NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

"Gedung ini benar-benar tidak masuk akal tingginya."

Arlan berdiri di depan trotoar, menatap puncak gedung pencakar langit milik Megantara Group. Cahaya matahari memantul dari kaca-kaca gedung itu, membuat Arlan harus menyipitkan mata berkali-kali. Tangannya mencengkeram erat map plastik berwarna biru yang berisi seluruh harapan hidupnya.

{Kenapa aku merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung Everest?}

Arlan merapikan kerah kemeja putihnya yang sudah disetrika sangat licin tadi pagi. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Kakinya melangkah maju, mendekati pintu kaca otomatis yang terlihat sangat mahal.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang petugas keamanan yang berdiri tegak di dekat pintu masuk.

Arlan memaksakan sebuah senyuman. "Selamat pagi, Pak. Saya ingin menghadiri undangan wawancara untuk posisi analis data."

Petugas keamanan itu melihat Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Boleh saya lihat surat undangannya?"

Arlan membuka map birunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilaminating tipis agar tidak lecek. Petugas itu mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan saksama.

"Nama Anda Arlan Dirgantara?"

"Benar, Pak."

"Baik, silakan isi daftar tamu di sini dulu. Setelah itu, Anda bisa menuju meja resepsionis di sebelah sana." Petugas itu menunjuk ke arah meja marmer besar di tengah lobi.

"Terima kasih banyak, Pak."

Arlan mengisi daftar tamu dengan tulisan tangan yang diusahakan serapi mungkin. Setelah selesai, dia berjalan menuju meja resepsionis. Lantai lobi itu sangat mengilap, sampai-sampai Arlan bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat di sana.

{Ayo, Arlan. Jangan memalukan. Kamu sudah belajar semalaman.}

Di meja resepsionis, seorang wanita cantik dengan seragam rapi menyambutnya dengan senyum profesional.

"Selamat pagi, selamat datang di Megantara Group. Ada yang bisa dibantu?"

"Pagi, Mbak. Saya Arlan. Saya ke sini untuk wawancara jam sepuluh."

Resepsionis itu memeriksa layar komputernya. "Wawancara analis data di lantai dua belas, ya? Mas Arlan bisa ambil kartu akses tamu di sini. Silakan tempelkan di gerbang akses sebelah kiri."

"Oh, baik. Terima kasih, Mbak."

"Sama-sama. Semoga beruntung, ya."

Arlan menerima kartu akses plastik berwarna merah. Dia berjalan menuju gerbang akses otomatis. Di sana, sudah ada beberapa orang lain yang juga mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Mereka semua tampak tegang, tapi ada satu pria yang terlihat sangat percaya diri. Pria itu sedang menyesuaikan jam tangan emasnya.

Arlan berdiri di belakang pria itu saat mengantre masuk ke lift.

"Kamu juga mau wawancara?" tanya pria berjam tangan emas itu tiba-tiba. Dia menoleh ke arah Arlan dengan tatapan meremehkan.

"Iya, benar," jawab Arlan singkat.

"Lulusan mana?"

Arlan sedikit ragu. "Universitas Negeri di daerah, Mas."

Pria itu terkekeh pelan. "Oh, pantas saja. Saya lulusan luar negeri. Namaku Tegar. Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap tinggi di perusahaan ini. Megantara biasanya hanya menerima kasta tertinggi."

{Kasta tertinggi? Memangnya ini zaman kerajaan?}

"Saya hanya mencoba yang terbaik, Mas Tegar," balas Arlan dengan nada yang tetap sopan.

"Mencoba itu bagus, tapi tahu diri itu lebih penting. Lihat saja sainganmu di sini. Semuanya punya koneksi atau latar belakang hebat. Kamu bawa apa? Map biru murahan itu?" Tegar menunjuk map di tangan Arlan.

Lift berdenting terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam bersama beberapa karyawan lainnya. Arlan memilih berdiri di pojok belakang, sementara Tegar berdiri tepat di depan pintu lift seolah dia adalah pemilik gedung ini.

Di dalam lift, suasana sangat sunyi. Arlan bisa mendengar suara napasnya sendiri. Dia melihat angka digital di atas pintu lift yang bergerak naik. 2... 3... 4...

Tiba-tiba, sebuah suara berdenging tajam di telinga Arlan.

Ting!

