NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Si Kembar yang Hilang

Udara pagi di lereng Gunung Agung yang seharusnya segar kini terasa seperti membawa beban baru bagi Alana. Ia menatap foto di buku harian ibunya, lalu menatap Arkan, lalu kembali ke foto itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.

"Bu... Ayah Malik tahu soal ini?" tanya Alana dengan suara mencicit.

Larasati menggeleng lemah sambil menyeka sisa darah di dahinya. "Malik hanya tahu aku melahirkan satu anak. Saat itu terjadi kekacauan besar di rumah sakit darurat. Seseorang berpakaian perawat membawa bayi kedua sebelum aku benar-benar sadar. Aku pikir bayi itu meninggal dalam kebakaran gedung... sampai sepuluh tahun kemudian aku melihat profil anak ajaib di dunia bisnis London. Wajahnya, matanya... itu wajah ayahmu, Malik, tapi dengan garis rahang Arkananta."

"Ariel Pramudya..." Arkan menggumamkan nama itu dengan nada yang sangat rendah. "Pria itu baru muncul setahun lalu di Jakarta. Dia agresif, cerdas, dan seolah-olah tahu setiap langkah internal perusahaan kita. Aku pikir dia hanya jenius bisnis yang ambisius, ternyata dia punya motif personal."

Alana bangkit berdiri, ia mengibaskan debu dari celananya dengan gerakan kasar. "Oke, cukup. Cukup! Mas, Bu... aku baru saja selesai berurusan dengan Kakek yang psikopat, Bayu yang gila, dan Maya yang pengkhianat. Sekarang muncul lagi kembaranku yang ternyata saingan bisnis Mas? Apa besok-besok kucing tetangga aku ternyata agen rahasia juga?!"

Mochi mengeong pendek, seolah merasa tersindir.

"Ini nggak adil!" lanjut Alana, tangan gemetarnya kini menunjuk ke arah langit. "Kenapa hidup orang lain itu kalau punya kembaran isinya cuma tukeran baju buat ngerjain guru sekolah, tapi hidup aku isinya tukeran peluru?!"

Arkan berdiri dan memeluk bahu Alana. "Tenang, Lana. Kita belum tahu pasti apa tujuan Ariel. Kalau dia benar saudara kembarmu, mungkin dia bisa diajak bicara."

"Mas, dia barusan menyelamatkan Maya!" seru Alana. "Maya itu pengkhianat nomor satu kita! Kalau dia nyelametin Maya, berarti dia satu kubu sama 'The Board'. Dan kalau dia satu kubu sama mereka, berarti dia mau hancurin kita!"

Sementara itu, di sebuah hotel mewah di kawasan Sanur, Ariel Pramudya duduk di balkon yang menghadap langsung ke laut lepas. Ia tidak memakai jas formal. Hanya kemeja linen putih yang tidak dikancingkan sepenuhnya. Di sampingnya, Maya berdiri dengan perban di lengannya dan wajah yang masih menyimpan dendam.

"Tuan Ariel, kenapa Anda tidak membiarkan saya menyelesaikan mereka di lereng tadi?" tanya Maya ketat.

Ariel memutar gelas kristal berisi jus jeruk di tangannya. Matanya yang tajam—mata yang sama persis dengan mata Alana saat sedang serius—menatap deburan ombak.

"Karena membunuh mereka itu membosankan, Maya," jawab Ariel dengan suara yang tenang namun memiliki otoritas yang kuat. "Arkan adalah lawan yang menarik. Dan Alana... aku ingin melihat seberapa lama dia bisa mempertahankan kepolosan 'julid'-nya itu di tengah dunia yang kotor ini."

"Tapi kunci itu—"

"Kunci itu hanyalah benda logam," potong Ariel. "Aku punya akses ke server perbankan yang jauh lebih canggih daripada brankas tua di Swiss. Yang aku inginkan bukan uangnya, Maya. Aku ingin pengakuan. Aku ingin Kakek Waluyo melihat, bahwa anak yang dia buang jauh-jauh adalah orang yang akhirnya meruntuhkan istananya, bukan Arkan yang dia manja."

