Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Di Balik Senyum dan Cangkir Anggur
Song An tidak menyukai pesta.
Bukan karena musiknya, bukan karena makanan berlimpah, tapi karena semua orang terlihat terlalu ramah.
Dan di istana atau dalam hal ini, di kekaisaran orang lain keramahan berlebihan selalu berarti sesuatu disembunyikan.
“Song An,” bisik Selir Li sambil pura-pura memperbaiki lengan bajunya, “semua orang melihat ke arah kita.”
“Aku tahu,” jawab Song An tanpa menoleh. “Jangan tegang. Kalau kita terlihat gelisah, mereka akan makin tertarik.”
“Bagaimana caranya tidak tegang?” gumam Selir Zhang. “Aku merasa seperti sedang dijual.”
Song An hampir tertawa, tapi menahannya. “Anggap saja kita tamu mahal. Barang mahal biasanya tidak disentuh sembarangan.”
“Tidak membuatku merasa lebih baik,” bisik Selir Zhang.
“Aku tahu,” jawab Song An jujur.
Mereka berdiri tidak jauh dari Kaisar Shen. Secara posisi, mereka terlihat seperti selir biasa yang mendampingi penguasa mereka. Namun secara nyata, keberadaan mereka lebih dari sekadar hiasan.
Dan orang-orang di aula itu mulai menyadarinya.
Seorang bangsawan Bei mendekat dengan senyum licin. “Yang Mulia Kaisar Shen, kami sangat terhormat atas kehadiran Anda.”
Kaisar Shen mengangguk sopan. “Kehormatan ada di pihak kami.”
Tatapan bangsawan itu bergeser, menilai ketiga wanita di samping kaisar.
“Dan ini…” katanya seolah baru sadar, “selir-selir pilihan Yang Mulia?”
Selir Li dan Selir Zhang menunduk sopan.
Song An tersenyum tipis, tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi.
“Selir Song,” kata Kaisar Shen tenang.
Nada suaranya datar, tapi cukup jelas.
Bangsawan itu sedikit terkejut. “Oh? Selir Song.”
Ia menatap Song An lebih lama dari sopan santun.
“Yang Mulia,” katanya, “selir Anda terlihat… tenang.”
Song An mengangkat alis sedikit. “Apakah selir seharusnya tidak tenang?”
Bangsawan itu tertawa kecil, agak kaku. “Bukan begitu maksud saya.”
“Tentu,” jawab Song An ringan. “Saya hanya menikmati pesta.”
Kaisar Shen meliriknya sekilas.
Selir Li menahan napas.
Selir Zhang menggigit bibir agar tidak tersenyum.
Bangsawan itu segera pamit, jelas tidak mendapatkan reaksi yang ia inginkan.
“Bagus,” bisik Selir Zhang. “Dia kelihatan kesal.”
“Artinya kita melakukan hal yang benar,” jawab Song An.
—
Pesta berlanjut.
Anggur terus mengalir.
Percakapan semakin longgar, dan di situlah Song An paling waspada.
Ia mendengar potongan pembicaraan dari meja sebelah.
“jalur barat semakin aktif”
“kekaisaran Shen terlalu sibuk membereskan dalam”
Song An menyesap tehnya, pura-pura tidak peduli.
Selir Li berbisik, “Kau dengar itu juga?”
“Iya,” jawab Song An. “Jangan lihat ke arah mereka.”
“Kau yakin?” tanya Selir Zhang cemas.
“Kalau kita terlihat mendengar, mereka akan berhenti bicara,” jawab Song An.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawa cangkir anggur.
“Untuk Selir Song,” katanya sopan.
Song An menatap cangkir itu sebentar.
“Letakkan di sana,” katanya sambil menunjuk meja kecil, bukan langsung mengambilnya.
Pelayan itu menurut.
Begitu pelayan pergi, Selir Li berbisik cepat, “Kenapa tidak diminum?”
Song An tersenyum kecil. “Karena aku tidak haus.”
Selir Zhang menatapnya. “Atau karena kau curiga?”
Song An menoleh. “Kalian juga harus mulai curiga pada hal-hal kecil.”
Ia tidak menyentuh anggur itu sepanjang malam.
—
Saat musik berubah lebih lambat, seorang wanita mendekat.
Pakainya anggun, wajahnya lembut, senyumnya sempurna.
“Perkenalkan,” katanya ramah, “aku Putri Rui dari Bei.”
Kaisar Shen berdiri sedikit sebagai bentuk hormat. “Putri Rui.”
Putri itu mengangguk, lalu menatap Song An dengan ketertarikan jelas.
“Aku sering mendengar tentangmu malam ini,” katanya.
Song An menghela napas dalam hati." Cepat sekali." batinya
“Mendengar apa?” tanya Song An santai.
“Bahwa kau bukan selir biasa,” jawab Putri Rui jujur.
Song An tersenyum. “Aku juga bukan tamu biasa.”
