NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kehampaan di Tanah Utara

Langkah kaki kuda-kuda perang yang perkasa memecah kesunyian hamparan salju di wilayah perbatasan Utara yang biasanya begitu tenang dan tak tersentuh. Udara di sini tidak hanya terasa dingin, tetapi juga membawa sensasi tajam yang menusuk tulang, seolah-olah setiap embusan angin adalah ribuan serpihan kaca tak kasat mata yang siap menyayat siapa pun yang berani melintas tanpa perlindungan. Elara Lane menarik jubah bulu serigalanya lebih rapat ke tubuh, matanya yang berwarna perak menyisir setiap sudut hutan pinus yang mereka lalui dengan kewaspadaan yang telah terasah selama dua kehidupan penuh gejolak. Di sampingnya, Alaric menunggangi kuda hitamnya dengan postur yang tak tergoyahkan, tangannya selalu berada di dekat gagang pedang besar yang kini bergetar pelan di dalam sarungnya, seolah senjata itu memiliki nyawa sendiri dan sedang bereaksi terhadap energi negatif yang menyelimuti atmosfer tempat ini. Aria berada beberapa langkah di depan mereka, memacu kudanya dengan perpaduan antara semangat muda yang meluap dan kewaspadaan seorang ksatria yang terlatih, menunjukkan bahwa latihan bertahun-tahun di bawah pengawasan Kael telah membentuknya menjadi sosok yang jauh lebih tangguh dari gadis seusianya di ibu kota.

Namun bagi Elara, melihat punggung putrinya di tengah medan yang penuh ketidakpastian ini membawa rasa sesak di dada yang sulit ia jelaskan. Ada rasa bangga yang membuncah melihat Aria tumbuh begitu perkasa, namun jauh lebih besar rasa takut jika sejarah kelam akan berulang pada garis keturunannya. "Ibu, Ayah, lihat itu!" seru Aria tiba-tiba sambil menunjuk ke arah sebuah gundukan salju di bawah pohon pinus raksasa yang tampak menghitam seolah habis tersambar petir raksasa, namun anehnya tidak ada bekas api atau aroma gosong. Mereka segera memacu kuda mendekat dan menemukan sisa-sisa pos penjagaan perbatasan yang telah hancur secara mengerikan. Struktur kayu pos itu tidak hancur karena ledakan sihir atau tebasan pedang pasukan konvensional, melainkan melapuk secara tidak wajar. Serat-serat kayu yang kuat itu berubah menjadi debu hitam halus yang bahkan tidak tertutup oleh salju yang terus turun dengan lebatnya. Pemandangan itu sangat aneh, seolah-olah waktu di titik tersebut telah dipercepat ribuan tahun hanya dalam hitungan detik, meninggalkan puing-puing sejarah yang tak lagi memiliki bentuk aslinya.

Elara turun dari kudanya, kakinya tenggelam sedikit ke dalam salju yang empuk, lalu ia berlutut untuk menyentuh tanah yang menghitam itu dengan sarung tangan kulitnya yang tebal. Ia memejamkan mata, memfokuskan sihir alkimianya yang kini telah mencapai tingkat kemurnian tertinggi, dan seketika ia tersentak hingga hampir terjatuh ke belakang. Ia merasakan denyut energi yang sangat ia kenali—sihir korosi dari peradaban kuno Zandaria—namun kali ini energinya terasa jauh lebih pekat, lebih purba, dan jauh lebih lapar daripada yang pernah ia hadapi di tengah samudera belasan tahun silam. "Ini bukan sihir yang bisa dilakukan oleh manusia biasa, Alaric, bahkan oleh penyihir hitam terkuat dari sisa-sisa pengikut Julian sekalipun," bisik Elara dengan suara yang sedikit bergetar karena ngeri yang terpendam. "Ini adalah jejak dari apa yang disebut dalam catatan alkimia terlarang sebagai Kehampaan yang Tak Berujung. Mereka tidak hanya membunuh penjaga kita secara fisik, mereka menghapus keberadaan hidup dari tempat ini hingga ke akar-akarnya, memakan waktu dan eksistensi mereka."

