Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.Penghianatan
HAPPY READING!!!
.
.
.
.
BRAKK
Aneska Maheswari ,mendobrak pintu kamar hotel bersama dua karyawan laki-laki hotel bintang lima itu. Kedua orang tersebut sudah lebih dulu ia sogok dengan uang. Saat perjalanan pulang dari kantor, Aneska tidak sengaja melihat Kenzo Abimayu ,suaminya berciuman mesra di dalam mobil bersama sekretarisnya, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri Celine Maharani. Aneska mengikuti mereka, menyaksikan dengan mata kepala sendiri pengkhianatan itu, hingga akhirnya menemukan mereka di kamar hotel ini.
“Aneska?” pekik mereka kaget saat melihat Aneska berdiri di ambang pintu bersama dua karyawan hotel. Saat itu Kenzo tengah menindih tubuh Celine di atas ranjang tanpa sehelai pakaian pun. Begitu melihat Aneska, gelak tawa dan desah manja mereka mendadak terhenti. Celine buru-buru menarik selimut untuk menutup tubuhnya, sementara Kenzo dengan panik meraih celana boksernya lalu mendekat, menyeret Aneska masuk dan menutup pintu kamar.
“Anes, ini tidak seperti yang kamu lihat,” ucap Kenzo dengan nada meyakinkan, berusaha lembut seperti biasanya.
“Cih… bahkan setelah aku memergoki kalian bercocok tanam dengan mata kepalaku sendiri bersama jalang itu, kamu masih bisa menyangkalnya dengan mengatakan ini tidak seperti yang kulihat?”
“ Kalian berdua memang benar-benar gila,” Aneska memegangi kepalanya, matanya beralih menatap Celine yang hanya menunduk sambil membalut tubuhnya dengan selimut.
“Ya… jalang, sejak kapan kamu dan suamiku berhubungan seperti ini, hah?” ucap Aneska tajam, suaranya bergetar oleh kemarahan dan rasa dikhianati. “Apa sejak kamu menjadi sekretarisku? Atau jangan-jangan jauh sebelum itu kamu sudah menggodanya dengan selangkangan murahanmu? Dan apa kamu juga melakukan ini di kantor tanpa sepengetahuanku?”
“Anes, jaga ucapanmu. Aku bukan jalang seperti yang kamu katakan,” sahut Celine, tidak terima dengan kata-kata kasar yang dilontarkan Aneska.
“Lalu apa sebutan yang pantas untukmu Pelakor? Wanita murahan, gundik, jalang, atau lonte?” Aneska balas menyembur kasar.
Darah Celine mendidih. Tatapannya menusuk. “Semua yang kamu katakan seharusnya kamu pertanyakan pada dirimu sendiri. Kamu tahu kenapa Kenzo lebih memilihku daripada kamu? Karena kamu membosankan, kaku, dia bahkan tidak bernafsu melihatmu. Yang bisa diandalkan dari dirimu hanyalah kekayaanmu. Apa kamu tidak sadar? Diriku jauh di atasmu. Lihat aku—aku menggoda, cantik, tidak kaku dan membosankan sepertimu.”
Aneska tertawa rendah, getir. “Ya, ya… aku baru sadar sekarang.” Ia menatap Kenzo, matanya berkaca-kaca namun tegas. “Aku pastikan jabatanmu sebagai wakil CEO akan dicopot. Dan kamu—” kini tatapannya beralih pada Celine, “tidak perlu bekerja lagi denganku. Jangan pernah menyebut dirimu sebagai sahabatku. Sangat menjijikkan bersahabat dengan jalang yang tega menikung suami sahabatnya sendiri. Bahkan kata sahabat pun tak pantas dikaitkan denganmu.”
Aneska berbalik hendak keluar, tetapi Celine bangkit dengan amarah yang menguasai dirinya. Ia meraih vas bunga kaca di samping tempat tidur.
PRANG
Vas itu diayunkan keras ke kepala Aneska. Perempuan itu terjatuh ke lantai, darah langsung mengalir dari pelipisnya.
“Celine, apa yang kamu lakukan?!” teriak Kenzo panik.
Celine ikut panik, kedua tangannya bergetar. “A… aku terpancing emosi, Kenzo,” ucapnya, melepaskan pecahan vas bunga yang tadi digenggamnya.
Kenzo terdiam sejenak, lalu berlutut memeriksa denyut nadi Aneska. “Dia masih hidup.”
