NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singkap Tabir Kehidupan Pertama

Lampu-lampu kristal di sepanjang koridor Istana Aurora biasanya memancarkan cahaya hangat yang menenangkan, namun malam itu, pantulannya pada lantai marmer terasa dingin dan tajam. Kepulangan rombongan Empress dari wilayah Utara disambut dengan keheningan yang mencekam oleh para pelayan dan pengawal. Tidak ada tawa atau percakapan ringan yang biasanya terdengar saat mereka kembali dari perjalanan. Elara melangkah dengan tergesa, jubahnya menyapu lantai dengan suara berdesir yang ritmis, sementara Alaric berjalan di sisinya dengan wajah yang lebih keras dari batu karang. Di belakang mereka, Aria berjalan dalam diam, matanya tidak lagi menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu, melainkan tertuju pada lantai dengan pikiran yang berkecamuk. Ia masih bisa merasakan sisa energi panas dari belati obsidian-nya, seolah-olah senjata itu kini memiliki detak jantung sendiri yang berirama dengan nadinya.

Mereka tidak menuju ke ruang makan atau kamar tidur utama, melainkan terus melangkah jauh ke dalam bagian terdalam istana, melewati pintu-pintu rahasia yang hanya bisa dibuka dengan tetesan darah keluarga Lane dan Ravenhurst. Elara membawa mereka ke sebuah ruangan yang belum pernah dimasuki Aria sebelumnya, sebuah ruangan bawah tanah yang dindingnya dilapisi oleh kristal pemurni dan rak-rak berisi buku-buku kuno yang sampulnya terbuat dari kulit naga. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja bundar besar dengan sebuah relik kuno berbentuk jam pasir yang tidak berisi pasir, melainkan cairan perak yang bercahaya redup. Elara berhenti di depan meja itu, napasnya terasa berat, ia menyadari bahwa detik ini adalah titik di mana ia harus merobek semua kebohongan indah yang telah ia bangun demi melindungi putrinya.

"Aria, duduklah," ucap Elara dengan suara yang hampir berbisik namun terdengar sangat jelas di ruangan yang kedap suara itu. Aria duduk di sebuah kursi kayu tua, tangannya masih gemetar pelan. Alaric berdiri di belakang Aria, meletakkan kedua tangannya di bahu putrinya sebagai bentuk dukungan bisu. Elara menyentuh relik perak di atas meja, dan seketika cairan perak di dalamnya mulai berputar, memproyeksikan gambaran-gambaran buram di udara.

"Apa yang kau lihat di pondok tadi bukanlah sekadar ilusi atau sihir hitam biasa yang mencoba menakutimu, Aria. Itu adalah fragmen dari kenyataan yang pernah terjadi. Wanita yang kau lihat mati di tengah badai salju itu memang aku. Namun, itu terjadi di sebuah kehidupan yang seharusnya sudah tidak ada lagi," Elara memulai narasinya, suaranya terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Aria menatap proyeksi perak itu, melihat sosok ibunya yang jauh lebih muda, mengenakan gaun yang indah namun wajahnya dipenuhi dengan keputusasaan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Elara menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi. Ia bercerita tentang kehidupannya yang pertama sebagai putri bangsawan yang naif, tentang cintanya yang buta pada seorang pria bernama Julian yang ternyata hanyalah seekor serigala berbulu domba. Ia menceritakan bagaimana Julian dan Isabella bersengkongkol untuk menjatuhkan keluarga Lane, meracuni ayahnya, dan akhirnya memberikan racun yang sama kepadanya di sebuah pesta dansa yang seharusnya menjadi malam pertunangannya. Aria mendengarkan dengan mata yang membelalak, jemarinya mencengkeram pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang ia rasakan melalui penglihatan di pondok tadi kini mendapatkan konteks yang utuh, dan rasa sakit itu berubah menjadi amarah yang membara di dadanya.

