NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehendak Tertinggi

Udara di sekitar Akademi Kuoh kini tidak lagi sekadar dingin atau panas; ia terasa berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri telah berubah menjadi cairan kental yang sulit untuk dihirup. Di pusat kawah, Kokabiel telah kehilangan wujud agungnya. Energi cahaya yang ia serap secara paksa dari eksperimen Valper mengalir keluar dari pori-porinya dalam bentuk kilatan listrik putih yang tidak terkendali, membakar sisa-sisa kulit dan sayapnya.

"Lihat ini, Riser Phenex!" raung Kokabiel. Suaranya bukan lagi suara makhluk hidup, melainkan distorsi frekuensi yang menyakitkan telinga. "Ini adalah kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan sistem empat raja iblis! Akan kupastikan namamu terhapus bersama debu kota ini!"

Riser berdiri hanya beberapa meter dari tepi energi yang meluap itu. Tanda hitam di tubuhnya, yang merupakan manifestasi dari kekuatan kegelapan Meliodas, mulai bereaksi secara agresif. Bukannya memudar, tanda itu justru melebar, menutupi sebagian wajahnya dan membentuk pola sayap tunggal yang pekat di punggung kirinya.

[ Status: Resonansi Tinggi ]

[ Mode: Ambang Assault Mode ]

[ Peringatan: Ketidakstabilan Ruang Terdeteksi ]

"Kau menyebut ini kekuatan?" Riser berbicara dengan nada yang sangat rendah, namun suaranya menembus deru energi Kokabiel. "Bagiku, ini hanyalah kebisingan yang tidak teratur. Kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan kau tidak punya wadah untuk menyimpannya."

Riser merentangkan kedua tangannya ke samping. Dia tidak memasang kuda-kuda bela diri kali ini. Dia hanya berdiri dengan dada terbuka, membiarkan energi suci yang bocor dari Kokabiel menghantam tubuhnya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Setiap kali kilatan cahaya itu menyentuh kulit Riser yang tertutup tanda hitam, cahaya itu tidak meledak—ia tersedot masuk, lenyap ke dalam kegelapan yang tak berdasar.

[ Kemampuan: Pengendalian Energi (Master) ]

[ Aktivitas: Konversi Energi Asing menjadi Mana Kegelapan ]

"S-sialan! Apa yang kau lakukan?!" Kokabiel terbelalak. Dia bisa merasakan energi yang dia kumpulkan dengan susah payah justru mengalir menuju Riser seolah-olah Riser adalah lubang hitam yang haus.

"Aku sedang membersihkan sampah," jawab Riser.

Riser melangkah masuk ke dalam pilar cahaya Kokabiel. Setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya berubah menjadi kristal hitam. Saeko, Ayaka, dan tim lainnya yang menonton dari kejauhan merasa bulu kuduk mereka berdiri. Ini bukan lagi sekadar pertarungan antar ras kuat; ini adalah dominasi eksistensi.

Di saat yang sama, jauh di atas langit Kuoh, sebuah celah dimensi terbuka secara halus. Dua sosok berdiri di sana, tersembunyi oleh sihir tingkat tinggi. Salah satunya adalah pria berambut merah dengan aura yang sangat tenang namun menghancurkan—Sirzechs Lucifer. Di sampingnya, seorang pria dengan rambut pirang dan poninya yang dicat hitam, sang pemimpin Malaikat Jatuh, Azazel.

"Sirzechs, kau bilang adikmu punya masalah dengan tunangannya," Azazel berbisik sambil menyesap minuman dari botol kecil. "Tapi yang kulihat di bawah sana... itu bukan sekadar masalah keluarga. Itu adalah monster yang mengenakan kulit iblis Phenex."

Sirzechs menyipitkan matanya, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak sangat serius. "Energi itu... bukan milik iblis, bukan juga milik malaikat. Itu terasa sangat kuno, dan sangat jahat. Siapa sebenarnya Riser Phenex sekarang?"

