Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Challenge Manjat Pohon Pete
Suasana di bawah pohon pete itu mendadak lebih panas daripada sambal merah kemarin. Kehadiran Koko Sen dan Harun Dubai benar-benar merusak momen makan liwet yang tenang.
Sebagai penguasa lokal di Sukamaju, mereka memang punya akses cepat. Koko Sen dengan bisnis distribusi pakunya dan Harun Dubai dengan kekayaan misteriusnya yang katanya berasal dari sumur minyak di luar negeri, membuat mereka merasa memiliki Jamila.
Koko Sen melangkah maju, sepatunya yang mengkilap kini berlumuran tanah merah.
"Jamila! Kamu tahu kan, aku sudah siapkan kontrak eksklusif untuk distribusi petemu ke seluruh toko material... eh, maksudku supermarket besar! Kenapa kamu malah bawa bule-bule kerempeng ini ke sini?"
Harun Dubai tak mau kalah. Ia membetulkan sorban emasnya sambil mengibaskan wangi parfum gaharu yang sangat menyengat, mencoba mengalahkan bau pete bakar.
"Jamila, bunga gurun pasirku. Aku sudah siapkan unta... maksudku mobil mewah untuk membawamu ke mal terbesar di Jakarta. Jangan biarkan orang-orang Jerman ini merusak kulit eksotismu dengan memanjat pohon!"
Daren, meskipun tubuhnya penuh bentol merah dan gatal luar biasa akibat serangan semut rangrang, tetap berdiri tegak. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil namun sangat canggih: sebuah sensor kelembapan tanah digital merk Bosch terbaru dari Jerman.
"Tuan-tuan," ujar Daren dengan suara baritonnya.
"Kalian bicara soal uang dan material. Tapi saya bicara soal masa depan keberlanjutan Parkia speciosa ini. Saya sudah memasang sensor di pohon ini agar Jamila tahu kapan harus memupuk dan memanen dengan presisi tinggi. Saya bukan sekadar bule kerempeng, saya adalah insinyur teknologi pertanian masa depan!"
Jerry ikut berdiri, meski perutnya mulai memberikan sinyal-sinyal darurat akibat kombinasi susu Jerman dan pete bakar Sukamaju.
"Ya! Kami bawa teknologi! Bukan cuma paku dan sorban!"
Serangan Tak Terduga dari Semak-Semak
Tepat saat ketegangan memuncak, tiba-tiba terdengar suara rintihan panjang dari balik semak-semak rimbun pohon pisang.
"Uuuuuuuuuuu.... kkkkkkkkkkkkkk...."
Semua orang menoleh. Suasana mendadak horor. Sesosok makhluk mengenakan daster putih panjang dengan rambut hitam menutupi wajah muncul dengan gerakan patah-patah.
"Astaga! Kuntilanak siang bolong!" teriak Jerry langsung lari bersembunyi di belakang punggung Kayla.
"Tenang! Itu bukan hantu!" Jamila berteriak sambil menepuk jidatnya.
"Salina! Berhenti! Malu-maluin aja lo!"
Makhluk itu menyibakkan rambutnya. Ternyata itu Salina, yang wajahnya sudah penuh dengan bedak dingin berwarna putih tebal.
"Lagi latihan akting, Jamila! Kan katanya ada orang penting dari Berlin, siapa tahu dia bisa bawa aku jadi aktris film horor di Eropa!"
Jerry melongo. "Salina? Kamu terlihat... sangat... artistik."
"Artistik gundulmu! Itu mah kayak ondel-ondel kurang cat!" ejek Koko Sen yang masih emosi.
"Salina , ayo kita pulang" ajak Arjuna, yang tiba-tiba datang.
" Salina, kenapa serem kayak guru Jun? " Tanya Jamila
" Salina, lagi belajar acting, untuk film horror, Ada produser yang tertarik dengan suaranya, Mil"
Jamila mengangguk-angguk,
" Allah itu adil, suara kayak Salina juga Ada fans nya, jadi insecure apapun dengan keadaanmu" gumam Mila
Melihat Daren tetap tenang, Harun Dubai merasa harga dirinya terinjak.
"Kalau kau memang ahli teknologi, tunjukkan nyalimu! Jamila hanya butuh pria yang bisa melindunginya di puncak tertinggi! Kita lomba panjat pohon ini sekarang. Siapa yang paling cepat sampai atas dan memetik pete paling besar, dia yang berhak mengantar Jamila pulang!"