"Aku mati di kehidupan itu, Aria. Aku mati dalam kedinginan dan pengkhianatan yang paling pahit. Namun, saat jiwaku hampir tertelan oleh kegelapan, aku membuat sebuah kesepakatan dengan kekuatan kuno yang bersembunyi di balik waktu. Aku memohon kesempatan kedua untuk membalas dendam dan melindungi orang-orang yang kucintai. Aku tidak pernah tahu bahwa harga yang harus kubayar untuk memutar balik roda waktu akan ditagih bertahun-tahun kemudian, dan harga itu melibatkanmu," Elara melanjutkan, air mata kini mengalir di pipinya namun ia tidak menghapusnya. Ia menceritakan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dari kehidupan pertamanya untuk menghancurkan musuh-musuhnya, bagaimana ia bertemu dengan Alaric—yang di kehidupan pertama hanyalah musuh politik yang ia benci—dan bagaimana mereka akhirnya saling jatuh cinta dan membangun kekaisaran ini dari abu peperangan.

Aria berdiri tiba-tiba, membuat Alaric sedikit tersentak. "Jadi, seluruh hidupku ini... kedamaian yang kurasakan selama delapan belas tahun ini... semuanya adalah hasil dari memutar balik waktu? Aku seharusnya tidak pernah lahir jika Ibu tidak membuat kesepakatan itu?" tanya Aria dengan nada suara yang bergetar antara sedih dan marah. Ia merasa seperti sebuah kesalahan dalam sistem alam semesta, sebuah anomali yang hanya ada karena keinginan ibunya untuk membalas dendam.

"Kau ada karena aku mencintai dunia ini dan ingin memberikan masa depan yang lebih baik, Aria. Kau adalah hadiah terbesar dari kesempatan kedua ini, bukan sekadar hasil sampingan dari dendam," bantah Elara dengan tegas, ia mendekati Aria dan mencoba memegang tangannya, namun Aria menarik tangannya mundur.

"Lalu mengapa makhluk tadi memanggilku Jantung dari Roda Waktu? Mengapa belatiku menyerap energi hitam itu seolah-olah itu adalah makanannya?" tanya Aria lagi. Elara terdiam sejenak, ia menatap Alaric yang hanya bisa mengangguk pelan, memberinya isyarat bahwa ini saatnya mengungkap bagian yang paling berbahaya.

"Sihir reinkarnasi yang kugunakan bukan berasal dari alkimia biasa. Itu adalah sihir dari peradaban Zandaria yang paling kuno, sihir yang membutuhkan sebuah pusat energi untuk menjaga agar waktu tetap berjalan pada jalurnya yang baru. Tanpa kusadari, saat aku mengandungmu, sebagian dari energi waktu yang kupinjam menyatu dengan jiwamu. Kau lahir bukan hanya sebagai putri kami, tetapi sebagai penjaga keseimbangan waktu yang baru. Itulah sebabnya Zandaria bangkit kembali. Mereka tidak menginginkan takhta, mereka tidak peduli pada emas. Mereka menginginkanmu, Aria. Mereka ingin menggunakan energi di dalam tubuhmu untuk merobek realitas ini dan mengembalikan dunia ke jalur kehidupan pertamaku, di mana mereka masih berkuasa melalui Julian," jelas Elara dengan nada yang sangat serius.

Aria terduduk kembali, kepalanya terasa pening. Ia menyadari bahwa beban yang ia pikul jauh lebih besar dari sekadar menjadi seorang ksatria atau pewaris takhta. Ia adalah kunci dari eksistensi dunia ini. Jika ia gagal, maka ibunya akan kembali menjadi mayat di tengah salju, ayahnya akan kembali menjadi jenderal yang kesepian, dan seluruh orang yang ia sayangi akan lenyap seolah tidak pernah ada. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa tanggung jawab yang sangat berat namun murni. Ia menatap telapak tangannya, di mana garis-garis nadinya sesekali memancarkan cahaya perak redup yang seirama dengan detak jantungnya.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa hanya menunggu mereka menyerang lagi," tanya Aria, suaranya kini terdengar lebih tenang namun memiliki ketajaman yang baru. Alaric melangkah maju, berdiri di antara istri dan anaknya, menunjukkan postur pelindung yang selama ini menjadi kekuatannya.

"Kita akan menyerang balik, namun tidak dengan cara yang konvensional. Kita perlu memperkuat sihirmu, Aria. Kau harus belajar mengendalikan energi waktu itu sebelum musuh menggunakannya untuk menghancurkanmu. Kael sudah mengumpulkan sisa-sisa catatan tentang klan Solis Invicta. Kita tahu mereka memiliki pangkalan rahasia di bawah reruntuhan benteng lama Julian di perbatasan Barat. Kita akan menuju ke sana, tapi sebelum itu, kita harus mengaktifkan kembali sekutu lama kita. Raja Magnus dari Valtaria memiliki teknologi yang bisa membantumu memfokuskan energimu tanpa membahayakan tubuhmu," jelas Alaric.

