NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Anatomi Kehancuran

Didalam Sangkar. Tengah Malam.

Atmosfer di dalam gudang itu begitu padat oleh ketegangan hingga rasanya bisa diiris dengan pisau. Ribuan pasang mata menatap sangkar oktagon dengan napas tertahan.

Di sudut merah, The Butcher berdiri setinggi dua meter, otot-ototnya yang disuntik steroid berkedut-kedut tak sabar. Di tangannya, gada besi berduri yang berkarat oleh darah lawan-lawan sebelumnya diayunkan dengan ringan seolah itu hanyalah ranting kayu.

Di sudut biru, Jay sang pria bertopeng putih berdiri diam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Posturnya rileks, seolah ia sedang antre di halte bus, bukan berhadapan dengan monster pembunuh.

"MULAI!" Teriak wasit, lalu segera melompat keluar pagar demi keselamatannya sendiri.

"MAAATIII KAU!"

The Butcher meraung, suaranya seperti mesin giling. Ia menerjang maju, mengayunkan gada besinya secara horizontal. Serangan itu cukup kuat untuk menghancurkan dinding beton, apalagi tulang manusia.

Angin kematian berdesing. Penonton memejamkan mata, menanti suara daging yang remuk.

Namun, suara itu tidak pernah terdengar.

Di dalam sangkar, waktu seolah melambat bagi Jay. Matanya yang terlatih membedah setiap gerakan lawannya.

‘Ayunan terlalu lebar. Titik berat tubuh condong ke depan 30 derajat. Celah terbuka di rusuk kiri. Pertahanan wajah nol. Grade: F.’

Jay tidak mundur. Sebaliknya, ia melangkah satu tapak ke depan masuk ke dalam jangkauan ayunan gada itu, tepat di titik buta di mana momentum senjata itu belum mencapai puncaknya.

Dengan gerakan minimalis, Jay menempelkan telapak tangannya ke pergelangan tangan The Butcher yang sedang mengayun. Ia tidak menahan tenaga itu, melainkan mengalirkannya.

Jay memutar tubuhnya sedikit.

KRAK!

The Butcher menjerit. Tenaga ayunannya sendiri, ditambah dorongan presisi dari Jay, membuat pergelangan tangannya terpelintir ke arah yang tidak wajar. Gada besi itu terlepas, melayang ke udara, berputar-putar sejenak, lalu menancap keras di lantai matras tepat di antara kedua kaki Jay.

"Kau punya tenaga banteng," suara Jay terdengar tenang, teredam di balik topeng putihnya. "Sayang sekali, otakmu udang."

The Butcher mundur selangkah, memegangi tangannya yang patah dengan wajah syok. Rasa sakit bercampur penghinaan membakar logikanya.

"BAJINGAAAAN!"

The Butcher kembali menyerang. Kali ini tanpa senjata. Ia melayangkan tinju raksasa ke arah kepala Jay.

Jay menghela napas panjang. "Sudah patah satu, masih belum belajar."

Kali ini, Jay tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya rapat membentuk "pisau tangan".

Saat tinju raksasa itu mendekat, Jay melakukan tepisan ringan ke samping, lalu dengan kecepatan kilat, pisau tangannya menyambar leher The Butcher.

Bukan tebasan mematikan, hanya sebuah ketukan keras pada Arteri Karotis.

BUGH.

Dunia The Butcher seketika menjadi gelap. Aliran darah ke otaknya terhenti sesaat. Tubuh raksasanya kaku, matanya memutih.

Namun, Jay tidak membiarkannya jatuh begitu saja. Sebagai "instruktur", ia harus menyelesaikan demonstrasi ini dengan sempurna.

Sebelum lutut The Butcher menyentuh lantai, Jay berputar, melayangkan tendangan tumit (spinning heel kick) yang terkontrol sempurna, tepat mengenai ulu hati sang raksasa.

BLAAAM!

Tubuh seberat 150 kilogram itu terlempar ke belakang, melayang sejauh lima meter, lalu menghantam pagar kawat baja hingga penyok sebelum akhirnya merosot jatuh tak sadarkan diri.

Hening.

Musik berhenti. Sorakan penonton terhenti di tenggorokan. Ribuan orang di gudang itu ternganga.

Durasi pertarungan: 12 detik. Gerakan Jay: 3 langkah. Tidak berkeringat sama sekali.

Jay berdiri di tengah ring. Ia menatap tubuh The Butcher yang terkapar.

"Bangunkan dia setelah sepuluh menit," kata Jay kepada wasit yang gemetar di pinggir ring. "Dan suruh pelatihnya mengajari dia tentang keseimbangan, sebelum mengajarinya cara membunuh."

Jay mendongak. Di balik topeng putihnya, matanya menatap lurus ke arah ruang kaca VIP di lantai dua.

Ia mengangkat tangannya, menunjuk lurus ke arah sosok bayangan di balik kaca itu. Sebuah tantangan tanpa kata.

Ruang VIP Kaca.

Di dalam ruangan berpendingin udara yang mewah itu, seorang pria dengan setelan jas putih sedang memegang gelas brandy. Ia adalah Mr. K, salah satu eksekutif regional Black Sun.

Gelas di tangan Mr. K retak. Ia baru saja melihat aset termahalnya, The Butcher, dihancurkan seperti boneka kertas oleh orang asing entah dari mana.

"Siapa orang itu?" tanya Mr. K dingin.

Seorang asisten di sebelahnya mengecek tablet dengan panik. "Data tidak ditemukan, Tuan. Dia mendaftar dengan nama samaran 'White'. Tapi... teknik bela dirinya..."

