di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
Angin di alun-alun berhenti berhembus. Tekanan udara yang berat membuat ribuan murid menahan napas, takut suara tarikan napas mereka akan memicu badai.
Di atas panggung yang retak, tiga kekuatan saling berhadapan.
Di satu sisi, Tetua Li, dengan wajah merah padam dan urat leher menonjol, aura emasnya bergejolak seperti api yang ingin membakar segalanya.
Di sisi lain, Peri Pedang Mu, berdiri anggun dengan jubah putih, dikelilingi hawa dingin yang membekukan, seolah dia adalah perwujudan gletser abadi.
Dan di tengah mereka, Ye Yuan, berlutut dengan satu kaki, bertumpu pada pedang patahnya, terengah-engah namun matanya menyala liar seperti serigala yang terpojok.
"Tetua Li," suara Peri Pedang Mu memecah keheningan. Nadanya datar, namun setiap suku kata terasa seperti tusukan jarum es. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan seorang Tetua dari Puncak Dalam boleh mencampuri urusan hidup-mati murid luar?"
Tetua Li menggertakkan gigi. Dia takut pada wanita ini. Mu Bingyun, Ketua Puncak Awan Biru, adalah jenius pedang terhebat di sekte dalam sepuluh tahun terakhir. Kultivasinya telah mencapai puncak Ranah Pembentukan Fondasi, selangkah lagi menuju Ranah Inti Emas. Li hanyalah seorang Tetua pengurus logistik; selisih kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi.amatan.
"Peri Mu," kata Tetua Li, berusaha menekan amarahnya. "Kau tidak melihatnya? Bocah ini... Ye Yuan... dia menggunakan teknik iblis! Dia menghancurkan tulang murid lain dengan kejam! Lihat pedang itu! Itu memancarkan aura jahat!"
Peri Pedang Mu tidak menoleh ke arah Tetua Li. Mata indahnya yang tajam justru tertuju pada pedang patah di tangan Ye Yuan.
Pedang itu hitam, berkarat, dan jelek. Namun, Mu Bingyun bisa merasakan sesuatu yang membuat pedang sucinya sendiri, Bilah Beku, bergetar di dalam sarungnya. Itu bukan aura iblis. Itu adalah kesedihan. Kesedihan purba dari senjata yang pernah merajai langit namun kini dilupakan.
"Aura jahat?" Mu Bingyun tersenyum tipis, senyuman yang membuat para murid laki-laki di bawah panggung terpesona sekaligus merinding. "Kekejaman dalam pertarungan hidup-mati adalah hal wajar. Jika dia lemah, dia yang akan mati. Bukankah itu aturan yang selalu kau banggakan, Tetua Li?"
"Tapi..."
"Cukup." Mu Bingyun mengibaskan lengan bajunya. Angin dingin menyapu panggung, memaksa Tetua Li mundur beberapa langkah lagi. "Turnamen ini sah. Ye Yuan menang secara adil. Jika kau berani menyentuhnya satu jari pun di atas panggung ini, pedangku yang akan berbicara dengan lehermu."
Wajah Tetua Li berubah menjadi ungu karena malu dan marah. Di depan ribuan murid, dia dipermalukan. Namun dia tidak berani melawan.
"Baik!" sembur Tetua Li. Dia menatap Ye Yuan dengan tatapan penuh dendam. "Jika Peri Mu bersikeras melindungi sampah ini, biarlah. Tapi turnamen belum selesai. Masih ada satu lawan lagi."
Tetua Li menoleh ke arah putranya di tribun VIP.
"Li Feng! Turun ke sini!" teriaknya. "Tunjukkan pada semua orang perbedaan antara pewaris sah sekte dan anjing liar yang memungut keberuntungan!"
Tetua Li kemudian melirik tajam ke arah Ye Yuan. "Nikmati kemenangan kecilmu, Nak. Karena setelah ini, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dari putraku."
Dengan hentakan kaki yang keras, Tetua Li melompat kembali ke kursi kehormatannya, meninggalkan retakan di lantai batu.
Tekanan aura menghilang. Ye Yuan akhirnya bisa bernapas lega. Dia memuntahkan sedikit darah beku yang tertahan di dadanya. Uhuk!
"Terima kasih, Senior," kata Ye Yuan pelan tanpa menoleh, suaranya serak.
Mu Bingyun menatap punggung pemuda itu. "Jangan salah paham. Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli padamu. Aku hanya tidak suka melihat aturan sekte diinjak-injak oleh orang tua bangka."
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang hanya bisa didengar Ye Yuan melalui transmisi suara (telepati).
"Pedang itu... dia memilihmu. Tapi hati-hati. Jika tekadmu tidak sekuat baja, pedang itu akan memakan jiwamu sebelum musuhmu sempat membunuhmu."
