Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Penumpang Gelap
Roda-roda raksasa truk logistik bermerek Celestial itu menghantam aspal yang retak dengan bunyi debuman berat, mengirimkan getaran yang terasa hingga ke sumsum tulang. Li Wei tetap pada posisinya, meringkuk di balik bayangan ceruk batu di tepi tanjakan curam. Tangannya secara instinktif menyentuh gagang pedang Bailong yang telah patah, merasakan residu energi void yang masih berdenyut tidak stabil di sana. Saat hidung truk yang menyerupai moncong binatang buas logam itu mulai melambat akibat beban muatan di tanjakan, Li Wei memberikan isyarat dengan kepalan tangan.
"Sekarang! Xiao Hu, aktifkan gelembung isolasi!" perintah Li Wei dengan suara rendah yang ditekan.
Xiao Hu, yang wajahnya masih pucat karena kelelahan setelah pelarian dari lereng sungai beku, segera menekan modul jammer kecil di telapak tangannya. Gelombang frekuensi elektromagnetik mulai bergetar samar di sekitar mereka, menciptakan isolasi sinyal sementara. Li Wei melesat lebih dulu. Meski suhu sarafnya masih terasa membakar di angka 42 derajat, ia memaksa otot-ototnya bergerak melampaui batas lelah. Ia meluncur ke aspal, menangkap besi penyangga poros belakang truk yang kotor oleh kerak oli.
"Tangkap tanganku, Chen!" geram Li Wei sambil menjulurkan lengannya keluar dari kolong sasis yang bergerak.
Chen Xi menyambar tangan Li Wei dengan sigap, tubuhnya sempat terayun mengikuti momentum truk sebelum akhirnya ia berhasil menarik diri ke atas sasis logam yang panas. Ia segera berbalik dan menarik kerah jaket Xiao Hu, membantu bocah itu merangkak ke dalam celah sempit di atas tangki bahan bakar cadangan. Mereka bertiga kini menempel pada perut truk seperti parasit, bersembunyi di tengah bau tajam bensin dan uap knalpot yang memuakkan.
"Li, punggungmu bersentuhan langsung dengan radiator utama!" bisik Chen Xi dengan nada cemas yang tertahan. "Radiasi panasnya akan membuat sensor sarafmu mengalami thermal spike."
"Abaikan itu," sahut Li Wei parau. Ia memejamkan mata, merasakan martabatnya sebagai perwira tinggi Kekaisaran Langit seolah terkikis bersama setiap tetes oli yang jatuh mengenai wajahnya. "Jika kita terdeteksi oleh sensor gerbang di depan, kita tidak akan sampai ke zona industri hidup-hidup."
"Sistem kognitif truk ini sangat agresif," Xiao Hu berbisik sambil menatap layar multimeternya yang berkedip merah. "Sensor L2 di gerbang depan akan memindai massa biologis setiap sepuluh detik. Kak Li, jammer ini tidak akan cukup."
Li Wei menatap ke depan, di mana sepasang menara laser Gerbang Sembilan mulai terlihat membelah kabut fajar. Ia menarik napas panjang, membiarkan energi void di dalam tubuhnya mengalir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menginduksi kegagalan halus pada sistem mekanis di sekitarnya.
"Chen Xi, bantu aku menjangkau katup uap primer di atas poros ini," instruksi Li Wei.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Chen Xi sambil membantu menyangga bahu Li Wei agar ia bisa menjangkau bagian dalam mesin.
"Menciptakan pilihan ketiga," jawab Li Wei singkat. Ia menyentuhkan jari-jarinya pada katup logam, membiarkan sedikit resonansi energinya membatalkan kohesi molekul pada segel katup tersebut. "Jika sensor itu mencari panas tubuh manusia, kita akan memberinya panas mesin yang bocor sebagai gantinya."
Seketika, suara mendesis tajam terdengar. Uap panas menyembur keluar dari katup radiator, menyelimuti area kolong truk dengan kabut termal yang masif. Suhu di sekitar mereka melonjak drastis, membuat kulit mereka terasa seperti dipanggang, namun di mata sensor gerbang, tanda panas biologis mereka kini tertutup oleh anomali kebocoran mesin.
Truk melambat saat melewati barikade laser biru. Suara desis rem hidrolik terdengar memekakkan telinga, bergema di ruang sempit bawah sasis. Li Wei menahan napas, menatap sepasang bot militer yang melangkah mendekat dari sisi luar truk.
"Berhenti! Logistik 049, kenapa uapmu bocor seperti ini?" suara penjaga di luar terdengar dingin dan curiga.
"Ah, ampun, Tuan Penjaga," suara serak dari kabin depan menyahut. Itu adalah suara Sopir Ben. "Katup tua ini sudah minta pensiun sejak dari lereng utara. Aku sudah bilang pada teknisi pangkalan, tapi mereka bilang jalan terus saja."
