Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa seorang Ayah
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun saat rombongan penggali kubur dari Desa Karang Anyar tiba di pemakaman Desa Sumberingin. Desa ini terletak sedikit lebih tinggi di lereng bukit, di mana tanahnya dikenal tidak seramah tanah di lembah. Di sini, permukaan bumi terdiri dari campuran tanah lempung yang liat dan bongkahan batu-batu tajam yang tersembunyi di balik lapisan tipis humus.
Bimo berjalan paling depan, memanggul cangkul dan linggis dengan langkah yang tampak ringan. Wajahnya yang kini mulai terlihat bersih dan segar memancarkan aura kerajinan yang luar biasa. Di belakangnya, Pak Haji Mansur menyusul dengan langkah yang lebih lambat, membawa perlengkapan kain kafan dan perlengkapan penguburan lainnya.
"Terima kasih sudah datang, Pak Haji," sambut salah seorang tokoh masyarakat Desa Sumberingin. "Keluarga almarhumah sedang sangat terpukul. Meninggalnya mendadak sekali. Di sini tenaga penggali sedang terbatas karena banyak pemuda yang sedang turun ke kota untuk musim panen di sana."
Bimo tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung empati yang telah ia latih di depan cermin. "Jangan khawatir, Pak. Kami di sini untuk membantu. Tenaga saya masih kuat, biarlah saya yang mengerjakan bagian-bagian sulitnya."
Tanah Berbatu dan Keringat Muslihat
Lokasi liang lahat sudah ditentukan, berada di bawah pohon beringin tua yang akarnya mencengkeram tanah dengan kuat. Bimo segera mengambil posisi. Ia mulai menghantamkan cangkulnya ke tanah.
Duk! Duk! Duk!
Bunyi cangkul yang beradu dengan tanah keras terdengar nyaring. Hanya dalam beberapa menit, Bimo menyadari bahwa penggalian kali ini tidak akan semudah di Karang Anyar. Setiap kali cangkulnya masuk lebih dalam dari sepuluh sentimeter, ia selalu membentur batu kali yang keras.
"Biar saya bantu pakai linggis, Bim," tawar seorang penggali lokal.
"Jangan, Pak. Bapak istirahat saja di sana. Biar saya yang urus batu-batu ini. Anggap saja ini bagian dari penebusan dosa saya," ujar Bimo dengan nada rendah yang rendah hati.
Warga yang melihat aksi Bimo mulai berbisik-bisik kagum. Mereka melihat seorang pemuda asing yang begitu gigih, bercucuran keringat, dan tidak mengeluh sedikit pun meski tangannya mulai lecet karena harus mencongkel batu-batu tajam. Penilaian warga Sumberingin terhadap Bimo sangatlah positif; mereka melihatnya sebagai sosok pemuda shaleh yang sedang mengamalkan ilmu agamanya melalui tenaga fisik.
"Anak muda yang luar biasa," puji seorang ibu-ibu yang mengantar air minum. "Sudah tampan, rajin, santun lagi. Pak Haji Mansur beruntung punya pembantu seperti dia."
Firasat Sang Guru Mengaji
Di kejauhan, di depan liang lahat yang sedang digali, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah yang teduh namun penuh duka. Ia adalah Ustad Ahmad, ayah dari almarhumah gadis yang akan dimakamkan. Ustad Ahmad adalah seorang guru mengaji yang dikenal memiliki kebatinan yang tajam. Sepanjang hidupnya, ia selalu menjaga wudhu dan lisan, sehingga hatinya mampu menangkap getaran-getaran yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Ustad Ahmad menatap Bimo yang sedang berjuang di dalam lubang yang tingginya sudah mencapai pinggang.
Entah mengapa, setiap kali Bimo menghantamkan linggisnya ke tanah, Beliau merasa dadanya sesak. Ada sebuah frekuensi yang tidak harmonis yang terpancar dari tubuh pemuda itu. Bukan frekuensi kelelahan atau duka, melainkan sebuah energi yang pekat, hitam, dan berbau amis yang samar sebuah energi yang bagi nya terasa seperti kabut yang mencoba menutupi cahaya.
"Astaghfirullah..." bisik Ustad Ahmad sambil mengusap dadanya.
Ia mencoba melihat lebih jelas dengan mata batinnya, namun energi hitam itu seolah sangat cerdik; ia bersembunyi di balik kedok kebaikan fisik yang dilakukan Bimo. Karena duka yang sedang menyelimuti hatinya, tidak bisa melihat dengan pasti musibah apa yang sedang mengancam. Ia hanya merasa "tidak tenang".
Ustad mendekat ke tepi liang lahat. Bimo, yang menyadari kehadiran ayah almarhumah, segera berhenti dan mendongak dengan wajah yang tampak sangat prihatin.
"Sabar ya, Tad. Saya akan buatkan rumah masa depan yang paling nyaman untuk putri nya. Saya pastikan tanahnya rapi dan dasarnya empuk," ucap Bimo dengan nada yang sangat sopan.
Ustad Ahmad menatap mata Bimo. Untuk sesaat, ia melihat kilatan aneh di pupil mata Bimo bukan kilatan semangat, tapi kilatan lapar yang sangat tersembunyi. Namun, saat Bimo berkedip, kilatan itu hilang, berganti dengan tatapan duka.
"Terima kasih, Nak," jawab nya datar. "Hati-hati dengan batu-batu itu. Tanah di sini keras, sekeras hati manusia yang lupa pada Tuhannya."
Kata-kata Guru Ngaji itu membuat Bimo tertegun sejenak. Jantungnya berdesir. Apakah orang tua ini tahu sesuatu? pikirnya. Namun Bimo segera menepis keraguan itu. Ia yakin aktingnya sudah sempurna.
