Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menuju Ibukota : Penyergapan
"Semua berkumpul, lindungi tuan putri..!!!" Teriak Jenderal Zhao sambil menangkis puluhan anak panah yang mengarah kepadanya.
Xiao Chen berlari mendekat ke arah kereta kuda tuan putri, ia bisa melihat ayah dan kakaknya juga melakukan hal yang sama.
Kedua tetua yang lain, dibantu oleh prajurit mulai membuat sebuah tangga menggunakan tombak yang ditancapkan ke tebing.
Aksi kedua tetua di ikuti oleh pendekar lainnya, sedangkan Xiao Chen memilih untuk melindungi mereka yang naik dengan cara memungut anak panah kemudian melemparkannya kembali ke orang-orang berpakaian ninja di atas tebing.
Serangan panah yang mendadak membuat banyak prajurit kehilangan nyawa dalam sekejap, bahkan ada beberapa pendekar yang juga terluka akibat serangan panah.
Dan kini setelah banyak pendekar dari golongan pengawal tuan putri yang sampai di atas tebing, orang-orang berpakaian ninja menghentikan serangan panah mereka, dan bersiap untuk pertempuran jarak dekat.
Puluhan pedang dihunus seketika dari sarungnya, menimbulkan sebuah suara nyaring yang memekakan telinga. Sedetik kemudian, benturan kedua pihak tak terelakkan, Xiao Chen dengan mata apinya bisa mendeteksi jika kumpulan orang-orang berpakaian ninja hanyalah pendekar rendahan yang mempunyai kemampuan setingkat pendekar kelas dua dan tiga, sedangkan di kubu rombongan pengawalan banyak yang berada di tingkatan pendekar kelas satu serta pendekar ahli awal.
Xiao Chen menghunus pedangnya, bersiap untuk naik dan membantu para pendekar yang berada di atas tebing saat sebuah suara teriakan menghentikan niatnya.
"Chen'er apa yang hendak kau lakukan?? Kesini dan bantu kakakmu melindungi tuan putri..!!!" Seru Xiao Feng ayahnya.
"Oh ayolah, disana sudah ayah, kakak dan juga jenderal Zhao.." Bantah Xiao Chen sambil menunjukan raut wajah kecewa.
"Jangan membantah, ingat akan janjimu..!!!" Bisik Xiao Feng.
Xiao Chen tertunduk lesu, ia berjalan lunglai dan mengumpat pelan. Namun itu hanya sedetik. Karena tiba-tiba saja ia merasakan sebuah pancaran energi yang besar dan hawa membunuh yang sangat pekat. Dimana keberadaan dari pemilik energi besar itu semakin mendekat dengan cepat ke arah tuan putri berada.
...WARNING..!!! WARNING....!!!!...
...Musuh yang kuat terdeteksi..!!!!...
Sebuah layar peringatan muncul, Xiao Chen mengertakan gigi. Rahangnya mengeras dan pedangnya terhunus. Seolah siap menanti lawan yang makin mendekat.
Tidak jauh dari tempat tuan putri berada, sebelas orang terlihat mendekat. Efek dari hawa membunuh yang dipancarkan ke sebelas orang ini membuat mereka yang mempunyai tingkatan rendah kesulitan bernapas, bahkan badan jadi mematung.
"Jenderal Zhao, bawa tuan putri pergi menjauh dari tempat ini..!!! Xiao Chen, kau temanilah tuan putri..!!!" Ucap sang ayah Xiao Feng.
"Aku tidak mau, aku ingin bertarung disini bersama kalian..!!!"
"JANGAN MEMBANTAH..!!!" Teriak Xiao Wu dengan wajah merah padam.
"SIALANNNN....!!!!"
Xiao Chen begitu marah, dadahnya mendidih.. Namun ia tidak bisa membantah. Dengan berat hati ia mengikuti tuan putri, jenderal Zhao beserta ke empat pelayannya memasuki hutan.
