NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiket Satu Arah di Stasiun Mati

Mereka berjalan menyusuri rel mati yang separuh terkubur tanah dan ilalang. Rel ini dulunya adalah jalur lori pengangkut tebu yang menghubungkan Pabrik Gula Madukismo dengan stasiun-stasiun kecil di selatan Yogyakarta. Kini, besi-besi tuanya sudah berkarat, melengkung dimakan usia dan akar pohon beringin liar.

Di atas kepala mereka, langit semakin gelap bukan karena malam, tapi karena kumpulan ubur-ubur terbang yang semakin padat. Makhluk-makhluk transparan itu melayang tanpa suara, tentakelnya yang panjang menjuntai ke bawah seperti benang layang-layang yang putus, mencari mangsa. Sesekali, terdengar suara zzt-zzt pelan saat tentakel itu menyengat tiang listrik atau atap seng rumah warga.

"Jangan melihat ke atas," bisik Pangeran Suryo. Ia berjalan pincang, tangan kirinya yang mulai membatu disembunyikan di balik sisa surjan-nya. "Mereka tertarik pada gerakan mata yang panik."

Sekar mengangguk, fokus menatap bantalan rel kayu yang lapuk. "Kita mau naik kereta apa di sini, Gusti? Relnya saja sudah putus-putus begini."

"Rel fisik memang putus," jawab Pangeran Suryo, napasnya terdengar berat. "Tapi memori jalurnya masih utuh. Kereta yang akan kita tumpangi tidak berjalan di atas besi, tapi di atas ingatan."

Mereka sampai di sebuah bangunan bekas stasiun kecil yang atapnya sudah rubuh. Dindingnya penuh coretan vandalisme dan lumut. Di peron yang retak-retak, Pangeran Suryo berhenti. Ia duduk di bangku beton tua, menyeka keringat dingin di dahinya. Wajah kirinya yang menjadi karang terlihat semakin abu-abu dan retak-retak.

"Gusti butuh istirahat?" tanya Sekar khawatir.

"Tidak ada waktu," tolak Pangeran. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sekeping koin tua. Koin gobog bolong tengah dari zaman Majapahit. "Sekar, pergilah ke loket itu. Ketuk kacanya tiga kali. Lalu taruh koin ini di sana. Bilang kamu mau ke Stasiun Palbapang, tapi lewat jalur Gaib."

Sekar menerima koin itu. Ia melihat ke arah loket yang dimaksud. Jendelanya sudah pecah, di dalamnya hanya ada sarang laba-laba dan tumpukan sampah plastik.

"Serius, Gusti?"

Pangeran Suryo menatapnya tajam dengan satu mata manusianya. "Lakukan."

Sekar menelan ludah. Ia berjalan mendekati loket kosong itu. Tangannya gemetar saat mengetuk sisa kaca jendela yang tajam.

Tok. Tok. Tok.

Hening. Hanya suara angin yang mendesis.

Sekar meletakkan koin gobog itu di meja loket yang berdebu.

"S-saya mau beli tiket," ucapnya ragu. "Ke... Palbapang. Lewat jalur... jalur Gaib."

Tiba-tiba, udara di sekitar stasiun itu menjadi sangat dingin. Bau karat besi dan oli bekas menyeruak, menggantikan bau amis uap garam yang menyesakkan.

Dari dalam kegelapan ruang loket yang kosong, sebuah tangan kurus pucat dengan seragam petugas kereta api zaman Belanda (lengkap dengan topi pet) terulur keluar. Tangan itu mengambil koin gobog tersebut dengan gerakan kaku.

Cling.

Koin itu hilang. Sebagai gantinya, tangan pucat itu meletakkan dua lembar tiket yang terbuat dari daun jati kering yang dicap dengan stempel merah darah.

"Terima kasih..." cicit Sekar, menyambar tiket itu dan buru-buru mundur.

WUUUUUUUUUUUT!