Alaric ikut turun dari kudanya, berdiri kokoh di belakang istrinya untuk memberikan perlindungan fisik sekaligus ketenangan batin yang selalu ia tawarkan. Ia menatap ke arah pondok kayu lama mereka yang mulai terlihat samar di kejauhan, tersembunyi di balik kabut putih tebal yang berputar-putar dengan cara yang tidak alami. Pondok itu adalah saksi bisu kedamaian masa lalu mereka, tempat di mana mereka pertama kali merasa seperti manusia biasa, namun kini tempat itu tampak seperti mulut gua gelap yang siap menelan siapa saja. Aria mendekati mereka, wajahnya yang penuh keberanian kini sedikit menunjukkan keraguan setelah melihat kehancuran yang tak masuk akal di depan matanya. "Mengapa mereka melakukan ini, Ibu? Jika mereka membenci kita, mengapa mereka tidak menyerang istana secara langsung dengan seluruh kekuatan mereka? Mengapa menyerang penjaga di perbatasan yang sunyi ini?" tanya Aria dengan nada menuntut jawaban yang selama ini selalu disimpan rapat oleh orang tuanya. Elara menatap mata perak putrinya, merasakan dorongan kuat untuk menceritakan semuanya, tentang bagaimana ia pernah mati kedinginan dikhianati oleh Julian, dan bagaimana ia menantang hukum alam untuk kembali dan memperbaiki segalanya. Namun, ia tahu bahwa Aria belum siap memikul beban sebagai putri dari seorang wanita yang telah memutar balik roda waktu dan menciptakan utang pada takdir.

"Karena mereka ingin kita merasa tidak berdaya, Aria," jawab Elara sambil mengusap pipi Aria yang dingin dengan lembut. "Mereka ingin kita tahu bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman, sekecil apa pun itu. Dan mereka mengincarmu karena kau adalah simbol dari masa depan yang lahir dari apa yang mereka sebut sebagai anomali waktu." Mereka melanjutkan perjalanan menuju pondok kayu tersebut dengan formasi yang jauh lebih rapat. Kabut semakin tebal, menghalangi pandangan hingga mereka hanya bisa melihat beberapa langkah di depan, sementara suara hutan yang biasanya dipenuhi kicauan burung kini sunyi senyap, digantikan oleh suara rintihan angin yang terdengar seperti bisikan ribuan jiwa yang tersiksa. Saat mereka akhirnya tiba di depan pondok, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih mengerikan dari sekadar pos yang melapuk. Lima penjaga elit Ravenhurst berdiri mematung di halaman depan, namun tubuh mereka telah berubah menjadi patung abu yang rapuh. Wajah-wajah mereka membeku dalam ekspresi teror yang luar biasa, mata mereka melotot tanpa pupil, menatap ke arah pintu pondok yang terbuka lebar seolah mengundang siapa pun untuk masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan.

Alaric menghunus pedangnya yang kini memancarkan cahaya biru redup yang hangat, satu-satunya sumber cahaya yang mampu menembus kabut hitam di sekitar pondok. "Masuklah dengan hati-hati, jangan menyentuh apa pun yang terlihat mencurigakan," perintah Alaric dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Di dalam pondok, interior kayu yang dulu hangat kini tertutup oleh lapisan lendir hitam yang berdenyut pelan di dinding, seolah-olah bangunan itu sendiri telah menjadi organisme hidup yang jahat. Di atas meja makan, terdapat sebuah peta benua Aurora yang sudah robek-robek, namun ada satu titik yang ditusuk oleh belati berkarat tepat di jantung Samudera Kelabu. Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan turun drastis hingga napas mereka menjadi kristal es yang berjatuhan ke lantai kayu. Suara tawa yang rendah dan parau terdengar dari sudut ruangan yang paling gelap, dan dari balik bayangan muncul sosok berjubah hitam yang tubuhnya tampak tidak padat, seolah terbuat dari asap dan debu kematian. Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya ada lubang gelap di tempat mata dan mulutnya seharusnya berada.

