NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 "Pantai"

“Maksudnya?”

Suara Cherrin nyaris tenggelam oleh dengung mesin mobil yang masih menyala. Ia tidak berani menoleh sepenuhnya, takut melihat sesuatu di wajah Zivaniel yang belum siap ia terima.

Zivaniel tidak langsung menjawab.

Ia mematikan mesin.

Sunyi jatuh begitu saja, tebal, seperti kabut yang sengaja dibiarkan turun di antara mereka. Tidak ada klakson, tidak ada suara anak sekolah lagi. Jalan kecil itu sepi—hanya deretan pohon dan aspal yang mulai menghangat oleh sore.

“Kamu pernah ngerasa…” Zivaniel akhirnya bicara, suaranya lebih rendah dari biasanya, “…ada orang yang masuk tanpa izin, tapi juga tanpa niat?”

Cherrin menoleh sekarang. Pelan.

“Itu kontradiktif,” katanya.

“Iya.”

“Terus?”

Zivaniel menatap ke depan, bukan ke arah Cherrin. Tangannya masih di setir, jari-jarinya diam, tidak tegang, tapi juga tidak santai.

“Kamu datang ke hidup aku bukan buat nyari tahu siapa aku,” lanjutnya. “Kamu datang karena kamu ada. Dan aku… kebetulan ada juga.”

Cherrin menelan ludah.

“Kebetulan yang terlalu sering,” gumamnya.

Zivaniel tersenyum tipis. “Mungkin.”

Ia menyalakan mesin lagi, lalu memutar setir. Mobil kembali bergerak, kali ini meninggalkan kawasan sekolah sepenuhnya. Jalanan mulai melebar, bangunan berganti dengan pepohonan dan toko-toko kecil yang berderet malas.

“Kita ke mana?” tanya Cherrin.

Zivaniel melirik sekilas. “Ke tempat yang nggak banyak orang.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban aku.”

Cherrin mendengus kecil, tapi tidak membantah. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap keluar jendela. Angin sore menyusup lewat celah kaca yang sedikit terbuka, membawa bau aspal dan debu—dan entah kenapa, membuat pikirannya sedikit lebih ringan.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Tidak canggung.

Hanya penuh.

Seperti dua orang yang sama-sama tahu, kalau berbicara terlalu cepat justru akan merusak sesuatu.

“Niel,” Cherrin akhirnya bicara.

“Hm?”

“Kamu selalu kayak gini ke semua orang?”

“Kayak gimana?”

“Diam tapi perhatian?”

Zivaniel terkekeh pelan. “Enggak.”

“Terus ke siapa?”

“Kamu.”

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu jujur.

Cherrin memejamkan mata sebentar. “Itu nggak sehat.”

“Mungkin.”

“Kamu nggak takut salah paham?”

"Buat apa aku takut?”

Cherrin membuka mata. Kali ini ia menatap Zivaniel lama, mencoba membaca sesuatu di wajah datar itu. Tapi seperti biasa, Zivaniel tidak memberi banyak celah. Ia bukan tembok—lebih seperti danau dalam, tenang di permukaan, tapi gelap di bawah.

Mobil keluar dari jalan utama, masuk ke jalur yang lebih sepi. Aspal mulai tidak terlalu halus, pepohonan makin rapat. Udara berubah—lebih lembap, lebih asin.

Cherrin menyadarinya lebih dulu dari hidungnya.

“Kita ke pantai?” tanyanya.

Zivaniel mengangguk. “Iya.”

“Kenapa pantai?”

“Karena di sana orang biasanya berhenti mikir.”

“Dan kamu?”

“Aku jarang.”

Cherrin tersenyum kecil. “Pantes.”

"Ganti bajunya, aku ada bawa baju buat kamu!" Ucap Zivaniel santai membuat mata Cherrin terbelalak.

"Kamu ambil–"

Zivaniel meliriknya. "Kenapa? Aku udah biasa keluar masuk kamar kamu. Bahkan aku sering tidur di samping kamu" jawaban polos itu terlalu frontal, membuat pipi Cherrin bersemu merah.

Sial! Zivaniel ini nggak tau malu apa?

Matahari mulai condong ke barat ketika mereka tiba. Bukan pantai ramai dengan payung warna-warni dan pedagang es krim. Ini pantai yang lebih sepi, dengan pasir yang tidak terlalu putih, tapi bersih. Ombaknya tenang, bergulung malas seolah juga tidak sedang terburu-buru.