Arlan tersentak dan hampir menjatuhkan mapnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi orang-orang di sekitarnya tampak tenang-tenang saja.

{Suara apa itu? Apa aku saking stresnya sampai berhalusinasi?}

Tiba-tiba, di depan mata Arlan muncul sebuah kotak transparan bercahaya biru. Tulisan di dalamnya terbaca sangat jelas.

[Sistem Panduan Karier Berhasil Diaktifkan]

[Menganalisis Subjek: Arlan Dirgantara] [Status: Pengangguran Berbahaya (Level 1)] [Tujuan Saat Ini: Mendapatkan Pekerjaan di Megantara Group]

Arlan mengerjapkan matanya berkali-kali. Kotak biru itu tidak hilang. Malah, kotak itu mengikuti arah gerak matanya.

{Apa-apaan ini? Sistem? Seperti di komik yang sering kubaca?}

"Kamu kenapa? Muka kamu jadi makin aneh," tegur Tegar yang melihat ekspresi kaget Arlan dari pantulan pintu lift.

"Nggak apa-apa, Mas. Cuma agak pusing," jawab Arlan berbohong.

[Peringatan: Target 'Tegar' memiliki tingkat kesombongan 85%. Saran sistem: Jangan hiraukan ocehannya. Fokus pada persiapan pertanyaan teknis nomor 4.]

Arlan terpaku membaca tulisan itu. {Pertanyaan teknis nomor empat? Apa maksudnya?}

Lift berhenti di lantai dua belas. Pintu terbuka, dan mereka keluar menuju sebuah ruang tunggu yang cukup luas. Sudah ada sekitar sepuluh orang duduk di kursi-kursi empuk yang disediakan. Seorang staf HRD wanita dengan papan jalan di tangannya berdiri di depan pintu sebuah ruangan.

"Silakan duduk dulu semuanya. Saya akan memanggil nama Anda satu per satu," kata staf HRD itu.

Arlan duduk di kursi paling ujung. Tegar duduk tepat di depannya, masih dengan gaya angkuhnya yang sibuk memainkan ponsel pintar keluaran terbaru.

[Misi Sampingan Dimulai: Kenali Lingkungan Sekitar] [Deskripsi: Perhatikan perilaku staf HRD untuk mengetahui kriteria yang dicari perusahaan hari ini.] [Hadiah: Peningkatan Kepercayaan Diri +10%]

Arlan mencoba mengikuti instruksi sistem itu. Dia memperhatikan staf HRD yang tadi bicara. Wanita itu terlihat lelah dan sering memijat pangkal hidungnya. Dia juga berkali-kali memeriksa jam tangannya dengan gelisah.

{Dia sepertinya sedang terburu-buru. Mungkin jadwalnya sangat padat hari ini.}

[Analisis Tepat! Staf HRD tersebut menyukai jawaban yang ringkas, padat, dan langsung ke inti masalah. Hindari basa-basi yang terlalu panjang.]

Arlan mengangguk pelan tanpa sadar. Dia merasa sistem ini benar-benar bisa membantunya.

"Arlan Dirgantara?" panggil staf HRD itu.

Arlan berdiri dengan sigap. "Saya, Bu."

"Silakan masuk ke Ruang Wawancara B."

Arlan berjalan menuju pintu tersebut. Tegar menatapnya sambil memberikan isyarat "jempol ke bawah" dengan sembunyi-sembunyi. Arlan tidak peduli. Dia memutar kenop pintu dan masuk ke dalam.

Di dalam ruangan, ada dua orang penguji. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan seorang wanita muda yang tampak sangat cerdas. Di depan mereka, kursi kosong sudah menunggu Arlan.

"Silakan duduk, Saudara Arlan," kata si pria berkacamata.

"Terima kasih, Pak."

"Nama saya Hendra, dan ini Ibu Siska. Kita akan mulai wawancaranya sekarang. Bisa ceritakan tentang dirimu dengan singkat?"

Arlan sudah menyiapkan jawaban standar, tapi tiba-tiba sistem memunculkan kotak peringatan baru.

[Bahaya! Jawaban standar Anda terlalu membosankan. Gunakan skema jawaban 'Solusi-Masalah' untuk menarik minat Ibu Siska.]

Arlan menelan ludah. Dia mengubah susunan kalimat di kepalanya dengan cepat.