Di bawah, Riser sepertinya menyadari pengawasan dari atas, namun dia tidak peduli. Fokusnya tetap pada Kokabiel yang kini sudah mencapai batas maksimalnya.

"Sudah waktunya," gumam Riser.

Dia menarik tangan kanannya ke belakang, mengumpulkan seluruh kegelapan yang dia serap ke dalam satu titik di telapak tangannya. Udara di depan tangannya mulai berputar, menciptakan bola hitam kecil yang memancarkan daya tarik gravitasi yang luar biasa.

"Full Counter bukan satu-satunya teknik yang kuberikan untukmu, Kokabiel," Riser menatap langsung ke mata Kokabiel yang penuh ketakutan. "Mari kita lihat apakah kau bisa menahan beban dari seluruh kebencian yang kau ciptakan sendiri."

[ Teknik: Dark Nebula ]

[ Output: Maksimal ]

Riser mendorong telapak tangannya ke depan. Tidak ada ledakan besar yang berisik. Yang terjadi adalah sebuah ledakan kesunyian. Gelombang kegelapan murni menyapu pilar cahaya Kokabiel, menelannya secara utuh dan mengubah area kawah menjadi kehampaan total selama beberapa detik.

Teriakan Kokabiel terputus seketika.

Kehampaan yang diciptakan oleh Dark Nebula perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di area hutan Akademi Kuoh. Di pusat kawah yang kini permukaannya halus seperti kaca hitam, Riser Phenex berdiri sendirian. Kokabiel telah lenyap dari pandangan—bukan hancur berkeping-keping, melainkan benar-benar terhapus secara molekuler, hanya menyisakan beberapa helai bulu hitam yang terbakar menjadi abu sebelum menyentuh tanah.

Tanda-tanda hitam di tubuh Riser mulai surut dengan lambat, merayap kembali dari wajahnya menuju dadanya, namun aura dingin yang ia lepaskan masih menggantung di udara. Matanya, yang perlahan kembali ke warna aslinya, menengadah ke langit malam yang kini tampak terbelah oleh kehadiran dua entitas besar.

Wush.

Dalam sekejap mata, dua sosok mendarat di tepi kawah. Sirzechs Lucifer berdiri dengan keanggunan seorang raja, sementara Azazel mendarat dengan santai, tangan di saku, namun matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Riser.

[ Analisis Entitas: Sirzechs Lucifer ]

[ Status: Raja Iblis ]

[ Ancaman: Luar Biasa ]

[ Analisis Entitas: Azazel ]

[ Status: Pemimpin Malaikat Jatuh ]

[ Ancaman: Sangat Tinggi ]

"Itu adalah pertunjukan yang... agak berlebihan untuk ukuran seorang pemuda dari klan Phenex," buka Azazel, suaranya terdengar santai namun membawa tekanan yang membuat tanah di bawah kakinya sedikit retak. "Kau baru saja menghapus salah satu eksekutifku seolah-olah dia hanyalah serangga di meja makanmu."

Sirzechs melangkah satu langkah ke depan, auranya yang berwarna merah pekat bergesekan dengan sisa-sisa energi kegelapan Riser. "Riser. Sebagai kakak dari Rias, aku berterima kasih karena kau telah melindungi kota ini. Namun sebagai Lucifer, aku membutuhkan penjelasan. Kekuatan yang kau tunjukkan tadi... itu bukan kekuatan api Phoenix. Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini."

Riser menarik napas dalam, membiarkan paru-parunya terisi udara malam yang kini mulai mendingin. Dia tidak menundukkan kepala, tidak juga menunjukkan tanda-tanda intimidasi. Dia berdiri tegak, membalas tatapan sang Raja Iblis dengan ketenangan yang ganjil.

"Penjelasan?" Riser tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Dunia ini sedang berubah, Sirzechs. Jika aku tetap menjadi Riser yang lama—yang hanya tahu cara membanggakan regenerasi dan api merah yang lemah—maka hari ini kau akan datang ke sini hanya untuk memunguti mayat adikmu."

