Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Godaan dari Kedalaman Neraka
Lampu minyak di kamar asrama berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari di dinding. Chen Kai terbaring dengan napas berat. Luka di perutnya bukan sekadar luka fisik; energi hitam milik Chen Xo masih tertinggal di sana, menggerogoti meridiannya seperti ribuan ulat yang lapar.
Lin Xia bekerja tanpa henti. Keringat membasahi dahi gadis itu saat ia menyalurkan Qi penyembuh melalui jarum-jarum peraknya. "Tolong, Tuan... jangan bergerak dulu. Energi hitam ini sangat ganas," bisik Lin Xia dengan nada suara yang bergetar menahan tangis.
Setiap sentuhan Lin Xia membawa rasa hangat, namun pikiran Chen Kai berada di tempat lain. Bayangan Chen Xo yang menahan pedangnya hanya dengan dua jari terus berputar di kepalanya. "Aku terlalu lemah. Teknik Arus Surgawi, Jiwa Sejati Tahap 5... semuanya sampah di hadapannya." batin Chen Kai dengan penuh kebencian pada dirinya sendiri.
Setelah berjam-jam berjuang, Lin Xia akhirnya berhasil menetralkan energi jahat itu. Karena kelelahan yang luar biasa, Lin Xia berpamitan untuk mengambil obat tambahan di apotek akademi, meninggalkan Chen Kai sendirian dalam kegelapan.
Begitu pintu tertutup, suasana ruangan mendadak berubah menjadi sangat dingin—dingin yang berbeda dari Qi milik Chen Kai. Bayangan di sudut ruangan mulai memanjang dan memadat, membentuk sosok pria tinggi kurus dengan jubah berwarna ungu gelap dan aura yang memuakkan.
"Kekalahan yang sangat indah, bukan?" suara itu serak, terdengar seperti gesekan amplas pada tulang.
Chen Kai langsung waspada. Ia mencoba meraih pedangnya, namun tubuhnya terlalu kaku. "Siapa kau?! Bagaimana kau bisa melewati penjagaan akademi?!"
Pria itu melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya pucat pasi dengan simbol tato merah di keningnya. "Penjagaan akademi ini hanyalah mainan bagi kami, Faksi Iblis. Aku melihat pertarunganmu tadi. Sangat menyedihkan melihat keturunan terakhir Klan Kristal dipermalukan seperti anjing oleh kakaknya sendiri."
Chen Kai menggeram, matanya berkilat biru tajam. "Jika kau datang hanya untuk menghina, pergilah sebelum aku membantaimu."
"Membantaiku? Dengan kondisi seperti ini?" Pria itu tertawa sinis. "Dengar, Chen Kai. Cahaya Kekaisaran dan akademi ini tidak akan pernah memberimu kekuatan yang cukup untuk membunuh Chen Xo. Mereka takut padamu. Mereka ingin kau tetap 'bersih' agar bisa dikendalikan."
Pria misterius itu mendekat, matanya menatap langsung ke dalam jiwa Chen Kai. "Faksi Iblis memiliki jalan pintas. Kekuatan yang tidak dibatasi oleh moralitas atau hukum alam. Jika kau benar-benar ingin mencabik-cabik Chen Xo, ikutlah dengan kami."
Chen Kai terdiam. Tawaran itu adalah racun yang sangat manis.
"Jika kau tertarik," lanjut pria itu sambil berbalik kembali ke dalam bayangan, "Datanglah ke Reruntuhan Klan Kristal tiga malam dari sekarang. Di sana, di tempat semua penderitaanmu dimulai, kami akan menunjukkan padamu apa itu kekuatan sejati. Jangan biarkan hatimu menghalangimu menjadi monster."
Pria itu menghilang dalam sekejap, menyisakan bau belerang yang samar di udara.
Tepat setelah itu, Lin Xia kembali membawa nampan berisi ramuan. Ia melihat Chen Kai sedang melamun menatap sudut ruangan yang kosong dengan ekspresi yang sangat menakutkan.
"Tuan Chen Kai? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lin Xia cemas.
Chen Kai tidak menjawab. Ia mengepalkan tangannya hingga bekas lukanya kembali berdarah. Reruntuhan Klan Kristal... tempat di mana ia melihat orang tuanya mati. Tempat itu adalah luka terbuka yang tak pernah sembuh.
"Apakah aku harus menjadi iblis untuk membunuh iblis lain?" pertanyaan itu terus bergema di pikirannya saat ia menatap bulan di luar jendela yang perlahan tertutup awan hitam.