"Sensor menunjukkan lonjakan termal yang tidak wajar di area sasis," penjaga itu mengetuk bodi truk dengan keras. Bunyinya seperti guntur di telinga Xiao Hu yang gemetar.
"Itu karena uapnya terjebak di bawah bak, Tuan," Ben menjawab dengan nada memelas yang sangat meyakinkan. "Silakan periksa datanya, murni kegagalan katup mekanis."
Hening sejenak. Li Wei bisa merasakan ujung sepatu penjaga itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempatnya berpegangan. Ia sudah bersiap melepaskan Void-Pulse jarak dekat jika situasi memburuk, meski itu berarti meledakkan truk ini beserta mereka di dalamnya.
"Cepat masuk dan perbaiki di gudang sektor. Aku tidak mau jalur ini tersumbat karena trukmu meledak di tengah jalan. Jalan!"
Truk kembali bergerak, menderu melewati gerbang energi yang berdengung rendah. Begitu mereka masuk ke area zona industri yang gelap dan penuh jelaga, Li Wei melepaskan pegangannya pada katup uap. Tubuhnya lemas, peluh bercampur oli menetes dari dagunya.
"Kerja bagus, Xiao Hu. Jammer-mu tetap stabil," puji Chen Xi sambil mengusap debu dari dahi bocah itu.
"Kita belum aman," potong Li Wei, matanya menatap tajam ke arah kabin sopir melalui celah kaca kecil. "Sopir itu... Ben. Caranya bicara pada penjaga tadi terlalu tenang untuk seorang sopir logistik biasa."
"Maksudmu dia tahu kita ada di sini?" tanya Chen Xi, tangannya perlahan bergerak menuju pistol bio di pinggangnya.
"Dia tidak hanya tahu," bisik Li Wei sambil menunjuk ke arah cermin samping truk yang memantulkan pergelangan tangan Ben saat memutar kemudi. Di sana, di bawah manset bajunya yang kotor, tampak sebagian tato hitam berbentuk teratai yang kelopak-kelopaknya seolah memiliki tekstur yang berdenyut. "Dia adalah bagian dari Teratai Hitam."
Xiao Hu terkesiap, "Faksi ketiga? Bukankah mereka musuh Kekaisaran dan Konfederasi?"
"Di kota yang busuk ini, Xiao Hu, musuh dari musuhmu bisa menjadi tiket masukmu," ujar Li Wei dengan senyum getir yang tidak mencapai matanya. "Atau justru menjadi kuburan yang lebih dalam."
Truk berbelok masuk ke sebuah kompleks gudang tua yang remang-pirang. Lampu-lampu jalanan Neo-Naga yang bising mulai menghilang, digantikan oleh bayangan bangunan pabrik yang menjulang seperti nisan raksasa. Saat truk akhirnya berhenti total di tengah kesunyian gudang, Li Wei menarik pedang patahnya sepenuhnya.
"Persiapkan diri kalian," bisik Li Wei. "Diplomasi sebenarnya baru saja dimulai."
Pintu belakang bak truk terbuka dengan derit logam yang memilukan, membiarkan cahaya lampu neon gudang yang berkedip masuk ke dalam ruang yang pengap itu. Sosok Ben berdiri tegak di ambang pintu, siluetnya memanjang di atas lantai beton yang basah oleh oli. Ia tidak membawa senjata, namun ketenangan di wajahnya jauh lebih mengintimidasi daripada moncong senapan bagi Li Wei.
"Keluar sekarang sebelum pemindai statis gudang ini melakukan sinkronisasi ulang," ucap Ben. Suaranya serak, berat oleh asap rokok dan tahun-tahun yang dihabiskan di jalanan industri.
Li Wei melompat turun lebih dulu. Kakinya mendarat dengan bunyi dentuman ringan, diikuti oleh Chen Xi yang tetap menodongkan pistol bio-nya ke arah jantung Ben. Xiao Hu merangkak keluar terakhir, memeluk tas peralatannya seolah benda itu adalah pelampung di tengah samudra yang ganas.
"Kau tahu siapa kami," desis Chen Xi. Matanya yang tajam memindai setiap gerak-gerik Ben, mencari celah pada pertahanan pria itu. "Tato Teratai Hitam itu... sejak kapan kau menjadi mata-mata untuk faksi ketiga?"
Ben hanya terkekeh pelan, menunjukkan barisan gigi yang tidak rapi. Ia menarik lengan bajunya lebih tinggi, memperlihatkan tato teratai yang kelopaknya tampak berpendar biru redup di bawah kulitnya. "Mata-mata adalah istilah yang terlalu mewah untuk sopir truk sepertiku, Nona. Sebut saja aku sebagai penyedia jasa bagi mereka yang tidak lagi diinginkan oleh dunia luar."
