NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tagihan yang Tak Terelakkan

Suara riuh rendah di koridor SMK Pamasta pagi ini terdengar seperti kebisingan statis di telingaku. Semua orang tampak berseri-seri. Ada yang sibuk membandingkan nilai, ada yang sudah berencana pergi ke mal, dan ada yang sibuk membicarakan destinasi liburan mereka. Sementara aku? Aku berdiri di sudut kelas TKJ 2, merapikan isi tas hitamku dengan jemari yang tak henti-hentinya gemetar.

Hari ini adalah hari pembagian rapot. Hari di mana semua "angka" hasil kerja keras selama satu semester ini resmi tercatat di atas kertas. Tapi bagiku, rapot ini hanyalah selembar tiket menuju penjara dua minggu di rumah.

"Vem, ini rapot kamu. Selamat ya, nilaimu di Pemrograman Dasar paling tinggi se-angkatan," ucap Pak Bambang sambil menyerahkan rapotku padaku.

Aku hanya tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Terima kasih, Pak."

Nadin menyenggol bahuku, wajahnya tampak lega meski nilai Matematikanya pas-pasan. "Gila, Vem! Kamu emang jenius. Tapi kok mukanya malah kayak mau ikut ujian susulan sih? Senyum dong, besok kan kita udah nggak perlu bangun pagi buat dengerin ceramah guru."

Aku menoleh ke arah Nadin, mencoba mencari kekuatan dari binar matanya. "Aku cuma kepikiran soal liburan, Din. Dua minggu itu... lama ya?"

Nadin terdiam sejenak, tatapannya melembut. Dia tahu apa yang sebenarnya aku takutkan. Dia tahu bahwa saat gerbang sekolah ini tertutup sore nanti, aku akan kehilangan perisai sosialku. "Hei, dengerin aku. Kita punya grup WhatsApp, kan? Aku, kamu, Sarendra, Bagas, sama Netta. Kita bakal spam kamu tiap jam kalau perlu. Jangan pernah ngerasa sendirian."

Aku mengangguk, namun mataku tak sengaja melirik ke arah sudut plafon kelas. Di sana, di balik lubang ventilasi, aku melihat sehelai benang merah tipis yang menjuntai. Benang itu bukan milikku, bukan juga milik Sarendra. Benang itu bergerak-gerak seperti tentakel kecil yang sedang mencari mangsa. Rasanya seperti ada mata tak kasat mata yang sedang menertawakan janji-janji Nadin.

Setelah acara di kelas selesai, aku berjalan menuju Gedung Akuntansi. Ini adalah tradisi kecil kami selama sebulan terakhir: bertemu di bawah pohon beringin besar di tengah sekolah sebelum pulang.

Dari kejauhan, aku melihat sosok itu. Sarendra.

Dia sedang berdiri membelakangiku, tampak sedang berbicara serius dengan Bagas dan Netta. Postur bungkuknya terlihat sangat jelas saat dia menunduk melihat sebuah buku catatan kecil. Saat dia berbalik dan melihatku, wajahnya langsung cerah. Kacamata tebalnya sedikit melorot saat dia berlari kecil menghampiriku.

"Vem! Gimana rapotnya?" tanya Rendra, napasnya sedikit terengah.

"Bagus, Dra. Aku peringkat satu di kelas," jawabku, mencoba terdengar bangga demi dia.

"Sudah kuduga!" Rendra mengepalkan tangannya dengan antusias. "Aku juga dapet nilai A di Auditing. Kita benar-benar menutup semester ini dengan saldo yang sangat positif."

Ia kemudian menarikku sedikit menjauh dari kerumunan siswa yang mulai bubar. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku jurnal bersampul cokelat tua yang masih baru. Di bagian depannya, tertulis dengan kaligrafi tangan yang rapi: "Jurnal Kebahagiaan Vema & Sarendra: Periode Libur Semester".

"Ini yang aku janjikan kemarin," ucapnya sambil menyerahkan buku itu. "Aku sudah tulis satu hal baik di halaman pertama buat hari ini."

