NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 SWMU

Pagi itu, Nadia terbangun dengan rasa sakit yang menjalar dari leher hingga ke tulang punggungnya. Ia tertidur dalam posisi meringkuk di atas meja rias, tepat di depan cermin dua arah yang kini tampak seperti benda mati yang biasa saja. Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden terasa sangat menyengat, seolah mengejek rahasia gelap yang baru saja ia temukan semalam.

Ia menegakkan tubuhnya, merasakan sendi-sendinya berbunyi. Ingatannya tentang layar monitor dan sosok Bramantya di balik kaca masih terekam jelas, namun anehnya, ketakutan yang ia rasakan semalam kini berganti menjadi kehampaan yang luar biasa. Pengetahuan bahwa ia tidak pernah memiliki privasi, bahwa setiap tarikan napasnya saat tidur adalah tontonan bagi pamannya, membuat Nadia merasa jiwanya telah dikuliti.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Ibu..." bisiknya lirih.

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, membawa gelombang kerinduan yang sangat hebat hingga dadanya terasa sesak. Di saat-saat paling terjepit seperti ini, ia hanya menginginkan pelukan ibunya. Ia merindukan aroma bunga melati yang selalu tercium dari pakaian ibunya, suara lembut yang menenangkannya saat ia takut pada petir, dan kehangatan rumah mereka yang mungil namun penuh cinta.

Rumah itu sudah tidak ada. Ibunya sudah tidak ada. Dunia yang ia kenal telah musnah, digantikan oleh istana megah yang terasa seperti makam ini.

Nadia berdiri, langkahnya gontai menuju lemari pakaian. Ia tidak mencari gaun sutra atau perhiasan mahal. Ia merogoh bagian paling dalam dari tas kecil yang berhasil ia bawa saat pemakaman. Di sana, terselip sebuah foto kecil yang pinggirannya sudah sedikit terkelupas. Itu adalah foto ibunya yang sedang tersenyum di taman belakang rumah lama mereka, memegang segelas teh dan menatap kamera dengan binar mata yang penuh kasih.

Nadia memeluk foto itu erat di dadanya. Ia kembali duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur yang kokoh. Isakannya mulai pecah. Awalnya pelan, hanya berupa sedu sedan yang tertahan, namun lama-kelamaan menjadi tangisan yang hebat. Ia menangis bukan hanya karena rasa takutnya pada Bramantya, tapi karena ia merasa sangat kesepian di dunia yang luas ini.

"Kenapa Ibu meninggalkan Nadia? Kenapa Ayah harus pergi? Hiks.."rintihnya di sela tangis.

Dalam kegelapan batinnya, Nadia bertanya-tanya, apakah ibunya tahu tentang sifat asli Bramantya? Apakah ibunya tahu bahwa adiknya suaminya itu adalah seorang pria yang terobsesi secara tidak sehat? Nadia teringat kembali pada ucapan Bramantya di meja makan: Ayahmu mengambil sesuatu yang sangat berharga dariku dulu.

Mungkinkah "sesuatu" itu adalah ibunya?

Pikiran itu membuat Nadia merasa mual. Jika benar Bramantya pernah mencintai ibunya dan kini ia mengincar Nadia sebagai penggantinya, maka ia benar-benar berada dalam bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar masalah utang piutang.

Tok. Tok.

Nadia tersentak. Ia segera menyeka air matanya dengan kasar dan menyembunyikan foto ibunya di balik gaun tidurnya. "Siapa?"

"Ini aku, Nadia. Pintu ini tidak dikunci. Aku masuk, ya?"

Itu suara Bramantya. Belum sempat Nadia menjawab, pintu besar itu terbuka. Bramantya masuk dengan langkah tenang. Ia tidak lagi memakai jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Penampilannya terlihat lebih santai, namun auranya tetap dominan.

Bramantya berhenti di tengah ruangan. Ia melihat Nadia yang masih duduk di lantai dengan mata sembap dan bahu yang gemetar. Ekspresi wajahnya yang dingin perlahan melunak, digantikan oleh sesuatu yang tampak seperti rasa iba—meskipun Nadia tahu rasa iba itu bisa jadi hanyalah manipulasi lain.

"Kau menangis lagi," ucap Bramantya pelan. Ia mendekat dan ikut berjongkok di depan Nadia.

Nadia memalingkan wajahnya. "Aku merindukan orang tuaku. Apakah itu salah?"

Bramantya terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, bermaksud menyentuh rambut Nadia, namun gadis itu menarik diri. Bramantya menghela napas, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya jatuh kembali ke samping tubuhnya.