Suara peluit kereta uap terdengar nyaring memecah kesunyian, membuat burung-burung gagak di pohon beringin beterbangan. Tanah bergetar.

Dari arah selatan, di atas rel yang seharusnya sudah mati itu, muncul asap hitam pekat. Sebuah lokomotif uap kuno berwarna hitam legam dengan aksen merah melaju kencang tanpa suara roda. Kereta itu tidak menapak tanah, melainkan melayang satu jengkal di atas rel.

Di bagian depan lokomotif, bukannya lampu sorot, melainkan sebuah tengkorak kerbau yang matanya menyala merah.

"Kereta Penjemput Arwah," gumam Pangeran Suryo sambil berdiri susah payah. "Dulu dipakai untuk mengangkut mayat pekerja paksa (romusha). Sekarang, dia melayani siapa saja yang berani membayar dengan koin pusaka."

Kereta itu berhenti tepat di depan mereka. Pintu gerbong penumpangnya terbuka sendiri dengan suara engsel yang menjerit. Di dalam gerbong, tidak ada kursi. Hanya ada tikar-tikar pandan yang digelar di lantai, dan... penumpang lain.

Sekar merinding. Penumpang kereta itu bukan manusia. Mereka adalah sosok-sosok transparan dengan pakaian lusuh zaman dulu—petani, pedagang pasar, tentara pejuang dengan baju berdarah. Mereka duduk diam, menatap kosong ke depan. Wajah mereka pucat, tanpa ekspresi.

"Masuk, Sekar. Jangan tatap mata mereka," perintah Pangeran Suryo. Ia mendorong punggung Sekar pelan.

Mereka naik ke gerbong paling belakang yang agak kosong. Begitu kaki mereka menyentuh lantai kayu gerbong, pintu tertutup banting.

WUUUT! WUUUT!

Kereta hantu itu mulai bergerak. Awalnya pelan, lalu makin lama makin cepat. Pemandangan di luar jendela—sawah yang tertutup abu, rumah-rumah kosong—berlalu dengan kecepatan yang tidak wajar.

"Kita aman di sini?" tanya Sekar, duduk merapat ke dinding gerbong, berusaha menjauh dari sosok hantu wanita yang sedang menyusui bayi tak kasat mata di pojok.

"Relatif," jawab Pangeran. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata. "Kereta ini bergerak di dimensi liminal. Ubur-ubur di langit sana tidak bisa melihat kita. Tapi..."

Pangeran meringis, memegangi lengan kirinya yang membatu. "Efek sampingnya... perjalanan ini memakan energi hidup. Untuk kamu yang sehat, mungkin cuma terasa lemas. Tapi untuk saya..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Sekar melihat retakan di wajah batu Pangeran semakin melebar.

"Gusti harus bertahan," kata Sekar tegas. "Jangan mati jadi batu di kereta hantu. Itu akhir yang nggak keren buat seorang Pangeran."

Pangeran tersenyum tipis. "Kamu mulai cerewet seperti Eyangmu."

Tiba-tiba, kereta mengerem mendadak. Penumpang hantu di gerbong itu tidak bergerak sama sekali, seolah mereka dipaku ke lantai, tapi Sekar dan Pangeran terlempar ke depan.

"Kenapa berhenti?" tanya Sekar panik.

Pangeran Suryo mengintip keluar jendela yang kusam. Matanya membelalak.

"Sial," umpatnya. Kata kasar yang jarang keluar dari mulut seorang bangsawan.

Di depan sana, rel kereta itu terhalang. Bukan oleh palang pintu atau pohon tumbang.

Rel itu terhalang oleh sebuah jaring raksasa yang terbuat dari lendir bercahaya. Dan di tengah jaring itu, menghalangi jalur kereta, mengambang seekor ubur-ubur yang ukurannya sebesar rumah joglo.

Ubur-ubur itu berbeda dari yang lain. Di dalam kepalanya yang transparan, terlihat sebuah otak manusia yang berdenyut-denyut.