Aku membuka halaman pertama dengan tangan gemetar. Di sana tertulis:

Tanggal: 20 Desember. Hal baik: Melihat Vema tersenyum saat menerima rapot. Catatan: Jangan biarkan ketakutan mengaudit senyummu selama dua minggu ke depan.

Air mata tiba-tiba menggenang di mataku. Bagaimana bisa seorang pemuda yang begitu terobsesi dengan angka bisa memiliki hati yang begitu puitis?

"Dra... kalau nanti di rumah aku nggak bisa nulis apa-apa gimana?" bisikku. "Rumahku... kamu tahu sendiri suasananya gimana kalau liburan."

Rendra menggenggam tanganku. Pergelangan tangan kami yang sama-sama terikat benang merah saling bersentuhan. Seketika, rasa hangat yang luar biasa mengalir ke seluruh tubuhku, mengusir hawa dingin yang sejak tadi mengikutiku dari ventilasi kelas.

"Kalau kamu nggak bisa nulis, kamu cuma perlu buka buku ini dan baca apa yang sudah aku tulis sebelumnya. Dan ingat, setiap pagi jam sembilan, aku bakal berdiri di depan gang rumahmu. Aku nggak bakal masuk, aku cuma bakal lewat pakai motor Supraku dan bunyiin klakson dua kali. Itu tandanya aku ada di sana, mastiin kamu baik-baik saja," ucap Rendra dengan nada yang sangat mantap.

"Kamu gila, Dra. Gang rumahku itu jauh dari rumahmu," protesku, meski dalam hati aku merasa sangat lega.

"Dalam akuntansi, jarak itu cuma variabel biaya, Vem. Bukan penghalang hasil akhir," candanya, mencoba menghiburku.

Sore harinya, momen yang paling aku takuti akhirnya tiba. Kami berdiri di depan gerbang sekolah yang mulai sepi. Bagas dan Netta sudah pulang duluan setelah memberikan pelukan hangat padaku. Nadin juga sudah dijemput kakaknya. Tinggal aku dan Sarendra.

Suasana sekolah yang mulai kosong terasa sangat mencekam bagiku. Tanpa keriuhan siswa, aku bisa mendengar suara mesin jahit ibu dengan sangat jelas di dalam kepalaku. Krek... krek... krek... seolah-olah mesin itu sedang memanggilku pulang.

"Vem, kamu harus pulang sekarang. Sudah mau Maghrib," ucap Rendra sambil membantuku memakai helm.

Aku menatap bangunan sekolah untuk terakhir kalinya sebelum libur. Jendela-jendela kaca itu tampak seperti mata hitam yang besar. Di lantai tiga Gedung Administrasi, aku melihat tirai bergerak sedikit. Aku tahu, "Pelanggan Besar" itu sedang memperhatikan perpisahan kami. Dia tahu bahwa selama dua minggu ke depan, aku tidak akan memiliki perlindungan fisik dari Rendra.

"Dra, berjanjilah padaku satu hal," ucapku saat aku sudah naik ke boncengan motornya.

"Apa itu?"

"Jangan pernah lepaskan benang merah di tanganmu. Apa pun yang terjadi. Meskipun ibuku datang menemuimu, atau meskipun kamu merasa benang itu mulai mencekikmu. Jangan pernah dilepas."

Rendra menoleh sedikit, menatapku melalui kaca spion. "Aku nggak akan pernah ngelepasnya, Vem. Benang ini sudah jadi bagian dari jurnal hidupku."

Perjalanan pulang terasa begitu singkat. Jalanan Surabaya yang macet biasanya membuatku kesal, tapi kali ini aku berharap macetnya bertahan selamanya. Aku memeluk pinggang Rendra sangat erat, menyerap setiap detik keberadaannya.

Saat kami sampai di depan mulut gang rumahku, suasana terasa sangat berat. Lampu jalan yang biasanya kuning terang kini tampak meredup, memberikan warna kelabu pada aspal. Aku turun dari motor dengan kaki yang terasa berat seperti timah.

"Sampai ketemu besok jam sembilan pagi ya, Vem?" ucap Rendra, mencoba memberikan semangat.

"Iya, Dra. Hati-hati di jalan."

