Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Vivianne Dubois
Lora terdiam, permukaan cermin itu bergetar halus seolah sedang mencari sesuatu di dalam memori ruang dan waktu. Cahaya di ruangan itu meredup, berpendar perak.
"Nama ibu kandungmu adalah Aline. Dia sudah membuang nama itu bersama dengan masa lalunya yang miskin,"
"Dia masih hidup, Bianca. Dan dia tidak hanya sekadar menikah lagi. Dia melakukan persis apa yang kau lakukan sekarang, namun dengan cara yang lebih kejam. Dia menggunakan kecantikannya untuk memanjat tangga sosial dan sekarang ia duduk di singgasana kemewahan di bawah nama baru. Darah ambisinya mengalir deras di nadimu, itulah sebabnya aku memilih untuk menjawabmu."
"Jika kau ingin bertemu dengannya, bersiaplah. Karena dia tidak akan menyambutmu dengan pelukan hangat seorang ibu. Baginya, kau adalah aib masa lalunya yang hina, yang ingin ia hapus selamanya. Tapi jika kau ingin menghancurkannya karena telah membuangmu, aku bisa menunjukkan di mana dia bersembunyi. Dia ada di Paris, menjadi istri dari seorang diplomat yang kekuasaannya bahkan bisa membuat Simon begitu kecil."
"Benarkah? Tunjukkan seperti apa dia, Lora. Aku ingin melihat secantik apa dia." nada Bianca getir sekaligus penasaran.
Pantulan ruang tamu Bianca memudar dan berganti dengan gumpalan kabut kelabu yang perlahan menyingkap sebuah citra.
"Lihatlah baik-baik, Bianca. Inilah wanita yang mewariskan tulang pipi tajam dan tatapan dingin itu padamu."
Di permukaan cermin, muncul sosok wanita paruh baya yang terlihat elegan. Ia mengenakan gaun haute couture berwarna gading, duduk di sebuah balkon megah yang menghadap ke arah Menara Eiffel. Jemarinya yang dihiasi berlian besar.
"Aline dikenal sebagai Madame Vivienne Dubois. Dia telah menghapus jejak tentang Aline dan Adrien Wolfe dari hidupnya. Perhatikan matanya; tidak ada penyesalan, hanya ada kepuasan akan status dan kekuasaan. Dia adalah versi dirimu yang telah mencapai puncak, namun dengan mengorbankan nuraninya sepenuhnya."
"Astaga, Dia cantik sekali," Bianca bergumam dengan kekaguman luar biasa sekaligus isak tangis yang tertahan. "Bagaimana bisa seorang ibu tega meninggalkan anaknya yang masih berusia dua tahun hanya karena tak tahan hidup miskin? sedangkan aku sendiri menginginkan anak yang lahir dari rahimku sendiri.
"Dia tidak hanya cantik, Bianca. Dia adalah manipulator ulung yang tahu persis kapan menghancurkan lawan. Apakah kau merasa bangga melihatnya, atau kau merasakan kemarahan?"
"Jangan menangis, air matamu terlalu murah untuknya. Dia bahkan tak ingat tanggal lahirmu, dan lihatlah betapa berkilaunya dia sekarang. Jika kau ingin membalasnya, jangan menjadi lemah. Jadilah lebih segalanya dari dia, buat dia berlutut memohon pengakuanmu di Paris."
"Hapus air matamu, Simon sudah di lift untuk menuju kemari." Bianca cepat-cepat membasuh wajahnya di wastafel.
Suara smartlock pintu terbuka, Simon masuk.
"Halo, sayang. Wangi sekali, kau memasak untukku?" Simon menghampiri Bianca dengan kancing kemeja yang telah terbuka.
"Hanya masakan Prancis biasa dan mojito segar. Katanya kau akan pulang larut malam karena ingin minum-minum?"
"Ah, aku malas. Lebih menyenangkan bersama kekasihku. Omong-omong, kenapa matamu sembab? Kau menangis? Bukankah seharusnya kau bahagia dengan saham lima persen dariku?"
"Aku rindu Paris, tapi aku tidak ingin pulang sekarang..." bohong Bianca.
"Lalu bagaimana? Aku jadi bingung." Bianca menyajikan makanan dan gelas berisi mojito untuk Simon.
