NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / CEO / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jensoni Ardiansyah

Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tidak Seharusnya Ada

Hujan turun sejak sebelum subuh.

Bukan hujan deras yang menggelegar, melainkan hujan tipis yang turun perlahan, nyaris seperti kabut air yang jatuh tanpa suara. Jalanan di sekitar rumah Arka tampak buram, pagar besi hitamnya basah dan mengilap di bawah cahaya lampu taman yang belum dimatikan.

Nayla berdiri di balik tirai kamarnya.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa tidak tenang sejak bangun tadi. Perasaan itu bukan takut yang meledak-ledak, tapi jenis kecemasan yang dingin dan menetap, seperti tangan tak terlihat yang menekan dada perlahan.

Ia merasa seperti sedang diperhatikan.

Bukan oleh satu pasang mata, melainkan oleh sistem yang lebih besar—jejaring orang yang tahu namanya, tahu alamatnya, dan tahu bahwa keberadaannya kini bernilai.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jangan keluar sendirian.

Kami sedang melihat.

Nayla membeku.

Jarinya menggenggam ponsel itu lebih erat. Detak jantungnya terdengar jelas di telinga, dan udara kamar terasa lebih dingin dari biasanya.

Ia tidak menunggu lama.

Nayla langsung mengenakan jaket tipis dan keluar kamar. Langkahnya cepat menyusuri lorong, turun tangga, dan berhenti di ruang makan tempat Arka sudah duduk, tablet di tangan.

“Arka,” ucapnya, suaranya tegang. “Aku dapat pesan.”

Arka mengangkat wajahnya. Nayla meletakkan ponsel di meja.

Arka membaca pesan itu perlahan. Rahangnya mengeras, garis di pelipisnya menegang.

“Itu bukan gertakan,” katanya pelan.

Nayla menelan ludah. “Seberapa serius?”

“Serius sampai mereka mau memastikan kamu tidak bergerak bebas.”

Nayla duduk di kursi, jari-jarinya gemetar. “Aku tidak mau hidup seperti ini.”

Arka menatapnya lama. “Aku juga tidak mau kamu hidup seperti ini.”

Arka langsung berdiri dan menelepon Surya.

“Mulai rencana B,” katanya singkat. “Hari ini.”

Pengawalan ditambah.

Dua mobil hitam mengiringi kendaraan mereka saat mereka keluar rumah. Nayla duduk di kursi belakang, memandangi jalanan yang terlihat biasa, tapi terasa penuh potensi bahaya.

Setiap motor yang melambat, setiap mobil yang menyalip, membuat perutnya mengeras.

Ia tidak menyadari seberapa cepat ia mulai hidup dalam mode bertahan sampai saat ini.

“Kita ke mana?” tanyanya.

“Gedung Sentra,” jawab Arka. “Aku harus bertemu calon investor baru.”

“Dan aku?”

“Kamu tetap di dekatku.”

Nayla mengangguk, walau dadanya tetap terasa berat.

Gedung Sentra berdiri tinggi di pusat kota, dinding kacanya memantulkan langit kelabu. Di lobi, Nayla duduk menunggu sementara Arka naik ke lantai atas.

Ia memandangi orang-orang lalu lalang—pekerja kantoran, tamu, staf—semuanya tampak biasa.

Terlalu biasa.

Seorang wanita berambut pendek, mengenakan blazer krem, menghampirinya.

“Kamu Nayla,” katanya ramah. “Aku Hana.”

Nayla menatapnya waspada. “Kamu siapa?”

“Hana Prameswari. Salah satu mitra baru Arka.”

Nayla mengangguk pelan.

Hana duduk di seberangnya. “Aku tidak akan bertele-tele. Orang-orang lama Arka tidak suka kehilangan kendali.”

“Dan aku ada di tengahnya.”

“Bukan di tengah,” koreksi Hana. “Kamu di titik tekan.”

Nayla menelan ludah.

“Mereka akan mencari celah. Biasanya lewat reputasi. Kadang lewat intimidasi. Kadang lewat orang-orang terdekat.”

Nayla menunduk. “Aku tidak pernah minta ini.”

“Tapi kamu sekarang bagian dari perjanjian.”

