Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Pilihannya sangat sederhana, Admiral. Kau bisa mencoba membunuhku sekarang, tapi kau akan kehilangan seluruh ruang kontrol ini dalam ledakan kristal merah," ucap Aslan dengan nada bicara yang datar.
Admiral Vane tertawa, suaranya menggema keras di dalam ruangan yang penuh dengan pipa uap. "Kau mengancamku dengan ledakan saat kau sendiri sedang terikat pada panel itu? Kau pikir aku sebodoh itu?"
[Peringatan: Admiral Vane memulai ancaman serangan. Jarak: 5 meter. Waktu reaksi: 0,8 detik.]
{SATS, berikan aku opsi terbaik tanpa memutuskan koneksi saraf ini.}
[Menganalisis opsi...]
[Opsi 1: Alihkan 15% energi saraf ke modul pertahanan kinetik. Efek: Menahan satu serangan pedang listrik, tapi memperlambat sabotase sebesar 30%.]
[Opsi 2: Aktifkan kelebihan beban pada pipa uap nomor empat tepat di belakang target. Efek: Gangguan visual dan fisik, tapi risiko kerusakan pada ruang kontrol 45%.]
"Lepaskan panel itu sekarang juga, atau aku akan memastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang pedang lagi!" teriak Vane sambil melangkah maju.
Percikan listrik dari pedang besar Vane menyambar-nyambar ke lantai logam yang basah. Admiral itu tidak menunggu jawaban lebih lama lagi dan segera mengayunkan pedangnya secara horizontal.
"Si Tangan Besi, tiarap!" perintah Aslan dengan suara menggelegar.
Aslan tidak menggerakkan tubuhnya dari panel, tapi jari-jarinya menekan sebuah tuas manual di sisi kiri konsol dengan sangat cepat.
[Protokol: Pelepasan Uap Darurat Aktif.]
Seketika, pipa uap nomor empat meledak di bagian sambungannya tepat saat pedang Vane hampir mencapai leher Aslan. Semburan uap panas bertekanan tinggi menghantam sisi tubuh Admiral Vane, mendorong pria raksasa itu hingga terhuyung beberapa langkah ke samping.
"Sialan! Kau benar-benar ingin mati di sini bersama kami?!" raung Vane sambil mencoba menstabilkan posisinya di tengah kabut uap yang tebal.
"Aku hanya ingin memastikan pekerjaan ini selesai," balas Aslan sambil tetap memejamkan mata, fokus pada visualisasi sistem di kepalanya.
[Kemajuan Sabotase: 88%.]
[Peringatan: Admiral Vane mengaktifkan Alchemical Overdrive Tingkat Dua. Kecepatan target meningkat 60%.]
Vane menerjang kembali melalui kabut uap dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pedang besarnya membelah udara dengan suara desisan listrik yang sangat tajam.
"Aslan, di belakangmu!" teriak Si Tangan Besi yang baru saja berhasil memasang peledak terakhir pada poros utama.
Aslan merasakan panas yang luar biasa mendekat ke punggungnya. {SATS, laksanakan Modulasi Energi Saraf sekarang!}
[Modulasi Energi Saraf Aktif. Sinkronisasi Saraf meningkat menjadi 52%.]
Secara otomatis, tubuh Aslan bergerak dengan refleks yang dipandu oleh sistem. Meski tangannya masih terikat pada panel melalui kabel saraf, ia berhasil melentingkan tubuhnya ke atas konsol sambil tetap mempertahankan koneksi tersebut. Ujung pedang Vane hanya mengenai udara kosong di bawah kaki Aslan.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu?!" Vane terbelalak melihat posisi Aslan yang sangat tidak lazim.
"Sistem sarafku tidak terbatas pada apa yang bisa kau lihat, Admiral," sahut Aslan dengan dingin.
[Kemajuan Sabotase: 95%.]
[Peringatan: Deteksi energi tinggi dari luar. Elara sedang memulai serangan artileri utama di Gerbang Barat.]
Suara dentuman besar dari luar istana terdengar hingga ke ruang kontrol bawah tanah. Tanah bergetar hebat, menyebabkan beberapa pipa kecil mulai bocor.
"Waktumu sudah habis, Admiral. Gerbang ini akan segera terbuka," kata Aslan.
Vane menggeram, matanya memerah akibat efek overdrive alkimia yang mulai membebani jantungnya. "Kalau begitu, aku akan menghancurkan panel itu beserta kepalamu!"
Vane mengangkat pedang besarnya dengan kedua tangan. Listrik biru yang sangat pekat berkumpul di mata pedangnya, menciptakan bola energi yang tampak sangat tidak stabil.
"Matilah, Pangeran Buangan!" teriak Vane sambil menghantamkan pedangnya ke arah panel kontrol pusat.
[Peringatan Bahaya Ekstrem! Serangan penghancur terdeteksi.]
[Rekomendasi: Gunakan fitur 'Neural Discharge' untuk membalikkan aliran energi ke arah target.]
{Lakukan sekarang, SATS! Jangan biarkan panel ini rusak!}
Aslan melepaskan seluruh energi saraf yang telah ia kumpulkan ke dalam kabel-kabel yang terhubung pada panel. Sebuah ledakan cahaya biru meledak dari konsol kontrol tepat saat pedang Vane menyentuhnya.
Energi listrik dari pedang Vane tidak menghancurkan panel, tapi justru tersedot ke dalam sistem dan diledakkan kembali ke arah sang Admiral melalui umpan balik elektromagnetik.
"Argh!" Vane terlempar ke dinding ruangan dengan kekuatan yang sangat besar. Zirah emasnya tampak hangus di beberapa bagian, dan pedang besarnya patah menjadi dua.