Setelah meninggalkan peringatan itu, Mu Bingyun melayang naik ke udara, kembali ke posisi pengamat di atas awan, namun kali ini dia tidak pergi. Dia menonton. Dia ingin melihat apakah Ye Yuan benar-benar layak memegang benda itu.
Suasana di arena kembali tegang, namun kali ini berbeda.
Tidak ada lagi yang meremehkan Ye Yuan. Tidak ada lagi yang berteriak "Sampah". Mata mereka dipenuhi rasa hormat yang lahir dari ketakutan.
Di sisi lain panggung, Li Feng berjalan naik.
Penampilannya sempurna. Jubah sutra putih tanpa noda, rambut yang diikat rapi dengan mahkota giok, dan di tangannya tergenggam pedang Angin Hijau—senjata Tingkat Kuning Tinggi yang memancarkan cahaya kehijauan lembut.
Namun, siapa pun yang jeli bisa melihat tangan Li Feng sedikit gemetar.
Dia telah melihat apa yang dilakukan Ye Yuan pada Zhao Gang dan Sun Lang. Dia tahu, Ye Yuan yang berdiri di sana bukan lagi Ye Yuan yang dia injak-injak selama tiga tahun.
"Ye Yuan," suara Li Feng terdengar dipaksakan tenang. "Aku akui, kau mengejutkanku. Siapa sangka tikus got bisa belajar menggigit?"
Ye Yuan perlahan bangkit berdiri. Dia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Dia tidak membalas hinaan itu. Baginya, Li Feng sudah menjadi orang mati.
Ye Yuan mengangkat pedang patahnya, mengarahkannya lurus ke jantung Li Feng.
"Tiga tahun," kata Ye Yuan tiba-tiba.
"Apa?" Li Feng mengernyit.
"Tiga tahun kau menyuruh orang merampas jatah makanku. Tiga tahun kau menyuruh mereka memukuliku saat latihan. Tiga tahun kau membuat hidupku seperti neraka hanya karena aku menolak menjadi pelayanmu."
Mata Ye Yuan menyipit. Kilatan ungu di pupilnya semakin terang.
"Hari ini, aku akan mengembalikan semuanya. Dengan bunga."
"Diam kau!" Li Feng berteriak histeris, mencoba mengusir rasa takutnya sendiri. Aura Qi berwarna hijau meledak dari tubuhnya.
Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Delapan!
Angin kencang berputar di sekitar Li Feng, menciptakan pisau-pisau angin tak kasat mata yang menggores lantai batu.
"Aku adalah jenius Sekte Luar! Aku putra Tetua! Kau hanyalah batu pijakan bagiku!"
Li Feng menerjang maju. Kecepatannya jauh melampaui Sun Lang. Pedang Angin Hijau di tangannya berubah menjadi badai tebasan yang menyilaukan.
[Teknik Pedang: Seribu Daun Gugur!]
Puluhan bayangan pedang hijau melesat ke arah Ye Yuan seperti hujan panah.
Penonton menahan napas. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang sulit dikuasai. Serangan ini mencakup area luas, mustahil dihindari sepenuhnya.
Tapi Ye Yuan tidak berniat menghindar.
Dalam pandangan Sutra Hati Pedang Asura, teknik indah Li Feng penuh dengan celah. Terlalu banyak gerakan sia-sia. Terlalu banyak gaya, kurang substansi.
"Lemah," bisik Ye Yuan.
Dia memegang pedang patahnya dengan dua tangan. Kuda-kuda rendah.
Alih-alih menangkis satu per satu bayangan pedang itu, Ye Yuan melakukan hal gila. Dia menerjang lurus menembus badai pedang itu!
Sreeet! Sreeet! Sreeet!
Pakaian Ye Yuan robek di puluhan tempat. Kulitnya tergores, darah muncrat. Tapi luka-luka itu dangkal. Dia melindungi titik-titik vitalnya dengan insting binatang.
Mengabaikan rasa sakit, Ye Yuan sampai di hadapan Li Feng dalam sekejap mata.
"Apa?!" Mata Li Feng terbelalak. Dia tidak menyangka ada orang gila yang mau menerima luka demi mendekatinya.
"Hancur!"
Ye Yuan mengayunkan pedang patahnya secara vertikal.
[Tebasan Pembelah Gunung!]
Li Feng panik. Dia mengangkat Pedang Angin Hijau-nya untuk menangkis.
TRAAANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga mengguncang arena.
Pedang Angin Hijau, senjata pusaka kebanggaan Li Feng, melengkung hebat. Kualitasnya memang bagus, tidak patah seketika, tapi kekuatan fisik Ye Yuan yang mengerikan disalurkan sepenuhnya melalui benturan itu.