Aku berdiri di pinggir jalan, memperhatikan lampu belakang motor Supranya yang perlahan menghilang di tikungan. Begitu motornya benar-benar hilang dari pandangan, hawa dingin yang menusuk langsung menyergapku.

Aku berjalan masuk ke dalam gang. Suasana sunyi senyap, tidak ada anak-anak yang bermain, tidak ada tetangga yang mengobrol. Hanya ada suara langkah kakiku yang menggema di tembok-tembok kusam.

Begitu aku sampai di depan pagar rumahku, aku melihat Ibu.

Beliau sedang duduk di teras, namun tidak sedang menjahit. Beliau hanya duduk diam di kegelapan, matanya menatap lurus ke arah gerbang gang. Di pangkuannya terdapat sebuah tas hitam yang sudah jadi, namun tas itu tampak "hidup"—permukaannya berdenyut-denyut seperti otot yang sedang berkontraksi.

"Kamu pulang terlambat, Vema," suara Ibu terdengar datar, namun penuh dengan otoritas yang menekan.

"Tadi ada pembagian rapot, Bu," jawabku pelan, mataku tertunduk ke lantai.

Ibu berdiri, langkah kakinya tidak bersuara. Beliau mendekatiku, aroma kemenyan dan kain tua menguar dari tubuhnya. Tiba-tiba, tangan Ibu yang kasar dan dingin menyambar pergelangan tangan kiriku. Beliau menarik paksa lengan seragamku, menyingkap benang merah pemberian Sarendra.

"Simpul yang lemah," desis Ibu. Matanya berkilat marah. "Kamu pikir anak laki-laki dengan kacamata tebal itu bisa melindungimu dari takdir yang sudah dijahit ke dalam darahmu?"

"Dia temanku, Bu! Dia nggak ada hubungannya dengan tas-tas ini!" seruku, mencoba menarik tanganku.

Ibu mencengkeramnya lebih kuat. "Dia sudah masuk terlalu jauh, Vema. Benang ini... dia menyedot energi dari 'Pelanggan Besar'. Kamu sudah merusak keseimbangan yang selama ini Ibu jaga."

Ibu mengeluarkan gunting jahit kecil dari sakunya. Aku memekik ketakutan, mengira beliau akan memotong benang itu. Namun, Ibu justru melukai ujung jarinya sendiri dengan gunting itu hingga darah keluar, lalu meneteskan darahnya tepat di atas simpul benang merah di tanganku.

"Sekarang benang ini bukan lagi milik anak itu. Sekarang benang ini adalah 'tagihan'," ucap Ibu dengan senyum yang mengerikan. "Setiap kali dia mendekat ke rumah ini, darah ini akan menarik jiwanya sedikit demi sedikit. Kalau kamu ingin dia selamat, pastikan dia tidak pernah melewati batas gang ini selama liburan."

Ibu melepaskan tanganku dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Masuklah. Pelanggan Besar sudah menunggu pesanan terakhir tahun ini. Dan kali ini, dia butuh bantuan tanganmu untuk menyelesaikannya."

Aku berdiri mematung di teras. Air mata jatuh membasahi buku "Jurnal Kebahagiaan" yang aku dekap erat. Darah Ibu di atas benang merah itu perlahan mengering, berubah menjadi warna hitam yang pekat.

Aku menatap ke arah luar gang, ke arah jalan raya tempat Sarendra baru saja lewat. Hatiku hancur. Libur semester yang seharusnya menjadi waktu istirahat, kini resmi menjadi masa pertaruhan nyawa. Aku harus memilih: membiarkan Rendra menjauh dan aku tenggelam dalam kegelapan, atau membiarkannya mendekat dan melihatnya hancur karena "tagihan" ibuku.

Malam itu, di kamar yang gelap, aku membuka jurnal pemberian Rendra. Di halaman kedua, dengan tangan yang masih gemetar, aku menuliskan catatan pertamaku:

Tanggal: 20 Desember. Hal pahit: Aku menyadari bahwa mencintaimu adalah cara tercepat untuk menghancurkanmu. Saldo: Patah hati yang tak terhitung.

