NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Baskara dengan wajah tegang dan penuh amarah segera mendobrak pintu kamar mandi.

Ia menemukan tubuh Swari sudah luruh di lantai, wajahnya membiru karena sesak napas akibat reaksi alergi kacang yang hebat, ditambah tekanan dari rasa sakit di dadanya yang ia sembunyikan sejak tadi.

"Gandi! Siapkan mobil! Sekarang!" teriak Baskara menggelegar di seluruh lorong vila.

Tanpa mempedulikan jas mahalnya yang kini kusut, ia membopong Swari dengan sangat hati-hati namun cepat. Di meja makan, suasana menjadi kacau.

Ratri berteriak panik saat menyadari saus tersebut mengandung minyak kacang, sementara Nyonya Widya hanya bisa terpaku melihat putranya yang tampak begitu kalut.

Sambil berjalan cepat menuju pelataran vila, Baskara memberikan instruksi tegas.

"Yudha! Jaga anak-anak dan pastikan mereka tidak melihat kondisi ibunya! Mbak Ratri, Mas Navy, tolong ikut di mobil belakang!"

Di dalam mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit terdekat di kawasan Puncak, Baskara terus mendekap kepala Swari.

Ia menekan titik di leher Swari, mencoba memastikan denyut nadinya masih ada.

"Bertahanlah, Swari. Jangan berani-berani pergi sebelum aku menjelaskan semuanya padamu," bisik Baskara parau di telinga Swari yang dingin.

Setibanya di Rumah Sakit, tim medis langsung menyambut mereka di depan IGD.

Baskara tidak membiarkan satu orang pun menghalangi jalannya sampai Swari diletakkan di atas brankar.

Beberapa menit kemudian dokter keluar dan ia mengajak Baskara masuk ke dalam ruang UGD

Baskara melangkah masuk ke dalam ruang UGD yang pengap oleh bau antiseptik.

Di balik tirai hijau, Swari terbaring lemah dengan masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya.

Napasnya masih terdengar berat, namun warnanya yang membiru perlahan mulai memudar.

Dokter Ramlan, kepala medis rumah sakit tersebut, menatap Baskara dengan raut wajah yang sangat serius.

Ia memberikan isyarat agar Baskara mendekat ke sisi ranjang, lalu perlahan menyingkap sebagian gaun sutra champagne yang dikenakan Swari di bagian dada kiri.

Baskara langsung terkejut saat melihat sebuah benjolan besar yang meradang, berwarna merah keunguan dan terasa panas bahkan hanya dengan melihatnya.

"Ada apa ini, Dok? Bukankah ini hanya reaksi alergi?" tanya Baskara dengan suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Alergi kacang tadi memang memperburuk keadaan karena membuat jantungnya bekerja ekstra keras," jelas Dokter Ramlan sambil menunjuk area yang bengkak.

"Tapi ini jauh lebih serius, Tuan Baskara. Ini bukan sekadar memar. Dari pemeriksaan fisik awal, saya mencurigai ini adalah abses payudara atau tumor yang sudah mengalami infeksi akut."

Baskara mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.

"Bagaimana mungkin dia bisa menyembunyikan rasa sakit seperti ini?"

"Nona Swari kemungkinan besar sudah menahan nyeri ini selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Benjolan ini sudah pecah di dalam jaringan, menyebabkan peradangan hebat. Itulah mengapa dia terus mengalami serangan panik dan sesak napas. Sebenarnya tubuhnya sedang melawan infeksi yang menyebar ke seluruh sistemnya," tambah dokter itu.

Baskara terdiam dan ia teringat kembali setiap kali Swari memegang dadanya dengan wajahnya pucat pasi, dan ia justru mengira itu hanya karena trauma psikologis. Rasa bersalah menghantam Baskara seperti palu godam. Pria itu mendekat, lalu dengan jemari yang gemetar, ia menyentuh dahi Swari yang berkeringat dingin.

"Dia harus segera dioperasi?" tanya Baskara rendah.

"Kita harus melakukan biopsi dan drainase segera untuk mengeluarkan cairan infeksinya dan memastikan apakah ini tumor ganas atau bukan. Jika terlambat, infeksi ini bisa menyebabkan sepsis," jawab Dokter Ramlan.

Baskara menganggukkan kepalanya dan meminta Dokter Ramlan melakukan yang terbaik untuk Swari.

Tepat saat itu, tirai UGD tersibak. Navy dan Ratri masuk dengan wajah panik.

"Bagaimana keadaan Swari, Tuan Baskara?" tanya Navy tegas.

Baskara berbalik, matanya menatap Navy dengan dingin namun sarat akan luka.

"Mas Navy, Anda bilang Anda menjaga adik Anda. Tapi kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang tahu kalau dia sedang sekarat karena penyakit di dadanya?"

Ratri menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika.

"Penyakit? Swari hanya bilang dia sering sesak karena trauma dan dia tidak pernah bilang soal luka..."

"Dia menyembunyikannya dari kita semua," potong Baskara.

Ratri menutup mulutnya sambil menangis sesenggukan.

Dokter kembali memanggil Baskara agar masuk ke ruang UGD.

"Pasien mengalami trauma dan kamu harus melakukan operasi."

