NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Malam terasa lebih sunyi setelah mobil Kenzo benar-benar menghilang dari halaman rumah.

Naya masih berdiri di ruang tengah, pikirannya belum sepenuhnya kembali.

“Nay,” panggil Reno sambil meraih remote TV.

“Kok bengong?”

“Apaan sih,” Naya mendengus, lalu duduk di sofa.

“Lo sama aja nyebelin.”

Reno melirik sekilas.

“Kenzo kebanyakan gaya. Jangan kemakan.”

Naya tidak menjawab.

Dia tahu kakaknya benar.

Tapi juga tahu… perasaannya mulai ribet.

--

Di kamar, Naya merebahkan diri menatap langit-langit.

Tangannya refleks membuka ponsel.

Kenzo:

Udah di kamar?

Naya mengerling.

Baru juga nyampe rumah.

Naya:

Iya. Kenapa?

Typing bubble muncul… hilang… muncul lagi.

Kenzo:

Jangan mikir aneh-aneh.

Tidur yang bener.

Naya mendengus kecil sambil senyum tipis.

Naya:

Sok ngatur.

Tak lama, pesan masuk lagi.

Kenzo:

Kalo gak gue atur, lo kebablasan mikirin gue.

Jantung Naya berdetak lebih cepat.

Sial. Cowok ini sadar betul efeknya.

Naya meletakkan ponsel ke dada.

“Mommy bener,” gumamnya pelan.

“Cowok tuh bahaya.”

Tapi…

kalau bahaya terasa senyaman ini, kenapa rasanya susah menjauh?

 

Di rumahnya, Kenzo berdiri di balkon kamar.

Lampu kota berpendar di kejauhan.

Tangannya memegang ponsel, tapi kali ini ia tidak mengetik.

“Kenapa harus adeknya Reno sih,” gumamnya lirih.

“Yang lain gampang. Dia… ribet.”

Kenzo tersenyum kecil.

Justru karena itu.

 

Keesokan paginya, alarm Naya berbunyi.

Ia bangun dengan mata sembab tapi hati yang… entah kenapa ringan.

Di meja makan, Mommy sudah duduk rapi.

“Hari ini pulang langsung,” ucap Mommy datar.

Naya mengangguk.

“Iya, Mommy.”

Pappi melirik Naya penuh arti, lalu tersenyum kecil.

“Nanti pappi jemput ya.”

Naya membalas senyum itu.

Setidaknya… masih ada yang mengerti.

Di luar rumah, mobil Kenzo berhenti.

Reno sudah duduk di depan.

Naya melangkah keluar.

Begitu pintu mobil terbuka—

“Pagi, Princess,” sapa Kenzo santai.

Naya langsung memalingkan wajah.

“Biasa aja kali.”

Kenzo tertawa kecil.

“Oke. Tapi tetep… cantik.”

Mobil melaju.

Dan tanpa Naya sadari, bab ini bukan tentang menghindar lagi—

tapi tentang seberapa lama dia bisa bertahan sebelum jatuh sepenuhnya

 

Di sekolah, Naya duduk di bangkunya sambil mencatat.

Mood-nya hari itu lumayan stabil—sampai seseorang berdiri di depan mejanya.

“Naya Putri Ramadhani?”

Naya mendongak.

Cowok itu tinggi, rapi, wajahnya bersih. Seragamnya disetrika licin. Bukan tipe bad boy.

Lebih ke… anak baik kesukaan guru.

“Iya. Kenapa?” Naya menjawab datar.

“Gue Arsen. Anak pindahan. Bu Tia nyuruh gue duduk di sini sementara.”

Citra langsung nengok, matanya berbinar.

“Serius? Duduk sini? Wah Nay, hoki lo.”

Arsen tersenyum kecil ke Naya.

“Boleh?”

Naya mengangguk.

“Silakan.”

Sejak hari itu, Arsen selalu ada.

Nanya pelajaran, minjem pulpen, nawarin beliin minum ke kantin.

“Nay, lo suka coklat atau matcha?”

“Nay, abis ini lo ke mana?”

“Nay, gue anter ke parkiran ya?”

Citra sampe nyenggol Naya.

“Ini mah bukan modus lagi. Dia jelas naksir.”

Naya mendengus.

“Lebay. Dia cuma baik.”

“Tuh kan denial,” Citra terkekeh.

 

Di parkiran, Kenzo baru turun dari mobilnya.

Reno di sampingnya.

Pandangan Kenzo langsung tertahan.

Arsen berdiri di depan Naya, nyerahin botol minum.

Naya nerima. Bahkan… senyum kecil.

Kenzo menyipitkan mata.

“Ren.”

“Hm?”

“Itu siapa.”