“Tidak… tidak, Kenzo. Kalau dia masih hidup, dia akan melaporkan kita ke kantor polisi.”
“Lalu kita harus melakukan apa?”
“Kita harus membunuhnya,” ucap Celine, suaranya rendah namun mantap.
“Kamu gila?”
“Pikirkanlah. Jika dia sadar, dia pasti melaporkan kita. Kita akan masuk penjara, Kenzo.” Celine menatapnya dalam-dalam. “Dengarkan aku. Jika dia mati hari ini, posisi kita di perusahaan tidak akan terancam seperti yang dia katakan tadi. Kita akan tetap aman, bahkan mungkin naik pangkat karena kematiannya.Dan....kita juga bisa menguasai harta dan perusahaan Anes. ”
Ide gila itu perlahan meracuni kepala mereka.
“Kamu benar,” bisik Kenzo akhirnya.
“Tapi bagaimana cara kita menyamarkan pembunuhannya?”
“Rooftop. Hotel ini punya rooftop yang tinggi. Kita bisa menjatuhkan tubuhnya dari atas, lalu menyebarkan rumor bahwa dia bunuh diri karena tekanan pekerjaan. Orang-orang akan percaya, apalagi sekarang Anes sedang mengerjakan proyek tender perusahaan Nugraha Sentosa Grup.”
“Kamu benar, sayang. Baiklah, mari kita angkat dia,” ucap Kenzo, menyetujui rencana mengerikan itu.
____
Di atas rooftop, tubuh Aneska sudah mereka letakkan di tepi bangunan, hanya tinggal menghitung detik sebelum tubuhnya terjatuh. Angin malam berdesir, dingin, membawa ketegangan yang membekukan tulang.
Namun di sela-sela itu, Aneska justru tersadar. “Apa yang kalian lakukan padaku?” ucapnya terhuyung, lalu duduk di sisi tepi gedung.
“Kenzo, cepat dorong!” seru Celine panik ketika melihat Aneska sudah duduk di sana. Dengan gerakan gegabah, Kenzo mendorong tubuh Aneska.
“Aaaa…!” Aneska menjerit, namun tangannya berhasil meraih pegangan di sisi puncak hotel. Ia menggantung, hanya bertumpu pada satu besi yang menahan namanya dari maut.
“Kenzo… selamatkan aku!” teriaknya sambil menangis. “Kenzo, tolong aku!”
“Kenzo, jangan dengarkan dia. Cepat, kita harus pergi dari sini sebelum orang-orang tahu,” desak Celine. “Dia tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi tubuhnya akan hancur saat menghantam parkiran hotel.”
Kenzo tampak ragu, hatinya terbelah. Ada secuil iba di matanya, namun suara Celine terus membujuknya, menenggelamkan nuraninya.
Celine meraih sebuah tongkat besi. “Cepat, pukul tangannya. Dia harus segera terjatuh!”
Kenzo mencengkeram tongkat itu. Tangannya bergetar, tetapi tetap mengayunkannya ke arah tangan Aneska yang masih berusaha bertahan.
“Tidak, Kenzo… tolong selamatkan aku!” teriak Aneska, air mata mengalir deras di pipinya.
“Maafkan aku, Anes. Tapi aku harus melakukan ini demi jabatanku dan membatalkan semua rencanamu. Semoga kamu tenang di alam sana,” ucap Kenzo, lalu menghentakkan tongkat itu ke tangan Aneska.
“Aku akan membalas dendam kepada kalian. "
"Aku pastikan aku akan kembali dan menghancurkan kalian berdua."
" Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang. "
"Tunggu aku… aku akan terlahir kembali dan membalaskan dendamku!”
PRAKK
“AAAAAA!!” jerit Aneska melengking, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh dari puncak hotel pencakar langit itu, menghantam tanah dan hancur bersama semua rasa sakit dan pengkhianatan yang baru saja ia terima.
.
.
.
💐💐💐Besambung💐💐💐
Wahh Hay Gays kembali lagi dengan aku, di cerita Reingkarnasi dan pembalasan dendam .
Awal bab udah langsung berduka cita aja ya sama kematian Aneska, tidak lupa dengan penghiantan Pacar dan juga sahabat biadab. Kasih kata - kata kalian buat Celine yang menyebalkan ini guys. Mulut ular berbisa itu sudah menghabisi nyawa sahabatnya sendiri.
Kalau kalian punya sahabat kayak Celine kira-kira mau di apain nih?.
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