NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:77.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Ketika Pembantu Lebih Menggoda

.

"Menikahimu? Rini, kamu... kamu tahu apa yang kamu minta?"

Rini mengangkat wajahnya, menatap Gilang dengan tatapan tegas. Matanya sembab, menahan air mata agar tidak kembali jatuh.

"Saya tahu, Pak. Saya tahu posisi saya hanyalah pembantu di rumah ini. Saya tahu status Bapak yang sudah memiliki dua istri," ucap Rini pelan, suaranya bergetar menahan emosi. Ia meremas ujung bajunya lagi.

Gilang menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. "Lalu kenapa kamu meminta hal seberat ini?"

Rini menggeser duduknya, menjauh dari Gilang lalu menarik napas dalam-dalam.

"Lalu apa maksud Bapak yang tadi bilang menyukai saya? Bapak ingin menjadikan saya selingkuhan yang tak punya nama?" tanya Rini, matanya menatap lurus ke manik mata Gilang. "Saya tidak mau, Pak."

Gilang menatap wajah gadis di hadapannya dengan menahan emosi agar tidak meledak. Dia harus mendapatkan gadis itu. "Jadi saya harus bagaimana?"

"Seperti kata saya. Nikahi saya! Saya rela walaupun hanya jadi istri ketiga," jawab Rini tegas. Air mata akhirnya menetes membasahi pipinya.

Gilang tertegun mendengarnya.

"Saya tidak menuntut kemewahan lebih seperti dua istri Bapak yang lain. Saya tidak menuntut perhatian penuh. Saya hanya ingin status resmi, agar Mbak Lila tidak bisa menindas saya."

Rini mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan, "Bapak tahu kan, kalau Mbak Lila itu sangat benci sama saya? Padahal saya sama sekali tidak melakukan kesalahan. Apa pernah saya merayu Bapak? Apa hanya karena saya pembantu lalu saya pantas diperlakukan demikian?"

Suara Rini melemah di akhir kalimat, seolah beban berat di dadanya sedikit terangkat.

Gilang terdiam lama. Ucapan Rini yang hanya minta "sah” tanpa tuntutan benar-benar membuatnya tergiur.

Perlahan, Gilang mengulurkan tangannya, mengusap rambut ikal Rini dengan lembut. "Baiklah, aku akan menikahimu secepatnya,” ucapnya. Bukankah yang penting janji dulu?

Rini mengangkat wajahnya cepat, matanya kembali berbinar. "Benarkah? Bapak akan menikahi saya?”

Gilang mengangguk dan tersenyum lebar. “Tentu saja. Karena aku benar-benar mencintaimu," ucapnya.

"Terima kasih, Pak.” Serta merta Rini memeluk Gilang membuat pria itu nyaris terjengkang.

Gilang membalas pelukan Rini dengan senyum menyeringai. “Gadis bodoh," cibirnya dalam hati.

"Saya bahagia,” ucap Rini melepas pelukan. Kedua mata mereka saling tatap.

Tangan Gilang perlahan bergerak menyentuh pundak Rini, lalu turun meraba punggung, menarik tubuh gadis itu semakin dekat. Matanya yang gelap menatap bibir Rini, kembali menuntut apa yang sempat terputus tadi. Napasnya yang memburu menyapu wajah Rini, tanda bahwa ia mulai kesulitan menahan gejolak di dalam dirinya.

"Rini..." panggilnya parau, suaranya terdengar berat. "Aku tidak tahan lagi rasanya. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya malam ini juga. Biarkan aku..."

Tangan Gilang mulai menyentuh dan melepas tali kecil yang ada di pundak Rini. Niatnya jelas, mengajak gadis itu berhubungan lebih intim.

Namun, dengan cepat Rini menahan tangan Gilang. Ia mendorong pelan tangan pria itu menjauh dari tubuhnya, lalu mundur sedikit hingga punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya memerah, namun tatapannya tak gentar sedikit pun.

"Jangan, Pak," ucap Rini, suaranya sedikit bergetar tapi penuh keyakinan. "Tolong jangan sekarang."

Gilang terhenti, matanya menyipit menatap Rini dengan kecewa. "Kenapa? Kita sudah saling mengakui perasaan. Aku sudah berjanji akan menikahimu, kan?"

"Walaupun Bapak berjanji akan menikahi saya, saya tidak mau melakukan ini sekarang," jawab Rini, menatap lurus ke mata Gilang dan menarik napas dalam-dalam.

"Saya tidak mau berhubungan suami istri sebelum ada ikatan pernikahan yang sah, Pak. Saya ingin memberikan mahkota saya setelah kita halal. Supaya jika nanti dari hubungan itu saya bisa memberi Bapak keturunan, dia memiliki nasab yang sah."