"Kehilangan memang berat, Nadia. Aku tahu rasanya. Aku juga kehilangan mereka," ujar Bramantya dengan suara rendah.

"Paman tidak tahu apa-apa!" seru Nadia tiba-tiba, amarahnya meluap. "Paman mengurungku di sini! Paman memberiku obat tidur setiap malam! Dan Paman... Paman mengawasiku dari balik cermin itu, bukan?!"

Nadia menunjuk ke arah meja rias dengan tangan bergetar.

Suasana di kamar itu seketika membeku. Tatapan Bramantya berubah. Rasa iba yang tadi sempat muncul kini hilang, digantikan oleh tatapan tajam dan dingin yang bisa membekukan darah. Pria itu berdiri perlahan, postur tubuhnya yang tinggi seolah menekan Nadia yang masih duduk di lantai.

"Jadi kau sudah tahu," ucap Bramantya, suaranya kini terdengar sangat tenang, yang justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Nadia berdiri dengan susah payah, mencoba menantang mata pria itu. "Kau monster, Bram! Kau tidak punya hak untuk melakukan itu padaku!"

Bramantya melangkah maju, satu langkah demi satu langkah, memaksa Nadia mundur hingga punggungnya membentur dinding. Pria itu meletakkan kedua tangannya di dinding, mengunci Nadia di tengah-tengah.

"Monster?" Bramantya berbisik, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Nadia. "Dunia di luar sana diisi oleh monster yang akan memakanmu hidup-hidup, Nadia. Penagih utang, pria-pria hidung belang yang menginginkan tubuhmu, kerabat yang ingin memanfaatkan namamu. Aku hanyalah dinding yang menjagamu dari mereka semua."

"Dengan cara mengintipku saat aku tidur?!" tangis Nadia pecah lagi, kali ini karena kemarahan.

Bramantya mendekatkan wajahnya ke leher Nadia, menghirup aroma rambut gadis itu dalam-dalam. "Aku menjagamu, Nadia. Aku memastikan kau tidak bermimpi buruk. Aku memastikan napasmu tetap teratur. Aku melakukan apa yang tidak pernah dilakukan ayahmu: melindungimu sepenuhnya."

Bramantya menarik diri sedikit, menatap mata Nadia yang basah oleh air mata. "Ibumu... dia juga dulu sering menangis sepertimu. Dia juga rapuh. Dan ayahmu tidak pernah benar-benar menjaganya. Dia membiarkan ibumu hidup dalam ketakutan akan kemiskinan."

"Jangan sebut nama ibuku dengan mulutmu!"

Bramantya mencengkeram rahang Nadia dengan lembut namun kuat, memaksanya untuk terus menatapnya. "Aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan, Nadia. Kemewahan, keamanan, cinta... apa pun. Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi. Dan jangan pernah berpikir kau bisa bersembunyi dariku di rumah ini."

Bramantya melepaskan cengkeramannya. Ia merapikan syal yang dipakai Nadia dengan gerakan yang sangat rapi, hampir menyerupai kasih sayang seorang ayah, namun tatapannya tetaplah tatapan seorang pemburu yang telah mendapatkan mangsanya.

"Hapus air matamu. Bi Inah akan membawakan makan siangmu di sini. Hari ini kau tidak perlu turun," ucap Bramantya sebelum berjalan menuju pintu.

Saat sampai di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh. "Dan Nadia... simpan foto ibumu baik-baik. Dia memang cantik. Tapi kau jauh lebih cantik saat kau tidak menangis."

Pintu tertutup. Nadia jatuh terduduk di atas tempat tidur, seluruh tenaganya seolah tersedot habis. Ia merogoh foto ibunya yang tadi ia sembunyikan. Foto itu sedikit terlipat karena ia remas tadi.

Ia menangis lagi dalam gelapnya kamar yang kini terasa semakin asing. Di rumah yang megah ini, di bawah pengawasan mata yang tak pernah tidur, Nadia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia benar-benar sendirian. Ibunya hanya tinggal kenangan di dalam selembar kertas, dan ayahnya telah meninggalkannya dalam cengkeraman pria yang menganggap kepemilikan adalah bentuk tertinggi dari cinta.

Malam itu, Nadia tidak menunggu susu dari Bi Inah. Ia mematikan semua lampu, bersembunyi di bawah selimut, dan menangis hingga tertidur. Namun di tengah kegelapan itu, ia tahu, di balik dinding kamarnya, Bramantya sedang duduk memperhatikannya melalui layar monitor, menghitung setiap tetes air mata yang jatuh ke bantalnya.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!