Reno ngelirik.

“Oh. Anak pindahan. Arsen. Kayaknya naksir adek gue.”

Kenzo tertawa kecil—tapi rahangnya mengeras.

“Berani juga.”

“Lo kenapa?” Reno curiga.

Kenzo membuka pintu mobil.

“Gak kenapa-napa.”

Tapi matanya masih ke arah Naya.

Sore itu, Kenzo nganter Naya pulang.

Suasana mobil beda. Lebih sunyi.

“Temen baru lo?” tanya Kenzo akhirnya.

“Hah?”

“Oh… Arsen? Iya. Anak pindahan.”

Kenzo melirik sekilas.

“Lo senyum-senyum.”

“Biasa aja,” Naya cepat membela diri.

“Dia sopan.”

Kenzo terkekeh pendek.

“Justru yang sopan biasanya bahaya.”

Naya menoleh.

“Kenapa emangnya?”

Kenzo berhenti di lampu merah.

Menatap Naya lama. Terlalu lama.

“Keliatan serius.”

Jantung Naya berdegup.

“Terus?”

Kenzo mendekat sedikit.

“Dan gue gak suka ada cowok serius ke lo.”

Naya tercekat.

“Kenzo—”

Lampu hijau menyala.

Kenzo kembali fokus nyetir.

“Tenang,” katanya ringan, tapi nadanya beda.

“Selama dia cuma suka… gue masih santai.”

Naya menelan ludah.

“Kalau nggak?”

Kenzo tersenyum miring.

“Berarti gue harus ngingetin… lo siapa.”

Di kamar malam itu, Naya menatap langit-langit.

Satu cowok baik dan aman.

Satu cowok berbahaya tapi bikin jantung kacau.

“Ini baru namanya masalah,” gumam Naya.

Dan entah kenapa…

bayangan Kenzo yang paling susah diusir.

Sejak Arsen muncul, hidup Naya pelan-pelan berubah.

“Nay, pulang bareng gue aja,” kata Arsen suatu

sore sambil berdiri di samping mejanya.

“Mobil gue parkir depan.”

Citra langsung nyengir.

“Gas lah Nay, jarang-jarang.”

Naya ragu sebentar, lalu mengangguk.

“Oke.”

Di perjalanan, Arsen nyetir tenang. Musik pelan.

Nggak banyak basa-basi, tapi selalu nanya hal kecil.

“Capek hari ini?”

“Lo udah makan?”

“Besok ada tugas apa?”

Naya nyaman.

Aman.

Nggak deg-degan, tapi… tenang.

Besoknya, Arsen makin terang-terangan.

“Nay, kerja kelompok di rumah lo aja ya?”

“Biar gampang.”

Naya mengangguk tanpa mikir panjang.

“Boleh.”

Dan di situlah masalahnya mulai.

Begitu Naya sampai rumah sore itu, mobil Kenzo sudah terparkir di depan.

“Kenzo?” Naya bergumam.

Di ruang tengah, Kenzo duduk santai sambil main ponsel, kaki selonjoran.

Reno entah ke mana.

“Nay,” sapa Kenzo ringan, matanya naik-turun menilai Naya.

“Tumben cepet.”

“Kerja kelompok,” jawab Naya singkat.

“Hmm.”

Bel berbunyi.

Arsen berdiri di depan pintu dengan tas di bahu.

“Sore, Nay.”

Kenzo bangkit perlahan.

“Oh,” katanya, datar tapi tajam.

“Ini anak pindahan itu.”

Arsen mengulurkan tangan sopan.

“Arsen. Temennya Naya.”

Kenzo menyalami.

Genggamannya sedikit lebih lama dari perlu.

“Kenzo,” jawabnya santai.

“Temen kakaknya.”

Tatapan mereka bertabrakan.

Tenang. Tapi panas.

Mereka bertiga duduk di ruang makan.

Naya di tengah—posisi paling nggak enak sedunia.

Arsen fokus buka buku.

“Nay, bagian lo yang ini ya.”

Kenzo bersandar di kursi, tangan bersedekap.

“Rajin banget,” komentarnya.

“Sekarang anak SMA kerja kelompok sampe rumah segala.”

Arsen tetap sopan.

“Biar cepat selesai.”

Kenzo tersenyum miring.

“Oh, gue ngerti.”

Naya melirik Kenzo.

“Ken.”

Kenzo menoleh ke Naya, suaranya turun.

“Gue ngingetin.”

Arsen berhenti menulis.

“Ngingetin apa?”

Kenzo menatap lurus.

“Kalau dia itu… bukan tipe cewek yang gampang.”

Jantung Naya berdebar.

“Kenzo—”

Arsen tersenyum kecil.

