NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Teror Sang Bendahara

Pagi itu, langit di atas Gedung Akuntansi SMK Pamasta tertutup awan mendung yang statis. Suasana kelas X Akuntansi 1 terasa pengap, meski semua jendela sudah dibuka lebar. Netta duduk sendirian di bangkunya, jauh lebih awal dari jam masuk sekolah. Di depannya tergeletak buku kas besar dan tumpukan uang iuran kelas yang sedang ia hitung. Sebagai bendahara, keteraturan adalah napasnya, namun hari ini, napasnya terasa pendek dan berat.

Setiap kali Netta menekan tombol kalkulatornya, bunyi klik yang dihasilkan terdengar seperti suara tulang yang patah di telinganya.

Satu... dua... tiga...

Netta mengerutkan kening. Ia baru saja menghitung sepuluh lembar uang dua puluh ribuan, namun saat ia melihat kembali ke tangannya, uang itu berubah menjadi potongan-potongan kain hitam yang kasar.

Netta terpekik kecil dan melempar potongan kain itu ke atas meja. Namun, dalam sekejap mata, kain-kain itu kembali menjadi lembaran uang kertas biasa.

"Fokus, Net. Kamu cuma kurang tidur," bisiknya pada diri sendiri, sambil mengusap wajahnya yang mulai dibasahi keringat dingin.

Namun, gangguan itu tidak berhenti di sana. Saat ia hendak memasukkan uang ke dalam dompet iuran, ia mendengar suara koin jatuh di lantai. Ting... klontang... Bunyinya berasal dari kolong mejanya. Netta membungkuk untuk mengambilnya, namun yang ia temukan bukan koin, melainkan sebuah kancing baju berwarna merah darah yang masih terikat pada sisa benang hitam.

Seketika, suhu di bawah meja itu merosot drastis. Netta merasakan sebuah tangan tak kasat mata, sedingin es, menyentuh pergelangan kakinya. Sentuhan itu tidak erat, namun sangat nyata—seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengukur ukuran kakinya dengan jari-jari yang panjang.

Netta tersentak bangun hingga kursinya terjatuh ke belakang. Ia menoleh ke sekeliling kelas, namun ruangan itu tetap kosong. Hanya ada dia dan bayangan debu yang menari di bawah sorot lampu neon yang berkedip tidak stabil.

Sepanjang pelajaran, Netta tidak bisa diam. Ia terus-menerus menoleh ke arah jendela, merasa ada sepasang mata tembus pandang yang mengawasinya dari kejauhan. Saat jam istirahat, ia bertemu Sarendra di koridor. Wajah Rendra tampak sama kacaunya, namun saat Rendra menunjukkan sehelai benang merah pekat yang ia temukan di mejanya semalam, Netta hampir saja jatuh pingsan.

"Ren... aku juga nemu kancing dengan benang yang sama di kelas tadi," bisik Netta, suaranya bergetar hebat. "Sesuatu... sesuatu tadi megang kakiku, Ren.

Rasanya dingin banget, kayak kita lagi diaudit sama kematian."

Rendra menatap Netta dengan tatapan penuh simpati dan kecemasan. Postur bungkuknya terlihat semakin turun, seolah-olah ia sedang memikul beban ketakutan Netta juga. "Mereka mulai menyebar, Net. Setelah Vema menjauh, mereka nggak punya target utama lagi, jadi mereka cari orang-orang yang paling dekat sama dia."

"Tapi kenapa di rumah juga, Ren?" tanya Netta, suaranya mulai terisak pelan. "Semalam... di kamarku..."

...****************...

Malam sebelumnya di rumah Netta.

Suasana rumah Netta biasanya sangat hangat. Ibunya sedang menonton televisi di ruang tengah, dan ayahnya baru saja pulang kerja. Namun, di dalam kamarnya yang berada di lantai dua, Netta merasa seperti sedang berada di dalam lemari pendingin.

Ia sedang mencoba mengerjakan tugas akuntansi perusahaan dagang saat ia mendengar suara itu.

Krek... krek... krek...

Suara itu pelan, ritmis, dan sangat akrab di telinga siapa pun yang pernah menjahit. Suara mesin jahit manual. Netta menoleh ke sudut kamarnya, tempat ia biasanya menumpuk jaket dan tas sekolah. Di sana, di antara bayangan lemari pakaian, ia melihat siluet seorang wanita yang duduk membelakanginya. Wanita itu tampak sedang mengayuh mesin jahit tua dengan sangat cepat.

