NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Siang itu, matahari tanggal merah bersinar terik, namun Arsen justru memilih menghabiskan waktunya di garasi belakang. Ia tampak sangat serius, bertelanjang dada dengan hanya memakai kaos dalam putih yang memperlihatkan otot bisepnya yang kencang, tangannya berlumuran oli hitam pekat saat ia mengutak-atik mesin motor besarnya.

Araluna muncul dari balik pintu dapur, berjalan mendekat dengan gaya santai. "Kak, lo enggak bosen apa liatin oli mulu? Sekali-kali keluar deh yuk. Nyari angin! Ini kan hari libur..." ucap Luna sambil menyandarkan tubuhnya di pilar garasi.

Baru saja Arsen hendak menjawab dengan nada kakunya, sebuah suara lembut dan terlampau sopan memotong pembicaraan mereka. "Arsen? Kamu haus ya? Ini aku bawain minuman dingin buat kamu."

Clarissa muncul seperti tamu tak diundang, membawa segelas jus jeruk yang tampak sangat segar. Namun, sebelum gelas itu sampai ke tangan Arsen, Luna dengan gerakan secepat kilat menyambarnya.

Sruuup!

Luna meminumnya hingga separuh gelas. "Wah! Pas banget, kebetulan aku haus, Kak Clarissa! Hehe, makasih ya, Kak," ucap Luna dengan senyum tanpa dosa yang membuat Clarissa melongo kesal.

"Luna, itu kan buat Arsen..." gumam Clarissa tertahan.

Tiba-tiba Bunda memanggil Luna dari dalam rumah untuk membantu memindahkan beberapa pot bunga. Dengan berat hati, Luna masuk sebentar. Namun, saat ia kembali ke garasi lima menit kemudian, pemandangan di depannya membuat mata Luna memanas. Clarissa sedang berdiri sangat dekat dengan Arsen, mereka berbincang akrab, dan Clarissa—dengan beraninya—menepuk-nepuk bahu Arsen sambil tertawa kecil yang terdengar sangat genit di telinga Luna.

Luna segera berlari kecil menghampiri mereka. "Kak Clarissa! Tadi kayaknya supir Kakak manggil deh di depan. Katanya ada urusan mendesak!" bohong Luna dengan wajah sangat serius.

Clarissa yang panik langsung berpamitan dan berlari menuju pagar depan. Luna tersenyum penuh kemenangan melihat saingannya itu menjauh.

Api di Balik Garasi

Begitu Clarissa menghilang, suasana di garasi berubah mencekam. Arsen menatap Luna dengan tajam, tangannya yang kotor oleh oli ia bersihkan dengan kain lap. "Lo bener-bener ya, Araluna. Suka banget bohong."

"Biarin! Habisnya dia gatel banget pake nepuk-nepuk bahu lo segala," balas Luna ketus. Ia melangkah maju, masuk ke ruang sempit di antara Arsen dan motornya. "Lagian, lo juga diem aja pas dia pegang-pegang."

Suasana di garasi belakang yang biasanya berbau oli dan besi, mendadak berubah menjadi medan magnet yang sangat panas. Araluna berdiri tepat di depan Arsen, napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena rasa cemburu yang membakar dadanya melihat tangan Clarissa sempat mendarat di bahu cowok itu.

"Apa? Lo mau marahin gue karena ngusir 'calon' lo itu?" tantang Luna. Ia sengaja maju selangkah lagi, hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada Arsen yang hanya terbalut kaos dalam putih tipis. "Kenapa diem? Marah?"

Arsen menatap Luna dengan mata yang menggelap. Sifat kakunya yang biasanya menjadi tameng, kini justru menjadi bensin bagi api yang sudah menyala. Ia melempar kain lap olinya ke atas meja kerja dengan kasar.

"Lo itu bener-bener nggak ada kapoknya, Araluna," desis Arsen.