Zivaniel memarkir mobil agak jauh dari bibir pantai.

“Kita turun?” tanya Cherrin.

“Iya.”

Mereka keluar dari mobil. Yang pastinya Cherrin dan Zivaniel sudah berganti pakaian, ets mereka gantian ya, pertama Zivaniel dulu, baru Cherrin.

Angin laut langsung menyapa, mengacak rambut Cherrin yang sejak tadi terikat seadanya. Ia refleks merapikannya, lalu tertawa kecil ketika angin kembali mengacaukannya.

Zivaniel memperhatikan itu tanpa komentar.

Mereka berjalan menyusuri pasir. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh. Jarak yang aneh—cukup untuk tidak bersentuhan, tapi cukup dekat untuk saling menyadari.

“Aku jarang ke pantai,” kata Cherrin.

“Kenapa?”

“Ribet. Panas. Berisik.”

“Ini nggak.”

“Iya,” Cherrin mengangguk. “Ini beda.”

Mereka berhenti di satu titik, agak jauh dari air. Zivaniel melepas sepatunya, lalu duduk di pasir tanpa ragu. Cherrin sempat ragu, tapi akhirnya ikut duduk, meski lebih hati-hati.

Pasir masih hangat.

Langit mulai berubah warna—biru memudar, digantikan semburat oranye dan merah muda yang samar.

“Kamu marah sama Zella?” tanya Zivaniel tiba-tiba.

Cherrin menggeleng. “Enggak.”

“Kesal?”

“Mungkin.”

“Cemburu?”

Cherrin menoleh tajam. “Kamu keterlaluan.”

Zivaniel tersenyum kecil. “Berarti iya.”

“Berarti kamu sok tahu.”

“Berarti aku bener.”

Cherrin mendengus, lalu menatap laut. “Aku nggak punya hak buat cemburu.”

Zivaniel mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Tapi?”

“Tapi perasaan nggak selalu minta izin.”

Cherrin terdiam.

“Dan aku nggak mau kamu mikir kamu sendirian di situ,” lanjut Zivaniel.

“Di mana?”

“Di kepala kamu.”

Angin berhembus lebih kencang. Suara ombak jadi latar yang konstan.

“Kamu ini bahaya,” kata Cherrin pelan.

“Kenapa?”

“Karena kamu bilang hal-hal yang bikin orang mikir kamu peduli.”

Zivaniel menoleh. Tatapannya kali ini tidak menghindar.

“Aku peduli tapi cuman sama kamu.”

Kalimat itu jatuh tanpa tekanan. Tidak dramatis. Tidak dibuat-buat.

“Sejak kapan?” tanya Cherrin.

Zivaniel berpikir sebentar. “Sejak kamu ada di kehidupan aku."

“Itu cuma sebuah kebetulan. Andai nenek tidak membawa aku datang ke Mension, mungkin kamu nggak akan pernah peduli sama aku."

“Enggak juga.”

“Kamu sok tahu karena kita nggak mungkin pernah ketemu.”

“Pasti ketemu.”

“Caranya gimana?”

“Pasti.” jawab Zivaniel. "Kalau jodoh nggak akan kemana!" Batin Zivaniel, tidak berani mengutarakannya.

Cherrin terbahak-bahak. "Nggak mungkin lah Niel. Kalau nenek nggak bawa aku ke keluarga kamu, pasti kita nggak akan pernah ketemu."

Zivaniel menoleh, menatap Cherrin lekat. Membuat gadis itu gelagapan. "Kamu–"

"Aku yakin, sekalipun nenek nggak bawa kamu ke keluarga aku, pasti kita akan tetap ketemu."

Deg

Cherrin tercekat.

Ia ingat detik itu. Cara tubuhnya bergerak bahkan sebelum otaknya sempat memutuskan. Cara jantungnya bereaksi duluan.

“Itu nggak berarti apa-apa,” katanya, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

“Mungkin.”

“Tapi kamu nggak boleh narik kesimpulan.”

“Aku nggak narik,” Zivaniel mendekat sedikit. “Aku cuma berdiri di situ.”

“Di mana?”

“Di samping kamu.”

Jarak mereka kini lebih dekat. Lengan mereka hampir bersentuhan.

“Niel…”

“Hm?”

“Kamu bikin baper.”

Zivaniel mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan kamu nggak kelihatan nyesel.”