Doa Benteng Sang Ayah
Merasakan ketidaknyamanan yang semakin kuat, Ustad Ahmad tidak meninggalkan lokasi makam. Ia duduk di sebuah bangku kayu tak jauh dari sana, mengeluarkan tasbihnya, dan mulai membacakan doa-doa perlindungan yang sangat khusus.
Ia tidak tahu bahwa anaknya terancam akan dinodai, namun insting seorang ayah yang shaleh menggerakkannya untuk membentengi jenazah anaknya dari "fitnah manusia berenergi hitam".
"Yaa Allah, hamba titipkan putri hamba kepada-Mu di dalam tanah ini. Jagalah ia dari segala fitnah, jagalah ia dari tangan-tangan jahat, dan jauhkanlah ia dari segala keburukan yang hamba rasakan namun tidak hamba ketahui," doa Ustadz Ahmad dalam hati.
Suara dzikir nya yang lamat-lamat terdengar di telinga Bimo terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit kepalanya. Semakin khusyuk berdoa, semakin sulit Bimo menghantamkan linggisnya. Tanah yang tadinya berbatu terasa semakin keras, seolah-olah bumi Sumberingin menolak untuk terbuka bagi niat bejat Bimo.
Bimo mulai merasa gerah yang luar biasa. Keringatnya yang menetes ke tanah kini berbau sedikit asam, bau yang mulai memicu rasa gatal di lehernya kembali muncul. Namun ia menahan diri. Ia tidak boleh menggaruk di depan banyak orang.
"Panas sekali hari ini ya, Pak?" keluh Bimo pada rekan penggali sebelahnya untuk menutupi kegelisahannya.
Muslihat di Tengah Hambatan
Meskipun tanah terasa menolak dan doa Seorang Ayah menciptakan dinding transparan yang mengganggu, niat Bimo sudah bulat. Ia mempercepat kerjanya. Batu-batu besar ia angkat dengan tangan kosong hingga jemarinya lecet dan berdarah.
Warga Sumberingin yang melihat darah di jemari Bimo semakin bersimpati. "Mas Bimo, istirahat dulu! Jarimu berdarah itu!"
"Tidak apa-apa, Bu. Darah ini tidak ada artinya dibanding duka keluarga Beliau. Saya ingin menyelesaikan ini tepat waktu agar penguburan tidak terlambat," jawab Bimo sambil mengusap darahnya ke celananya.
Muslihat Bimo sangat berhasil. Tokoh masyarakat Sumberingin bahkan mulai memuji-mujinya di depan Pak Haji Mansur. "Pak Haji, pemuda ini adalah permata. Jarang ada orang kota yang mau kerja kasar sampai berdarah-darah demi penguburan orang yang tidak dikenalnya."
Pak Haji Mansur hanya tersenyum bangga, sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah lubang itu, Bimo sedang mengumpulkan kemarahan karena doa Ustadz Ahmad menghambat kelancaran pekerjaannya.
Di sisi lain, Ustad Ahmad terus memperhatikan. Ia melihat darah di tangan Bimo, namun hatinya tidak merasa iba. Baginya, darah itu tampak kental dan gelap, bukan darah merah segar manusia pada umumnya. Ia merasa ada yang salah, namun sebagai manusia yang menjunjung tinggi prasangka baik (husnudzon), ia hanya bisa terus melantunkan ayat-ayat suci.
Ia berharap doanya akan menjadi "pagar gaib" bagi makam anaknya nanti malam. Ia tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang sudah menyerahkan jiwanya pada iblis, seseorang yang melihat kemuliaan doa hanya sebagai penghalang teknis bagi kesembuhan yang sesat.
Selesainya Penggalian
Setelah bekerja keras selama tiga jam, akhirnya liang lahat itu selesai. Bentuknya sangat rapi, ukurannya pas, dan dasarnya sudah dibersihkan dari kerikil tajam. Bimo naik ke permukaan dengan napas tersengal.
"Sudah selesai, Tad. Silakan dicek," ucap Bimo sambil membungkuk hormat.
Beliau berdiri, berjalan perlahan ke tepi lubang. Ia menatap ke dasar liang lahat. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk keluar dari dalam lubang tersebut—hawa yang tidak lazim untuk tanah makam di siang hari yang terik.
"Terima kasih, Bimo. Semoga Allah membalas apa yang sudah kamu kerjakan sesuai dengan apa yang ada di hatimu," ujar nya.
Kata-kata itu terdengar seperti vonis bagi Bimo, namun ia menutupinya dengan anggukan sopan. Di dalam benaknya, Bimo sudah merencanakan sesuatu. Ia tahu doa nya sangat kuat, maka ia harus menunggu sampai Laki-laki tua itu benar-benar lelap atau pulang ke rumahnya sebelum ia kembali ke sini nanti malam.
Warga Sumberingin mulai menyiapkan jenazah untuk dibawa ke pemakaman. Seluruh desa menghormati Ustadi Ahmad, sehingga prosesi itu berlangsung sangat khusyuk. Bimo berdiri di barisan paling belakang, menundukkan kepala, namun matanya terus mengawasi kain kurung batang yang menutupi jenazah gadis itu.
Ia tidak lagi melihat kematian sebagai duka. Ia melihat jenazah itu sebagai "baterai" yang harus ia hisap energinya untuk mematikan ulat-ulat di tubuhnya. Pesta penodaan kedua ini terasa akan lebih menantang, karena ada benteng doa seorang ayah yang harus ia tembus.
Bimo tersenyum licik di balik tundukan kepalanya. Tanah sekeras apa pun bisa ditembus linggis, Ustad. Begitu juga dengan doa, pasti ada celahnya, pikir Bimo.
pnasaran lanjutanya