"Ugh!"
Li Feng merasakan lengannya mati rasa. Tulang pergelangan tangannya retak. Dia terdorong mundur lima langkah, kakinya menyeret di lantai batu hingga meninggalkan parit kecil.
"Tidak mungkin! Kekuatan fisiknya setara monster Tingkat Sembilan?!" batin Li Feng panik.
Ye Yuan tidak memberinya waktu bernapas. Dia menyerang lagi.
BAM! BAM! BAM!
Ye Yuan memukulkan pedangnya berulang-ulang seperti orang menebang pohon.
Satu serangan, Li Feng mundur.
Dua serangan, Li Feng muntah darah.
Tiga serangan, Pedang Angin Hijau mulai retak.
Ye Yuan bertarung tanpa teknik yang indah. Dia hanya menggunakan kekerasan murni, dominasi total, dan niat membunuh yang meluap-luap. Setiap hantaman pedang patah itu membuat organ dalam Li Feng bergetar.
"Kau bilang aku sampah?"
DUAGH!
Ye Yuan menendang perut Li Feng. Li Feng terpental, berguling-guling di tanah. Jubah sutra putihnya kini kotor oleh debu dan darah. Mahkota gioknya pecah, rambutnya terurai berantakan.
Ye Yuan berjalan mendekat perlahan, menyeret pedangnya. Suara gesekan logam di batu terdengar seperti lonceng kematian.
"Bangun," perintah Ye Yuan dingin. "Jangan mati dulu. Aku baru mulai."
Li Feng merangkak mundur dengan wajah penuh teror. Harga dirinya hancur lebur. Di depan monster ini, statusnya sebagai putra tetua tidak ada artinya.
Dia menatap ke arah ayahnya di tribun VIP. Tetua Li berdiri kaku, wajahnya pucat. Dia tidak bisa turun tangan lagi setelah peringatan Peri Mu.
"Ayah... tolong..." lirih Li Feng.
Tiba-tiba, sebuah suara transmisi terdengar di telinga Li Feng. Suara ayahnya. Dingin dan kejam.
"Jangan permalukan aku, Feng'er. Gunakan Pil Darah Iblis. Bunuh dia, atau kau tidak usah pulang."
Mata Li Feng melebar. Pil Darah Iblis? Itu adalah pil terlarang! Pil itu akan membakar umur dan potensi masa depan penggunanya demi lonjakan kekuatan sementara. Efek sampingnya bisa membuatnya cacat kultivasi seumur hidup.
Tapi melihat Ye Yuan yang semakin mendekat seperti malaikat pencabut nyawa, Li Feng tahu dia tidak punya pilihan. Mati sekarang, atau cacat nanti.
"Kau yang memaksaku, Ye Yuan!" teriak Li Feng histeris.
Dia merogoh saku rahasia di balik lengan bajunya, mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah yang berdenyut, dan menelannya bulat-bulat.
"AAAARRRGGHH!"
Tubuh Li Feng mengejang hebat. Kulitnya berubah menjadi merah padam, pembuluh darah hitam merayap naik ke wajahnya. Matanya yang tadinya hitam berubah menjadi merah menyala tanpa pupil.
Aura Qi di sekelilingnya meledak liar, naik dari Tingkat Delapan... menembus Tingkat Sembilan... dan berhenti di ambang batas Ranah Pembentukan Fondasi setengah langkah!
Lantai di sekitar Li Feng retak karena tekanan energi.
"Kekuatan..." Li Feng menyeringai, suaranya berubah menjadi geraman ganda yang mengerikan. "Aku merasakan kekuatan!"
Dia menatap Ye Yuan, air liur menetes dari mulutnya.
"Sekarang, giliranmu yang menjadi serangga!"
Ye Yuan berhenti melangkah. Dia merasakan bahaya yang nyata kali ini. Bulu kuduknya berdiri. Lawannya bukan lagi manusia, tapi monster yang diamuk obat.
Namun, alih-alih takut, sudut bibir Ye Yuan terangkat membentuk senyuman gila.
Pedang patah di tangannya bergetar hebat. Bukan karena takut.
Pedang itu senang. Pedang itu merasakan aura darah yang kuat dari Li Feng. Bagi Asura, musuh yang kuat hanyalah makanan yang lebih lezat.
"Bagus," kata Ye Yuan, mempererat cengkeramannya hingga darah segar mengalir dari telapak tangannya ke gagang pedang.
"Mari kita lihat, mana yang lebih kuat... Obat palsumu, atau Jalan Asura-ku!"
[Bersambung ke Bab 7]