"Apa maumu?" potong Li Wei dingin. Ia melangkah maju, membiarkan ujung pedang Bailong yang patah tetap berada dalam jangkauan serangan cepat. "Jika kau ingin menyerahkan kami pada unit patroli Zhao Kun, kau seharusnya melakukannya di gerbang tadi."
"Zhao Kun adalah anjing yang hanya tahu cara menggigit ekornya sendiri," jawab Ben sambil meludah ke samping. "Teratai Hitam tidak peduli pada martabat klanmu yang hancur, Li Wei. Kami hanya peduli pada apa yang tersimpan di dalam sarafmu. Energi void yang kau curi dari bunker itu... itu adalah kunci yang sudah lama dicari oleh orang yang menunggumu di dalam sana."
"Ray?" Li Wei menyipitkan mata, mencoba menggali sisa informasi yang tersimpan di memori sarafnya yang masih berdenyut menyakitkan.
"Kapten Ray tidak suka menunggu," Ben berbalik, memberi isyarat agar mereka mengikuti langkahnya menembus labirin peti kemas. "Di kota ini, Li Wei, bahkan bayanganmu sendiri bisa menjualmu demi satu keping Qi-Battery. Tapi untuk hari ini, kau cukup beruntung karena kami masih butuh 'hantu' sepertimu."
Chen Xi menarik lengan Li Wei, menahan langkah pria itu sejenak. "Li, ini jebakan. Teratai Hitam dikenal karena cara mereka memeras setiap tetes energi dari subjeknya sebelum akhirnya membuang mereka ke selokan."
"Aku tahu risikonya, Chen," sahut Li Wei tanpa menoleh, suaranya terdengar seperti gesekan es. "Tapi di luar sana ada sepuluh ribu polisi dan drone yang siap menguliti kita. Di sini, kita punya kesempatan untuk bernapas satu menit lagi. Itu adalah pilihan ketiga kita."
Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang dibentuk oleh tumpukan peti kemas berlogo perusahaan-perusahaan besar yang telah korup. Suara uap air yang menetes dari pipa langit-langit menciptakan irama monoton yang menambah ketegangan. Xiao Hu gemetar hebat, tangannya mencengkeram ujung jubah Li Wei.
"Kak Li... apakah orang bernama Ray itu jahat?" bisik Xiao Hu dengan suara kecil.
"Jahat dan baik hanyalah label yang dibuat oleh pemenang, Xiao Hu," jawab Li Wei datar. "Ray adalah seorang penyintas. Sama seperti kita."
Saat mereka mencapai ujung gudang, sebuah pintu baja berat terbuka secara otomatis. Di dalamnya, sebuah ruangan yang lebih terang terlihat—sebuah pusat komando darurat yang dipenuhi oleh layar monitor tua dan kabel-kabel yang menjuntai seperti urat saraf raksasa. Di tengah ruangan, seorang pria dengan zirah ringan berwarna hitam legam sedang mengasah sebilah pedang panjang.
Ben menepi, memberikan jalan bagi tim Li Wei. "Aku sudah membawa paketnya, Kapten. Meski agak sedikit berbau oli dan kegagalan."
Pria itu berhenti mengasah pedangnya. Ia berdiri, menunjukkan tinggi badan yang setara dengan Li Wei dengan aura Level 5 yang terasa sangat padat dan stabil, sangat kontras dengan energi Li Wei yang masih bergejolak. Ia menatap Li Wei lurus-lurus, sebuah senyum tipis yang penuh tantangan muncul di wajahnya yang penuh bekas luka.
"Li Wei," ucap Kapten Ray, suaranya bergema di ruangan yang luas itu. "Terakhir kali aku melihatmu, kau hanyalah bocah yang menangis di atas makam ayahmu. Sekarang, kau kembali sebagai teroris paling dicari di seluruh Kekaisaran Langit."
Li Wei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat pedang patahnya, membiarkan energi void ungu mulai merambat di sepanjang bilahnya yang retak. "Dunia sudah berubah, Ray. Dan aku bukan lagi bocah yang bisa kau intimidasi dengan cerita lama."
"Buktikan padaku," tantang Ray sambil menghunuskan pedang hitamnya. "Mari kita lihat apakah Level 5-mu itu murni kekuatan, atau hanya sampah yang dipaksakan masuk ke dalam saraf yang lemah."
Chen Xi segera menarik Xiao Hu mundur ke balik meja kontrol. "Sial, mereka akan benar-benar melakukannya di sini."
Suasana di dalam gudang itu mendadak menjadi sangat dingin. Frekuensi udara seolah membeku saat dua energi dari faksi yang berbeda mulai saling beradu di tengah ruangan. Li Wei merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gairah tempur yang selama ini ia tekan kini meledak keluar.
"Masuk ke perut naga," bisik Li Wei pada dirinya sendiri sebelum melesat maju menembus keheningan gudang.