NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Iblis

Dunia bagi Bimo kini bukan lagi sebuah tempat yang menakutkan, melainkan sebuah taman bermain yang penuh peluang. Sejak malam penodaan pertama di liang lahat yang dingin itu, terjadi perubahan drastis pada raga dan jiwanya. Luka-luka bernanah yang biasanya menghiasi kulitnya kini mengering, meninggalkan bekas luka putih yang halus. Rasa gatal yang dulu membuatnya ingin menguliti diri sendiri telah sirna, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar di setiap aliran darahnya.

Namun, yang paling mengerikan adalah perubahan cara pikirnya. Bimo tidak lagi merasa sebagai pendosa. Dalam kegilaan logikanya yang telah terdistorsi oleh santet dan keputusasaan, ia menciptakan sebuah dogma baru untuk menenangkan nuraninya yang tersisa.

"Aku tidak menyakiti siapa pun," bisik Bimo pada bayangannya sendiri di cermin pecah di gubuknya. "Gadis itu sudah mati. Dia tidak merasa sakit. Justru, dengan menjadi perantara kesembuhanku, dia sedang melakukan amal jariyah yang luar biasa. Dia menyelamatkan nyawa manusia. Tuhan pasti memberinya nikmat kubur karena telah mengorbankan jasadnya untukku."

Pemikiran sesat ini menjadi pondasi kekuatannya. Ia merasa benar-benar terlahir kembali sebagai manusia baru. Hasrat seksualnya, yang dulu meredup karena rasa sakit, kini bangkit kembali dengan intensitas yang sepuluh kali lebih kuat. Ada kepuasan gelap dan ekstrem yang ia rasakan saat menyetubuhi jasad yang diam, dingin, dan tanpa perlawanan. Baginya, itu adalah bentuk kontrol tertinggi yang bisa dimiliki seorang pria atas kehidupan an kematian.

Topeng Kesalehan di Desa Karang Anyar

Bimo sadar bahwa kemudahan akses yang ia miliki saat ini adalah kunci keselamatannya. Agar bisa terus menjalankan misinya hingga mayat ketujuh, ia harus membangun benteng reputasi yang tak tergoyahkan. Ia harus menjadi "anak emas" desa.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Bimo sudah bangun. Ia membersihkan halaman masjid desa, membuang sampah-sampah di jalanan, dan membantu para petani yang kelelahan mengangkut hasil panen. Ia tidak lagi mengeluh. Senyum ramah selalu menghiasi wajahnya, sebuah senyum yang telah ia latih sedemikian rupa agar tampak tulus dan penuh kerendahan hati.

"Bimo, kamu ini rajin sekali. Padahal kamu baru sembuh dari sakit parah," puji Pak Haji Mansur suatu sore saat melihat Bimo sedang mengecat pagar gudang keranda.

"Ini bentuk syukur saya, Pak Haji. Allah masih memberi saya napas, jadi saya ingin sisa hidup ini bermanfaat bagi orang lain," jawab Bimo dengan nada suara yang rendah dan tawadhu.

Pak Haji Mansur terharu. Ia sering menceritakan tentang "hidayah" yang didapat Bimo kepada warga desa lainnya. Dalam waktu singkat, Bimo bukan lagi dianggap sebagai perantau yang mencurigakan, melainkan sebagai contoh nyata dari sebuah pertobatan yang sukses. Warga mulai mengundangnya makan siang, memberinya pakaian bekas yang bagus, bahkan para ibu mulai menjadikannya bahan pembicaraan sebagai sosok "menantu idaman" seandainya ia bukan seorang penggali kubur.

Semua ini dilakukan Bimo dengan perhitungan yang matang. Ia ingin jika suatu saat nanti ada kecurigaan muncul, seluruh desa akan membelanya. Ia sedang menanam budi untuk memanen perlindungan.

Menanti Mangsa di Balik Nisan

Di balik kedoknya sebagai penggali kubur yang rajin, Bimo sebenarnya adalah seekor predator yang sedang memasang telinga. Setiap kali ia mendengar suara sirine ambulans di kejauhan atau melihat kerumunan orang di salah satu rumah warga, jantungnya berdegup kencang bukan karena empati, melainkan karena harapan.

Ia sering menghabiskan waktu di pemakaman sendirian, berpura-pura sedang membersihkan makam-makam tua yang tak terurus. Matanya dengan jeli memetakan area pemakaman, mencari sudut-sudut yang paling gelap dan paling jauh dari jangkauan pandangan warga untuk misi-misi selanjutnya.

Ia pun mulai mempelajari catatan kematian di kantor desa melalui percakapan-percakapan ringan dengan petugas administrasi. Ia ingin memastikan bahwa target berikutnya adalah benar-benar seorang perawan, karena menurut instruksi gaib yang ia pahami, kesucian jenazah adalah syarat mutlak bagi keberhasilan ritualnya.

