu hanya kode meminta mereka untuk berhenti.
"Apa yang kalian lakukan? BUBAR!" Penjaga bertanya dengan sedikit takut melihat ratusan orang.
"Kami akan bubar jika kalian mengizinkan kamu masuk!" kata Aruna dengan datar.
"Kau,, Masuk ya masuk. Tapi persyaratan tidak berubah!" jelasnya sedikit gugup melihat Aruna yang sangat cantik, tidak seperti pengungsi lainnya, kurus, kering dan dekil.
"Kenapa kami harus bayar? Siapa yang memberi perintah? Apakah Yang Mulia Kaisar?" tanya Aruna dengan berani.
Suasana langsung sunyi saat mereka mendengar ucapan Aruna. Lima orang penjaga juga langsung menciut, sungguh berani menyebut orang Agung itu..
"Apa yang kau katakan ha?" tanya si panjaga dengan marah. "Masuk kota dan bayar 2 tael itu hanya perintah Tuan Bupati, mana ada dari Yang Mulia Kaisar!" lanjutnya.
"Oh, ternyata perintah Tuan Bupati!" Ucap Aruna dengan nada meremehkan.
"Apa maksudmu ha?" Dia benar-benar marah.
"Hmm perintah Tuan Bupati secara pribadi ya? coba bayangkan! Jika berita ini tersebar sampai ke Ibu Kota. Tuan Bupati Lawa memeras rakyat miskin, dan sampai ke telinga Yang Mulia Kaisar, kira-kira apa yang terjadi?" tanya Aruna dengan tersenyum menyeringai.
Deg
Jantung mereka langsung berdebar, seolah mendapat pencerahan. Para pengungsi menatap Aruna dengan berbinar, akhirnya ada harapan. Tapi berbeda dengan para penjaga, jantung mereka berdebar karena rasa takut, jika berita itu sampai ke Ibu Kota, pasti Tuan Bupati,,,, ah sangat mengerikan.
"Nona kami hanya menjalankan tugas!" kata si penjaga sambil mengusap keringat di dahinya, sekarang takutnya sudah di level puncak.
"Ya, kami hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga!" penjaga lainya ikut berucap dengan hati-hati.
"Baik, kalau begitu panggil Tuan Bupati datang ke sini, temui dia secara langsung! Jika dia tidak datang kami akan masuk Kota untuk mencarinya!" pinta Aruna.
"Yaaa, kami akan masuk Kota!" seseorang dari pengungsi tiba-tiba berteriak, dia setuju dengan rencana Aruna.
"Kami juga,.!"
"Kita ada ratusan, jadi tak perlu takut!"
"Benar, selama ini mereka mengancam kita dengan pedang, kali ini kita tak perlu takut!"
"PANGGIL... PANGGIL.."
"PANGGIL TUAN BUPATI!"
Mereka berteriak dengan penuh semangat, seolah lupa badan mereka hanya tinggal tulang, tapi merasakan ada sedikit harapan, semangat mereka kembali bangkit.
Badan para penjaga bergetar, selama ini mereka semena-mena karena yang datang hanya beberapa orang, tidak seperti sekarang ini. mereka hanya berlima, dan ada sekitar tujuh ratus pengungsi, dan pria dewasa sangat banyak, mereka akan kalah meski dibekali dengan pedang.
"Kami hanya penjaga Kota, kami tidak berhak memanggil Tuan Bupati!" ujarnya dengan gugup.
"Aku tidak peduli, yang kami inginkan Tuan Bupati menemui kami di pintu gerbang.!" Aruna tak menerima alasan.
Para penjaga saling tatap, seakan berkata 'tak perlu pergi, karena Tuan Bupati sangat malas mengahadapi hal seperti itu. Jikapun mereka pergi memanggil, palingan hanya menambah pengawalan.
"Kalian benar-benar cari masalah! Apa menurutmu aku tidak bisa menghancurkan pintu gerbang itu?" tanya Aruna dengan kesal, padahal dia sudah meminta dengan baik-baik.
Penjaga menatap Aruna, memang Auranya sangat mengerikan, tapi apakah tubuh kecil itu bisa menghancurkan pintu gerbang yang terbuat dari besi?
Aruna melihat batu besar yang tidak jauh dari sana, dia hanya ingin membuktikan jika ucapannya tidak bisa dianggap sepele, dan seketika.
DUUAARRR...
Batu besar itu hancur berkeping-keping, Aruna sudah Mengantisipasi agar gelombang kejutnya tidak mengenai siapapun.
Para penjaga sudah duduk dengan lemas, mereka sudah ingin pergi berlari untuk mencari Tuan Bupati, tapi kaki mereka seperti jeli.
"Haa—hancuurr."
Batu yang sangat besar bisa hancurkan dalam hitungan detik, apalagi hanya pintu gerbang yang tipis itu.
"Cepat! Cepat pergi cari Tuan Bupati!" Dia seakan bisa merasakan jika Tidak pergi, Aruna benar-benar masuk dalam Kota dan menghancurkan semuanya.
"Ya ya, aku pergi!" yang satunya menjawab, dan pergi dengan cara berlari seperti anjing.
Berbeda dengan para pengungsi, mereka memang terkejut. Tapi sorot mata mereka penuh dengan rasa kagum dan hormat. Batu besar itu hancur begitu saja di tangan seorang gadis kecil.
lanjut thorr💪💪💪