"Itu Portuguese Man o' War," desis Pangeran. "Bukan ubur-ubur biasa. Itu koloni. Dan dia punya kesadaran."

Tentakel ubur-ubur raksasa itu membelit lokomotif uap hantu. Lokomotif itu menjerit—suara jeritan mesin yang bercampur dengan jeritan arwah—mencoba menembus blokade, tapi jaring lendir itu terlalu kuat.

Kereta hantu itu mulai terangkat ke udara.

"Kita ketahuan," kata Pangeran Suryo, menghunus sisa keris patahnya. "Dimensi liminal pun sudah mereka tembus."

Atap gerbong mulai melepuh terkena tetesan lendir asam dari atas. Para penumpang hantu mulai gelisah, mereka mendesis marah karena perjalanan mereka menuju alam baka terganggu.

"Sekar," panggil Pangeran. "Kamu bawa kuncinya?"

"Bawa, Gusti."

"Lari ke lokomotif depan. Bakar kunci itu di tungku mesin."

"Apa?!" Sekar melotot. "Kunci ini buat buka gudang senjata! Kalau dibakar..."

"Kunci itu terbuat dari tulang rusuk Raksasa," potong Pangeran. "Kalau dibakar di api arwah mesin uap ini, dia akan melepaskan ledakan energi moksa. Itu satu-satunya cara membuat kereta ini melompat, bukan cuma lari."

"Melompat ke mana?"

"Langsung ke perut Merapi."

Sekar ragu. Membakar satu-satunya harapan mereka?

Atap gerbong robek. Sebuah tentakel biru masuk, menyambar hantu wanita di pojok. Hantu itu menjerit lalu tersedot masuk ke dalam tentakel, diserap menjadi energi murni.

Ubur-ubur itu memakan arwah.

"CEPAT SEKAR!" teriak Pangeran, menahan tentakel lain yang mencoba masuk dengan sabetan kerisnya. Sabetan itu memotong tentakel, tapi tentakel itu tumbuh lagi dalam hitungan detik.

Sekar tidak punya pilihan. Ia berlari menerobos gerbong-gerbong di depan. Ia melewati barisan hantu prajurit tanpa kepala, hantu pedagang yang membawa keranjang busuk, terus berlari menuju lokomotif.

Panas di lokomotif itu luar biasa. Masinisnya—sosok tinggi besar hitam legam dengan mata api—sedang menyekop bara api ke dalam tungku.

Sekar berdiri di depan tungku yang menganga. Api di dalamnya berwarna hijau.

"Maafkan saya, Gusti Ratu," bisik Sekar. "Kalau kunci ini hangus, saya ganti pakai tulang saya sendiri nanti."

Ia melempar kunci tulang itu ke dalam api hijau.

WUUUUUUSSSHHHH!

Tidak ada ledakan api. Yang ada adalah ledakan kecepatan.

Kunci tulang itu tidak hangus, tapi bersinar putih menyilaukan, lalu menyatu dengan api hijau. Lokomotif itu meraung. Roda-rodanya berputar begitu cepat hingga menjadi kabur.

Kereta hantu itu tiba-tiba menjadi transparan, lalu berubah menjadi seberkas cahaya putih.

Cahaya itu menembus jaring lendir ubur-ubur raksasa itu dengan mudah, merobek tubuh monster itu hingga hancur berantakan.

Kereta itu melesat meninggalkan rel, terbang menembus bukit, menembus hutan, menembus tanah, langsung menuju jantung gunung berapi di utara.

Sekar terlempar ke belakang oleh G-force yang tak masuk akal. Pandangannya menjadi putih semua.

Hal terakhir yang ia dengar sebelum pingsan adalah suara Pangeran Suryo yang tertawa—tawa lepas tanpa beban, tawa seorang ksatria yang menikmati pertaruhan nyawa terakhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!