“Karena memang tugas aku”

Cherrin tertawa kecil, getir. “Aku kesel deh sama kamu”

“Terserah kamu.”

“Tapi aku malah…”

“Tenang?”

Cherrin terdiam. Lalu mengangguk pelan.

“Iya,” katanya akhirnya. “Aneh, tapi iya.”

Zivaniel tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap laut lagi, membiarkan angin menyelesaikan kalimat yang tidak perlu diucapkan.

"Niel..."

"Hmm?"

Cherrin melemparkan pasir ke arahnya sambil terkekeh, ia langsung bisa melihat wajah keterkejutan pemuda itu.

Cherrin berlari, membuat Zivaniel mendengus dan langsung mengejarnya.

"Tangkap kalau bisa... Wleee." Cherrin meledek.

Satu sudut Zivaniel tertarik ke atas. "Oh kamu nantangin aku, hmm?"

Cherrin mengedipkan sebelah matanya. "Coba aja tangkap kalau bisa." Teriak Cherrin.

Zivaniel berlari, ia menggapai tubuh mungil Cherrin dan menyentak ke arahnya,

Cherrin terkesiap. "Yah curang... Langkah kamu lebar banget." Kata Cherrin kesal.

Zivaniel masih memeluk pinggangnya. "Nggak ada yang curang Cherrin."

"Ck. Oiya, foto yuk.."

Alis Zivaniel terangkat. "Males!"

Cherrin cemberut, "Foto kenapa? Udah sampai pantai juga. Kamu juga yang ngajakin aku..." Kata Cherrin merayunya.

Zivaniel menghela nafasnya. "Aku nggak suka foto." Sahutnya datar.

Cherrin mencibir. "Ayolah, satu aja. Di sana!! Di bawah pohon sana." Tunjuk Cherrin ceria, menarik tangan Zivaniel paksa.

"Ayo Niel.. Eh ada mas-mas fotografer. Kebetulan banget, fotokan kami ya..." Kata Cherrin pada seorang pria yang memegang kamera. Pria itu baru saja menyelesaikan acara pemotretan seorang artis di pantai itu. Beberapa cru sudah pulang, hanya tinggal ia seorang.

Pria itu tersentak menunjuk dirinya. "Saya?"

"Iya dong. Mas-nya foto kami." Kata Cherrin ceria "Mumpung timingnya pas banget ini."

Pria itu menggelengkan kepalanya. "Mbak, saya bukan fotografer pinggir jalan. Saya ini sekelas artis papan atas. Jadi maaf saja." Tolaknya membuat Cherrin menekuk bibirnya ke bawah.

"Yaaah. Nggak bisa ya."

"Iya mbak nggak bisa."

Zivaniel yang melihat itu jadi kasihan, ia langsung berjalan ke arah pria itu. Ia berbisik lirih, entah apa yang di katakannya, sampai membuat pria itu mau memotret keduanya.

"Yeeee, beneran boleh?"

"I-iya mbak." katanya sambil melirik takut ke arah Zivaniel.

Cherrin sudah kesenangan, ia dan Zivaniel di arahkan pose yang bagus.

Cekrek

"Ini mbak."

"Wah bagus banget..." Cherrin memekik bahagia saat melihat gambar yang baru saja di ambil, itu sangat bagus. Dan Zivaniel meliriknya.

"Mas-nya kirim ya."

"Oke siap."

Cherrin berseru senang ia bahkan tersenyum lebar, membuat Zivaniel tersenyum tipis melihat gadis itu bahagia. Ia juga ikut senang jika Cherrin senang.

Matahari perlahan tenggelam.

Langit berubah lebih gelap, warna oranye digantikan biru tua. Lampu-lampu kecil dari kejauhan mulai menyala samar. Dan fotografer tadi sudah pergi. Kini tinggallah mereka berdua, dengan suara deburan ombak yang menggulung indah. P

“Kita pulang nanti aja,” kata Zivaniel.

“Nanti kapan?”

“Pas kamu siap.”

Cherrin menoleh. “Siap apa?”

“Siap ninggalin tempat ini.”

Cherrin memeluk lututnya, menatap ombak yang memantulkan cahaya sisa senja.

“Kalau aku bilang aku belum siap?” tanyanya pelan.

Zivaniel tersenyum kecil.

“Berarti kita duduk lebih lama.”

"Kamu serius?"

Zivaniel menganggukkan kepalanya.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!