Ia kembali menatap Swari yang mulai merintih dalam ketidaksadarannya.

"Dokter, lakukan apa pun. Pindahkan dia ke ruang operasi terbaik di Jakarta jika perlu. Gunakan helikopter saya jika perjalanan darat terlalu berisiko."

"Kita akan lakukan penanganan darurat di sini dulu untuk menstabilkan kondisinya, Tuan," ucap dokter sebelum bergegas menyiapkan semuanya dan perawat membawa Swari ke ruang operasi

Baskara mencium kening Swari sebelum masuk ke ruang operasi.

Setelah itu ia duduk di depan ruang operasi sambil memejamkan matanya.

Ia tidak menyangka sama sekali jika Swari harus dioperasi.

Lampu merah bertuliskan "OPERASI" menyala, menciptakan bayangan kemerahan yang kaku di wajah Baskara.

Pria itu duduk dengan punggung tegak, namun kedua tangannya tertaut erat di depan mulut, menyembunyikan getaran yang tak sanggup ia redam.

"Sebenarnya ada trauma apa dia, Mbak? Mas? Tolong cerita ke aku sekarang. Jangan biarkan aku menjaga wanita yang bahkan tidak membiarkanku menyentuh luka batinnya."

Navy menggelengkan kepalanya ke arah Ratri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, matanya menatap langit-langit dengan hampa.

Sementara itu Ratri terisak di samping suaminya, meremas tisu yang sudah hancur.

Ratri menarik napas panjang, mencoba mencari kekuatan di tengah isak tangisnya.

"Enam tahun lalu, Bas. Swari bukan seperti ini. Enam tahun lalu suaminya Pradutha meninggal dunia dan saat kami ke mushola untuk tahlilan Pradutha. Swari diperkosa di rumahnya sendiri. Iblis itu mengikat tangan. Menyumpal mulut dan menutup mata Swari."

Rani menghapus air matanya dan kembali bercerita kepada Baskara.

"Dua jam kemudian kami pulang dan menemukan Swari dengan kondisi yang mengenaskan. Sampai tengah malam di saat aku dan mas navy tidur. Ia pergi dari rumah.

Bayangan baskara langsung menuju ke jembatan enam tahun yang lalu.

"Kami kehilangannya sampai enam tahun. Dan ia datang lagi membawa Alex dan Alexandria."

Mendengar cerita Ratri, dunia Baskara seolah berhenti berputar.

Udara di lorong rumah sakit itu mendadak terasa tipis dan mencekik.

Setiap kata yang meluncur dari bibir Ratri—diikat, disumpal, mata ditutup—adalah kepingan puzzle yang selama enam tahun ini menghantuinya, namun kini kepingan itu menyatu dengan kenyataan yang mengerikan.

Baskara mematung dengan wajahnya yang semula keras karena amarah, perlahan berubah menjadi pucat pasi. Tangannya yang tertaut kini gemetar hebat.

"Aroma melati dan bendera putih itu..." gumam Baskara.

Pikiran Baskara terseret kembali ke malam terkutuk itu.

Sore di mana ia kehilangan kendali karena obat perangsang dan di mana ia masuk ke sebuah rumah yang sedang berduka.

Di sore ia menyerang seorang wanita dalam kegelapan.

Ia ingat bagaimana ia merobek sprei, bagaimana ia tidak bisa melihat wajah wanita itu karena lampu yang padam dan pandangannya yang kabur.

"Iblis itu adalah aku," bisik Baskara dengan suara yang hampir tidak keluar. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam.

Navy yang melihat perubahan drastis pada raut wajah Baskara mulai merasa curiga.

"Ada apa, Tuan Baskara? Wajah Anda terlihat seperti baru melihat hantu."

Ia tidak bisa menjawab dan lidahnya terasa kelu. Kebenaran ini terlalu besar, terlalu kotor, dan terlalu menyakitkan.

Jika Swari tahu bahwa pria yang kini memaksanya menikah adalah pria yang sama yang telah membunuh jiwanya enam tahun lalu, ia yakin Swari akan memilih mati di meja operasi itu sekarang juga.

Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka dengan sentakan keras. Dokter Ramlan keluar dengan baju operasi yang ternoda darah.

"Tuan Baskara! Keluarga!" panggil Dokter dengan nada mendesak.

Baskara, Navy, dan Ratri langsung menghambur mendekat.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Navy cepat.

Dokter Ramlan mengusap pelipisnya yang berkeringat.

"Kami berhasil melakukan drainase pada infeksinya. Namun, dugaan kami benar. Ada massa jaringan yang mencurigakan di bawah infeksi tersebut. Kami sudah mengambil sampel untuk biopsi, tapi kondisi Nona Swari kritis. Tekanan darahnya turun drastis dan dia mengalami gagal napas saat prosedur tadi."

"Lakukan sesuatu!" bentak Baskara, ia mencengkeram kerah baju dokter itu dengan mata yang memerah karena air mata yang mulai tumpah.

"Jangan biarkan dia mati! Jangan sekarang!"

"Tenang, Tuan! Kami sedang berusaha menstabilkan kondisinya kembali." ucap dokter yang kemudian kembali masuk ke ruang operasi.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!