Gilang terdiam, menatap wajah gadis di hadapannya. Rasa frustrasi karena hasrat yang tertahan masih ada, namun ia tidak bisa memaksa. Takut gadis itu berontak atau berteriak. Akan bahaya jika terdengar Almira.

Gilang menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih kencang. Ia mengusap wajahnya kasar.

"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Rini," ucap Gilang pelan. "Maafkan aku. Aku terbawa perasaan dan lupa diri sejenak,” lanjutnya meskipun sebenarnya ingin menyebut anggota kebun binatang.

"Baiklah, aku akan menghormati keputusanmu. Aku akan siapkan pernikahan kita. Benar kan, kamu tidak masalah kita menikah siri?”

Rini mengangguk dan tersenyum tipis terukir di bibirnya. "Iya, Pak. Gak papa kok cuma nikah siri. Yang penting sah," ucapnya.

Gilang mengangguk, lalu turun dari ranjang. "Istirahatlah. Aku akan kembali ke kamar. Kita bicarakan lagi rencana ini besok."

"Iya, Pak. Selamat malam," jawab Rini lembut.

Gilang melangkah keluar dari kamar Rini, pintu ditutup pelan namun dengan tenaga yang terkumpul dari emosi yang tertahan. Senyum tipis yang sempat terukir di wajahnya kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh rahang yang mengeras.

“Dasar pembantu sial,” gumamnya dalam hati, rasa kesal masih menggelayuti pikirannya. “Sok jual mahal banget sih?

Hasrat yang membara di dadanya belum padam, justru semakin memuncak karena penolakan tadi. Ia berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan langkah yang berat, tangan terkepal di samping tubuhnya. Setiap sudut rumah yang biasanya terasa tenang, malam ini terasa menyesakkan baginya.

Sesampainya di depan kamarnya sendiri, Gilang berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur detak jantungnya yang masih kencang.

“Tenang, Gilang. Tenang. Nanti kalo sudah sah, kamu bisa menggempurnya sampai gak bisa bangun,” bisiknya dalam hati, menenangkan gejolak di dalam dada.

Perlahan, ia memutar gagang pintu dan masuk ke dalam kamar. Kamar itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang dari lampu tidur di sisi Lila. Ia bisa melihat sosok istrinya yang sudah terlelap, bernapas teratur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada.

Kepalang tanggung. Hasrat terlanjur naik ke ubun-ubun. Tak bisa hilang jika tak disalurkan. Maka…

Perlahan ia membalikkan tubuh Lila agar berbaring telentang. Selimut yang menutupi tubuh wanita itu ia buang. Semua yang menempel di badan Lila satu persatu terlempar ke lantai. Dan pria itu mulai merangkak naik.

Tak peduli yang di bawahnya bak gedebog pisang. Dalam matanya yang terpejam, yang terbayang adalah siluet tubuh Rini. Lalu satu jam kemudian…

“Ahh… Rini….”

Tubuh pria itu limbung setelah menumpahkan lahar panasnya.

Di sampingnya, Lila mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras. Ia terbangun saat Gilang mulai mencumbuinya. Diam tapi sebenarnya menikmati. Tadinya ia bahagia karena merasa Gilang begitu candu padanya. Tapi... Nama wanita lain disebut saat pendakian sampai di puncak?

“Awas kamu, Rini!"

1
Cindy
lanjut
mery harwati
Kami adalah pembeli rumah Ibu Almira 😛
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Patrick Khan: eh kakak q mw komen gini.. makasi udah di wakilkan ya😁😁😁
total 1 replies
Hary Nengsih
terusir dr rumah nih
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Ada-ada aja si rini.
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
astr.id_est 🌻
ngakak 🤣🤣🤣
tyta betyta
Itu meriam tembakannya paten banget brat bret brot🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
total 1 replies
Cindy
lanjut
〈⎳ FT. Zira
duhh.. miii.../Facepalm//Facepalm/

Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
Rini ngapainn... astaga/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
salah sendiiri lupa daratan/Smug/
〈⎳ FT. Zira
ada kta yg kurang nih mi..

"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐
Irma
jiyah sii rini emang paling bisa sungguh di luar dugaan 🤣🤣🤣 semangat thor
Nar Sih
hahaha rini,,pinter bnr ya ,serangan kentut brett.. yg bikin gilang kaburr😂😂
juwita
meni brat Bret brot si rini saking takutnya di mp🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
juwita
jurus mematikan itu rin. harusnya smpe pingsan si galangnya🤣🤣🤣
ora
Perkara kentut gagal lagi deh/Facepalm/
ora
Ada-ada aja🤣🤣🤣
Ummee
karma on the way
Ummee
ngakak akuu🤣🤣🤣
Sunaryati
Cerdik Rini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!