Aku memejamkan mata, mendengarkan suara mesin jahit ibu yang mulai menderu di ruang tengah. Liburan ini baru saja dimulai, dan aku sudah merasa kehilangan segalanya.

...****************...

Liburan semester biasanya adalah waktu di mana aku bisa menata ulang tumpukan jurnal umum dan merapikan catatan piutang Ayah yang sering berantakan. Namun, liburan kali ini terasa seperti sebuah laporan keuangan yang tidak pernah balance. Ada variabel asing yang terus menekan dadaku—sebuah perasaan waspada yang tak pernah padam sejak aku mengantar Vema pulang sore itu.

Seminggu telah berlalu sejak gerbang SMK Pamasta terkunci. Bagiku, satu minggu ini adalah rangkaian siklus yang repetitif namun penuh risiko. Setiap pagi, aku terbangun dengan rasa panas yang menyengat di pergelangan tangan kiriku. Benang merah dari

Vema itu perlahan berubah warna. Jika sebelumnya ia berwarna merah cerah seperti darah segar, kini ia berubah menjadi merah gelap kehitaman, menyerupai luka yang mulai mengering.

Aku mencoba menganalisisnya secara logis. Mungkin karena gesekan dengan kain seragam? atau Mungkin reaksi kimia dari keringat? Namun, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tahu ini bukan soal kimia. Ini adalah soal "tagihan".

Hari ke-3: Rutinitas yang Menyesakkan

Pukul 08.45. Aku sudah memanaskan motor Supra tuaku. Ayah sempat bertanya kenapa aku begitu rajin keluar di jam yang sama setiap pagi, padahal tidak ada jadwal ojek atau kursus.

"Cuma cari angin, Yah. Biar punggung nggak makin bungkuk kalau di depan buku terus," jawabku berbohong.

Ayah hanya mengangguk, meski aku tahu beliau curiga melihatku terus-menerus membetulkan letak kacamata dengan tangan yang sedikit gemetar.

Tepat pukul 09.00, aku sampai di depan gang rumah Vema. Suasananya selalu sama: sunyi, dingin, dan seolah-olah waktu berhenti berputar di sana. Udara di mulut gang itu terasa lebih padat, seolah-olah aku harus menembus dinding air yang tak kasat mata.

Pip! Pip!

Aku membunyikan klakson dua kali. Sesuai janji.

Dari kejauhan, di balik jendela lantai dua yang tirainya selalu tertutup rapat, aku melihat sebuah pergerakan kecil. Tirai itu tersingkap sedikit—sangat sedikit hingga mungkin orang lain tak akan menyadarinya.

Tapi aku melihatnya. Aku melihat wajah pucat Vema di sana. Ia tidak melambaikan tangan. Ia hanya menempelkan telapak tangannya di kaca jendela, seolah sedang menyapa melalui penghalang yang mustahil ditembus.

Saat itu juga, benang merah di tanganku terasa seperti ditarik dengan kencang oleh sesuatu dari dalam gang. Perih. Seolah-olah ada jarum tak kasat mata yang menusuk pembuluh darahku. Aku segera memutar gas motor dan melaju pergi, napas hancur berantakan. Aku menyadari satu hal: setiap kali aku datang, ada sesuatu di rumah itu yang mencoba "memancing" jiwaku.

Hari ke-5: Gangguan yang Merambah Rumah

Gangguan itu tidak lagi terbatas pada Vema. Pada hari kelima, "audit" kegelapan ini mulai menyentuh privasi rumahku sendiri.

Malam itu, saat aku sedang mencoba mengerjakan latihan soal Cost Accounting, lampu di kamarku tiba-tiba meredup. Bukan mati listrik total, tapi hanya meredup hingga menyerupai cahaya lilin yang sekarat. Aku berhenti menulis. Suara detak jam dinding di kamarku tiba-tiba terdengar seperti detak jantung yang sangat cepat.

Krek... krek... krek...

Suara itu muncul lagi. Suara mesin jahit. Kali ini bunyinya bukan berasal dari sudut ruangan, melainkan dari bawah tempat tidurku.