“Justru itu yang bikin gue hormat.”

Hening.

Kenzo tertawa pendek.

“Wah, bahaya.”

Sejak hari itu, polanya sama.

Setiap Arsen ada → Kenzo pasti muncul, biasanya kalau ada mama papanya Kenzo tidak menginap, tapi sekarang lebih sering menginap dan berkeliaran di rumah.

Entah nganter Reno, numpang nunggu, atau sekadar “lagi males di rumah”.

Dan anehnya…

Kenzo selalu lebih protektif saat Arsen ada.

“Nay, jangan kelamaan.”

“Nay, udah malam.”

“Nay, sini.”

Arsen mulai sadar.

Dan Naya?

Mulai kebingungan.

Arsen itu pilihan aman.

Kenzo itu pilihan berbahaya.

Dan malam itu, sebelum Arsen pulang…

Kenzo mendekat ke Naya, berbisik pelan.

“Lo sadar nggak?”

“Sadar apa?” Naya menelan ludah.

“Setiap dia ada,” kata Kenzo, suaranya rendah,

“gue selalu pengen narik lo balik.”

Naya terdiam.

Dadanya sesak.

“Kenzo…”

Kenzo tersenyum tipis.

“Hati-hati, Nay.”

“Cowok sabar biasanya paling niat.”

Dan itu…

yang bikin Kenzo mulai nggak santai.

Awalnya Mommy cuma memperhatikan.

“Naya,” panggilnya suatu sore saat Naya baru turun tangga.

“Itu anak cowok yang sering ke sini siapa?”

Naya berhenti.

“Temen sekolah, Mom. Namanya Arsen.”

“Temen?”

Nada Mommy datar, tapi matanya meneliti.

“Iya. Kerja kelompok.”

Mommy mengangguk kecil.

Tapi sejak hari itu, pertanyaannya mulai muncul satu-satu.

“Dia ke sini lagi?”

“Kok sering?”

“Emangnya nggak bisa kerjain di sekolah?”

Naya cuma menjawab seperlunya.

Suatu sore, Arsen baru saja pulang.

Mommy berdiri di dekat jendela, melihat mobil Arsen menjauh.

“Naya,” katanya pelan tapi tegas.

“Mommy nggak suka ada cowok bolak-balik ke rumah.”

Naya menegang.

“Mom, itu cuma temen.”

“Justru itu,” jawab Mommy dingin.

“Kamu perempuan.”

Naya menunduk.

Dadanya terasa penuh.

Saat itulah pintu depan terbuka.

“Assalamualaikum, Tante.”

Kenzo masuk dengan santai, jaket di bahu, senyum tipis khasnya.

Naya menoleh, lega tanpa sadar.

“Waalaikumsalam,” jawab Mommy.

Kenzo menatap Naya sekilas.

“Kok mukanya gitu?”

Naya menggeleng kecil.

Mommy menyilangkan tangan di dada.

“Kenzo,” katanya.

“Itu temennya Naya yang sering ke sini… Arsen. Kamu kenal?”

Kenzo mengangguk.

“Tau, Tante. Anak baik.”

Mommy menatap Kenzo lebih lama.

“Mommy nggak nyaman kalau Naya sering sama cowok.”

Kenzo melangkah mendekat, nadanya tetap santai tapi meyakinkan.

“Tante tenang aja,” katanya lembut.

“Kalau Reno nggak ada, Kenzo yang jagain Naya.”

Naya terkejut menoleh.

Jantungnya langsung berdebar.

Mommy menghela napas pelan.

“Kamu bisa jamin?”

Kenzo menatap Mommy lurus, tanpa bercanda.

“Bisa, Tante.”

Hening beberapa detik.

Mommy akhirnya mengangguk kecil.

“Ya sudah. Tapi jangan kebablasan.”

“Iya,” jawab Kenzo cepat.

Mommy masuk ke dapur.

Begitu Mommy pergi, Naya langsung menoleh ke Kenzo.

“Kenzo!”

“Ngapain lo ngomong gitu?”

Kenzo menunduk sedikit, mendekat.

Suaranya rendah.

“Karena emang gitu faktanya.”

Naya menelan ludah.

“Lo bikin gue tambah susah.”

Kenzo tersenyum miring.

“Daripada lo dijagain cowok lain.”

“Kenzo…”

“Tenang,” potongnya lembut.

“Gue cuma berdiri di depan lo.”

Tatapan mereka bertemu.

Dekat. Terlalu dekat.

Dan di lantai atas, dari balik tangga,

Mommy sempat berhenti melangkah.

Melihat mereka berdua.

Diam.

Entah kenapa…

Untuk pertama kalinya, Mommy nggak langsung marah.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

Save

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!