Putri Rui tertawa pelan. “Aku suka kejujuran.”
“Aku juga,” jawab Song An.
Mereka saling menatap beberapa detik.
Tidak ada permusuhan, tapi ada pengukuran.
“Aku penasaran,” kata Putri Rui, “apa yang kau lihat saat berada di aula ini?”
Selir Li dan Selir Zhang menegang.
Song An menjawab tanpa berpikir lama. “Orang-orang yang terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit mendengar.”
Putri Rui tertawa, kali ini tulus. “Kau berbahaya.”
“Tidak,” jawab Song An. “Aku hanya lelah.”
Kaisar Shen memperhatikan mereka dengan seksama.
Ia tidak menyela.
Ia ingin melihat ke mana percakapan ini mengarah.
“Kalau begitu,” kata Putri Rui, “aku harap kau menikmati malam ini.”
“Aku menikmati orang-orang yang jujur,” jawab Song An. “Sisanya hanya suara.”
Putri Rui mengangguk, lalu pergi.
Selir Zhang menghela napas panjang. “Aku hampir lupa bernapas.”
“Kenapa semua orang tertarik padamu?” bisik Selir Li.
Song An mengangkat bahu. “Mungkin karena aku tidak mencoba menarik perhatian.”
Kaisar Shen menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa Song An bukan hanya cermin istana tetapi pisau yang tajam dan tenang.
—
Malam semakin larut.
Pesta akhirnya berakhir tanpa insiden terbuka.
Namun saat rombongan kembali ke penginapan, Song An merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Berhenti,” katanya tiba-tiba saat mereka hampir masuk.
Pengawal langsung siaga.
“Ada apa?” tanya Kaisar Shen.
Song An menatap tanah. “Jejak kaki.”
“Jejak?” Selir Li menegang.
“Bukan pengawal kita,” lanjut Song An. “Terlalu ringan.”
Kaisar Shen memberi isyarat.
Dua pengawal bergerak cepat, memeriksa sekitar.
Tidak ada apa-apa.
“Bisa jadi hanya pelayan,” kata Selir Zhang ragu.
“Bisa,” jawab Song An. “Atau bisa jadi seseorang yang memastikan kita sampai.”
Kaisar Shen menatap lorong gelap itu. “Mereka berani.”
“Karena mereka belum ketahuan,” jawab Song An.
—
Di dalam kamar, Selir Li akhirnya duduk dan memijat pelipisnya.
“Aku tidak suka ini,” katanya jujur. “Aku merasa seperti sedang berdiri di atas es tipis.”
Selir Zhang mengangguk. “Aku juga. Aku takut salah bicara.”
Song An menuangkan air hangat untuk mereka. “Kalian sudah melakukannya dengan baik.”
“Bagaimana kau bisa setenang itu?” tanya Selir Zhang.
Song An terdiam sebentar.
“Karena aku sudah mati sekali,” katanya ringan. “Setelah itu, banyak hal tidak lagi terasa menakutkan.”
Keduanya terdiam.
“Kau menyesal?” tanya Selir Li pelan.
“Tidak,” jawab Song An. “Aku hanya tidak ingin mati dengan cara yang sama.”
—
Di kamar lain, Kaisar Shen duduk sendiri.
Ia menatap peta wilayah yang dibentangkan di meja.
“Jalur barat…” gumamnya.
Semua petunjuk mengarah ke sana.
Dan semua percakapan malam ini terlalu sinkron untuk kebetulan.
Ia teringat wajah Song An saat berbicara dengan Putri Rui.
Tenang.
Tidak berusaha menang.
Tidak takut kalah.
Selir bayangan, pikirnya.
Gelar itu semakin terasa salah.
—
Keesokan paginya, sebelum mereka berangkat kembali ke istana, seorang utusan Bei datang membawa hadiah kecil.
Kotak kayu sederhana.
“Untuk Selir Song,” katanya.
Song An menatap kotak itu lama.
“Kau tidak harus menerimanya,” kata Selir Li cepat.
Song An mengangguk. “Aku tahu.”
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya, sebuah jepit rambut sederhana dari perak.
Tidak mahal.
Tidak mencolok.
Tapi di bagian dalamnya terukir simbol kecil.
Song An mengenalnya.
Ia pernah melihatnya… di salah satu dokumen rahasia di istana.
Ia menutup kotak itu perlahan.
“Apa itu?” tanya Selir Zhang.
“Petunjuk,” jawab Song An. “Dan peringatan.”
Kaisar Shen menatapnya. “Kita sudah benar-benar masuk ke permainan ini, ya?”
Song An tersenyum tipis. “Sepertinya iya.”
Ia menatap ke arah luar jendela, ke jalan yang akan mereka lalui pulang.
Bahaya belum pergi.
Musuh belum terlihat jelas.
Tapi satu hal pasti mereka tidak lagi hanya bertahan.
Mereka mulai melangkah maju.
Bersambung