Malam itu, mereka bertiga menghabiskan waktu di ruangan rahasia tersebut, mempelajari peta-peta kuno dan merencanakan langkah selanjutnya. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka, namun kebenaran itu meninggalkan lubang di hati Aria yang hanya bisa ditutup dengan tindakan nyata. Ia menyadari bahwa ibunya telah mempertaruhkan segalanya, bahkan jiwanya sendiri, untuk memberinya kehidupan ini. Maka, Aria bertekad bahwa ia tidak akan membiarkan pengorbanan itu sia-sia. Jika ia harus menjadi Jantung dari Roda Waktu, maka ia akan menjadi jantung yang paling kuat yang pernah ada, jantung yang tidak akan berhenti berdetak meskipun maut memanggilnya.

Di sudut lain kekaisaran, di bawah bayang-bayang benteng yang telah hancur, sisa-sisa pengikut Julian yang kini telah menjadi pelayan Kehampaan mulai melakukan ritual mereka. Mereka membantai ternak dan manusia, menggunakan darah mereka untuk melukis simbol matahari yang tertelan bayangan di tanah yang gersang. Seorang pria dengan jubah yang menutupi wajahnya berdiri di tengah lingkaran ritual, memegang sebuah tengkorak yang dipenuhi ukiran sihir hitam.

"Gerbangnya sudah mulai retak," bisik pria itu, suaranya terdengar seperti gesekan pasir. "Sang Empress pikir dia telah menang, tapi dia hanya menunda kiamatnya sendiri. Jantung itu akan segera pulang ke tempat asalnya, dan saat itu terjadi, sejarah akan ditulis ulang dengan tinta darah."

Kembali di istana, Elara tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan yang kini benar-benar mulai menunjukkan semburat warna merah di pinggirannya. Fenomena Bulan Merah yang diramalkan akan segera tiba, dan itu adalah saat di mana batas antara dimensi menjadi paling tipis. Alaric menghampirinya, menyelimuti bahunya dengan jubah hangat.

"Kau sudah melakukan hal yang benar dengan memberitahunya, Elara," ucap Alaric pelan.

"Aku takut, Alaric. Aku takut aku telah memberinya beban yang terlalu berat. Dia baru delapan belas tahun, dan sekarang dia harus memikul nasib dunia di pundaknya. Apakah aku benar-benar seorang ibu yang baik jika aku membiarkan hal ini terjadi?" tanya Elara dengan nada yang penuh keraguan diri.

Alaric memutar tubuh Elara agar menghadapnya, menatap langsung ke dalam mata peraknya yang indah. "Kau memberinya kehidupan, Elara. Kau memberinya cinta, pendidikan, dan kekuatan. Kau tidak memberinya beban ini, takdir yang melakukannya. Dan kita akan ada di sana untuk memikul beban itu bersamanya. Ingatlah, kita sudah pernah menghancurkan satu dunia untuk membangun dunia yang lebih baik. Jika perlu, kita akan melakukannya lagi untuk melindungi putri kita."

Keesokan paginya, persiapan keberangkatan dilakukan dengan sangat tertutup. Hanya Kael dan beberapa perwira kepercayaan yang tahu ke mana keluarga kekaisaran akan pergi. Aria muncul di depan gerbang istana dengan mengenakan baju zirah lengkap, rambut hitamnya diikat kencang, dan di pinggangnya kini tidak hanya ada belati obsidian, tetapi juga pedang pendek yang ditempa dari meteorit Valtaria. Ia tidak lagi terlihat seperti putri yang manja; ia adalah seorang pejuang yang siap menghadapi bayangan masa lalu ibunya.

Saat mereka mulai memacu kuda meninggalkan ibu kota, Aria menoleh ke belakang sekali lagi, menatap menara istana yang megah. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan kembali, bukan sebagai anomali waktu yang rapuh, melainkan sebagai penguasa atas takdirnya sendiri. Di sampingnya, Elara dan Alaric memacu kuda mereka seirama, membentuk barisan yang kokoh di tengah fajar yang mulai menyingsing. Perjalanan menuju perbatasan Barat akan memakan waktu tiga hari, dan setiap mil yang mereka tempuh membawa mereka lebih dekat ke pusat badai yang akan menentukan apakah masa depan ini layak untuk dipertahankan ataukah semua akan kembali menjadi debu sejarah yang terlupakan.

