Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
Di kejauhan, menjulang sebuah gedung perkantoran tinggi dengan fasad kaca gelap yang menghadap langsung ke arah kompleks Delphi Hospital. Di lantai teratas yang masih dalam tahap konstruksi, suasana begitu sunyi, sangat kontras dengan hiruk-pikuk sirene dan ledakan yang menghancurkan ketenangan malam di bawah sana.
Di balik bayangan pilar beton yang belum dicat, dua sosok berdiri mematung, menatap pemandangan kacau di bawah mereka melalui teropong taktis berteknologi tinggi.
Mereka adalah Tarn dan Vos, dua figur misterius yang keberadaannya tidak terdeteksi oleh radar kepolisian maupun sistem keamanan tercanggih milik Pharma sekalipun.
Tarn menurunkan teropongnya perlahan, membiarkan alat itu menggantung di lehernya sementara ia menyesap udara malam yang mulai terkontaminasi bau hangus dari kejauhan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun, seolah-olah kehancuran rumah sakit besar di hadapannya hanyalah sebuah pertunjukan teater yang sudah ia prediksi akhir ceritanya.
Ia melirik ke arah jam tangannya yang berpendar biru redup, menghitung setiap detik yang berlalu sejak ledakan pertama mengguncang laboratorium bawah tanah milik Dokter Pharma.
"Sesuai jadwal, bukan begitu?" suara Tarn memecah kesunyian, nadanya datar namun memiliki kedalaman yang mengintimidasi.
Vos, yang berdiri beberapa langkah di sampingnya, tidak segera menjawab. Ia masih sibuk mengoperasikan sebuah perangkat tablet militer yang memantau frekuensi radio kepolisian secara real-time.
Di layar tablet tersebut, sinyal-sinyal dari unit Magnus, Rodi, dan Jazz terlihat bergerak lincah di sekitar perimeter gedung Delphi. Vos menarik napas panjang, lalu menyesuaikan letak alat komunikasi di telinganya sebelum akhirnya menoleh ke arah Tarn dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Semuanya berjalan dengan presisi yang membosankan, Tarn," jawab Vos sambil menunjukkan layar tabletnya yang memperlihatkan denah gedung Delphi dengan beberapa titik merah yang berkedip. "Unit kepolisian sedang sibuk mengevakuasi warga sipil, Magnus sudah berhasil menemukan Detektif Paul, dan sang dokter... yah, dia sedang menikmati waktunya bersama gadis itu di bawah sana."
Tarn kembali menatap ke arah gedung Delphi, matanya menyipit saat melihat unit medis Cade mulai menyiapkan tandu di area parkir belakang untuk menyambut Magnus dan Paul.
"Magnus melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan Lyra sendirian di dalam ruangan yang sama dengan Pharma. Dia pikir dia bisa menyelamatkan kakaknya tanpa harus kehilangan adiknya. Itu adalah kalkulasi yang sangat naif."
Vos tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin di tengah kesunyian malam. "Bukankah itu yang membuat manusia begitu menarik untuk diamati? Mereka selalu berusaha menyelamatkan segalanya, namun pada akhirnya sering kali kehilangan semua yang mereka miliki.
Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah kita harus melakukan intervensi atau membiarkan drama ini mencapai puncaknya?"
"Kita di sini hanya sebagai penonton untuk saat ini, Vos," tegas Tarn sambil melipat tangannya di depan dada.
"Tugas kita adalah memastikan bahwa 'aset' yang ada di dalam ruang server itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Jika Pharma berhasil mengambilnya, maka seluruh rencana besar kita akan terhambat. Tapi jika polisi yang mendapatkannya, kita masih memiliki banyak cara untuk merebutnya kembali dari tangan mereka yang ceroboh."
Mereka berdua melihat melalui lensa jarak jauh bagaimana Magnus keluar dari celah ventilasi di lantai bawah, menggendong Paul yang tampak sangat lemah. Lampu-lampu mobil polisi langsung menyorot ke arah mereka, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang basah. Dari ketinggian ini, Magnus dan Paul tampak seperti semut kecil yang sedang berjuang melawan badai yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
"Lihat itu, Magnus benar-benar berhasil membawa Paul keluar," gumam Vos sambil terus memantau pergerakan polisi di bawah.
"Tapi dia tampak sangat tergesa-gesa. Dia akan segera menyadari bahwa meninggalkan Lyra adalah keputusan yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya."
Tarn tidak merespons, matanya kini tertuju pada lantai laboratorium bawah tanah yang dari ketinggian ini hanya terlihat sebagai lubang hitam yang mengepulkan asap.
Ia tahu bahwa di bawah sana, di dalam kegelapan yang mencekam itu, sebuah konfrontasi yang menentukan masa depan sedang terjadi antara seorang gadis yang putus asa dan seorang monster yang menyamar menjadi malaikat penyembuh.
"Apakah kau sudah menyiapkan jalur ekstraksi jika keadaan memburuk?" tanya Tarn tanpa mengalihkan pandangannya dari Delphi.
"Semua sudah siap, Tarn. Helikopter siluman kita berada dalam posisi siaga di atap gedung ini, dan tim pembersih kita sudah menyebar di sekitar perimeter luar. Jika Pharma mencoba melarikan diri dengan membawa data itu, dia tidak akan bisa melangkah lebih dari dua blok dari gedung ini," lapor Vos dengan penuh percaya diri.
Angin malam bertiup kencang di atas gedung tinggi tersebut, menerbangkan ujung jubah hitam yang dikenakan Tarn.
Suasana di sekitar mereka terasa sangat berat, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas menyaksikan babak akhir dari tragedi di Delphi Hospital. Bagi Tarn dan Vos, kehancuran ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah bidak catur yang baru saja mulai digerakkan dalam permainan yang tidak diketahui oleh Paul, Magnus, apalagi Lyra.
"Pantau terus posisi Lyra," perintah Tarn. "Dia adalah kunci yang sebenarnya dalam permainan ini. Pharma mungkin belum menyadarinya, tapi gadis itu memiliki sesuatu di dalam dirinya yang jauh lebih berharga daripada semua eksperimen laboratorium tersebut."
Vos mengangguk patuh, jarinya kembali menari di atas layar tabletnya, mencoba melacak sinyal dari ponsel Lyra yang mungkin masih aktif atau sensor suhu tubuh di dalam laboratorium utama.
"Aku akan memantau setiap embusan napasnya, Tarn. Mari kita lihat, apakah kasih sayang seorang adik bisa mengalahkan pisau bedah sang dokter bedah yang tak berperasaan itu."
Di kejauhan, ledakan kecil lainnya terdengar dari bawah tanah Delphi, diikuti oleh kobaran api yang membumbung lebih tinggi ke angkasa. Di atas gedung tinggi itu, dua pengamat misterius tersebut tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu dari malam yang akan mengubah hidup semua orang yang terlibat di dalamnya selamanya.