Sore hari, mereka kembali.

Hujan belum berhenti. Saat mobil mereka berhenti di depan pagar rumah, Nayla melihat sesuatu di tanah yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah kotak kecil.

Kardusnya basah. Tidak ada nama. Tidak ada alamat.

Arka langsung mengangkat tangan. “Jangan sentuh.”

Petugas keamanan membuka kotak itu dengan sarung tangan.

Di dalamnya hanya ada sebuah kunci.

Dan secarik kertas kecil.

KAMU TIDAK TAHU PINTU APA YANG KAMU BUKA.

Nayla merasa dunia menyempit.

Ini bukan lagi ancaman samar.

Ini peringatan.

Dan itu berarti permainan sudah dimulai.

Kotak itu dibawa masuk ke ruang tamu.

Petugas keamanan berdiri siaga di dekat pintu, sementara Arka memerintahkan seluruh area depan rumah disterilkan. Hujan masih turun di luar, menciptakan suara ritmis yang membuat suasana di dalam rumah terasa makin tertutup, makin terisolasi.

Nayla duduk di sofa, kedua tangannya terkepal di pangkuannya.

Kunci itu sekarang tergeletak di atas meja marmer. Logamnya dingin, sederhana, tidak terlihat seperti benda berharga—justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengancam. Tidak ada hiasan, tidak ada penanda. Hanya kunci polos, seolah-olah ia bisa membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.

“Ini bukan pesan kosong,” kata Arka pelan. “Mereka jarang mengirim simbol tanpa tujuan.”

“Jadi ini kunci apa?” tanya Nayla.

Arka menggeleng. “Itu yang harus kita cari tahu.”

Ponsel Arka bergetar. Surya menelepon.

Arka menjauh sedikit untuk menjawab, tapi Nayla masih bisa mendengar nada suara Surya yang lebih tegang dari biasanya.

“Kamu harus hati-hati,” ujar Surya di seberang sana. “Orang-orang ini mulai bergerak.”

“Apa maksudnya?”

“Mereka sudah tanya-tanya soal Nayla.”

Kalimat itu membuat Nayla menegakkan punggungnya.

“Di mana?” tanya Arka.

“Beberapa jalur. Pihak bank, notaris lama, bahkan ada yang mencoba menghubungi kampus tempat Nayla dulu kuliah.”

Nayla menelan ludah. “Mereka gali hidupku.”

“Ya,” jawab Surya. “Dan itu artinya mereka sedang mencari pegangan.”

Telepon ditutup.

Arka kembali ke Nayla. “Mereka mulai menyisir masa lalumu.”

“Untuk apa?”

“Untuk cari titik lemah.”

Malam itu Nayla tidak makan banyak.

Ia naik ke kamarnya lebih awal, tapi tidak bisa tidur. Kunci itu seperti bayangan yang menempel di pikirannya.

Apa yang mereka maksud dengan pintu?

Ia menatap langit-langit, mencoba mengingat semua tempat, semua rahasia kecil yang pernah ia simpan. Ia bukan orang penting. Ia tidak punya masa lalu kelam. Setidaknya, ia tidak merasa begitu.

Namun rasa aman itu mulai retak.

Sekitar jam dua pagi, ia mendengar suara mobil di luar.

Ia bangkit perlahan, mengintip dari balik tirai.

Sebuah mobil hitam berhenti sebentar di luar pagar. Tidak masuk. Tidak klakson. Hanya berhenti, lalu pergi.

Nayla merasakan perutnya mual.

Mereka tidak hanya mengirim pesan.

Mereka menunjukkan kehadiran.

Pagi berikutnya, Arka membatalkan semua jadwal Nayla.

Ia memerintahkan satu pengawal khusus untuk selalu berada di dekat Nayla.

“Aku tidak mau kamu keluar sendirian,” katanya.

Nayla menatapnya tajam. “Jadi sekarang aku benar-benar tidak bebas.”

“Ini sementara,” jawab Arka cepat. “Sampai aku tahu apa yang mereka mau.”

Nayla menghela napas panjang. “Dan kalau mereka mau aku?”

Arka tidak langsung menjawab.

“Kalau mereka mau kamu,” katanya akhirnya, “aku akan berdiri paling depan.”