Xiao Chen bisa melihat jika dua orang tetua dan beberapa pendekar mulai kembali dan menemani ayahnya, begitu juga Wu Mei yang memutuskan untuk mengikuti Xiao Chen, tentunya atas perintah dari tetua Wu.
"Kita harus bergegas, ingat keselamatan tuan putri adalah prioritas utama..!!!" Jenderal Zhao memimpin di depan, sedangkan Xiao Chen dan juga Wu Mei menjaga di belakang.
"Ka.. Kalian adalah sepuluh binatang neraka dari kelompok pembunuh bayaran Rimba Neraka??"
Tetua Wu bisa mengenali mereka dari pakaian dan tekanan energi gelap yang mereka pancarkan.
Rimba neraka sendiri adalah sebuah kelompok perampok, pembunuh, pencuri dan penjarah kelas kakap. Kelompok kriminal sebenarnya sudah lama menjadi target operasi dari prajurit kekaisaran yang dibantu oleh sekte aliran putih. Namun karena markas mereka yang nomaden dan sering berpindah pindah tempat, hingga membuat kelompok ini sulit untuk dibasmi.
Sedangkan Sepuluh binatang neraka adalah sepuluh orang pimpinan dari kelompok rimba neraka. Mereka bersepuluh terkenal buas, sadis, kejam dan tanpa ampun. Sudah menjadi rahasia umum jika mereka tidak pernah memberi kesempatan kepada setiap lawan mereka.
Biasanya sepuluh binatang neraka tidak pernah bergerak bersama, entah siapa dan berapa dana yang dihabiskan sehingga kelompok rimba neraka akhirnya mengutus ke sepuluh binatang neraka sekaligus.
Dan, itu belum semua. Karena pemimpin operasi kali ini adalah seorang kultivator yang telah menembus tingkatan pendekar suci gerbang pertama. Kuang Mo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Malaikat Penjaga Neraka adalah salah satu dari tiga orang ketua utama kelompok Rimba neraka.
"Sebuah kehormatan, Kuang Mo sang malaikat penjaga neraka datang sendiri." Tetua Ming menyindir Kuang Mo, yang menanggapinya dengan raut wajah dingin.
"Bunuh semua yang ada disini, jangan disisakan satu ekor pun..!!!" Kuang Mo hanya berkata lirih, akan tetapi kesepuluh binatang neraka serempak melesat maju.
"Bersiaplah, mereka datang..!!!" Teriak Xiao Feng.
Saat kesepuluh binatang neraka bertarung dengan rombongan pengawal, Kuang Mo melesat memasuki hutan untuk mengejar rombongan tuan putri yang melarikan diri.
Dengan kemampuannya yang sudah mencapai tingkatan pendekar suci, Kuang Mo hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menyusul rombongan tuan putri yang dipimpin jenderal Zhao.
"Hiyaaaaaaaaa... " Xiao Chen melompat dengan pedang diatas, seolah siap membelah udara.
DUAAAAARRRRRRR....!!!!
Tubuh Xiao Chen terdorong jauh kebelakang, tangannya gemetar hebat hingga jari-jarinya yang memegang pedang seakan mati rasa. Rupanya tadi Xiao Chen merasakan sebuah gelombang energi yang besar hendak menerjang tuan putri, karena itulah ia melompat dan menghadangnya menggunakan energi pedang, namun tenaga dalamnya tak sepadan dengan energi si penyerang, karena itulah ia terhempas.
Kuang Mo melesat turun dengan elegan, tangannya tersembunyi di balik punggung, jenggotnya yang putih panjang dan tatapan matanya yang tajam seolah mengintimidasi lawan.
Rahang Xiao Chen makin mengeras, ia tahu bahwa lawan di hadapannya kini bukanlah lawan yang bisa ia kalahkan. Tapi misi tetaplah misi dan keselamatan tuan putri diatas segalanya.
"Kalian berdua, bawalah tuan putri pergi dari sini dengan cepat. Aku dan jenderal Zhao akan mencoba untuk menahannya selama mungkin." Xiao Chen menatap kedua pelayan tuan putri.
"Apakah kau tahu jika kami bukan pelayan biasa?"