Aria segera menghunus kedua belati obsidiannya—senjata yang dulu digunakan Elara untuk memotong urat nadi pengkhianatannya sendiri—berdiri di baris terdepan dengan insting tempur yang luar biasa. Ia tidak menunjukkan rasa takut meski lawannya bukanlah makhluk dunia ini. "Jadi, inilah sang pewaris darah perak, begitu murni dan begitu penuh dengan energi kehidupan yang menggoda," suara sosok itu menggema langsung di dalam kepala mereka masing-masing, membawa gelombang sakit kepala yang hebat bagi Elara. Memori tentang kematian di kehidupan pertamanya mulai berputar kembali; ia melihat wajah Julian yang tersenyum saat memberinya racun, ia mendengar tawa Isabella yang mengejeknya, dan ia merasakan dinginnya air laut saat ia tenggelam dulu. "Hentikan ilusi murahan ini!" teriak Elara sambil melepaskan gelombang sihir pemurnian dari tangannya yang memancarkan cahaya perak menyilaukan. Cahaya itu menghantam sosok bayangan tersebut, namun makhluk itu justru tertawa, membiarkan energi perak itu menembus tubuh asapnya tanpa luka sedikit pun.

"Kau tidak bisa memurnikan apa yang sudah mati, Empress. Kami adalah hutang yang kau buat saat kau memutar roda waktu secara paksa," ucap sosok itu sambil meluncur ke arah Aria dengan kecepatan yang melampaui logika. Alaric mencoba menebasnya dengan kekuatan penuh, namun pedangnya hanya melewati asap hitam tersebut seolah-olah sosok itu hanyalah bayangan di atas air. Aria, yang memiliki refleks luar biasa, mencoba menusuk sosok itu dengan belati obsidiannya. Saat ujung belati Aria bersentuhan dengan asap hitam tersebut, sesuatu yang mustahil terjadi. Belati itu tidak menembus asap, melainkan menyerap asap tersebut ke dalam permukaannya yang gelap dengan haus. Mata perak Aria mendadak bersinar dengan intensitas yang begitu kuat hingga memenuhi seluruh pondok dengan cahaya putih yang membutakan. Aria berteriak, bukan karena rasa sakit fisik, tetapi karena ia merasakan aliran energi yang sangat besar masuk ke dalam tubuhnya, sebuah kekuatan asing yang memanggil sesuatu yang selama ini tertidur jauh di dalam nadinya.

Sosok bayangan itu menjerit kesakitan saat tubuhnya mulai terkoyak dan tertarik secara paksa ke arah Aria, seolah-olah gadis itu adalah pusaran air yang tak terelakkan bagi energi kegelapan. "Tidak mungkin! Kau... kau bukan hanya sekadar wadah biasa! Kau adalah Jantung dari Roda Waktu itu sendiri!" teriak sosok itu sebelum akhirnya hancur menjadi partikel debu yang dihisap habis oleh belati Aria. Ruangan kembali menjadi sunyi, lendir hitam di dinding mengering dan rontok menjadi abu, namun suasana di antara mereka bertiga telah berubah selamanya. Aria berdiri gemetar, belatinya masih memancarkan aura ungu yang aneh, dan saat ia menoleh ke arah ibunya, tatapannya bukan lagi tatapan seorang putri yang polos, melainkan tatapan seseorang yang baru saja melihat sekilas ke dalam jurang waktu yang dalam. Elara menyadari bahwa rahasia besarnya kini bukan lagi miliknya sendiri, dan badai yang ia takutkan telah benar-benar tiba di depan pintu rumah mereka.

Pondok kayu yang dulunya penuh dengan memori indah tentang tawa balita Aria kini terasa asing dan dingin. Aria menunduk, menatap telapak tangannya yang masih terasa berdenyut oleh energi yang baru saja ia serap. "Ibu... makhluk itu..." Aria memulai dengan suara yang kecil dan rapuh, "saat aku menyentuhnya, aku tidak hanya merasakan kegelapan. Aku melihat sesuatu. Aku melihat seorang wanita yang mirip denganku... dia sedang menangis di sebuah pesta dansa yang megah, lalu dia mati sendirian di tengah badai salju karena dikhianati oleh seorang pria berambut pirang. Ibu, wanita itu... apakah itu kau?" Pertanyaan Aria menggantung di udara seperti hukuman gantung yang siap dijatuhkan. Elara tidak bisa lagi bersembunyi. Kehampaan Zandaria telah merobek tirai yang selama ini ia pasang untuk melindungi Aria dari kebenaran yang mengerikan.