Aku bangkit dengan perlahan, mengabaikan rasa dingin yang menjalar dari telapak kaki ke tengkuk. Postur bungkukku membuatku harus sedikit meringkuk untuk melihat ke bawah kolong tempat tidur. Di sana, di tengah kegelapan yang pekat, aku melihat ribuan helai benang hitam yang sudah terjalin rapi, membentuk pola sebuah tas yang sangat besar—cukup besar untuk membungkus tubuh seorang manusia dewasa.

Tas itu belum jadi. Masih ada satu bagian yang terbuka di bagian atasnya. Dan di sana, di antara jahitan yang kasar, terselip sebuah foto kelas X Akuntansi 1. Foto yang sama yang aku simpan di atas meja belajar. Wajahku di foto itu sudah ditusuk dengan jarum jahit yang sangat besar.

"Logika, Sarendra... tetap gunakan logika," bisikku pada diri sendiri, suaranya parau.

Aku segera mengambil Al-Qur'an kecil yang selalu aku simpan di laci meja dan mulai merapalkan doa-doa perlindungan yang aku hafal. Tanganku menggenggam benang merah di pergelangan kiri. Panasnya semakin menjadi-jadi, namun kali ini panas itu memberikan kekuatan.

Pelan-pelan, bayangan tas besar itu memudar, menyisakan debu-debu hitam di lantai kamarku. Suara mesin jahit itu menghilang, digantikan oleh suara hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras di luar sana.

Aku terduduk lemas di kursi belajar. Aku meraih ponselku, melihat grup WhatsApp "Lingkaran Lima".

Netta: Guys, aku mimpi buruk lagi semalam. Aku mimpi mulutku dijahit pakai pita merah.

Bagas: Aku juga merasa ada yang aneh. Motor asisten rumah tanggaku tiba-tiba mogok pas lewat depan sekolah kemarin. Katanya mesinnya penuh benang.

Nadin: Vema belum balas chat dari kemarin sore. Aku khawatir.

Aku menghela napas panjang. Aku menimbang-nimbang apakah harus menceritakan apa yang baru saja aku alami. Tapi aku tidak ingin membuat mereka semakin panik. Aku harus menjadi pusat keseimbangan di tim ini.

Sarendra: Tetap waspada, teman-teman. Fokus pada doa. Aku tadi pagi lihat Vema di jendela, dia masih aman. Jangan biarkan ketakutan bikin saldo mental kalian minus. Kita bakal ketemu pas rapotan orang tua nanti atau pas masuk sekolah. Ingat, kita ini satu paket.

Hari ke-7: Puncak Minggu Pertama

Minggu pertama liburan ditutup dengan kejadian yang paling mengerikan. Hari ini, saat aku melakukan rutinitas klakson pukul sembilan, Vema tidak muncul di jendela.

Gang itu terlihat sangat gelap, meski matahari Surabaya sedang terik-teriknya. Saat aku membunyikan klakson dua kali, tidak ada respon. Aku mencobanya sekali lagi. Tetap sepi.

Rasa cemas yang luar biasa mengalahkan logika keselamatanku. Aku memarkir motor di pinggir jalan raya dan memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam gang—sesuatu yang dilarang keras oleh intuisi dan peringatan Vema.

Langkah kakiku terasa berat. Setiap meter aku melangkah, benang merah di tanganku seolah-olah berteriak. Warnanya sekarang benar-benar hitam pekat. Saat aku sampai di depan pagar rumah Vema, aku melihat sebuah pemandangan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Di halaman rumah yang sempit itu, berjejer belasan tas hitam buatan Ibu Vema. Tas-tas itu tidak diletakkan di lantai, melainkan digantung dengan benang-benang yang menjuntai dari atap teras. Semuanya bergoyang-goyang tanpa ada angin. Di tengah-tengah tas itu, Ibu Vema sedang berdiri, memunggungi gerbang.

Beliau tampak sedang menyirami tas-tas itu dengan cairan merah kental yang baunya amis menyengat.

"Tante..." suaraku hampir tidak keluar.

Ibu Vema berbalik perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan sebuah kesedihan yang sangat dalam dan kosong. Matanya tampak hitam pekat, tanpa selaput putih sedikit pun.