"Aku buta jika tidak tahu, dan itu tidak penting.. Sekarang cepat pergi..!!! Wu Mei ikuti tuan putri..!!!" Xiao Chen dan Jenderal Zhao bersiap dengan kuda-kuda untuk memblokir gerakan Kuang Mo.
"Jangan memberiku perintah, kau bukanlah ayah ataupun kakakku.." Ledek Wu Mei yang juga mempersiapkan kuda-kudanya.
"Kalian benar-benar tak tahu diri, bagaimana mungkin sekumpulan domba hendak menghentikan serigala??" Selepas berkata seperti itu, Kuang Mo sang malaikat penjaga neraka bergerak terlebih dahulu.
BLAAAAARRRRRRR...!!!
Tubuh jenderal Zhao terpelanting dan meluncur dengan kecepatan tinggi hingga menghancurkan beberapa pohon disekitarnya. Darah segar mengucur keluar dari mulutnya, sedangkan zirah perangnya hancur. Dan itu semua hanya karena satu serangan.
"Ini gila, bahkan aku tidak bisa melihat gerakannya.." Gumam Xiao Chen.
Kali ini Wu Mei melesat maju, dengan senjatanya dua bilah pedang pendek. Gadis itu mencoba menyerang dengan tekhnik terkuatnya.
"Seni Bangau Kembar, Tarian Bangau di Musim Panas..!!!"
Gerakan Wu Mei begitu luwes dan lincah, namun tidak ada satupun serangan yang masuk dan berhasil mengenai tubuh Kuang Mo.
Xiao Chen coba membantu, ia segera bersiap menyerang dengan segenap tenaga.
"Seni pedang tanpa nama, bentuk keempat : Tebasan pemutus takdir..!!!"
Xiao Chen melompat, sebuah tebasan vertikal yang sangat kuat dengan tenaga dalam besar seolah ingin membelah langit dan bumi.
BLAAAAARRRRRRR....!!!!
Kuang Mo bergerak mundur, lengan baju dan telapak tangannya menghitam dengan asap tipis terlihat.
"Wu Mei mundur..!!!" Xiao Chen bersiap melancarkan serangan berikutnya.
"Seni pedang tanpa nama, bentuk ketiga : Langkah bayangan semu...!!!"
Xiao Chen menciptakan lusinan bayangan pedang, semuanya seolah menyerang secara bersamaan namun aslinya Xiao Chen bergerak dengan sangat cepat ke belakang Kuang Mo.
Sebuah tusukan cepat mengarah tepat di jantung Kuang Mo, namun sekedipan mata saja, Kuang Mo sudah berbalik dan menangkap ujung pedang bayangan malam dengan dua jarinya.
"Teknik berpedangmu sungguh hebat, hanya saja sayang sekali kemampuanmu masih rendah. Andai kemampuanmu setara denganku, mungkin saja aku bukanlah tandinganmu.."
Kuang Mo menggerakkan jarinya, hingga pedang bayangan malam milik Xiao Chen patah menjadi beberapa bagian, kemudian patahan itu dilemparkan Kuang Mo dan mengenai beberapa bagian tubuh Xiao Chen.
Seolah masih belum puas, Kuang Mo menghantam tepat di tempat dimana serpihan atau patahan pedang tadi berada hingga serpihan-serpihan pedang menusuk jauh kedalam dan diakhiri dengan sebuah sepakan keras ke perut. Membuat Xiao Chen terjerembab jauh ke belakang.
"Pemuda ini terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup.. teknik berpedangnya begitu hebat, jika tidak aku habisi sekarang, kelak ia akan merepotkan...!!!" Gumam Kuang Mao sambil menatap telapak tangannya yang masih sedikit bergetar akibat dari serangan Xiao Chen.
"Seluruh tulangku rasanya patah, bahkan sekedar untuk menggerakkan tubuh pun sulit sekali." Xiao Chen terkapar tak berdaya, sedangkan Kuang Mo makin mendekat dengan telapak tangan yang menyala.