Alaric melangkah maju, tangannya yang besar merangkul bahu Elara dan Aria sekaligus, mencoba menjadi penengah di antara dua kutub energi yang sedang bertabrakan. "Kita tidak bisa membicarakan ini di sini. Tempat ini sudah tercemar dan kita harus segera kembali ke istana sebelum entitas lain muncul," ucap Alaric dengan nada yang berusaha tetap tenang meski ia sendiri bisa merasakan guncangan hebat dalam diri istrinya. Elara hanya bisa mengangguk lemah, air mata yang selama bertahun-tahun ia tahan kini mulai menggenang. Ia tahu bahwa mulai saat ini, perjalanannya bukan lagi tentang membalas dendam pada masa lalu, melainkan tentang bagaimana ia bisa menyelamatkan putrinya dari beban takdir yang secara tidak sengaja ia wariskan saat ia memilih untuk hidup kembali.

Mereka keluar dari pondok dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada saat mereka datang. Langit di atas Utara yang biasanya jernih kini tampak berwarna kemerahan, sebuah pertanda buruk yang jarang terjadi. Aria tidak lagi memacu kudanya di depan; ia berkuda di tengah, diapit oleh kedua orang tuanya yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di sepanjang perjalanan pulang, Aria tetap diam, namun otaknya bekerja dengan cepat. Ia teringat setiap detil dari penglihatan singkat tadi—rasa sakit yang dialami ibunya, dinginnya salju, dan kebencian yang mendalam. Ia menyadari bahwa kekaisaran yang ia cintai ini dibangun di atas fondasi penderitaan yang luar biasa, dan ia, Aria Seraphina, adalah hasil dari sebuah anomali yang ditolak oleh alam semesta.

Sesampainya di perbatasan luar hutan pinus, mereka berpapasan dengan rombongan pasukan tambahan yang dikirim oleh Kael karena merasa khawatir. Alaric memberikan instruksi singkat untuk mengamankan area pondok dan membakar sisa-sisa pos yang telah membusuk agar energinya tidak menyebar. Namun, Elara tidak fokus pada urusan militer itu. Ia hanya menatap Aria yang kini tampak jauh lebih dewasa dalam beberapa jam saja. Elara menyadari bahwa Aria bukan hanya mewarisi darah peraknya, tetapi juga mewarisi kutukan reinkarnasi itu dalam bentuk yang berbeda. Jika Elara adalah "Sang Regresor", maka Aria adalah "Sang Jantung", pusat dari energi waktu yang kini sedang dicari oleh sisa-sisa peradaban Zandaria untuk membangkitkan kembali Dewa Kegelapan mereka.

"Ibu," panggil Aria tiba-tiba saat mereka sedang beristirahat sejenak untuk memberi minum kuda-kuda mereka. "Jangan takut padaku. Dan jangan merasa bersalah karena telah memilih untuk hidup kembali. Jika Ibu tidak melakukannya, aku tidak akan pernah ada di sini sekarang." Kata-kata Aria yang begitu dewasa dan penuh pengertian membuat pertahanan Elara runtuh. Ia memeluk putrinya dengan erat, menangis di bahu gadis itu di tengah hamparan salju Utara yang sakral. Alaric berdiri di dekat mereka, menatap langit yang semakin gelap, menyadari bahwa Season 2 dari kehidupan mereka ini tidak akan lagi tentang pedang dan alkimia belaka, melainkan tentang pertempuran antara takdir yang menuntut haknya dan cinta keluarga yang berusaha mempertahankannya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, musuh mereka adalah waktu itu sendiri yang sedang berusaha untuk mengoreksi kesalahannya.

"Apapun yang terjadi selanjutnya, kita akan menghadapinya sebagai satu keluarga," janji Elara di sela-sela isaknya. "Aku telah mengalahkan maut sekali, Aria. Dan demi dirimu, aku akan melakukannya ribuan kali lagi jika perlu." Di kejauhan, dari balik kabut Samudera Kelabu yang terlihat dari puncak gunung tertinggi, sebuah gerbang kuno mulai bergetar pelan, melepaskan aura Kehampaan yang lebih besar ke arah Kekaisaran Aurora. Badai yang sesungguhnya bukan lagi sekadar kiasan; ia adalah kenyataan yang akan mengubah seluruh sejarah benua tersebut selamanya.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!