Ariel berdiri, ia menoleh ke arah Maya. "Siapkan pertemuan. Aku ingin bertemu dengan 'saudaraku' sore ini. Di tempat yang paling dia sukai. Katakan padanya, ini undangan makan siang keluarga."

"Di mana, Tuan?"

Ariel tersenyum tipis. "Panggil tim katering. Kita akan buat pesta mie ayam di pinggir pantai Sanur. Aku dengar itu makanan favoritnya."

Kembali ke gubuk Larasati, Alana sedang mencoba menenangkan pikirannya dengan cara mengomel sambil membersihkan bulu Mochi. Arkan sedang berbicara serius di telepon dengan tim keamanannya yang baru saja tiba di kaki bukit.

"Nyonya, ada pesan masuk ke akun TikTok Anda," bisik salah satu pengawal yang baru datang membawakan ponsel Alana yang sempat tertinggal di mobil.

Alana menyambar ponselnya. Ada sebuah pesan DM dari akun centang biru: Ariel Pramudya.

Isinya singkat: "Halo, Kembaran. Aku tahu kamu lapar setelah berguling-guling di jurang. Mie ayam paling enak di Sanur menunggumu jam 2 siang ini. Bawa suamimu, tapi tinggalkan senjatanya. Kalau kamu tidak datang, aku akan memposting foto masa kecilmu saat kamu masih ompong dan hobi ngiler ke seluruh dunia. Sampai jumpa."

Alana melongo. "Dia... dia ngancem aku pakai foto ompong?!"

"Ada apa, Lana?" Arkan menghampiri.

"Mas, ini kembaranku fix orang jahat! Dia punya foto aib aku!" Alana menunjukkan pesan itu. "Dan dia ngajak makan mie ayam. Ini jebakan lagi, kan?"

Arkan membaca pesan itu dan mengerutkan kening. "Dia tahu selera makanmu. Dan dia tahu cara memancingmu. Tapi dia tidak menyebut soal dokumen atau kunci. Dia menyebut 'keluarga'."

Larasati mendekat, wajahnya terlihat waspada. "Jangan pergi tanpa persiapan, Alana. Ariel tumbuh di lingkungan yang keras. Dia diajar untuk tidak mempercayai siapa pun."

"Tapi Bu, kalau aku nggak pergi, foto ompong aku bakal viral! Harga diriku sebagai Nyonya Arkananta yang estetik bakal hancur!" protes Alana, meski sebenarnya hatinya penasaran setengah mati.

"Kita pergi," putus Arkan. "Tapi aku akan memasang pelacak di setiap kancing bajuku. Dan tim sniper akan bersiaga di radius 500 meter. Kalau dia macam-macam, aku tidak peduli dia kembaranmu atau bukan."

Sore harinya, pantai Sanur yang indah menjadi latar belakang pertemuan yang sangat aneh. Di sebuah meja kayu panjang yang ditata di atas pasir, Ariel sudah menunggu. Di atas meja itu benar-benar tersedia beberapa mangkuk mie ayam komplit dengan pangsit goreng dan kerupuk.

Alana berjalan mendekat dengan langkah ragu, diikuti Arkan yang matanya terus waspada menyapu sekeliling. Begitu jarak mereka dekat, Alana berhenti. Ia menatap pria yang duduk di depannya.

Rasanya seperti melihat cermin dalam versi pria. Struktur tulang pipi, bentuk hidung, bahkan cara pria itu memegang sumpit sangat mirip dengannya.

"Duduklah, Alana. Arkan," sapa Ariel tanpa menoleh. "Mienya masih panas. Aku minta penjualnya pakai micin lebih banyak, sesuai selera rakyat jelata, kan?"