Tanpa aba-aba, Arsen menyambar pinggang Luna, mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di atas meja kerja yang tinggi, di sela-sela kunci pas dan botol oli. Luna tersentak, namun ia justru melingkarkan kakinya di pinggang Arsen, mengunci cowok itu agar tidak bisa menjauh.

"Gue emang nggak mau kapok kalau soal lo," balas Luna berani.

Arsen membungkam mulut Luna dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. Ini bukan lagi ciuman sembunyi-sembunyi seperti di ruang tengah; ini adalah ciuman penuh luapan emosi. Tangan Arsen yang masih meninggalkan noda hitam oli kini berpindah ke paha Luna, meremasnya dengan posesif. Luna mengerang pelan, kepalanya mendongak saat Arsen mulai beralih menciumi lehernya dengan ganas.

"Kak... Arsen... s-stop..." gumam Luna, meski tangannya justru menarik rambut Arsen agar semakin mendekat.

Arsen tidak berhenti. Ia justru semakin berani. Tangannya menyelinap masuk ke balik kaos Luna, menyentuh kulit perut gadis itu yang halus, memberikan kontras yang luar biasa antara dinginnya oli di jemarinya dan panasnya suhu tubuh mereka. Suasana di garasi belakang itu benar-benar menjadi sangat intens, hanya terdengar suara napas yang memburu dan gesekan kulit mereka di tengah teriknya matahari siang itu.

Arsen mengangkat wajahnya, menatap Luna dengan tatapan yang bisa meluluhkan baja sekalipun. "Gue udah bilang, jangan pernah pancing gue kalau lo nggak siap buat kebakar bareng, Araluna."

"Bakar gue, Kak... bakar gue sekarang," tantang Luna dengan mata sayu yang penuh gairah.

Momen Kehancuran

Tepat saat Arsen baru saja akan membuka kancing atas celana Luna, dan Luna sudah benar-benar tenggelam dalam sentuhan Arsen yang memabukkan... sebuah suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat.

"Arsen, supir aku bilang dia nggak ada panggil aku—"

Suara Clarissa terputus di udara.

Gadis itu berdiri mematung di ambang pintu garasi. Matanya membelalak sempurna, wajahnya yang tadi bersemu merah karena malu, kini memucat seperti mayat. Di depannya, Arsen yang selama ini dikenal sebagai pria kaku, dingin, dan tidak tersentuh, sedang memojokkan Araluna di atas meja kerja dengan posisi yang sangat intim. Tangan Arsen masih berada di dalam kaos Luna, dan bibir Luna masih bengkak karena ciuman mereka.

PRANG!

Gelas kosong yang entah sejak kapan dipegang Clarissa jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai semen.

Arsen dan Luna membeku. Arsen perlahan menarik tangannya keluar dari balik baju Luna, lalu menoleh ke arah Clarissa dengan rahang yang mengeras. Luna sendiri berusaha merapikan bajunya dengan tangan gemetar, jantungnya serasa mau melompat keluar melihat Clarissa yang masih mematung seperti patung lilin.

"A-Arsen... Luna... kalian..." suara Clarissa bergetar hebat. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di matanya yang penuh rasa tidak percaya. "Kalian saudara tiri! Apa yang... apa yang barusan aku liat?!"

Luna menelan ludah. Ia melirik Arsen, mencari kekuatan. Arsen berdiri tegak, kembali ke mode kakunya namun kali ini auranya terasa sangat mengancam.

"Clarissa, keluar dari sini sekarang," ucap Arsen dengan suara dingin yang bisa membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

"Nggak! Aku harus kasih tahu Papa Arga! Ini... ini menjijikkan!" teriak Clarissa sambil berbalik dan hendak lari menuju pintu utama rumah.

Luna langsung melompat turun dari meja. "MAMPUS! Kak, kalau dia bilang ke Papa, kita habis!"

Arsen tidak membuang waktu. Ia menyambar pergelangan tangan Luna dan menariknya untuk ikut mengejar Clarissa sebelum gadis itu sampai ke telinga Papa Arga. Hari libur tanggal merah yang seharusnya manis, kini berubah menjadi mimpi buruk yang paling nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!