[Sabotase Berhasil 100%.]
[Sistem Gerbang Air: Terbuka Secara Paksa.]
Suara gemuruh raksasa terdengar dari arah luar saat pintu air mekanis mulai terangkat ke atas. Air sungai yang deras mulai mengalir masuk ke dalam kanal internal istana dengan kekuatan yang menghancurkan.
"Si Tangan Besi, segera aktifkan peledak di poros utama dan evakuasi melalui jalur pipa atas!" perintah Aslan sambil mencabut kabel saraf dari tangannya dengan sekali sentak.
"Siap, Pangeran! Peledak aktif dalam sepuluh detik!" jawab Si Tangan Besi sambil berlari menuju tangga darurat.
Aslan melirik Admiral Vane yang masih mencoba bangkit di tengah reruntuhan. "Beri tahu Kael, tamunya sudah masuk melalui pintu belakang."
Aslan segera melompat ke arah tangga dan mulai memanjat dengan kecepatan tinggi. Saat mereka mencapai mulut pipa drainase yang lebih tinggi, suara ledakan dari ruang kontrol tadi mengguncang seluruh pondasi bawah tanah.
[Misi Sabotase Gerbang Air: Selesai.]
[Sinkronisasi Saraf Saat Ini: 55%. Status Fisik: Kelelahan Saraf Tingkat Menengah.]
Mereka merangkak keluar dari lubang pembuangan dan mendarat di area dapur istana yang sudah kosong karena para pelayan melarikan diri akibat serangan artileri Elara di Barat.
"Kita sudah berada di dalam, Pangeran. Ke mana arah selanjutnya?" tanya Si Tangan Besi sambil memeriksa senjatanya.
Aslan menatap ke arah koridor panjang yang menuju ke Kastil Valerion utama. "Ke penjara bawah tanah kastil. Kita harus menyelamatkan sandera sebelum Kael menyadari bahwa pertahanan sungainya telah runtuh."
Tiba-tiba, langkah kaki ribuan prajurit terdengar mendekat ke arah dapur. Aslan segera menarik Si Tangan Besi untuk bersembunyi di balik tumpukan meja kayu besar.
[Deteksi Musuh: 50 prajurit Unit Harimau Putih dan satu individu dengan tanda energi unik.]
Seorang pemuda dengan zirah hitam yang sangat elegan masuk ke dalam dapur. Rambutnya pirang pucat dan tatapannya sangat tajam. Di tangannya, ia memegang sebuah batu kristal merah yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Aku tahu kau di sini, Aslan. Jangan bersembunyi di balik meja itu seperti tikus," ucap pemuda itu dengan nada yang sangat tenang.
Aslan terdiam sejenak. Ia mengenal suara itu. Itu adalah sepupunya sendiri, tangan kanan Kael yang paling berbahaya di bidang alkimia terapan.
{Lian Valerion. Aku tidak menyangka Kael akan mengirimmu ke dapur.}
[Peringatan: Target memiliki Batu Inti Buatan Tingkat Tinggi. Peluang kemenangan: Tidak Diketahui.]
Lian mengangkat tangannya, dan batu kristal di tangannya mulai memancarkan cahaya yang membuat suhu di dalam dapur mendadak turun hingga membeku.
"Pintu air itu adalah jebakan yang sudah disiapkan Kael untukmu, Aslan. Dan sekarang, kau terjebak di dalam sini bersamaku," kata Lian sambil tersenyum tipis.
Di saat yang sama, sebuah pesan masuk melalui sistem saraf Aslan dari Jax di tebing utara.
[Pesan dari Jax: Pangeran! Ini darurat! Kastil Valerion... mereka mulai membakar menara sandera!]
Aslan mengepalkan tangannya hingga bergetar. {SATS, aktifkan mode Overclock Saraf sekarang. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan Lian.}
[Peringatan: Mode Overclock Saraf akan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak jika digunakan lebih dari dua menit.]
"Coba saja jika kau bisa menghentikanku, Lian," tantang Aslan sambil melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan mata yang menyala biru terang secara konstan.
Tepat saat Aslan hendak menerjang, suara ledakan lain terdengar, tapi kali ini berasal dari arah menara sandera. Sebuah bayangan merah terlihat melompat dari jendela menara yang terbakar sambil menggendong seseorang.
{Siapa itu? Bayangan Merah seharusnya masih berada di jaringan drainase bawah.}
"Tunggu, itu bukan Bayangan Merah," gumam Aslan sambil menatap sistemnya.
[Analisis Target: Identitas Tidak Dikenal. Kemampuan: Manipulasi Bayangan Tingkat Empat. Status: Membawa sandera utama, Jenderal Zarek.]
Lian mengerutkan kening melihat gangguan tersebut. "Sepertinya ada tikus lain yang ikut bermain malam ini."
"Aslan! Pergi ke menara! Biarkan aku yang mengurus sepupumu ini!" tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik bayangan di sudut dapur.
Sesosok wanita dengan jubah hitam dan masker perak muncul, memegang dua belati yang memancarkan aura kegelapan. Aslan terkejut melihat siapa yang datang membantunya.
"Kau?! Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Aslan.
Wanita itu hanya menoleh sedikit, memperlihatkan mata yang sangat mirip dengan ibu Aslan yang sudah tiada.
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti, keponakanku. Sekarang lari sebelum menara itu benar-benar runtuh!"
Aslan berdiri di persimpangan keputusan paling sulit dalam hidupnya, sementara Lian mulai melepaskan gelombang es yang menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.