"Sarendra," ucapnya, suaranya terdengar seperti dua orang yang berbicara bersamaan. "Kamu sudah datang untuk menyerahkan 'cicilan' terakhir?"

"Di mana Vema, Tante?" tanyaku, mencoba berdiri setegak mungkin meski kakiku gemetar.

Beliau menunjuk ke dalam rumah dengan dagunya. "Dia sedang menyelesaikan tugasnya. Pelanggan Besar meminta sebuah tas yang terbuat dari 'kenangan'. Dan sayangnya, Sarendra... kenangan terbaik Vema adalah tentang kamu."

Tiba-tiba, salah satu tas hitam yang tergantung itu meledak, mengeluarkan ribuan serangga hitam kecil yang merayap cepat ke arahku. Aku terkesiap dan mundur beberapa langkah. Saat serangga itu menyentuh sepatuku, aku merasakan lemas yang luar biasa. Pandanganku mulai kabur.

Dalam keremangan itu, aku melihat Vema keluar dari pintu rumah. Dia mengenakan baju hitam panjang, tangannya memegang gunting besar. Matanya sembab, air mata mengalir deras di pipinya.

"Dra! Lari!" teriaknya. "Jangan ke sini! Benangnya sudah berubah, Dra! Ibuku sudah menjadikannya umpan!"

Vema mencoba berlari ke arahku, namun seolah ada benang transparan yang menarik pinggangnya kembali ke dalam rumah. Dia terjatuh di teras, tangannya menggapai-gapai ke arahku.

Aku mencoba maju, namun Ibu Vema mengangkat tangannya. Benang merah di pergelangan tanganku tiba-tiba mengencang, melilit sangat kuat hingga kulitku terasa teriris. Darah mulai merembes dari sela-sela benang itu.

"Satu langkah lagi, dan jantungmu akan berhenti berdetak, Auditor Kecil," desis Ibu Vema.

Aku dipaksa mundur oleh rasa sakit yang luar biasa. Logikaku berteriak bahwa aku tidak akan menang jika memaksakan diri masuk sekarang. Aku harus mencari "cara lain" untuk menyeimbangkan neraca ini. Dengan sisa tenaga, aku merapalkan doa sekuat mungkin dan menarik diri keluar dari gang itu.

Begitu aku sampai di jalan raya, rasa sakit itu mereda perlahan, meninggalkan bekas luka melingkar di pergelangan tanganku yang berbentuk persis seperti bekas jahitan.

Aku duduk di atas motor Supraku, napasku memburu, air mata kemarahan menetes di balik kacamataku. Seminggu liburan ini telah membuktikan satu hal: ini bukan lagi soal gangguan hantu di sekolah. Ini adalah soal sindikat gelap yang melibatkan nyawa manusia, dan Ibu Vema hanyalah perantaranya.

"Vem... bertahanlah," bisikku sambil menatap gang yang kini terlihat normal kembali di mata orang biasa.

Aku merogoh saku, mengambil buku jurnal kecil milikku. Di sana, aku menuliskan sebuah entri baru dengan tangan yang masih gemetar:

Minggu 1 Liburan: Amortisasi ketakutan telah mencapai puncaknya. Saldo keselamatan: Kritis. Catatan untuk diri sendiri: Pelanggan Besar di sekolah adalah kunci. Cari tahu siapa yang memesan 'Tas Kenangan' sebelum semester baru dimulai. Jika tidak, Vema akan benar-benar menghilang di balik jahitan itu.

Malam itu, Sarendra tidak pulang untuk belajar akuntansi. Ia pergi menuju rumah Bagas. Sudah waktunya Lingkaran Lima berhenti menjadi sasaran empuk. Sudah waktunya mereka melakukan "Audit Investigatif" terhadap sekolah mereka sendiri, meskipun itu artinya mereka harus membongkar rahasia yang sudah terkubur puluhan tahun di SMK Pamasta.

Dunia Sarendra kini bukan lagi soal angka di atas kertas, tapi soal nyawa di atas benang. Dan dia bersumpah, tidak akan ada satu rupiah pun nyawa temannya yang hilang dari catatan hidupnya.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!