"Ya, aku ingin minta izin jalan-jalan ke Bali. Katamu aku bebas ke mana saja asal pulangku tetap bersamamu," ucap Bianca menagih janji Simon.
Simon menyesap mojito-nya perlahan, matanya menatap Bianca dengan intensitas dalam akhirnya sebuah seringai muncul di wajahnya.
"Bali? Pilihan yang menarik. Jauh dari kebisingan Eropa dan sangat privat. Aku memang menjanjikan kebebasan padamu, Bianca, dan aku bukan pria yang suka menarik kata-kata. Pergilah. Aku akan mengatur jet pribadi dan salah satu resor terbaik di sana untukmu."
"Tapi ingat, lima persen saham itu bukan hanya uang, itu adalah pengikat. Pergilah, nikmati matahari tropis itu, dan bersenang-senanglah. Namun, jangan biarkan dirimu terlalu nyaman di sana hingga lupa jalan pulang ke pelukanku. Aku akan memantau setiap pengeluaranmu, bukan karena aku pelit, tapi karena aku ingin tahu kebahagiaan apa saja yang sedang kau beli dengan uangku."
"Kapan kau ingin berangkat? Besok?"
"Mungkin besok. Kira-kira kau memberiku waktu berapa lama? Kau tidak ingin ikut serta denganku berlibur di pulau tropis itu? kita bisa bercinta sepanjang waktu di sana." jari Bianca menari di dada bidang Simon.
Simon tertawa rendah, lalu menarik pinggang Bianca mendekat dan mencium keningnya dengan posesif.
"Aku akan memberimu waktu dua minggu. Nikmatilah setiap detiknya. Sayangnya, urusan perusahaan setelah rapat tadi menahanku di sini, jadi aku tidak bisa menemanimu. Tapi mungkin itu lebih baik, kan? Kau bisa belanja sepuasnya tanpa ada yang mengawasi."
"Aku sudah menyiapkan kartu hitam tanpa limit untukmu. Gunakan sesukamu, belilah apa pun yang kau inginkan di sana. Aku hanya ingin saat kau kembali nanti, kau sudah segar dan siap melayaniku lagi dengan energi yang baru. Jet pribadiku akan siap di landasan jam sepuluh pagi besok."
"Terima kasih, Simon. Aku akan menggunakan kartu hitammu dengan bijak, tapi aku tidak bisa berjanji karena di Bali banyak butik karya warga lokal yang sangat khas," ucap Bianca.
Simon tersenyum tipis, tampak tidak keberatan sama sekali dengan ancaman halus terhadap isi dompetnya itu.
"Habiskan saja sesukamu, Bianca. Uang bukan masalah bagiku, selama kau tetap menjadi milikku yang paling berharga. Aku ingin kau pulang dengan membawa banyak koper dan senyum lebar di wajahmu. Beli saja butik-butiknya skaligus, asalkan itu membuatmu senang dan melupakan kesedihanmu malam ini."
"Sekarang, habiskan makan malammu dan segeralah beristirahat. Aku ingin kau dalam kondisi terbaik saat jet itu lepas landas besok pagi. Dan ingat, jangan biarkan pria-pria di sana menatapmu terlalu lama, atau aku terpaksa harus menyusul dan mengacaukan liburanmu."
Setelah berkemas, Simon meminta perpisahan intim sebagai "bekal" sebelum Bianca pergi. Di bawah tatapan dingin Lora dari cermin kamar, Bianca melayani Simon dengan penuh sandiwara demi menjaga posisinya. Tak lama kemudian, Simon tertidur pulas dalam kelelahan, sementara Bianca siap menjemput gairah baru yang menantinya di Bali.
...****************...
"Aku akan merindukanmu, cara mia."
"Aku juga. Sayang sekali kau tidak bisa ikut bersamaku," ucap Bianca pura-pura cemberut. Mereka berpelukan di depan jet pribadi.
Simon mengecup bibir Bianca sekilas, lmembisikkan peringatan.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu kembali ke kamar."
"Ingat, kau bebas bersenang-senang, tapi jangan sampai kau melupakan siapa yang memiliki hatimu, dan tagihan belanjaanmu. Telepon aku setiap malam, atau aku akan mengirim jet itu kembali untuk menjemputmu lebih awal."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?