Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Rahasia Lama
Villa Adiwinata, Solo — 08:15 WIB
Begitu gerbang kayu jati raksasa dengan ukiran rumit itu terbuka, Livia Liang merasa seperti melangkah ke mesin waktu. Jakarta yang gaduh, penuh neon dan drama medsos, langsung lenyap. Diganti Solo yang adem, penuh wangi melati dan aura “jangan macam-macam” yang khas.
Udara pagi di Villa Adiwinata harum banget—melati segar campur asap dupa tipis dari tungku tembaga di setiap sudut halaman. Villa ini bukan rumah biasa; ini keraton mini versi konglomerat, lengkap dengan pendopo megah, tiang jati berukir emas, dan atap joglo yang menjulang kayak lagi pamer ke langit Jawa. Livia langsung merasa kecil, tapi juga... agak kagum.
Ia tarik napas dalam-dalam, coba tenangin jantung yang lagi lari maraton. Bau gudeg manis, ayam lodho, dan sambal krecek langsung nyanyi di hidungnya—ngingetin kalau perutnya kosong sejak subuh tadi. Tapi saraf tegang bikin lapar jadi nomor dua.
Di teras depan, dua “ratu singa” sudah standby dengan pose masing-masing yang nunjukin wilayah kekuasaan.
Mama Ratna berdiri anggun dalam kebaya kutubaru sutra ungu tua. Konde-nya tinggi sempurna, rambut nggak ada yang berani kabur. Senyumnya tipis, sopan, tapi auranya bisa bikin orang diam sendiri.
Di seberang, Mami Livia—Nyonya Liang—tampil beda banget. Blazer merah darah dari Paris, heels tajam, kalung berlian yang kilauannya nantang matahari pagi. Dua dunia, dua gaya, satu arena.
“Akhirnya sampai juga,” suara Mama Ratna lembut tapi dalam, seperti genderang gamelan. “Livia, masuklah, Nduk. Mbok perias sudah menunggu. Kita nggak punya banyak waktu sebelum nontoni dimulai.”
Mami Livia langsung maju, tangannya memegang bahu Livia dengan kuku maroon panjang yang siap perang. “Ingat pesan Papi semalam, Liv. Face keluarga Liang ada di tanganmu hari ini. Jangan buat malu di depan Adiwinata. Kontraknya sudah siap ditandatangani di ruang kerja.”
Livia melirik Rangga di sampingnya, cari pegangan. Rangga cuma angguk kecil—kode diam yang artinya: sabar dulu, aku di sini.
Livia lalu dipandu lewat koridor panjang berlantai marmer dingin. Dinding penuh foto leluhur Adiwinata: para pria berblangkon dengan mata tajam lintas zaman, dan wanita berkebaya yang senyumnya tenang tapi penuh misteri. Semua terasa berat, penuh sejarah, dan sedikit intimidating.
Di ruang calon pengantin, tiga mbok perias sudah siap. Livia disuruh duduk di kursi kayu rendah. Hoodie kebesaran Rangga dilepas, diganti jarik batik Parang Rusak. “Motif ini simbol perjuangan yang nggak pernah putus, Nduk,” bisik mbok paling tua sambil senyum lembut.
Rambut Livia disisir, disanggul tinggi, dihias roncean melati segar yang langsung bikin ruangan harum. Tangan kirinya dipacar inai halus—simbol kesucian. Livia ngaca di cermin ukir besar. Cantik banget, tapi... kok kayak orang lain ya?
Pintu terbuka pelan. Rangga masuk, sudah pakai beskap hitam lengkap keris di pinggang. Dia kayak putra mahkota beneran: tegap, tenang, dan... ya Tuhan, gantengnya nggak main-main.
Rangga langsung berlutut di depan Livia—gerakan yang bikin para mbok perias senyum-senyum kecil. “Cantik banget,” bisiknya parau, mata hitamnya memandang Livia kayak lagi lihat harta karun. “Kamu seperti lukisan Raden Saleh versi modern.”
Livia mendengus, tapi pipinya langsung panas. “Aku merasa seperti patung museum, Rangga. Semua ini ribet banget.”
Rangga tersenyum tipis, jarinya menyentuh ujung kuku Livia yang baru dipacar. “Aku tahu. Tapi ini cara mereka nunjukin kamu dianggap serius. Dan aku... aku sangat serius sama kamu, Liv.”