"Setuju!" Koko Sen melepas jas mahalnya, menyisakan kemeja ketat yang kancingnya hampir copot.
Daren menatap Jamila. Jamila hanya mengedipkan sebelah mata sambil terus melakukan live streaming.
"Sobat pete! Taruhan dimulai! Siapa jagoan kalian? Ketik 1 untuk Bule Berlin, ketik 2 untuk Koko Paku, atau ketik 3 untuk Sultan Dubai!"
Lomba pun dimulai. Daren menggunakan perlengkapan climbing profesionalnya. Koko Sen memanjat dengan gaya preman pasar yang kasar namun cepat. Sedangkan Harun Dubai... ia mencoba memanjat sambil tetap memegang tongkat emasnya, yang tentu saja membuatnya hampir jatuh di meter ketiga.
"Ayo Daren! Jangan mau kalah sama paku!" teriak Jerry dari bawah sambil memegang perutnya yang makin melilit.
Di tengah pemanjatan, Koko Sen berteriak, "Aduh! Semutnya gigit ke dalam celana!"
Harun Dubai juga berteriak, "Sorbanku nyangkut di dahan!"
Daren, berkat helm dan sarung tangan anti-selipnya, memimpin di depan. Namun, saat ia hampir mencapai puncak, ia melihat Jamila memberikan kode rahasia. Rupanya, di atas sana ada sarang semut rangrang raksasa yang sudah disiapkan Jamila sebagai ujian akhir.
Tiba-tiba, dahan yang dipanjat Koko Sen mulai bergoyang hebat.
"Tolong! Dahannya mau patah!" Koko Sen bergelantungan dengan kaki meronta-ronta.
Di bawahnya, Harun Dubai juga ikut panik karena posisinya tepat di bawah bokong Koko Sen.
Daren, alih-alih terus memanjat ke puncak untuk menang, justru berhenti. Ia melihat ke arah Koko Sen yang hampir jatuh. Jiwa kemanusiaan Jermannya bangkit. Ia mengunci tali pengamannya, lalu berayun ke arah Koko Sen.
"Pegang tanganku, Tuan Paku!" teriak Daren.
Dengan teknik penyelamatan Alpen yang mumpuni, Daren berhasil menarik Koko Sen dan mengaitkannya ke tali pengaman cadangan.
Mereka bertiga akhirnya turun perlahan-lahan ke bawah dengan selamat, sementara sorban Harun Dubai tertinggal di atas pohon sebagai kenang-kenangan bagi para semut.
Begitu sampai di tanah, Koko Sen dan Harun Dubai terengah-engah. Mereka menatap Daren dengan pandangan yang berbeda.
"Kau... kau menyelamatkanku," ujar Koko Sen sambil mengatur napas.
"Padahal kau bisa saja menang."
Daren tersenyum tipis sambil mengusap keringat.
"Di Jerman, kami diajarkan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Dan Jamila bukan piala yang bisa diperebutkan dengan cara jatuh dari pohon."
Jamila menghampiri mereka, mematikan live streaming-nya yang baru saja pecah rekor penonton.
"Nah, gitu dong! Kan enak kalau akur. Daren dapet poin hero, Koko Sen dapet pengalaman nyaris mati, dan Harun... nanti sorbannya gue ambil pake galah ya."
Jerry tiba-tiba maju ke depan, wajahnya sudah pucat pasi. "Daren... aku tidak bisa menahan ini lagi. Di mana toilet paling modern di kebun ini?"
Kayla menunjuk ke arah semak-semak di belakang.
"Cuma ada jamban empang, Mas Jerry! Harus jongkok sambil pegangan bambu!"
Jerry terbelalak.
"Oh mein Gott! Kayla, temani aku... eh maksudku, jagakan pintunya!"
Kayla mengangguk, antara mau dan nggak.
Malam itu, Sukamaju saksi bisu perdamaian sementara. Daren berhasil memenangkan hati warga (dan pengikut Jamila) bukan dengan uang, tapi dengan nyali dan perlengkapan outdoor yang mahal.
Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai, karena Koko Sen diam-diam sudah merencanakan
Malam Karaoke Berdarah untuk menantang suara Daren besok malam.
Apakah Daren yang terbiasa mendengarkan musik klasik Berlin bisa bersaing dengan suara emas Koko Sen di panggung dangdut Sukamaju?
Bersambung