Alana menarik kursi dan duduk dengan kasar. "Wah, Mas Ariel atau siapa lah nama kamu, baru ketemu udah ngajak ribut ya? Micin itu bumbu kehidupan, tahu! Dan jangan panggil aku rakyat jelata, aku ini... Nyonya Besar yang lagi cuti!"

Ariel tertawa. Suara tawanya sangat mirip dengan tawa Alana saat sedang puas menjahili orang. Arkan duduk di samping Alana, tangannya tetap berada di bawah meja, siap siaga.

"Kamu punya nyali, Alana. Mirip Ibu," ucap Ariel. Ia menatap Arkan. "Dan kamu, Arkan. Kamu beruntung mendapatkan dia. Kakek pasti benci sekali melihat kalian berdua bahagia."

"Apa maumu, Ariel?" tanya Arkan dingin. "Kenapa kamu menyelamatkan Maya?"

"Maya hanya alat. Dia punya informasi tentang sisa-sisa aset Kakek yang disembunyikan di luar negeri. Aku membutuhkannya untuk memastikan Kakek tidak punya satu sen pun tersisa untuk menyuap sipir penjara," Ariel menyesap teh botolnya. "Aku tidak tertarik dengan kunci Swiss itu. Ambil saja. Pakai buat bangun panti asuhanmu atau beli pabrik mie ayam sekalian."

Alana mengerutkan kening. "Terus kalau kamu nggak mau hartanya, kenapa kamu neror aku dari tadi malam?"

Ariel terdiam sejenak. Ia meletakkan sumpitnya dan menatap Alana dengan tatapan yang mendadak sangat sendu. "Aku cuma mau tahu... gimana rasanya punya keluarga. Selama dua puluh tahun aku dididik untuk menjadi mesin penghancur. Aku melihatmu dari jauh, melihatmu tertawa di panti asuhan, melihatmu berantem sama mantanmu yang bodoh itu... dan aku iri."

Alana merasa hatinya sedikit mencelos. Sisi julidnya mendadak mengempis. "Kamu... ngawasin aku selama itu?"

"Aku yang mengirimkan bantuan anonim ke pantimu setiap tahun. Aku yang memastikan kontrakanmu tidak digusur pengembang dua tahun lalu," Ariel menghela napas. "Tapi aku tidak bisa mendekat. Karena 'The Board' akan membunuhmu kalau mereka tahu aku punya kelemahan."

Tiba-tiba, sebuah titik laser merah muncul di dada Ariel.

"Ariel, awas!" teriak Arkan.

Duar!

Bukan Ariel yang tertembak, melainkan gelas di tangan Ariel yang pecah. Dari arah semak-semak pantai, muncul Maya yang membawa senapan laras panjang. Wajahnya penuh kegilaan.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkan harta itu, maka tidak ada yang boleh memilikinya! Ariel, kamu mengkhianatiku!" teriak Maya.

Ariel langsung menarik meja kayu itu untuk menjadi tameng. "Lari, Alana! Arkan! Bawa dia pergi!"

"Enggak! Aku nggak mau kehilangan kembaranku lagi!" Alana menyambar sebuah botol saus sambal ekstra pedas dari meja. "Mas Arkan, lindungi aku! Aku mau kasih 'bumbu' buat si pengkhianat itu!"

Alana berlari zigzag di atas pasir pantai sambil membawa botol saus, sementara peluru-peluru Maya berdesingan di sekitarnya. Arkan mencoba membalas tembakan menggunakan pistol cadangannya.

Tiba-tiba, dari arah laut, sebuah speedboat meluncur kencang dan beberapa pria bertopeng melompat turun. Salah satu dari mereka bukan mengincar Arkan atau Ariel, melainkan langsung menangkap Mochi yang tertinggal di kursi.

"KUCINGNYA! AMBIL KUCINGNYA! DI SANA DATA ASLINYA!" teriak salah satu pria bertopeng.

Alana berhenti berlari. Wajahnya memerah padam. "HEI! BALIKIN KUCING AKU, DASAR MALING AMIS!"

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!