Nayla terdiam.

Untuk pertama kalinya, ancaman itu terasa nyata—dan pilihan terasa makin sempit.

Malam itu, Nayla tidak bisa lagi menganggap rumah ini sebagai tempat aman.

Ia berdiri di depan cermin kamarnya, memandang bayangan dirinya sendiri yang tampak sama—namun rasanya sudah berbeda. Ada sesuatu yang menempel di hidupnya sekarang. Sesuatu yang tidak bisa ia lepas hanya dengan berkata aku mau pergi.

Kunci itu masih ada di meja ruang tamu.

Ia bisa merasakannya bahkan dari lantai atas.

Ia turun pelan, menyusuri tangga tanpa menyalakan lampu utama. Cahaya temaram dari dinding membuat bayangan tubuhnya memanjang di lantai marmer.

Arka masih terjaga.

Ia duduk di ruang kerja dengan jas sudah dilepas, kemeja lengan panjang digulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan. Di mejanya terbuka beberapa laptop dan map lama.

Nayla berdiri di ambang pintu.

“Kamu nyari apa?” tanyanya.

Arka menoleh. Tatapannya langsung berubah waspada. “Kenapa belum tidur?”

“Aku gak bisa,” jawab Nayla jujur. “Kamu juga.”

Arka menghela napas. “Aku lagi nyari pintu yang cocok sama kunci itu.”

Nayla masuk. “Maksudnya?”

“Aku lagi ngebongkar semua aset lama, gudang, properti yang dulu dibeli atas nama perusahaan cangkang. Mereka suka main simbol. Kalau mereka kirim kunci, berarti ada satu tempat yang mau mereka ‘buka’ lagi.”

Nayla menelan ludah. “Dan tempat itu…”

“Pasti ada hubungannya dengan perjanjian awal.”

Ia menunjuk layar laptopnya. Di sana ada daftar properti, gudang, dan alamat yang tidak pernah Nayla lihat sebelumnya.

“Kenapa aku baru tahu ini sekarang?” tanya Nayla lirih.

Arka menunduk. “Karena aku berharap kamu gak pernah perlu tahu.”

Nayla mendekat, menatap daftar itu satu per satu. “Jadi selama ini hidupku berdiri di atas semua ini?”

“Sebagian,” jawab Arka. “Dan itu yang mau mereka ingetin.”

Keesokan harinya, Nayla dibawa keluar rumah dengan pengawalan.

Bukan untuk belanja.

Bukan untuk jalan-jalan.

Arka membawanya ke satu gedung lama di pinggir kota.

Gedung itu tampak seperti kantor kosong. Catnya kusam, jendelanya berdebu, tapi masih ada papan nama kecil di pintu:

PT KALYANA PRIMA

“Apa ini?” tanya Nayla.

“Salah satu perusahaan lama,” jawab Arka. “Dan salah satu tempat yang paling mungkin cocok sama kunci itu.”

Mereka masuk.

Di dalam, suasana dingin dan sunyi. Bau arsip lama dan kertas lembap memenuhi ruangan.

Arka berhenti di depan sebuah pintu besi kecil di ujung lorong.

Ia mengeluarkan kunci itu dari sakunya.

Nayla menahan napas. “Jangan bilang…”

Arka memasukkan kunci itu.

KLIK.

Pintu terbuka.

Di dalamnya bukan harta.

Bukan dokumen keuangan.

Melainkan… satu lemari arsip tua, dan sebuah brankas kecil di sudut ruangan.

Arka membuka lemari itu dulu.

Di dalamnya ada map-map cokelat bertuliskan nama perusahaan, tanggal, dan… foto.

Foto Nayla.

Foto keluarganya.

Foto masa lalunya.

Nayla mundur satu langkah. “Mereka… mereka sudah lama ngawasin aku?”

Arka menatap map-map itu dengan rahang mengeras. “Lebih lama dari yang aku mau akui.”

Nayla menutup mulutnya, jantungnya berdegup keras.

“Jadi aku bukan ‘kebetulan’ dipilih?” suaranya gemetar.

Arka menoleh pelan. “Tidak.”

Dan kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam diri Nayla.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!