NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JALAN MENJADI CAHAYA

Tanganku yang menggenggam tangan Om Sugi terasa seperti menyentuh batu bara yang sedang membara – kulitnya panas sekali dan licin seperti lendir, sementara napasnya yang keluar dari mulut terbuka lebar mengeluarkan bau busuk seperti ikan yang sudah membusuk selama berhari-hari. Suara gemuruh guntur dari luar semakin keras, menerjang atap kayu yang sudah lapuk sehingga ada beberapa bagian yang mulai retak dan jatuh ke lantai dengan suara dentuman yang menggoyang seluruh ruangan. Bayangan keluarga ku berdiri di belakangku, dan aku bisa merasakan cahaya lembut dari mereka menyala lebih terang, seolah mereka sedang memberikan kekuatan padaku.

Om Sugi menjerit lagi, kali ini suaranya seperti campuran antara suara manusia dan binatang buas, dan dia mencoba menarik tubuhnya ke belakang dengan kekuatan yang luar biasa. Aku merasa tulang-tulang di tanganku akan patah karena kekuatannya, tapi aku tidak mau melepaskannya – dia adalah keluarga ku, orang yang pernah mengajarkanku naik sepeda, yang pernah membawa aku makan es krim saat aku menangis karena tidak lulus ujian, yang selalu bilang bahwa aku bisa menjadi siapa saja yang aku inginkan.

“Om… tolong ingat,” bisikku dengan suara yang sedikit bergetar tapi tetap tegas. “Kamu pernah bilang kalau keluarga itu harus saling menjaga. Jangan biarkan sesuatu yang tidak kamu mengerti ini merusak kita semua.”

Saat aku terus memegang tangannya, sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari balik altar – itu adalah sosok seorang wanita dengan rambut panjang berwarna putih keperakan dan mengenakan baju tradisional yang sudah tua dan lusuh. Dia tidak bergerak, hanya berdiri dengan tenang sambil menatapku dengan mata yang penuh kesedihan. Bau kembang sepatu kuno dan tanah basah mulai menyebar di udara, menggantikan sedikit demi sedikit bau busuk dari Om Sugi.

“Kamu punya hati yang baik, anak kecil,” ujarnya dengan suara yang lembut tapi jelas terdengar meskipun suara guntur masih bergemuruh. “Namun jalan menuju tempat suci tidak akan mudah. Di sepanjang jalan ada makhluk-makhluk yang akan mencoba menghalangi kamu – mereka adalah roh-roh yang tersesat karena kesalahpahaman yang sama seperti kita dulu.”

Aku melihat ke arah peta yang diberikan anak kecil itu – tiba-tiba ada garis merah yang muncul di atas kain, menunjukkan jalan yang lebih pendek tapi juga lebih berbahaya. Di sisi lain, garis biru yang tadinya terlihat jelas mulai menghilang perlahan. Anak kecil itu mendekat dan menarik bajuku dengan lembut. “Garis biru itu jalan yang aman tapi akan memakan waktu lama,” katanya dengan suara yang kecil. “Jika kita memilihnya, Om akan semakin kehilangan diri. Tapi kalau kita memilih garis merah… aku tidak tahu apa yang akan kita temui di sana.”

Saat itu, aku merasakan sesuatu yang menyentuh kaki ku dengan lembut – itu adalah seekor tikus hitam dengan mata yang berwarna putih seperti kaca, tapi yang aneh adalah dia tidak berlari pergi seperti biasanya. Sebaliknya, dia hanya berdiri dan menatapku, lalu mulai bergerak ke arah pintu yang roboh itu. Di belakangnya, muncul bayangan-bayangan kecil yang menyerupai manusia tapi dengan wajah yang tidak jelas dan tangan yang panjang seperti tali. Suara mereka seperti bisikan seribu orang yang berbicara sekaligus, membuat kepalaku mulai terasa pusing dan ingin muntah.

Dalam kekacauan itu, sesuatu yang kecil jatuh dari saku Om Sugi – itu adalah sebuah surat yang sudah kusut dan warnanya sudah pudar. Aku membukanya dengan hati-hati, dan tulisan tangan yang rapi muncul di depanku: “Untuk anak-anak ku yang tersayang, jika suatu hari aku harus pergi dan tidak bisa kembali, ingatlah bahwa aku selalu mencintaimu. Kesalahan yang aku buat bukanlah karena kebencian, tapi karena ketidaktahuan. Mohon maaf jika aku harus meninggalkanmu dengan masalah yang begitu besar.” Tanda tangan di akhir surat adalah nama nenek ku yang sudah meninggal dunia sejak aku masih kecil.

Aku menyimpan surat itu dengan hati-hati ke dalam saku, lalu melihat ke arah Om Sugi yang masih berjuang untuk melepaskan diri. Sekarang matanya yang merah menyala sudah mulai sedikit memudar, dan aku bisa melihat kilatan kesadaran yang lebih jelas darinya. Dia membuka mulutnya dan mengeluarkan suara yang lebih seperti manusia: “…anak… aku… tidak bisa…”

Tanpa berpikir panjang lagi, aku menarik tangannya dan berjalan ke arah pintu yang roboh itu, mengikuti tikus hitam yang masih berjalan di depanku dengan tenang. Garis merah di peta mulai bersinar dengan terang, seolah sedang membimbing langkah kami. Bayangan-bayangan kecil itu mulai mengelilingi kami dari segala arah, bisikan mereka semakin keras dan membuatku merasa ingin menutup telingaku. Bau tanah liat dan darah mulai menyebar lagi, dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang besar sedang mengikuti kami dari belakang, dengan suara langkah kaki yang berat dan tanah yang bergetar setiap kali dia melangkah.

Kita keluar dari rumah dan memasuki jalan yang sudah tidak aku kenali lagi – jalan yang tadinya beraspal sekarang menjadi tanah liat yang lembap dan penuh dengan genangan air hitam pekat. Di atas langit, awan hitam semakin pekat dan ada kilatan cahaya merah menyala yang muncul dari arah tempat suci, jauh di kejauhan. Saat kita berjalan lebih jauh, tikus hitam itu tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang – di sana, berdiri sosok raksasa yang seluruh tubuhnya tertutup lumut dan tanah basah, dengan mata yang besar seperti bola lampu dan mulutnya terbuka lebar menunjukkan gigi yang panjang seperti tusuk gigi. Dia mengeluarkan suara seperti teriakan ribuan orang yang sedang menderita, dan mulai bergerak ke arah kami dengan kecepatan yang luar biasa.

Aku harus membuat keputusan sekarang – melarikan diri ke arah jalan yang menyimpang yang tidak tertera di peta, atau terus maju menuju tempat suci dan menghadapi makhluk raksasa itu dengan harapan bahwa kekuatan dari kalung di leherku akan cukup untuk melindungi kami?

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!