"Ya," potong Mr. K. Matanya berbinar licik. "Itu bukan teknik jalanan. Itu teknik militer murni. Efisien. Brutal. Tanpa emosi."

Mr. K meletakkan gelasnya. Senyum lebar terukir di wajahnya.

"Kita mencari emas, tapi kita menemukan berlian. Bawa dia ke sini. Sekarang."

Lima Menit Kemudian.

Pintu sangkar dibuka. Perekrut Black Sun yang tadi sempat meremehkan Jay kini berlari masuk dengan wajah penuh hormat dan sedikit ketakutan.

"Tuan... Tuan White," panggilnya gugup. "Anda... Anda diundang ke Ruang Atas. Bos ingin bicara."

Jay mengangguk pelan. Ia berjalan keluar ring, membelah kerumunan penonton yang kini menatapnya dengan rasa takut. Mereka memberinya jalan lebar-lebar, seolah ia adalah wabah penyakit mematikan.

Jay mengikuti perekrut itu menaiki tangga besi menuju area VIP.

Setiap langkah yang ia ambil, Jay merekam denah bangunan itu dalam ingatannya. Dua penjaga di tangga. CCTV setiap sudut koridor. Pintu baja biometrik di ujung lorong.

Pintu ruang VIP terbuka.

Jay melangkah masuk. Ruangan itu kedap suara, memisahkan kebisingan arena di bawah dengan ketenangan yang mematikan di atas.

Mr. K duduk di sofa kulit, dikelilingi empat pengawal bersenjata api laras pendek yang disembunyikan di balik jas.

"Selamat malam, Tuan White," sapa Mr. K ramah. "Pertunjukan yang... bagus."

Jay berdiri tegak di tengah ruangan, tidak duduk meskipun ada kursi kosong. "Aku datang untuk hadiahnya. Bukan untuk pujian."

"Tentu. Satu Miliar," Mr. K menjentikkan jari.

Seorang asisten meletakkan koper berisi tumpukan uang tunai di atas meja.

"Tapi," lanjut Mr. K, "uang ini receh dibandingkan apa yang bisa kau dapatkan jika kau bergabung dengan kami. Aku melihat bakatmu. Kau bukan petarung, kau seorang prajurit. Desersi? Dipecat tidak hormat?"

Mr. K mencoba memancing informasi.

Jay terkekeh pelan di balik topengnya. Suara tawa yang kering dan dingin.

"Anggap saja aku pensiunan yang bosan hidup damai," jawab Jay ambigu.

"Sempurna," Mr. K berdiri, berjalan mendekati dinding kaca yang menghadap ke arena. "Kami sedang mencari orang dengan keahlian sepertimu untuk sebuah misi khusus. Bukan pertarungan konyol seperti di bawah sana. Tapi operasi 'bersih-bersih' skala kota."

Mr. K berbalik menatap Jay tajam.

"Kami butuh instruktur untuk melatih unit baru kami. Dan kami butuh eksekutor untuk menyingkirkan satu hama besar yang sedang mengganggu bisnis kami."

"Siapa targetnya?" tanya Jay.

Mr. K tersenyum. Ia mengambil sebuah foto dari saku jasnya dan melemparkannya ke atas meja, tepat di samping koper uang.

Jay melirik foto itu. Jantungnya berdetak stabil, meski amarahnya meledak dalam diam.

Di foto itu bukan wajah Jay. Bukan juga wajah pejabat polisi.

Foto itu adalah wajah Angeline Severe.

"Wanita ini," kata Mr. K santai. "Direktur baru Orion Group. Dia terlalu bersih, terlalu lurus, dan menolak suap kami untuk proyek pelabuhan. Buat dia 'menghilang'. Kecelakaan, perampokan, terserah kau."

Tangan Jay di dalam saku mengepal hingga buku jarinya memutih.

Mereka tidak mencari Jay Panglima Zero. Mereka ingin merekrut "Tuan White" untuk membunuh istri Jay sendiri.

Ironi yang menjijikkan.

Jay mengambil koper uang itu dengan tangan kiri.

"Aku terima uangnya," kata Jay. Ia mengambil foto Angeline dengan tangan kanan, seolah sedang menimang nyawa wanita itu. "Dan aku terima tawarannya. Kapan tenggat waktunya?"

"Tiga hari," jawab Mr. K puas. "Lakukan dengan rapi, dan kau akan mendapatkan posisi permanen di 'Lingkaran Dalam' Black Sun."

"Tiga hari," ulang Jay. "Cukup waktu untuk merencanakan pemakaman."

Jay berbalik dan berjalan keluar ruangan.

Mr. K mengira "pemakaman" yang dimaksud adalah pemakaman Angeline. Dia tidak tahu, bahwa Jay sedang membicarakan pemakaman seluruh organisasi Black Sun.

Saat pintu tertutup, Jay berjalan menyusuri lorong sepi. Ia menekan earpiece tersembunyi di telinganya.

"Leon."

"Siap, Jenderal. Bagaimana situasinya?"

"Mereka baru saja menandatangani surat kematian mereka sendiri," bisik Jay, suaranya mengandung hawa dingin sedingin nol mutlak. "Mereka menargetkan Angeline. Aktifkan Protokol Hantu. Panggil Unit Bayangan dari Utara. Aku ingin setiap orang yang ada di gedung ini dilacak sampai ke lubang tikus mereka."

"Dimengerti. Kapan eksekusi?"

"Malam ini aku jadi hantu," Jay menatap koper uang di tangannya. "Tapi besok... aku akan menjadi mimpi buruk mereka."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!