"Baik, Pak Hendra dan Ibu Siska. Nama saya Arlan. Alasan saya di sini bukan hanya karena saya lulusan analisis data, tapi karena saya pernah mengembangkan model prediksi sederhana yang membantu UMKM di daerah saya mengurangi kerugian stok barang hingga lima belas persen dalam tiga bulan."

Ibu Siska yang tadinya sibuk mencatat, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Dia menatap Arlan dengan minat yang berbeda. "Menarik. Bagaimana cara kamu mengumpulkan datanya?"

Arlan menjawab dengan lancar, dibantu oleh poin-poin yang tiba-tiba muncul di hadapannya seperti layar proyektor pribadi. Dia menjelaskan metodologinya dengan sangat teknis tapi mudah dimengerti. Wawancara berlangsung dengan tempo yang cukup baik.

"Oke, pertanyaan terakhir dari saya," kata Pak Hendra sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Jika kamu diberikan sekumpulan data yang tidak lengkap tapi harus memberikan laporan besok pagi, apa yang akan kamu lakukan?"

Arlan teringat saran sistem di lift tadi. {Pertanyaan nomor empat... ini pasti yang dimaksud.}

[Saran Jawaban: Jangan katakan Anda akan menebak data yang hilang. Katakan Anda akan menggunakan teknik imputasi statistik berbasis tren historis dan memberikan catatan disclaimer pada laporan.]

Arlan mengikuti saran itu kata demi kata. Pak Hendra tampak mengangguk-angguk puas. Dia menuliskan sesuatu yang cukup panjang di berkas Arlan.

"Baik, wawancara selesai. Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Ibu Siska.

"Kapan saya bisa mendapatkan kabar mengenai hasilnya, Bu?"

"Paling lambat tiga hari kerja. Terima kasih, Arlan."

Arlan berdiri, menyalami kedua penguji itu, dan berjalan keluar ruangan. Perasaannya jauh lebih ringan. Dia merasa telah memberikan segalanya. Saat dia keluar, Tegar masih menunggu gilirannya dengan wajah yang mulai tampak cemas karena melihat Arlan keluar dengan senyuman.

"Bagaimana? Pasti ditolak, kan?" bisik Tegar saat Arlan melewatinya.

Arlan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Dia berjalan menuju lift untuk pulang. Namun, saat dia baru saja akan menekan tombol lift, sistem di depan matanya berubah warna menjadi merah menyala.

[Peringatan Darurat! Terdeteksi sabotase pada berkas digital Anda di sistem internal Megantara Group!]

Langkah Arlan terhenti seketika. Jantungnya kembali berdegup kencang.

{Apa? Sabotase? Siapa yang melakukannya?}

[Status: Berkas Anda sedang dalam proses penghapusan permanen oleh akun admin luar. Sisa waktu: 60 detik.]

Arlan panik. Dia melihat ke sekeliling lorong yang sepi. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Jika berkasnya dihapus, semua usahanya hari ini akan sia-sia. Namanya akan hilang dari daftar kandidat seolah dia tidak pernah datang.

"Arlan? Kamu kenapa masih di sini?" tanya staf HRD yang tadi memanggilnya, yang kebetulan sedang berjalan menuju dispenser air di dekat lift.

Arlan menatap staf itu, lalu menatap kotak merah yang terus berkedip di depannya.

[Waktu tersisa: 45 detik. Segera lakukan tindakan interupsi!]

{Tapi bagaimana caranya?! Aku bukan hacker!}

Arlan melihat laptop staf HRD yang tergeletak terbuka di meja kecil di samping dispenser. Sepertinya wanita itu lupa mengunci layarnya karena sedang terburu-buru.

[Instruksi: Gunakan laptop itu sekarang! Sistem akan mengambil alih kendali input untuk memulihkan berkas!]

Arlan menelan ludah. Ini gila. Jika dia ketahuan menyentuh laptop perusahaan, dia bukan cuma tidak diterima kerja, tapi bisa dipolisikan. Tapi jika dia diam saja, masa depannya akan hancur sebelum dimulai.

Arlan mendekat ke meja itu dengan tangan gemetar, sementara staf HRD itu masih membelakanginya, sibuk mengisi botol minumnya yang bocor sedikit.

[Waktu tersisa: 20 detik.]

Arlan meletakkan tangannya di atas touchpad laptop tersebut. Tepat saat itu, staf HRD tersebut mulai memutar badannya kembali ke arah Arlan.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!