Saeko dan Ayaka segera mendekat, berdiri beberapa langkah di belakang Riser. Mereka tidak menghunus senjata, namun posisi mereka menunjukkan loyalitas yang absolut. Esdeath dan Yubelluna juga muncul dari balik bayang-bayang, membentuk barisan pertahanan yang membuat Azazel mengangkat alisnya karena terkesan.

"Peerage yang menarik," gumam Azazel. "Dan kau, gadis dari klan Kamizato... auramu tidak berasal dari Underworld maupun Vatikan. Kau menarik sekali."

[ Status Hubungan: Ketegangan Diplomatik ]

[ Rekomendasi: Penurunan Intensitas Aura ]

Riser memberikan isyarat tangan kecil kepada para wanitanya untuk tetap tenang. Dia kemudian menatap Sirzechs kembali. "Aku tidak punya niat untuk memberontak pada sistem, Sirzechs. Namun aku juga tidak berniat untuk menjadi bidak yang hanya digerakkan oleh politik klan. Apa yang kau lihat hari ini adalah caraku untuk memastikan bahwa klan Phenex tidak akan lagi dipandang rendah."

Sirzechs menatap mata Riser untuk waktu yang lama, mencari tanda-tabu kebohongan atau kegilaan. Namun yang dia temukan hanyalah tekad yang dingin dan analitis. "Kau telah berubah drastis sejak kekalahanmu di Rating Game itu, Riser. Atau mungkin... kau memang selalu seperti ini dan hanya menunggu saat yang tepat untuk bangun?"

"Biarkan itu menjadi misteri yang membuatmu tetap waspada, Lucifer," jawab Riser tenang.

Azazel tertawa pelan, memecah ketegangan yang hampir memicu bentrokan energi. "Sudahlah, Sirzechs. Setidaknya dia melakukan pekerjaan kotor kita. Kokabiel adalah duri dalam daging bagi semua orang. Mengenai kekuatan 'asing' itu... selama dia tidak menggunakannya untuk menghancurkan keseimbangan faksi, aku rasa kita bisa menutup mata untuk sementara."

Riser melirik Azazel. "Keputusan yang bijak, Gubernur."

[ Sinkronisasi Jiwa: 98% ]

[ Status: Konflik Kokabiel Berakhir ]

"Kita akan bicara lagi di pertemuan antar faksi nanti, Riser," ucap Sirzechs, mulai memudar dalam lingkaran sihir merah. "Dan sampaikan salamku pada Ravel. Pastikan kau tidak menghancurkan hatinya dengan sisi barumu ini."

Setelah kedua pemimpin besar itu menghilang, Riser akhirnya melepaskan seluruh ketegangannya. Tubuhnya sedikit terhuyung, namun Ayaka dengan cepat berada di sampingnya, memegang lengannya dengan lembut.

"Tuan Riser, Anda baik-baik saja?" tanya Ayaka, matanya penuh kekhawatiran yang tulus.

Riser menatap Ayaka, lalu menatap Saeko dan yang lainnya. Tanda hitam di tubuhnya telah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulitnya yang bersih namun terasa lebih dingin. "Aku hanya butuh istirahat. Proses asimilasi tadi sedikit melelahkan bagi tubuh fisik ini."

Dia melihat ke arah sisa-sisa gedung sekolah yang hancur. Di kejauhan, Rias dan kelompoknya tampak sedang mengurus sisa-sisa anggota gereja. Riser tidak ingin berurusan dengan mereka malam ini.

"Ayo kembali," ajak Riser. "Kita punya fragmen Excalibur baru untuk diolah, dan kita punya aliansi baru yang harus diperkuat."

Saat mereka berjalan meninggalkan hutan, Riser tahu bahwa mulai malam ini, namanya tidak akan lagi dianggap sebagai 'Iblis Ayam Goreng' yang sombong, melainkan sebagai anomali yang ditakuti oleh para puncak kekuasaan di dunia ini.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!