Netta terpaku di tempat duduknya. Ia tidak memiliki mesin jahit di kamarnya.

"I-ibu?" panggilnya dengan suara parau.

Siluet itu tidak menjawab. Gerakan tangannya semakin liar, menarik-narik benang hitam yang seolah keluar dari sela-sela lantai kayu kamar Netta. Yang paling mengerikan, setiap kali jarum mesin jahit itu menusuk kain, Netta merasakan rasa perih yang tajam di punggungnya, seolah-olah kulitnya sendirilah yang sedang dijahit.

Netta mencoba berdiri untuk lari, namun ia menyadari bahwa bayangan di lantai tidak lagi mengikuti gerakannya. Bayangannya tetap duduk di kursi, sementara tubuh fisiknya berdiri. Bayangannya tampak terikat oleh ribuan benang transparan yang mengunci setiap sendinya.

Dalam keputusasaan, Netta menatap cermin riasnya. Di sana, pantulan dirinya tidak lagi menunjukkan wajahnya yang ketakutan. Cermin itu menunjukkan sosok Netta yang mulutnya sudah dijahit rapat dengan benang merah, dan matanya digantikan oleh kancing-kancing hitam besar yang mengkilap.

Netta berteriak sekuat tenaga, namun suaranya tidak keluar—persis seperti bayangannya di cermin. Ia baru bisa berteriak saat ibunya mendobrak pintu kamar karena mendengar suara barang jatuh. Saat lampu dinyalakan, siluet wanita dan mesin jahit itu hilang seketika, namun di atas meja belajar Netta, buku jurnalnya telah robek-robek, dan potongan-potongan kertasnya telah dijahit menjadi sebuah pola tas kecil yang mengerikan

...****************...

Kembali ke koridor sekolah.

​"Aku takut pulang, Ren," ucap Netta sambil menggenggam lengan seragam Rendra erat-erat. "Aku ngerasa... aku bukan lagi pemilik tubuhku sendiri. Kayak ada yang lagi nunggu aku buat jadi 'pesanan' selanjutnya."

​Rendra terdiam, hatinya terasa sakit melihat temannya yang paling berani kini hancur seperti ini. Ia teringat Vema. Vema pasti tahu ini akan terjadi. Vema menjauhi mereka bukan karena benci, tapi karena ia tahu "residu" ibunya akan mulai mencari inang baru untuk menjahit janji-janji gelap yang belum tuntas.

​"Sore ini kita ke rumahmu, Net," ucap Rendra tegas. "Aku, Bagas, dan kalau bisa kita ajak Nadin. Kita nggak boleh biarkan kamu sendiri. Kita bakal bawa semua doa yang kita tahu."

​"Tapi Vema, Ren? Dia harus tahu soal ini!" seru Netta.

​Rendra menoleh ke arah Gedung TKJ. Di lantai atas, ia melihat sosok Vema sedang berdiri di balkon, menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sangat sedih namun tetap tak bergerak. Vema tetap pada keputusannya untuk menjadi "sekat", tanpa menyadari bahwa sekat itu justru membuat teman-temannya menjadi sasaran empuk bagi kegelapan yang tak kasat mata.

Netta merogoh sakunya dan mengeluarkan potongan kertas yang dijahit semalam di kamarnya. Di sana, tertulis sebuah angka dengan tinta merah yang menyerupai darah: Hutang Jasa: Nyawa.

Intensitas teror ini baru saja dimulai. Sang Bendahara sekolah, yang biasanya menghitung sisa saldo kas, kini harus berhadapan dengan perhitungan saldo nyawa yang ditagih oleh sesuatu yang tembus pandang dan tak pernah merasa cukup.

"Kita harus bertahan, Net," bisik Rendra sambil menatap langit yang semakin menggelap. "Satu rupiah pun nggak boleh hilang dari hidup kita, apalagi nyawa kamu."

Malam ini, rumah Netta bukan lagi tempat perlindungan. Rumah itu akan menjadi medan perang spiritual pertama bagi mereka berempat, meski salah satu dari mereka masih memilih untuk bersembunyi di balik diam.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!