Dalam perjalanan tersebut, Aria mulai merasakan perubahan dalam persepsinya. Kadang-kadang, ia bisa melihat bayangan orang-orang di sekitarnya bergerak sedikit lebih lambat atau lebih cepat dari seharusnya. Ia bisa melihat aliran energi di tanaman dan tanah yang mereka lalui. Elara menyadari hal ini dan mulai memberikan instruksi dasar tentang cara mengatur pernapasan sihir agar energi tersebut tidak meluap keluar.

"Jangan mencoba melawannya, Aria. Biarkan energi itu mengalir melalui nadimu seperti air di sungai. Jika kau mencoba membendungnya, dia akan menghancurkanmu dari dalam. Kau adalah salurannya, bukan penjara bagi energi itu," pesan Elara di sela-sela perjalanan mereka melintasi hutan perbatasan. Aria mengangguk, mencoba mengikuti instruksi ibunya dengan penuh disiplin. Ia mulai belajar bahwa kekuatan ini bukan hanya tentang menghancurkan musuh, tetapi tentang memahami harmoni dari setiap detik yang ia jalani.

Namun, di hari kedua perjalanan, mereka mulai menemui rintangan. Desa-desa yang mereka lalui tampak kosong, seolah-olah penduduknya telah melarikan diri dalam ketakutan. Di beberapa tempat, mereka menemukan jejak kaki yang tidak wajar—terlalu besar untuk manusia dan terlalu dalam untuk hewan. Alaric turun dari kuda untuk memeriksa jejak tersebut, wajahnya tampak semakin gelap.

"Ini adalah jejak para Pencari Kehampaan. Makhluk-makhluk yang diciptakan dari mayat ksatria kuno Zandaria yang dibangkitkan kembali dengan sihir hitam. Mereka sedang memburu sesuatu, dan jejak ini menuju tepat ke arah jalur yang akan kita lalui," ucap Alaric sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang menanjak menuju pegunungan Barat.

"Mereka mencari Aria. Mereka bisa merasakan denyut energinya bahkan dari jarak mil jauhnya," tambah Elara. Ia segera mengeluarkan sebuah artefak kecil berbentuk bola kristal yang mampu mengaburkan jejak energi. Ia mencoba memasangkan artefak itu pada kalung Aria, namun artefak tersebut langsung retak dan hancur saat bersentuhan dengan kulit Aria. Energi di dalam diri Aria terlalu besar untuk disembunyikan oleh alat alkimia biasa.

Aria menatap pecahan kristal itu dengan rasa bersalah. "Maaf, Ibu. Sepertinya aku benar-benar menjadi suar bagi mereka di tengah kegelapan ini."

Elara menggeleng, memberikan senyum yang menguatkan. "Kalau begitu, kita tidak akan bersembunyi lagi. Kita akan membuat mereka menyesal karena telah mengejar kita. Alaric, siapkan posisi tempur. Jika mereka ingin bertemu dengan Jantung dari Roda Waktu, kita akan memberikan mereka sambutan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

Aria menghunus pedangnya, merasakan energi perak yang mulai merambat dari telapak tangannya ke bilah pedang tersebut. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar siap. Ia tidak lagi takut pada penglihatan masa lalu ibunya; ia justru menjadikannya sebagai motivasi. Jika ibunya bisa bertahan dari kematian dan membangun kembali segalanya, maka ia, sebagai putri dari dua legenda, tidak punya alasan untuk kalah. Badai di perbatasan Barat sudah menanti, dan Aria Seraphina von Ravenhurst siap untuk menari di tengah pusarannya, membuktikan bahwa warisan darah perak adalah cahaya yang paling terang di tengah kehampaan yang paling pekat sekalipun.

1
Kustri
bagus nih crita'a
beda 💪
awesome moment
cinta yg menembus ruang dan wkt
awesome moment
n tu settingnya abad lama y? agak bingung jg diawal. dgn 2024. mgk mksdnya 1024😄😄😄
awesome moment
spt.nya elara dan alaric dpt hidup ke dua
awesome moment
good
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!