Satu jam kemudian
Prosesi nontoni dimulai di pendopo utama. Gamelan mengalun pelan, bikin suasana makin sakral. Keluarga Adiwinata duduk rapi pakai adat lengkap, sementara keluarga Liang berusaha adaptasi. Papi Livia duduk kaku dengan jas formal, matanya ke Rangga—bangga, tapi berat.
Setelah doa selesai, Livia nyelinap ke ruang kerja Papi atas bisikan kakak-kakaknya. Vania dan Sherly ikut dengan muka cemas.
“Liv, kontraknya sudah diteken,” bisik Sherly pelan. “Aku lihat sekilas. Saham pelabuhan 55% pindah ke Adiwinata, tapi kamu tetap punya hak suara. Tapi ada klausul gila... kalau pernikahan batal atau kamu ketemu Mateo lagi, saham balik ke Liang, tapi kamu dilarang tanding internasional lima tahun sebagai denda moral.”
Darah Livia langsung beku. “Lima tahun? Karier aku tamat total!”
“Ikut aku sebentar,” Rangga tiba-tiba muncul dan tarik Livia ke pendopo belakang yang sepi, di bawah pohon mangga tua yang rindang.
Rangga tarik napas dalam, wajahnya berat. “Aku baru tahu detailnya pagi ini. Ayahku dan Papimu... mereka punya sejarah panjang, Liv. Foto yang kamu lihat di apartemen itu dari tahun 1987.”
Livia menatapnya, nunggu lanjut.
“Dulu mereka bermitra bangun pelabuhan di Semarang. Dekat banget, hampir kayak saudara. Tapi ada kecelakaan kapal besar yang makan banyak korban. Nama keluarga Adiwinata dijadikan kambing hitam. Papi kamu selamatin Ayahku dari kebangkrutan dan penjara dengan bayar ganti rugi diam-diam. Syaratnya satu: suatu hari nanti, anak-anak mereka harus nikah untuk satukan dinasti dan kubur rahasia itu selamanya. Kita... adalah cara mereka bayar utang budi dan utang darah.”
Livia tertegun. “Jadi dari awal kita cuma bidak catur?”
Rangga mendekat, pegang bahu Livia lembut. “Awalnya mungkin iya. Tapi sekarang? Aku nggak mau kamu jadi alat pembayaran. Aku ingin kamu jadi pilihan aku sendiri—karena aku jatuh cinta sama Livia Liang yang keras kepala dan tangguh ini.”
Ia menunduk, cium kening Livia tulus banget di tengah harum melati yang pekat. “Aku akan robek kontrak itu kalau kamu minta. Kita bisa kabur. Tapi aku lebih suka lawan mereka bareng kamu.”
Livia tatap mata Rangga. Nggak ada dingin lagi di sana, cuma api hangat yang bikin hatinya luluh. “Kamu bikin aku bingung, Rangga. Aku benci semua keribetan adat ini... tapi aku juga mulai nggak bisa bayangin hidup tanpa kamu di samping.”
Rangga tersenyum—senyum yang langsung hancurkan sisa pertahanan Livia. “Itu awal yang bagus, calon istriku.”
Tapi kemesraan itu langsung buyar gara-gara teriakan dari ruang kerja. Suara Mami Livia meninggi, “Kalau klausul itu nggak diubah, pernikahan ini batal! Anakku bukan barang jaminan utang masa lalu!”
Mama Ratna balas dingin, “Kami juga nggak mau nama besar keluarga ini tercemar kalau Livia masih simpan bayang-bayang pria asing itu.”
Livia dan Rangga saling pandang. Rahasia lama baru kebuka separuh, dan perang dinasti ini masuk babak paling seru.
Di saku, ponsel Livia bergetar gila-gilaan. Grup Liang Empire banjir pesan.
Vania: LIV!!! Kontraknya makin edan! Kamu dilarang ketemu Mateo selamanya atau aset Liang di Singapura dibekukan!
Sherly: Aku nemu foto lain. Di balik foto Papi sama Papa Rangga, ada tulisan ‘Darah dibayar Darah’. Apa maksudnya?!
Livia merasakan ketakutan murni menyelinap ke tulang. Rahasia soal kematian Ayah Rangga sepuluh tahun lalu mungkin adalah bom waktu yang sebentar lagi meledak—tepat di tengah-tengah prosesi paling sakral mereka.