Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepulangan setelah 4 tahun
Kepulangan Zavier ke Pesantren Al-Azhar disambut layaknya pahlawan yang baru kembali dari medan juang. Namun, aura Zavier kini jauh lebih matang. Wajahnya yang kian mirip dengan Gus Zayn di masa muda, ditambah janggut tipis yang tertata rapi, membuatnya terlihat sangat berwibawa dalam balutan thobe khas Mesir yang bersahaja.
Banyak yang mengira Zavier akan langsung menggelar pesta pernikahan megah setelah lulus dari Kairo. Namun, Zavier tetaplah pemuda yang penuh perhitungan dan sangat menghargai proses. Di malam kepulangannya, ia meminta waktu khusus untuk berbicara dengan orang tuanya serta Mr. Hernandez dan Alice.
"Aku pulang bukan untuk segera menikah," ujar Zavier tenang di depan keluarga besar. "Aku ingin mengambil spesialisasi fatwa selama satu tahun lagi. Aku ingin saat aku menjadi imam bagi Alice, ilmuku sudah benar-benar mumpuni."
Zayn mengangguk bangga. "Lalu, apa rencanamu untuk Alice sekarang?"
Zavier menatap Mr. Hernandez, lalu melirik Alice yang duduk menunduk di samping Abigail. "Malam ini, saya ingin melakukan Khitbah. Saya ingin mengikat janji secara resmi agar tidak ada lagi keraguan di antara kita, dan agar tidak ada lagi pria lain yang mencoba mengetuk pintu hati Alice selama saya menyelesaikan satu tahun terakhir saya."
Tanpa hingar bingar musik atau dekorasi mewah, prosesi khitbah berlangsung sangat khidmat di ruang tamu utama ndalem. Mr. Hernandez, yang sudah mulai menua namun tetap gagah, menatap Zavier dengan haru.
"Zavier, sejak kau berusia 12 tahun di New York, aku tahu kau berbeda. Jika kau meminta putriku untuk menunggu satu tahun lagi, aku akan memberikannya kepadamu. Karena aku tahu, kau tidak sedang menunda, tapi sedang bersiap," ujar Mr. Hernandez dengan suara berat.
Zavier kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bukan berisi cincin berlian besar ala New York, melainkan sebuah cincin emas putih yang sangat simpel dengan ukiran kaligrafi halus di bagian dalamnya.
"Alice," panggil Zavier. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menatap langsung ke arah Alice meskipun tetap dengan jarak yang terjaga. "Maukah kamu bersabar satu tahun lagi sebagai tunanganku?"
Alice mendongak, matanya berkaca-kaca. Perubahan dari gadis New York yang berani menjadi wanita pesantren yang santun sangat terlihat di momen ini. "Aku sudah menunggu enam tahun saat aku tidak tahu apakah kamu akan menoleh padaku atau tidak. Maka menunggu satu tahun saat aku sudah tahu namaku ada di hatimu, itu bukan hal yang sulit, Zavier."
Keesokan harinya, Mas Zayn sendiri yang mengumumkan di depan para santri bahwa putra mahkota pesantren telah resmi mengkhitbah Alice. Pengumuman ini seolah menjadi tanda "patah hati nasional" bagi para santriwati, namun sekaligus memberikan rasa lega.
Zavier tidak lagi menghindar saat berpapasan dengan Alice di area pesantren, meskipun mereka tetap tidak berbicara berduaan. Zavier akan berhenti, memberikan anggukan hormat yang sangat dalam, dan Alice akan membalas dengan senyuman yang penuh ketenangan.
Hanya satu minggu setelah khitbah, Zavier bersiap kembali ke Kairo. Di bandara, suasana kali ini tidak lagi penuh kegalauan. Ada rasa percaya yang sangat kuat.
Zayn menarik putranya ke samping. "Zavier, Mas Daddy bangga padamu. Kamu melakukan apa yang Mas tidak bisa lakukan dulu, menjaga batasan dengan sangat sempurna hingga waktu yang tepat."
Zavier mencium tangan ayahnya, lalu menatap Abigail dan Zahra, adik perempuannya yang kini sudah mulai beranjak remaja. Terakhir, ia menatap Alice.
"Satu tahun, Alice. Jaga dirimu, jaga hafalanmu. Sampai jumpa di hari kemenangan kita," ucap Zavier tegas.
Alice mengangguk mantap. "Pergilah, Calon Imamku. Aku akan menjadi orang pertama yang menyambutmu di gerbang ini satu tahun lagi."
Zavier berbalik dan melangkah masuk ke pintu keberangkatan dengan langkah mantap. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang belajar agama, tapi seorang pria yang sedang menjemput masa depannya dengan cara yang paling terhormat.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍😍😍😍