"Satu sudah... tinggal enam," gumamnya sambil mengelus batu nisan pertama yang ia noda. Ia merasa sangat aman karena ia selalu merapikan kembali bekas galiannya dengan sangat teliti. Ia memastikan rumput-rumput di atas gundukan makam kembali ke posisi semula, seolah-olah tanah itu tak pernah disentuh tangan manusia sejak penguburan.

Ratih: Pengawas di Ujung Bayangan

Namun, di atas langit yang tenang, badai sedang mengumpul. Ratih tidak pernah benar-benar pergi. Ia melihat transformasi Bimo menjadi seorang "saint" atau orang suci di mata desa dengan rasa muak yang tak terlukiskan.

Ratih sering berdiri di perbukitan seberang, menatap ke arah pemakaman dengan binokular tua. Ia melihat bagaimana Bimo berakting di depan Pak Haji Mansur. Ia melihat bagaimana tangan yang telah menodai kesucian orang mati itu kini berani memegang tasbih dan kitab suci di depan umum.

"Dia benar-benar telah menjadi monster yang sempurna," desis Ratih.

Ratih merasa ada sesuatu yang ganjil dengan aura desa itu sejak malam penodaan pertama. Burung-burung gagak lebih sering hinggap di pohon kamboja, dan anjing-anjing liar sering melolong panjang saat tengah malam ke arah makam gadis pertama. Namun warga desa yang naif menganggap itu hanya fenomena alam biasa atau sekadar mitos.

Ratih sempat terpikir untuk membongkar kedok Bimo sekarang juga. Namun, instruksi Mbah Suro kembali terngiang. Jangan interupsi pertunjukannya, Ratih. Biarkan dia merasa menang. Biarkan dia merasa suci. Karena saat dia jatuh nanti, rasa sakitnya akan berkali-kali lipat lebih hebat saat dia menyadari bahwa semua usahanya hanyalah untuk membangun neraka yang lebih mewah.

Ratih pun memutuskan untuk menunggu. Ia ingin melihat sampai kapan topeng itu bisa bertahan sebelum ulat-ulat di dalam diri Bimo mulai menagih janji yang lebih besar.

Bisikan Iblis di Tengah Malam

Suatu malam, saat Bimo sedang beristirahat di gubuknya, ia mendengar suara bisikan halus yang seolah keluar dari dinding papan. Suara itu bukan suara Ratih, bukan pula suara Pak Broto.

"Jangan puas dengan satu, Bimo... Nafasmu sudah mulai harum, kulitmu sudah mulai kencang... Tapi ingat, kamu berhutang enam lagi. Jika dalam empat puluh hari kamu tidak menyerahkan yang kedua, semua sakit itu akan kembali, dan kali ini matamu yang akan menjadi makanannya..."

Bimo tersentak bangun, keringat dingin bercucuran. Ia meraba wajahnya, merasa ngeri membayangkan ulat-ulat itu keluar dari matanya. Ia menyadari bahwa ia tidak punya waktu untuk bersantai dengan reputasi barunya. Ia harus segera beraksi.

Tepat saat ia sedang dilanda kecemasan, keesokan paginya, berita yang ditunggu-tunggu itu datang. Seorang gadis remaja dari desa tetangga yang terletak di lereng bukit meninggal karena demam berdarah yang mendadak. Gadis itu baru berusia tujuh belas tahun, anak seorang guru mengaji yang sangat terpandang.

Mata Bimo berkilat. Ini dia. Target kedua.

"Pak Haji, saya dengar di Desa sebelah ada yang berduka. Apa kita perlu membantu ke sana? Saya dengar mereka kekurangan penggali kubur karena tanah di sana sangat berbatu," tawar Bimo dengan nada prihatin yang sempurna.

Pak Haji Mansur tersenyum bangga. "Masya Allah, Bimo. Niatmu sungguh mulia. Mari, kita berangkat ke sana. Kita bantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah."

Bimo mengambil cangkulnya dengan semangat yang berkobar. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan ritual yang akan ia lakukan malam nanti. Ia tidak peduli pada duka keluarga guru mengaji itu. Baginya, jenazah gadis itu hanyalah "botol obat" kedua yang harus ia habiskan.

Dengan langkah tegap, Bimo berjalan menuju desa tetangga, memimpin rombongan penggali kubur dengan karisma yang ia curi dari kegelapan. Ia merasa tak tersentuh. Ia merasa dialah penguasa takdirnya sendiri. Tanpa ia sadari, di setiap langkahnya, ia meninggalkan jejak bau busuk yang samar, yang hanya bisa dicium oleh mereka yang berhati bersih atau mereka yang telah menyerahkan jiwanya pada iblis.

Drama penodaan kedua akan segera dimulai, dan kali ini Bimo akan bertindak lebih berani, lebih rapi, dan lebih gila lagi.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!